
Keesokan pagi nya, rumah itu terasa lebih ramai dari biasa nya karena kedatangan Nayna. Kedua sahabat itu membuat seisi rumah heboh dengan obrolan rempong kedua nya, di tambah Dara yang tak kalah heboh nya dengan Maura dan Nayna.
Tak ada kecanggungan antara Nayna dan Dara, padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. Tapi, mereka langsung bisa mengakrabkan diri dan asik mengobrol.
"Kemarin nih, perut aku tuh sakit kan. Mules gitu, aku kira mau lahiran. Ehh pas di periksa sama bidan itu kontraksi palsu, tau gak bidan nya bilang apa?"
"Apa emang?" Tanya Maura penasaran.
"Katanya jangan terlalu sering berhubungan badan, apalagi di keluarin di dalam karena bisa memicu kontraksi."
"Bener itu kak, aku juga dulu gitu. Gak tau kenapa juga, pas hamil besar malah doyan banget di tusuk pisang, kayak enak banget gitu, bikin badan jadi ringan." Celetuk Dara.
"Ehh, kok kita sama ya? Aku juga gitu, doyan banget. Semalem bisa dua atau tiga kali, sampe Daddy minta ampun."
"Seriusan? Gilee sih, pantesan Om Aryo semangat terus kerja nya, junior nya sejahtera." Jawab Maura sambil tertawa.
"Tapi ya, kakak ipar juga kayak nya habis anu nih." Dara mengerling nakal ke arah sang kakak ipar yang nampak malu-malu.
"Hehe, iya habis di buka." Jawab Maura lirih.
"Wahh, pantesan kak Dani semringah banget tadi pagi, habis dapet jatah toh."
"Hmm, mau nanya boleh gak sih? Tapi jangan marah."
"Tanya aja, kayak sama siapa aja, Nay." Jawab Maura sambil mengusap perut buncit Nayna, menurutnya perut sahabat nya itu terlihat sangat menggemaskan.
"Gituan setelah lahiran sakit gak sih, Ra?" Tanya Nayna malu-malu, membuat Dara dan Maura terkekeh geli.
"Aku dulu ya, dulu tuh aku sempet gak jadi karena sakit, tapi kalau udah masuk semua tetep enak kok, ngilu pas pertama masuk aja, Kak." Jawab Dara.
"Aku kurang lebih sama sih kayak Dara, awalnya sakit banget kayak pertama kali pecah perawaan dulu, tapi lama-lama enak aja kok."
"Kok aku jadi takut ya?"
"Yaelah, lahiran aja belum udah mikirin anu setelah lahiran, Nay." Celetuk Maura membuat Nayna menggaruk tengkuknya.
"Enak kok, sakit nya bentar aja kayak pas di perawaanin doang."
"Sampe bengkak gak? Dulu aku sampe bengkak, mau jalan aja tuh susah."
"Itu beda nya, gak sesakit pas pertama kali kok. Kalau masalah bengkak atau enggaknya, ya itu gimana cara laki Lu main, kalo main nya pelan-pelan gak bengkak, kalo brutal ya jelas bengkak lah." Cerocos Maura sambil tertawa.
"Haha, iya deh iya. Omong-omong baby twins kemana sih? Dari tadi pengen ketemu gak keluar-keluar juga."
__ADS_1
"Di kamar sama nenek kakek nya, belum keluar mereka tuh." Jawab Maura, tadi malam baby twins memang tidur di kamar nenek kakek nya. Sampai sekarang belum keluar lagi, mungkin masih tidur.
"Hmm iya deh, by the way kamu nyewa pengasuh gitu mana masih muda, gak takut Ra?" Tanya Nayna lirih.
"Takut apa?"
"Daddy Lo kegoda gitu."
"Haha, laki gue gak doyan Nay. Mereka berdua aja ketakutan liat Daddy, kalau lihat Daddy datang, mereka pasti langsung pergi." Jelas Maura, memang seperti itu fakta nya.
Hanin dan Mira terlihat sangat ketakutan saat melihat Daniash, tapi berbeda saat melihat tukang kebun yang baru masuk, usia nya juga masih muda.
"Syukurlah kalo gitu."
"Hmm, suami mu kemana?" Tanya Maura pada Dara, sedari pagi dia tidak melihat suami adik ipar nya ini.
"Mas Nicholas kan ikut sama Kak Dani ke kantor tadi, kak."
"Apa iya? Aisshh, pasti aku lupa. Maklum lah ya, udah tua keknya jadi pikun." Ucap Maura, membuat Nayna dan Dara tergelak.
"Sayang.."
"Hmmm, iya Ma? Kenapa?" Tanya Maura, dia bangkit dari duduk nya dan mendekat pada ibu mertua nya.
"Ada Ma, dapet pompa tadi malem. Sebentar lagi setelah makan, aku pompa lagi."
"Yaudah, ambilin ya sayang?"
"Iya Ma." Jawab Maura, dia pergi ke dapur untuk mengambil stok ASI nya. Dia sengaja mengambil dua botol untuk kedua baby nya.
"Ini, Ma. Maura ke kamar aja?"
"Gak usah, biar Mama yang kasih. Kamu lanjutin aja ngobrol nya, kasih cemilan juga ya."
"Iya Ma." Jawab Maura menurut, dia pun kembali ke dapur untuk mengambil cemilan berupa kue dan tentunya salad buah kesukaan nya yang tak pernah tertinggal di setiap keadaan. Kapan pun, Maura pasti makan salad buah.
"Ngemil gaeys.." ajak Maura sambil mengambil satu mangkuk salad dan memakan nya. Dara menggelengkan kepala nya, dia heran pada kakak ipar nya yang seolah tak ada bosan nya memakan makanan itu. Setiap hari, dia memakan salad buah. Apa tak bosan?
"Gak bosen setiap hari makan salad, kak?"
"Enggak tuh, enak kok ini. Kenapa?" Tanya Maura dengan pipi yang menggembung berisi potongan buah dari salad yang dia makan.
"Aku aja yang liat kakak makan itu bosen, apalagi kakak yang makan setiap hari."
__ADS_1
"Aku tuh, kalo udah suka sama satu makanan ya terus aja suka. Kayak sama salad sama seblak, iya gak Nay?"
"Haha, iya nih. Andai aja kamu tau, Dar. Dulu pas kuliah, Maura tuh setiap hari makan seblak tau, padahal awalnya dia gak suka."
"Serius? Astaga, ada-ada saja kakak ipar ku ini. Untung sayang."
"Kalau kamu gak sayang sama kakak, nanti kakak aduin sama Daddy, ribut deh kakak tertawa jahat di pojokan." Jawab Maura, membuat Dara terkekeh.
Kakak ipar nya yang ini sangat menyenangkan, berbeda jauh dengan mantan istri kakak nya. Wanita itu terlalu sombong dan angkuh, hingga membuat Dara tak suka jika berdekatan dengan nya. Tapi saat bertemu dengan Maura, dia langsung merasa dekat, bahkan di pertemuan pertama kali dulu.
Jangan kan mengobrol santai seperti ini, bertukar sapaan pun tidak pernah sama sekali. Ya karena Herra selalu pergi saat Dara mengunjungi kediaman mereka dulu, hanya Daniash saja yang menyambut nya dengan hangat. Tentu saja, hal itu membuat nya tak enak.
Bayangkan saja, dia datang jauh-jauh dari Amerika, lalu saat bertamu ke rumah kakak nya sendiri, eehh kakak ipar nya malah pergi dan nampak tak peduli dengan kedatangan nya. Nyesek banget kan?
"Bengong, kenapa?"
"Enggak kok, kak." Jawab Dara, dengan senyum yang sedikit di paksakan. Dia memilih mengambil kue kering rasa coklat dari toples, sedangkan Nayna mengambil mangkuk berisi salad buah.
"Salad nya enak, tapi kebanyakan keju." Ucap Nayna, berbeda dengan Maura yang sangat menyukai keju, Nayna sendiri tidak terlalu menyukai makanan dengan bahan dasar susu itu.
"Nanti aku buatin yang gak pake keju ya, nanti aku kirimin ke rumah kamu."
"Hehe, siap. Boleh request buah nya gak?" Tanya Nayna.
"Dih, gak tau diri." Celetuk Maura, tapi bukan nya tersinggung, Nayna malah tertawa. Mungkin hal semacam ini sudah terbiasa bagi kedua nya.
"Tapi boleh deh, mau pake buah apa aja?"
"Aku gak terlalu suka buah pir, jadi jangan pakai buah itu aja, Ra."
"Astaga, maaf aku lupa. Kamu sisihin aja, atau kasih ke aku buah pir nya." Maura mendekatkan mangkuk salad nya ke arah Nayna, perempuan hamil itu pun memilih buah yang tak dia suka dan memindahkan nya ke mangkuk milik Maura.
"Maaf nih, bukan gak sopan Ra."
"Santai, kita udah biasa kek gini, Nay. Lu canggung banget deh sekarang."
"Ya soalnya, Lu istri atasan suami gue sekarang." Jawab Nayna, sambil tersenyum kecil.
"Elah, gak ngaruh kali. Kita tetep temenan kayak dulu, gak ada yang berubah kok. Jadi, kalo Lu ada masalah cerita aja sama gue ya."
"Haha, Iya Ra. Makasih banget udah mau temenan sama gue ya."
"Makasih juga udah mau temenan sama gue yang somplak ini." Jawab Maura, kedua nya pun tertawa. Dara tersenyum simpul melihat interaksi dua orang yang bersahabat itu, persahabatan mereka begitu manis.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻