
"Bby.." Daniash memanggil istrinya cukup keras.
"Apa sih Dad? Lagi pup juga." Jawab Maura ketus dari arah kamar mandi.
"Ohh, hehe yaudah lanjutin lagi. Daddy keluar dulu ya, di panggil Papa."
"Huum, sana pergi." Jawab Maura, Daniash pun menggelengkan kepala nya, lalu pergi dari kamar. Entah ada hal apa yang membuat Elgar memanggil nya ke ruang kerja nya.
"Mau kemana, Nak?" Tanya Amira saat melihat menantu nya berjalan dengan wajah serius.
"Eehh Mama, mau ke ruang kerja Papa."
"Papa di kebun belakang."
"Lho, lagi ngapain? Tadi nyuruh aku datang ke ruang kerja."
"Gak tau, mama baru saja nganterin kopi."
"Ohh, ya sudah Ma. Kalo gitu, Dani kesana dulu ya Ma."
"Iya Nak, dimana Maura?"
"Di kamar, lagi pup katanya." Jawab Daniash sedikit keras, karena dia sudah berjalan agak jauh dari posisi ibu mertua nya.
"Anak itu kebiasaan, habis makan pasti langsung pup." Ucap Amira sambil menggelengkan kepala nya.
Daniash berjalan dengan pikiran menerka-nerka, kiranya apa yang akan papa mertua nya itu bicarakan? Ya mungkin ini tentang Maura, putrinya.
Pria itu menatap lurus ke depan, dengan wajah datar dan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana celana training nya.
"Papah.." panggil Daniash.
"Sudah datang rupanya."
"Papa nih gimana, katanya Dani di suruh ke ruang kerja, tapi papa malah disini. Untung nya tadi ketemu Mama, jadi aku kesini." Cerocos Daniash.
"Hemm, suasana disini lebih nyaman untuk kita bicara, Dan. Kalau kita bicara di ruang kerja, mungkin akan terlalu serius." Jawab Elgar.
"Baiklah, ada apa Pa? Seperti nya penting."
"Duduklah dulu." Daniash mengangguk, lalu duduk di samping papa mertua nya.
Pria yang masih terlihat tampan di usia senja nya beberapa kali menghela nafas nya lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
"Ada apa, Pa?"
"Tidak, ini mungkin hanya pembicaraan antara ayah dan menantu."
"Hmm, papa membuat aku penasaran."
__ADS_1
"Haha, santai saja. Papa hanya ingin mengatakan sebuah nasehat untukmu, Dani."
"Nasehat?"
"Iya, kau ingin mendengarkan nya?" Tanya Elgar.
"Tentu saja, Pa."
"Maura itu putri papa satu-satunya, ada penyesalan tersendiri dalam hati papa karena dulu pernah mengabaikan nya setelah kepergian Arvin, Adiknya."
"Anak yang cantik, selalu ceria menjelma menjadi gadis yang keras kepala, manja dan sulit di atur hingga papa selalu menghukum nya karena dia begitu nakal."
"Meskipun begitu, papa tak bisa hanya menyalahkan nya, mau bagaimana pun dia begitu karena kurang nya bimbingan kami sebagai orang tua. Papa yang selalu sibuk dan menuntut Mama untuk selalu menemani papa bekerja, membuat nya kesepian dan akhirnya memilih jalan yang salah." Elgar menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Jujur saja, sebagai orang tua tentu dia menyesal karena sudah mengabaikan putri nya hingga dia terbawa putaran arus kehidupan bebas.
"Papa tau hubungan kalian cukup lama sebelum papa menemukan sebuah test pack bergaris dua di kamar Maura."
Daniash terhenyak, wajah nya memerah karena malu saat mertua nya membahas ini. Meskipun dia sudah bertanggung jawab, tapi tetap tidak bisa menghilangkan fakta bahwa dia menikahi Maura karena kebobolan alias kecelakaan.
"Kamu tau, papa sangat marah Dani. Tapi, saat melihat Maura dengan langkah yakin meninggalkan rumah hari itu, papa merasa cinta nya untuk mu mungkin sangat tulus. Hingga papa melihat kalian berpelukan di luar rumah."
Lagi-lagi, Daniash terhenyak mendengar ucapan sang papa mertua. Pantas saja dia merasa ada yang memperhatikan mereka saat itu, ternyata memang mata yang sempat dia lirik itu adalah milik Elgar.
"Haha, kau tau Dani saat papa tau kalau kau adalah pria yang menghamili putriku?"
"S-eperti apa memang nya, Pa?"
"Papa percaya sama, Dani?" Tanya Daniash lirih.
"Tentu saja, aku percaya padamu. Pada cinta kalian berdua, makanya aku setuju untuk menikahkan putriku dengan pria tua seperti mu, Dani."
"Isshh papah, jangan di bilang pria tua nya kali. Aku hanya lebih dewasa dari Putri mu, itu saja."
"Hmm ya, baiklah. Jadi, sebagai orang tua papa ingin meyakinkan kembali, apakah kau benar-benar mencintai putriku, Dani?" Tanya Elgar serius.
"Tentu, aku sangat mencintai Maura."
"Syukurlah, aku berharap kau bisa menjaga nya sebaik mungkin. Aku menyerahkan tanggung jawab ku sebagai ayah pada mu, Dani." Pria tampan itu mengangguk yakin, dia menjabat tangan sang ayah mertua.
"Dani terima tanggung jawab atas Maura, dari ujung rambut hingga ujung kaki nya semua tanggung jawab Dani, Pah. Dani mengambil alih tanggung jawab papah untuk menjaga Maura sebaik mungkin setelah meminang nya hari itu."
"Papa pegang kata-kata mu, Dani. Sekali saja kau membuat anak ku menangis, kau menyakiti hati maupun fisik nya, aku akan langsung membawa nya pulang." Tegas Elgar, mata nya menyorot tajam ke arah sang menantu yang terlihat tenang, tak sedikitpun raut ketakutan di wajahnya.
"Ya, papa bisa memegang kata-kata ku."
"Kenapa kau terlihat sangat yakin, Dani?" Tanya Elgar penasaran, kenapa pria di depan nya bisa sangat yakin tanpa gentar sedikitpun.
"Karena aku bukan pria pengecut yang akan menyakiti hati bidadari ku, Pah." Jawab Daniash, membuat Elgar melengkungkan senyuman nya. Sekarang dia yakin, kalau Daniash adalah sosok pria yang tepat untuk putri nya.
__ADS_1
Selama 3 tahun menikah dengan Herra pun, dia tak pernah menyakiti hati maupun fisik nya. Sebagai laki-laki, pantang baginya untuk menyakiti perempuan. Apalagi perempuan yang teramat sangat dia cintai.
"Baiklah, aku percaya padamu, Dani."
"Terimakasih sudah percaya padaku, pah."
"Hmmm, sekarang dimana bidadari mu itu?" Tanya Elgar.
"Tadi sedang di kamar mandi, katanya sih lagi pup. Gak tau udah selesai apa belum sekarang."
"Lihat dulu sana."
"Iya, Pah. Kalo gitu, Dani masuk duluan ya." Jawab Daniash, lalu bangkit dari duduknya.
"Ya." Sebuah kata singkat yang membuat Daniash mendengus, Elgar kembali ke mode menyebalkan nya.
Daniash masuk ke dalam mansion, sudah beberapa hari ini dia menginap di rumah mertua nya karena dia merasa nyaman dan Maura tak ingin pulang.
"Bby.."
"Yes, Daddy." Jawab Maura sambil tersenyum, tadi dia mengeluh kekenyangan setelah menghabiskan dua porsi es kelapa muda. Sekarang malah ngemil salad buah lagi.
"Sudah ngemil lagi, Bby?"
"Hehe, laper lagi Dad." Jawab Maura sambil cengengesan.
"Tadi katanya kenyang es kelapa muda, sekarang udah makan salad lagi."
"Kenapa memang nya, gak boleh ya Dad?"
"Boleh sayang, boleh. Daddy minta dong?"
"Aaaa Dad.." Maura menyuapi sang suami, membuat Elgar yang baru masuk mencebikan bibir nya.
"Dihh manja banget." Cibir nya.
"Papa iri mulu perasaan."
"Bukan iri, tapi ya udah tua gitu masih manja sih."
"Gapapa dong, pa. Daddy kan suami Maura, wajar aja kalo dia manja. Kan gak mungkin kalo Daddy mau manja sama mama atau papa."
"Dihh males, dari pada manjain menantu mendingan manjain mama." Celetuk Elgar.
"Ya udah, jangan julid. Kayak papah gak pernah muda aja." Sindir Maura membuat papa nya itu mendengus, sedangkan Daniash terkekeh pelan sambil mendusel di perut buncit sang istri.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1