
"Baby.." panggil Daniash, Maura berbalik dan menatap suami tampan nya. Lalu memeluk tubuh tegap suami nya dengan erat.
"Sedang apa disini, cantik?" Tanya Daniash, karena Maura betah sekali berlama-lama di balkon di temani semilir angin sejuk.
"Gapapa Dad, udara nya sejuk banget bikin tenang."
"Tangan sama wajah kamu sampai dingin gini, Bby."
"Hangatin sama tangan besar Daddy." Pinta Maura sambil meletakan kedua tangan suaminya di wajahnya.
"Daddy sangat tampan, bahkan disaat begini." Puji Maura membuat Daniash terkekeh.
"Pasti ada mau nya, hayo mau apa Bby?" Tanya Daniash sambil terkekeh.
"Hehe, mau es krim dong Dad."
"Tuhkan, kamu tuh mudah sekali di tebak sayang." Ucap Daniash gemas sambil mengunyel-unyel pipi cabi istrinya dengan gemas.
"Daddy, sakit.." Rengek Maura.
"Maaf sayang, habis nya kamu gemesin banget. Pengen Daddy terkam di ranjang, boleh gak?"
"Es krim dulu."
"Es krim yang ini gak mau?" Goda Daniash sambil meletakan tangan istrinya ke selangkaangan nya.
"Isshhh Daddy tuh terlalu mesuum!"
"Ya gapapa, kan sama istri sendiri. Mesuum sama istri sendiri itu dapet pahala lho."
"Halah pake bawa pahala segala, bilang aja doyan." Cetus Maura sambil terkikik.
"Nah itu tau, kamu kan tau sendiri kalau Daddy kecanduan sama tubuh kamu dari awal kita melakukan nya."
"Iya, karena saat itu aku masih langsing, lah sekarang? Udah kayak gentong."
"Husshh, jangan ngomong kek gitu. Kamu cantik sayang."
"Iya-iya, jadi kapan kita beli es krim nya?" Tanya Maura antusias.
"Besok aja ya? Lihat tuh, di langit nya banyak awan hitam, sebentar lagi pasti hujan. Kita ke kamar ya?" Ajak Daniash, karena saat ini kedua nya sedang berada di kamar lantai atas yang sudah tak di tempati, karena kamar mereka di pindah ke bawah untuk memudahkan istrinya.
Tapi, Maura malah suka menikmati angin sore hari di balkon, jadi dia sering berada disana. Biasanya, sambil menunggu suami nya pulang kerja.
"Yaahh, tapi aku maunya sekarang Dad."
"Kalau nanti hujan gimana, sayang?"
"Kan pakai mobil, Dad. Setau aku, mobil itu tuh ada atap nya jadi gak bakal kehujanan."
"Ehh, iya juga ya. Daddy lupa kalo Daddy punya mobil, Bby." Ucap Daniash sambil cengengesan. Maura memutar mata nya jengah, kenapa semakin lama suaminya ini jadi pelupa begini?
"Seperti nya Daddy juga lupa kalau Daddy itu kaya, besok-besok Daddy juga lupa kalo udah punya istri."
__ADS_1
"Yang terakhir gak mungkin Daddy lupa."
"Heemm, iya terserah Daddy aja. Yuk berangkat?"
"Ayo sayang." Jawab Daniash, dia menggandeng tangan istrinya. Kedua nya perlahan menuruni satu persatu anak tangga, tapi karena Daniash merasa istrinya terlalu lambat, akhirnya dia menggendong istrinya agar lebih cepat.
"Daddy, ihh malu!"
"Malu sama siapa? Lagian cuma di gendong suami, apanya yang malu? Kalo di gendong suami orang, baru malu."
"Ihhh Daddy." Kesal Maura sambil menepuk pelan dada bidang suaminya.
"Berasa pengantin baru deh setiap harinya."
"Ya, karena kalian bucin parah." Celetuk Danish, membuat keduanya menoleh.
"Apaan sih, Pah. Nimbrung aja, padahal gak di ajak."
"Hemm, terserah kamu saja lah. Orang bucin mah bebas." Jawab Danish datar, lalu pergi tanpa kata-kata apapun lagi.
"Tuh kan kena sindir lagi, Daddy sih nyebelin. Pake acara di gendong segala."
"Ya gapapa, gak usah di pikirin. Pake cardigan ya, takut dingin nanti."
"Oke Daddy." Jawab Maura, perempuan itu pun masuk ke kamar mengambil cardigan, sedangkan Daniash keluar lebih dulu untuk memanaskan mesin mobil.
"Mau kemana?" Tanya Riana saat melihat putra nya memanaskan mobil.
"Ohh, yaudah kalo gitu Mama nitip barang ya sekalian? Ke supermarket kan?" Tanya Riana, jujur saja dia malas kalau harus belanja sendiri.
"Kasian Maura nya kecapean nanti, Ma. Mama ikut aja gimana?"
"Mama males jadi nyamuk kalo ngikut pengantin baru." Jawab Riana.
"Tanyain nya sama Maura aja, dia nya mau apa enggak." Pasrah Daniash.
"Yaudah, mama tanyain dulu sama dia nya."
"Tanya apa, Ma?" Tanya Maura yang kebetulan keluar setelah selesai berganti pakaian.
"Ini, mama mau nitip belanjaan sekalian kalian keluar. Boleh gak?"
"Ohh, tentu boleh dong Ma. Sekalian Maura mau beli susu hamil, udah habis."
"Ini kartu kredit buat beli belanjaan titipan Mama ya, terus ini list nya. Kalo ada tukang jagung rebus, beliin sekalian ya Nak."
"Siap Ma, kalau begitu Maura sama Daddy pergi dulu ya." Pamit Maura.
"Hati-hati di jalan nya sayang."
"Iya Ma." Maura pun masuk ke dalam mobil dan Daniash pun mengemudikan kendaraan roda empat itu menjauhi rumah besar milik keluarga Kim itu.
"Kamu gak bakal kelelahan kan, sayang? Di lihat dari list nya, seperti nya banyak barang yang harus di beli."
__ADS_1
"Daddy jangan lupa kalau aku ini perempuan, aku suka belanja." Jawab Maura sambil terkekeh.
"Iya Daddy tau, tapi kamu kan lagi hamil besar sekarang."
"Gapapa Daddy, justru bagus kalau aku aktif. Biar gak bengkak kaki nya." Jawab Maura lagi.
"Hmm, baiklah. Kalau capek, bilang sama Daddy ya?"
"Siap, sekalian aku mau beli banyak buah-buahan buat stok ngemil kalau aku bosan."
"Okey Bby, kartu hitam Daddy di bawa kan?"
"Di bawa dong, nih di dalam dompet." Jawab Maura sambil menunjukkan dompet tipis nya, tapi percayalah uang yang tersimpan di dalam dua kartu itu takkan pernah habis meskipun Maura ingin membeli satu supermarket sekalipun.
Setelah berkendara beberapa menit, akhirnya mobil yang di kendarai Daniash sampai di supermarket terdekat dari rumah.
Maura berjalan di depan suaminya, sedangkan Daniash berjalan mengekor di belakang sang istri sambil mendorong troli besar.
"Pertama, beli beras dulu." Ucap Maura sambil melihat list yang di berikan ibu mertua nya.
"Berapa, Bby?" Tanya Daniash.
"Disini tulisan nya 2, tapi maksudnya dua karung apa dua kilo ya?"
"Gak mungkin kalau dua kg sayang, pasti dua karung."
"Ohh, yaudah. Tugas Daddy, berat."
"Siap sayang." Daniash pun memasukan dua karung beras ke dalam troly.
"Lanjut, beli daging sama ikan."
"Ikan apa Bby?"
"Tuna, sama salmon. Daging nya, daging steak sama sandung lamur buat rendang." Jawab Maura, Daniash mengambilkan daging dan menyerahkan nya pada sang istri untuk di cek kualitas nya. Karena perdagingan berada di rak yang cukup tinggi, Maura takkan sampai untuk mengambil nya.
"Yang ini kurang bagus, Dad." Daniash menukar nya dengan yang baru.
"Ini bagus, Dad. Ikan salmon, di atas juga." Daniash mengambilkan nya, setelah mengecek kualitas nya barulah mereka beralih dari area ikan dan daging, ke area sayuran.
"Wortel, sawi putih, kol sama buncis." Maura pun mengambil masing-masing dua cup, sesuai dengan isi list yang dia bawa.
"Bby, beli ini deh.." ucap Daniash menunjuk satu kotak sayuran untuk hotpot.
"Kayaknya enak Bby, beli yuk?"
"Beli aja, Dad. Berarti kita perlu beli sosis, daging slice sama jamur, oke?"
"Oke Bby, sama bumbu nya." Maura mengangguk. Biasanya wanita yang rempong salfok pengen beli ini itu, nah ini kebalikan nya.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1