Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 107 - Kontraksi Palsu


__ADS_3

Keesokan hari nya, suasana rumah nampak ramai karena kedatangan Elgar dan Amira. Kedua nya datang karena rindu pada kedua cucu mereka, sekarang rasa rindu pada sang putri tak sebesar rasa rindu mereka pada baby twins.


"Ututuu, cucu nya nenek ganteng banget sih." Ucap Amira sambil menduselkan hidung nya di pipi gembul baby Daviandra. 


Sedangkan Elgar nampak sedang menggendong baby Daviana, pria paruh baya itu tersenyum kecil ketika melihat baby Daviana menguap, kedua mata nya terbuka sedikit membuat nya sangat gemas.


"Daviana mirip sekali dengan Maura saat masih bayi kan, Ma?" Tanya Elgar sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.


"Iya, Pah. Bahkan alis nya saja mirip sekali."


"Kalau Daviandra lebih mirip ke papa nya." Celetuk Elgar, sambil mengusap pelan pipi kemerahan cucu laki-laki nya.


"Hmm, seperti nya Maura sangat mencintai suami nya ya, Pah?"


"Begitu sebaliknya, lihatlah Daviana." 


"Mereka kan Maura sama Daddy yang bikin, jadinya ya pasti satunya mirip Daddy nya, satu nya lagi mirip mommy nya biar adil." Ucap Maura sambil tersenyum, perempuan itu sedang mengemil salad buah seperti biasa. Maura dan makanan satu itu seperti tak ada bosan nya sama sekali, bahkan dia memakan makanan penutup itu setiap hari. 


"Iya juga sih, kamu sudah makan sayang?" Tanya Amira.


"Sudah kan tadi sama sup buatan Mama."


"Aahh iya, Mama lupa sayang. Suami mu kemana?" Tanya Amira lagi sambil tetap menggendong cucu nya, padahal Daviandra tidur nyenyak.


"Daddy lagi ke kantor sebentar katanya, ada berkas yang harus di tanda tangani sekarang juga." 


"Hmm, semoga saja bukan pengalihan saham ya." Celetuk Elgar dengan wajah datar nya, seolah tanpa rasa bersalah telah mengatakan hal demikian.


"Isshh papa, kalau saham nya di jual bisa-bisa aku hidup susah nanti. Aku gak mau!"


"Matre." Cibir sang papa membuat Maura mencebik.


"Bukan matre, tapi perempuan itu memang harus di ratukan. Nih, belum beli baju nya, skincare, make up nya, tas branded, sepatu nya, itu semua pake duit. Jadi, laki-laki yang bilang kalau cewek itu matre, cuma dua kemungkinan, Pah."


"Dua kemungkinan?" Tanya Elgar dengan kening yang mengernyit heran.


"Ya, pertama karena pelit. Kedua ya karena miskin." Jawab Maura sambil tertawa. 


"Haha, kamu ini ada-ada saja." 


"Eehh, Daddy. Udah pulang, Dad?" Tanya Maura sambil mendekat ke arah suaminya.


"Iya, Mom. Ngapain lama-lama di kantor, gak seru. Lagian kangen sama baby twins." 


"Ohh, jadi sekarang kangen nya sama baby twins ya, bukan sama aku lagi?" Tanya Maura dengan kesal. 


"Hehe, sama baby twins aja Daddy kangen apalagi sama ibu nya." Jawab Daniash sambil merangkul istrinya dan memeluk nya.


"Hmmm, sudah selesai urusan nya Dad?" 


"Sudah dong, Mom." Jawab Daniash sambil mengecupi kening istrinya dengan mesra.


"Ehemm.." Elgar berdehem, membuat kemesraan kedua nya sedikit terganggu.

__ADS_1


"Kebiasaan, kalo udah ngebucin pasti gak tau tempat." Cibir Elgar sambil pergi keluar rumah bersama baby Daviana.


"Papa mu kalau ketemu Daddy, bawaan nya sensi aja terus. Apa takut kesaing ya?"


"Kesaing apa nya? Kalian bersaing antara siapa yang paling tua kan?" Tanya Maura membuat suami nya itu terkekeh.


"Daddy belum tua, cuma dewasa aja." 


"Iya iya, terserah Daddy aja. Mau makan sekarang? Mama bawain sup daging." 


"Boleh deh, Daddy emang laper." Jawab Daniash sambil menarik istrinya ke dapur.


"Ma, Maura ke dapur dulu nemenin Daddy makan siang ya? Kalau Davi rewel, panggil Maura aja." 


"Siap.." Jawab Amira, kalau Davi rewel kan tinggal di kasih susu saja. Lagi pula, apa tugas Nany yang Daniash pekerjakan kalau rewel sedikit saja harus memanggil ibu nya?


Maura menemani suami nya makan siang, dia juga membuatkan kopi untuk Daniash. Seperti biasa, kopi hitam tanpa gula kesukaan pria tampan itu.


"Ini kopi nya, Dad."


"Terimakasih, Mommy."


"Sama-sama, Daddy." Jawab Maura, dia tersenyum lalu duduk di dekat suami nya. Masih dengan semangkuk salad buah yang sedari tadi belum dia habiskan.


"Sayang.."


"Ya, Daddy. Kenapa?"


"Daddy sudah membangun rumah untuk kita, mungkin sekarang sudah tiga puluh persen." 


"Iya Mom, setelah baby Davi berusia satu tahun kita pindah kesana."


"Baiklah, Maura harap rumah kita tidak terlalu besar agak aku tak merasa kesepian nanti, Dad. Capek juga beres-beres nya nanti."


"Memang nya siapa yang mau nyuruh kamu beres-beres hmm? Daddy bisa mempekerjakan maid nanti, Mom. Untuk anak-anak, kita tetap bisa menyewa Nany."  Jawab Daniash sambil tersenyum. Istrinya ini sering kali mempermasalahkan hal yang tidak mungkin terjadi.


"Tapi, itu akan menghabiskan uang Daddy."


"Tidak masalah, Mom. Daddy rela kok jatuh miskin demi bahagian kamu."


"Aku yang gak mau miskin, Dad." 


"Ya kalau gitu, Daddy akan kerja lebih keras lagi buat kamu sama anak-anak." Jawab Daniash.


"Hmmm, tapi jangan abai dan lupa sama kesehatan Daddy." 


"Tentu saja, Mom." 


"Ya sudah, sekarang makan lagi yang banyak biar semangat." 


"Sebenarnya semangat Daddy itu ada di kamu, Mom." Daniash menatap istrinya dengan tatapan nakal.


"K-ok aku?"

__ADS_1


"Sarang Daddy kan ada di kamu, Mom." 


"Ya ampun Daddy, baru juga semingguan udah mancing-mancing aja sih."


"Masih lama ya, Mom?"


"Masih tiga minggu lagi, Daddy. Sabar ya?" Ucap Maura lirih, Daniash menatap istrinya dengan sendu. Jujur saja, dia sedang berhasraat saat ini. 


"Yaudah, nanti bantu Daddy keluarin ya?" 


"Okey, Daddy." Jawab Maura akhirnya, dia harus mau membantu suami nya untuk mengeluarkan lahar panas nya.


Sedangkan di rumah lain, Nayna tengah merasakan mulas di perutnya. Aryo tengah mengusap perut istrinya dengan lembut, meskipun sangat terlihat jelas kalau pria itu tengah mengkhawatirkan keadaan istrinya. 


"Sayang, kenapa kok bisa mules gini?" Tanya Aryo lirih.


"Gak tau, Dad. Sakit banget ini."


"Daddy panggil bidan desa aja ya? Biar jelas alesan nya."


"Iya Dad, jangan lama ya?" Aryo mengangguk dan pergi dari rumah ke klinik bidan desa yang tak jauh dari rumah Aryo dan Nayna.


Hanya beberapa menit saja, Aryo sudah kembali bersama seorang bidan.


"Permisi, ya Bu." Bidan itu mulai memeriksa keadaan Nayna dengan detail.


"Ini kontraksi palsu, Bu."


"Kontraksi palsu?" Tanya Aryo dan Nayna berbarengan. 


"Iya, maaf bapak dan ibu apakah tadi malam melakukan hubungan badan?" Tanya bidan itu, membuat wajah Nayna memerah padam. Tapi berbeda dengan Aryo yang nampak biasa saja.


"Iya Bu bidan, karena istri saya doyan banget. Semalem bisa sampai dua atau tiga kali." Jawab Aryo polos, membuat Nayna refleks menepuk lengan suaminya.


Bu bidan tersenyum kecil, ada ya pria sejujur ini?


"Harap di kurangi terlebih dulu ya frekuensi berhubungan nya, apalagi dalam durasi yang lama."


"Jadi tidak boleh berhubungan dulu?" Tanya Aryo lagi, sedangkan Nayna sudah menenggelamkan wajahnya di bantal karena rasa malu nya.


"Boleh, asal jangan terlalu sering dan lama. Seminggu, cukup satu atau dua kali saja. Tapi, selama Ibu hamil nya merasa nyaman, tak apa-apa. Tapi sebaiknya jangan di lanjut kalau bumil nya kesakitan ya, Pak." Nasehat ibu bidan itu dengan senyum tulus nya.


"Baiklah, Bu."


"Saya hanya akan memberikan vitamin saja, dan untuk makanan sebaiknya di hindari dulu untuk makan makanan pedas ya." 


"Baik Bu." 


"Ini resep nya ya, saya permisi. Rasa mulas nya akan berangsur-angsur hilang kok, tapi kalau sampai malam masih kerasa mulas terus ada flek atau cairan yang keluar, sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit ya."


"Iya Bu, terimakasih ya."


Bidan itu tersenyum lalu pergi dari rumah Aryo dengan membawa tas kecil nya yang berisi alat-alat kesehatan.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2