
Waktu terasa berlalu sangat singkat, saat ini Maura sedang merasakan rasa sakit di perutnya. Kandungan nya yang memang sudah berusia sembilan bulan saat ini, tapi perempuan itu menyangka ini hanya sakit perut biasa karena kemarin dia habis makan seblak bersama Nayna.
"Duhh, sakit banget.." Ringis Maura, dia tak berani memberitahu ibu mertua nya atau suaminya, bisa-bisa mereka marah kalau sampai ketahuan makan makanan yang tak sehat, meskipun hanya sesekali.
Maura bolak balik ke kamar mandi sambil memegangi perutnya, di dalam sana Maura hanya nongkrong di atas kloset tapi tak ada yang di keluarkan, tapi mules di perutnya tetap terasa, bahkan terasa semakin sakit.
"Uhh, adek bayi maafin Mommy ya. Gara-gara mommy makan seblak, kalian pasti ikutan sakit juga." Gumam Maura sambil berjalan mundar mandir di kamar nya, mau keluar juga tak mungkin karena dia takut pada mertua nya.
"Kok makin sakit ya?" Maura memejamkan mata nya menahan rasa sakit di perutnya, dia berpegangan pada sisi meja rias.
"Aaahhh.." Maura memekik saat melihat cairan yang mengalir di kaki nya, bercampur dengan bercak darah.
"Kok keluar gituan ya? Apa aku mau lahiran?"
"Ma, mama…" Teriak Maura, membuat Riana yang sedang menonton televisi di ruang tengah pun langsung menuju ke kamar dan membuka nya.
"Ada ap…" Ucapan Riana terpotong begitu melihat cairan yang membanjiri lantai.
"Ya ampun, sayang." Riana memekik, lalu langsung mengambil ponsel untuk menghubungi putra nya yang sedang bekerja di kantor.
"Mama.."
"Sebentar sayang.." Ucap Riana, tapi entah kenapa Daniash tak kunjung mengangkat telepon nya, bahkan hingga telepon ke lima pun, Daniash tak mengangkat nya sama sekali.
"Kenapa, Ma? Kok panik gitu."
"Maura mau lahiran, Pah. Tapi ini suaminya susah di hubungi." Ucap Riana.
"Kita bawa aja ke rumah sakit sekarang, masalah Daniash biar nanti kita hubungi kalau sudah sampai."
"Iya Pah, mama mau bantu Maura dulu."
"Papah mau manasin mobil." Jawab Danish. Kedua nya pun berjalan ke arah yang berbeda, Danish ke luar untuk memanaskan mobil, sedangkan Riana berjalan ke kamar untuk membantu sang menantu.
"Sayang.."
"Ma, sakit.." Keluh Maura, air mata nya membanjiri wajahnya. Sebagai anak yang selalu di manja, tentunya Maura tak pernah merasakan rasa sakit yang sehebat ini.
"Sabar ya sayang, mama bantu ganti baju dulu, kita ke rumah sakit sekarang."
"Daddy mana?" Tanya Maura lirih.
"Lagi di telpon sama Papah, yuk ganti baju dulu yang ini basah."
Maura menurut, Riana mengambilkan dress yang biasa nya Maura pakai dan memakaikan nya, juga memasang pembalut agar tak bocor saat di mobil nanti.
"Mama.."
"Iya sayang, tahan ya." Ucap Riana, dia membopong tubuh menantu nya, meski cukup kesulitan tapi tak ada cara lain, karena Maura terlihat sangat kesakitan saat ini.
__ADS_1
Danish datang, pria paruh baya itu langsung menggendong menantu nya dan memasukan nya ke dalam mobil agar lebih cepat. Riana langsung berjalan cepat mengikuti kedua nya dengan menenteng tas berisi peralatan bayi nanti.
"Aaahh, mama.."
"Ssttt sayang, tahan ya." Ucap Riana sambil terus mengusap perut Maura dengan lembut.
"Gimana Daniash, Pah? Udah bisa di telpon?"
"Nomor nya gak aktif, Ma."
"Telepon Aryo, Pah." Ucap Riana lagi, Danish mengangguk dan berusaha menghubungi Aryo, sekretaris putra nya.
Hanya butuh beberapa detik saja hingga panggilan itu di angkat oleh pria itu.
'Hallo tuan besar..'
"Dimana Daniash?" Tanya Danish langsung tanpa basa-basi.
'Tuan muda ada di ruangan nya, Tuan besar. Baru saja habis meeting dengan klien.'
"Bilangin sama dia, Maura mau lahiran. Sekarang lagi di jalan mau ke rumah sakit xxx. Segera kesana, Maura membutuhkan nya." Tegas Danish, membuat Aryo cukup terhenyak saat mendengar kabar bahwa Maura akan melahirkan.
'Baik tuan, akan saya sampaikan sekarang juga.'
"Ya, cepatlah."
"Ada apa, Ar? Kenapa wajahmu begitu panik?" Tanya Daniash dengan kening yang berkerut heran.
"Tuan, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga."
"Ngapain?"
"Nona Maura akan melahirkan, saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Tuan besar dan nyonya besar." Jawab Aryo dengan nafas tersengal. Tanpa kata, Daniash berdiri dari duduknya, lalu menarik jas Aryo hingga membuat pria itu berjalan terseret karena ulah atasan nya.
'Pasrah deh pasrah, untung aja di seret bos.' Batin Aryo sambil mengikuti langkah lebar atasan nya.
"Nyetir Ar, cepetan, ngebut!" Perintah Daniash, Aryo mengangguk. Beruntung nya, jalanan cukup sepi karena belum waktunya makan siang atau pulang kerja juga.
Daniash meremaas jemari nya dengan khawatir, dia mengkhawatirkan sang istri yang pasti sedang merasakan sakit saat ini tanpa ada dirinya di samping nya.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan. Harusnya aku mengajukan cuti, tau istri udah waktu ngelahirin malah sibuk aja kerja!" Gerutu Daniash sambil menjambak rambut nya dengan kesal.
"Sabar tuan, jangan menyalahkan diri sendiri."
"Bagaimana bisa aku bersabar, Ar. Sudahlah, jangan banyak omong. Kemudikan saja mobilnya dengan cepat!" Tegas Daniash.
Di lain tempat, mobil yang membawa Maura baru saja sampai di rumah sakit. Danish dengan sigap langsung menggendong sang menantu dan membawa nya ke ruangan tempat IGD.
"Sus, tolong menantu saya."
__ADS_1
"Baik, mari." Perawat itu pergi, lalu kembali dengan membawa brankar. Maura berbaring di brankar itu, lalu perawat itu mendorong brankar nya ke dalam.
"Tunggu disini, tuan dan Nyonya."
"Baik, sus." Kedua nya pun menunggu di luar dengan harap-harap cemas, perasaan yang bercampur aduk antara khawatir dan takut.
"Pah, Maura akan baik-baik saja kan?"
"Tentu saja, sayang." Jawab Danish sambil merangkul istrinya.
"Papah.." panggil Daniash, di berlari sekuat tenaga membuat keringat membanjiri kening nya.
"Dari mana saja kau ini hah? Di telpon gak di angkat!" Ketus Danish pada putra nya.
"Apa iya?" Daniash merogoh saku nya dan mencoba menghidupkan ponsel nya, ternyata ponsel nya mati.
"Hehe, mati. Semalem lupa di cas, Pah."
"Konyol, ponsel mahal juga kalo yang punya ceroboh tetep aja jelek!"
"Gimana keadaan Maura, Pah?" Tanya Daniash lagi.
"Masih di tangani di dalam, katanya lagi di cek pembukaan nya."
"Ya Tuhan, semoga istriku baik-baik saja." Gumam Daniash, dia berjalan mundar mandir sambil menunggu pintu ruangan itu terbuka.
"Duduklah, Dani. Kau ini seperti setrika!" Celetuk Danish, membuat putra nya duduk namun tetap saja tak tenang.
"Tenanglah Nak, istrimu akan baik-baik saja."
"Bagaimana bisa aku tenang, Ma. Aku takut, cemas dan khawatir."
"Mama tau sayang, tapi kamu juga harus tenang."
"Ma.." Riana menepuk pundak putra nya, putra yang mungkin beberapa detik lagi akan menjadi seorang ayah.
"Keluarga Nona Maura?"
"Saya suaminya, dok."
"Pembukaan nya masih delapan, masih belum bisa melahirkan saat ini. Silahkan ajak berjalan-jalan lebih dulu agar mempercepat pembukaan." Saran perawat itu.
"Saya boleh masuk, dok?"
"Silahkan tuan." Jawab Perawat itu, Daniash pun langsung masuk tanpa mempedulikan apapun lagi.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1