Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 128 - Operasi Maura


__ADS_3

Flashback


Saat kandungan Maura masih berusia enam bulan, Daniash dan Maura seperti biasa nya akan melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan nya. 


Daniash datang ke ruangan dokter kandungan yang dari awal menangani kehamilan Maura, bahkan sejak hamil baby Davi dan Anna. 


"Selamat pagi, dok." Sapa Maura dengan senyum ramah nya. Dokter itu tersenyum tak kalah ramah nya menyambut kedatangan pasangan suami istri yang sangat serasi, istilah nya couple goals. 


"Pagi, Nona. Mau periksa rutin?" Tanya dokter wanita itu. 


"Iya, dok." Jawab Maura. Perempuan hamil itu duduk berhadapan dengan dokter, begitu pun Daniash. 


"Usia perkiraan kehamilan nya 24-25 minggu, Nona." 


"Berarti enam bulan ya, dok?" 


"Iya Nona, tapi lagi-lagi perkiraan usia bisa salah, atau kurang tepat." 


"Hmm, baik dok. Saya ingin USG."


"Baik, Nona. Silahkan berbaring di sana." Ucap dokter itu, Maura pun bangkit dari duduknya dan membaringkan tubuh nya di atas brankar, tentunya dengan di bantu oleh Daniash, suami nya.


Dokter itu pun menuang gel di perut Maura dan memutar alat kecil yang terhubung dengan layar besar di depan nya. 


"Seperti dugaan saya, Nona. Hamil kembar, laki-laki." 


"Dua-duanya, Dok?" 


"Iya, tuan." Jawab dokter itu dengan senyum manis nya.


"Aahh syukurlah.."


"Tapi, vonis saya tetap sama. Sebaiknya, segera lakukan sebelum usia nya semakin lama dan ukuran nya semakin besar." 


Kedua nya saling melempar tatapan, di sisi lain Daniash tak mau kehilangan salah satu putra mereka. Tapi di sisi lain pula, dia tak mau istrinya kenapa-napa, dia bisa gila kalau sesuatu sampai terjadi pada istri yang teramat dia cintai.


"Tuan, hanya salah satu yang bisa bertahan. Kalau ingin mempertahankan kedua nya akan sangat beresiko bagi Nona Maura, juga rahim nya."


"Apa kemungkinan yang akan terjadi, dok?" Tanya Maura lirih. 


"Kemungkinan terburuk nya Nona bisa kehilangan nyawa, namun kemungkinan yang paling bisa terjadi adalah rahim Nona pecah dan harus di angkat, artinya Nona takkan bisa mengandung lagi." Jelas dokter itu. 


Ini bukan penjelasan pertama kali dari dokter, tapi Maura selalu kekeuh ingin mempertahankan kedua bayi nya. Kalau Daniash, dia hanya mengikuti apapun keputusan istrinya, juga mendukung apapun keputusan nya. 


"Bagaimana, Nona? Kalau anda setuju, kami masih bisa melakukan nya, kandungan berusia enam bulan belum terlalu rentan." 


"Tidak, dok. Saya akan tetap mempertahankan kedua bayi saya, apapun resiko nya akan saya hadapi." Tegas Maura, membuat Daniash terkejut. Pria itu langsung memegang tangan istrinya dengan erat, hatinya merasa sedikit ragu tapi begitu melihat ekspresi sang istri, dia hanya bisa mendukung keputusan nya dan berdoa semoga tak ada apapun yang terjadi nanti. 

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu sudah keputusan anda Nona. Tapi, kami akan tetap memantau kondisi Nona secara intensif." Dokter itu tersenyum tulus, lalu mengelap gel di perut Maura dengan tissu.


"Sudah selesai, Nona."


"Terimakasih, dokter." Maura pun bangkit dan turun dari brankar di bantu suaminya. Kedua nya pun kembali duduk berhadapan dengan dokter itu.


"Saya hanya akan meresepkan vitamin juga penguat kandungan." 


"Baik, dokter."


"Ini resep nya, silahkan tebus di bagian farmasi." 


"Baik." Jawab Daniash. 


"Selamat berjumpa di pertemuan selanjutnya, Nona dan Tuan. Semoga sehat selalu ya."


"Terimakasih, dokter. Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Maura, dokter itu pun tersenyum lalu mengangguk. Daniash dan Maura pun keluar dari ruangan dokter kandungan itu dengan Daniash yang terus menatap istrinya dengan intens. 


"Sayang.."


"Iya, Daddy. Kenapa?" 


"Kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil?" Tanya Daniash lirih.


"Tentu saja, aku yakin Daddy." Jawab Maura dengan senyuman manis yang membuat hati Daniash ikut berdebar tak karuan. Jujur saja, dia takut dengan segala kemungkinan yang tadi dokter jelaskan. Tapi, bukankah itu hanya vonis sementara? Dokter bukan Tuhan, hanya perantara saja. 


"Jangan khawatir, Dad. Aku akan baik-baik saja, Daddy hanya perlu mendukung keputusan ku." 


"Daddy pasti akan selalu mendukung apapun keputusan kamu, sayang." Jawab pria itu, membuat senyuman cerah terbit di wajah istrinya.


"Terimakasih, Daddy." 


Flashback off


Daniash terus mengingat-ingat perkataan dokter hari itu, masih beruntung hanya rahim istrinya yang pecah, berarti nyawa istrinya masih bisa di selamatkan bukan? Meskipun entah akan seperti apa reaksi yang di tunjukan nya nanti saat mengetahui kalau rahim nya di angkat, tapi itu terasa lebih baik dari pada dirinya harus kehilangan sosok wanita yang paling dia cintai. 


Ruangan operasi di depan nya masih belum terbuka juga, padahal sudah hampir satu jam setelah dokter itu mengatakan akan memulai operasi. 


"Selamatkan istriku, Ya Tuhan." Gumam Daniash, menatap ruangan itu dengan nanar. 


Sedangkan Elgar dan Amira baru saja datang, karena kedua nya sedang berada di luar negeri saat Danish menelpon nya dan memberi kabar kalau putri mereka akan melahirkan dan mengalami problem yang cukup darurat. 


"Daniash, bagaimana keadaan putriku?" Tanya Elgar pada menantu nya. Pria itu menatap tajam suami putri nya, mencekal kerah kemeja nya. Saat Daniash mendongak, sebuah pukulan mendarat di wajah nya, membuat wajah pria tampan itu terhuyung ke samping.


"Papah.." Amira menarik tubuh suami nya, kalau dia sedang emosi pasti akan menghajar apapun yang dia anggap sebagai sumber masalah. Tak terkecuali saat ini, dia menganggap Daniash sebagai biang masalah nya.


"Kenapa? Kenapa aku tak boleh menghajar nya, sayang? Dia yang sudah membuat putri kita kesakitan, bahkan sekarang dia harus berjuang untuk hidup nya sendiri." 

__ADS_1


"Tapi, kita semua bahkan Daniash sendiri tak mau hal ini terjadi, Pah. Tak ada yang mau hal seperti ini terjadi." Ucap Amira sambil terisak. 


"Maafkan aku, Pah. Aku gagal menjaga istriku sendiri, aku lalai menjaga nya. Maaf." Lirih Daniash, nyaris tak terdengar.


"Papah bisa memukul ku lagi, pukul aku sepuas papa." 


Elgar terdiam, perkataan istrinya begitu menyentil perasaan nya. Dia selalu saja bertindak terburu-buru, dalam segala hal.


Dia terduduk di kursi ruang tunggu, sambil menyugar rambutnya dengan kasar, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. 


Tak lama berselang, ruang operasi terbuka. Maura di bawa keluar dari ruangan itu dengan dokter yang terlihat sangat khawatir. Daniash langsung berlari mengikuti dokter dan perawat itu membawa istrinya dengan langkah yang terseok-seok. 


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?"


"Operasi nya berjalan cukup lancar, tapi ada sedikit kendala yang membuat Nona Maura pendarahan hebat. Jadi kami harus cepat membawa nya ke ruangan perawatan khusus." Jawab sang dokter sambil berjalan dengan cepat. 


"Dokter, apakah istri akan baik-baik saja."


"Hanya Tuhan yang tahu, Tuan. Tugas saya hanya menolong dan memberikan penanganan sebaik mungkin yang saya bisa, permisi." Jawab Dokter itu, lalu masuk ke dalam ruangan perawatan khusus.


"Sayang, kamu harus kuat. Bertahanlah demi aku dan anak-anak kita." Gumam Daniash, dia berdiri kaku menatap istrinya yang di bawa ke dalam ruangan perawatan.


Sakit? Tentu saja, rasa sakit nya bahkan terasa seperti membunuh nya secara perlahan. Daniash luruh ke lantai, rasanya dia tak sanggup melihat semua ini. Kalau saja bisa, dia akan menukar posisi istrinya dengan dirinya sendiri.


"Dani.." panggil Amira lirih sambil menepuk punggung menantu nya.


"Maa, Maura.."


"Mama tau, tegarlah dan kuatlah Dani. Mama tau ini bukanlah situasi yang mudah, tapi kamu harus tetap tegar, Nak. Ingat ada dua bayi yang membutuhkan dirimu." 


"Gara-gara mereka istriku jadi begini, Ma." Lirih Daniash. 


"Jangan berkata seperti itu, ingat Maura melakukan yang terbaik, dia rela mengorbankan dirinya sendiri demi anak kalian. Lalu kamu malah menyalahkan kehadiran mereka hmm?" 


Daniash mendongak, kedua mata nya berkaca-kaca. Satu kali berkedip saja, pasti air mata nya akan jatuh.


"Maa.." 


"Ya, kamu bisa menangis." Lirih Amira, Daniash pun menangis di pelukan hangat ibu mertua nya. Dia sudah tak bisa menahan nya lebih lama lagi. Tangisan yang terdengar sangat pilu, membuat semua orang yang ada disana ikut menangis. Mereka semua berdoa untuk keselamatan Maura. 


Bahkan Aryo dan Nayna pun turut hadir disana, karena mendapat kabar yang kurang baik dari keluarga yang teramat di hormati itu. Secepat kilat, kedua nya langsung datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Maura. Tapi, yang mereka lihat ternyata sangat menyakitkan. 


Dimana, Aryo pertama kali melihat Daniash menangis sepilu itu. Bukankah itu menandakan perasaan pria itu yang teramat sakit? Kalau dia berada di posisi yang sama dengan Daniash pun, entah akan seperti apa dirinya nanti. Yang jelas, ini bukanlah kondisi dimana orang bisa melewati nya semudah membalikan telapak tangan.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2