
Seminggu sudah berlalu, tapi selama itu tak ada perkembangan apapun dari Maura, bahkan saat ini tubuh nya semakin kurus. Tentu nya hal ini seperti sebuah pukulan telak bagi Daniash, dia bahkan tak bisa menikmati hidup nya lagi. Jangankan bekerja, bernafas saja terlihat enggan.
Setiap harinya, Daniash hanya menatap istrinya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidur panjang nya. Lingkaran hitam di bawah mata nya menunjukkan kalau dia kekurangan istirahat, itu juga membuat kesehatan nya memburuk.
Riana maupun Danish tak bisa berbuat apapun kecuali mengawasi putra nya agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan nyawa nya. Mereka tak bisa membujuk Daniash untuk makan, kalaupun dia mau makan, artinya dia sudah sangat putus asa dengan nasib yang kini menimpa nya.
"Pah, bagaimana ini? Sudah seminggu, tapi Daniash belum mau di bujuk pulang juga. Bahkan tak mau melihat putra nya sendiri."
"Mau bagaimana lagi, Ma. Kita tak bisa memaksakan kehendak kita, Daniash masih sangat terpukul dengan keadaan Maura saat ini." Jawab Danish. Dia sendiri tak tega melihat putra nya begini, dia juga merasakan hal yang sama dengan nya, tapi tidak separah Daniash.
"Tapi, Pah.."
"Biarkan saja, kalau sudah lapar dia akan makan, kalau dia sudah rindu pada anak-anak nya, dia akan pulang. Percayalah, putra kita bukan pria yang tak bertanggung jawab." Lirih Danish. Pria paruh baya itu iba melihat keadaan putra nya, sesakit itukah yang di rasakan nya?
"Tuan.." Sapa Aryo pada Danish, pria itu baru saja datang dari kantor. Wajah nya nampak kuyu, dia juga sangat kelelahan menghandle semua pekerjaan di kantor sendirian, karena Daniash mogok kerja. Dia bahkan tak mau ke kantor meski sebentar, dia nyaris tak beranjak dari tempat nya duduk saat ini.
Dia hanya fokus pada istrinya, menemani nya karena takut dia kesepian dan takut saat dia membuka mata pertama kali nya, dia tak ada di samping nya, itulah yang menjadi ketakutan dalam diri Daniash.
"Iya, Ar."
"Bagaimana keadaan Nona Maura?" Tanya Aryo pelan.
"Masih sama, Ar. Tak ada perkembangan yang menggembirakan." Jawab Danish lirih.
"Ya Tuhan, semoga Nona Maura cepat sadar."
"Iya, semoga saja. Kami tak kuat melihat Daniash terus seperti ini."
"Semoga ada keajaiban yang membuat Nona Maura bisa bangun sesegera mungkin."
"Bagaimana perusahaan, Ar?" Tanya Danish.
"Semua nya baik-baik saja, tuan. Hanya saja, saya sedikit kewalahan tanpa tuan Daniash." Jawab Aryo sambil tersenyum.
"Baiklah, biar aku yang menangani nya. Besok, aku yang akan menggantikan Daniash untuk sementara waktu." Putus Danish, dia tak bisa membiarkan perusahaan terbengkalai karena Daniash. Perusahaan itu dia bangun sendiri dengan usaha dan jerih payah nya sendiri.
"Baik, Tuan. Saya senang sekali mendengar nya, dengan begitu pekerjaan saya akan sedikit ringan."
__ADS_1
"Terimakasih sudah bekerja keras, Ar. Daniash harus menaikan gaji mu." Danish menepuk pundak sekretaris putra nya.
"Saya akan senang hati menerima nya, Tuan." Jawab nya sambil cengengesan.
"Ar.."
"Iya Tuan." Aryo langsung menoleh begitu mendengar seseorang memanggil nama nya.
"Boleh aku minta tolong?" Tanya Daniash lirih.
"Tentu, Tuan. Ada apa?"
"Aku tadi kebelet, gak sengaja pipis di celana. Beliin celana baru ya? Gak betah, bau pesing." Ucap Daniash, wajah nya memerah menahan malu.
"Baik tuan, ukuran XL ya seperti biasa?"
"Hmm, pastikan itu nya sedikit longgar. Seperti milik ku mengembang karena sudah lama tidak muntah." Jawab Daniash, Aryo pun mengangguk dan langsung pergi dari sana.
Danish menatap putranya, begitu juga dengan Riana. Sebenarnya mereka ingin tertawa, tapi Daniash pasti akan sangat badmood jika mereka melakukan nya. Jadi, memilih menahan tawa nya saja hingga perut mereka mulas.
"Napa liat-liat.." ketus Daniash, seperti nya dia sudah feeling kalau orang tua nya akan menertawakan dirinya yang ketahuan pipis di celana. Harusnya, tadi dia bicara berdua saja dengan Aryo di dalam ruangan, atau lewat pesan saja agar tak menanggung malu.
"Tuan, maaf kapan kedua bayi atas nama Tuan Daniash juga Nona Maura akan di bawa pulang?" Tanya seorang perawat yang datang menghampiri keduanya dengan langkah ragu-ragu. Siapapun disini tau, kalau Danish adalah pria yang berkuasa. Jadi mereka cukup takut untuk mengatakan ini, mereka takut di anggap mengusir pasien dari rumah sakit. Bisa-bisa rumah sakit ini di tutup oleh pria paruh baya itu.
"Memang nya kenapa? Apa rumah sakit ini kehabisan ruangan khusus bayi?" Tanya Danish. Sudah perawat itu duga, kalau jawaban pria ini akan seperti itu.
"Bukan seperti itu, Tuan. Kami khawatir, baby twins akan tertular penyakit atau semacam virus karena terlalu lama berada di rumah sakit." Jawab perawat itu takut-takut.
"Hmm, baiklah. Siapkan saja, nanti sore aku akan membawa cucu ku pulang." Jawab Danish tegas, perawat itu pun mengangguk dan segera pergi. Berada dekat dengan pria itu membuat jantung nya berdetak lebih kencang, tapi bukan saat sedang jatuh cinta.
"Gak kerasa ya, usia cucu kita sudah satu minggu." Lirih Riana.
"Hmm ya, selama itu juga menantu kita belum bangun juga, sampai sekarang." Jawab Danish.
"Lalu, apa kabar dengan besan kita, Pah?"
"Elgar harus di operasi, semoga saja operasi nya berjalan lancar besok." Jawab Danish. Besan nya harus di operasi untuk mengangkat batu ginjal di tubuh nya.
__ADS_1
"Iya, semoga saja ada kabar baik esok hari." Jawab Riana. Dia sangat berharap kalau Maura akan segera bangun dari tidurnya, tapi selama satu minggu belum ada tanda-tanda kalau dia akan membuka mata nya.
Sore hari nya, Danish bersiap untuk membawa kedua cucu nya pulang. Mereka mendorong troly bayi ke dalam ruang perawatan Maura.
"Dan, kami mau pulang bawa baby twins." Ucap Riana lirih, sambil menepuk pundak putra nya pelan.
"Iya, Ma. Bawa mereka dan berhati-hatilah, aku akan disini sampai Maura terbangun."
"Sampai kapan, Nak?"
"Sampai kapanpun, kalau perlu seumur hidup aku akan menunggui istriku disini." Jawab Daniash tegas, pria itu bangkit dan menggendong salah satu bayi laki-laki nya, membawa nya untuk lebih dekat pada istrinya.
"Mom, ini putra kita." Lirih Daniash, kedua mata nya berkaca-kaca, sungguh dia tak sanggup seperti ini. Dia terlalu mencintai istrinya, hingga rela menumpahkan air mata untuk wanita itu.
"Cepatlah bangun, mereka sangat membutuhkan kehangatan dan kasih sayang kamu, Mom. Bahkan baby Davi, juga Anna menunggu kepulangan dirimu. Mereka rindu, mereka rewel terus karena merindukan sosok ibu nya. Bangunlah, Daddy menunggu." Ucap Daniash lirih, bahkan terdengar seperti berbisik.
Dan sebuah keajaiban pun terjadi, perlahan tangan Maura bergerak, sedetik kemudian kedua mata lentik nya terbuka perlahan.
"Pah, Maura pahh.." ucap Riana, dia langsung memeluk suami nya, wanita baya itu menangis di pelukan suami nya begitu melihat sang menantu berhasil membuka mata nya.
"S-ayang.." Panggil Daniash terbata, Maura menatap suami nya dengan intens, mata nya menatap dalam ke arah Daniash yang sedang menggendong bayi mereka.
"Daddy.."
"Terimakasih, sayang.." Pekik Daniash, dia meletakan bayi itu di troly nya dan langsung memeluk istrinya dengan erat, pria itu menangis sesenggukan di pelukan Maura.
"Dad, engap.." Lirih Maura, Daniash pun langsung melerai pelukan nya, beralih dia menciumi seluruh wajah istrinya.
"Terimakasih sudah bangun, Mom. I love you, Mommy."
"I love you more, Daddy." Balas Maura.
Suasana di ruang perawatan itu terasa menghangat, Maura akhirnya tersadar dari koma nya setelah satu minggu ini dia hanya bisa berbaring tanpa melakukan apapun. Tubuh nya tentu saja terasa pegal, karena dia hanya diam tak bergerak sedikitpun.
Moment yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga, Daniash akhirnya kembali menemukan semangat hidup. Dia terus menyunggingkan senyuman manis nya sambil menatap penuh cinta pada sang istri.
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻