Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 79 - Calon Istri


__ADS_3

"Nay.." Panggil Maura, begitu mendengar nama nya di panggil, gadis itu berbalik dan langsung berlari memeluk sahabatnya.


"Ra, gue sendirian sekarang." Lirih Nayna di pelukan Maura, dia menangis di pundak sahabatnya, mengeluarkan semua rasa sakit yang sedari tadi dia tahan.


"Enggak, Lo gak sendirian. Ada gue disini, ada om Aryo yang bakal jagain Lo, Nay." 


"Dunia gue rasanya hancur, Ra." 


"Gue ngerti, gue juga tau rasa sakit nya. Tapi, hidup harus tetap berjalan. Lo gak bisa diam di tempat, Lo harus belajar menerima kenyataan ini, Nay. Yuk bisa!" Ucap Maura menyemangati sahabatnya.


"Ra.." 


"Iya.." 


"Makasih banget."


"Sama-sama, sorry gue gak ada pas Lo lagi terpuruk, Nay. Lo tau sendiri keadaan gue sekarang lagi hamil, gak bisa sebebas dulu." 


"Gapapa, Ra." Keduanya pun kembali berpelukan. Hanya jangka sepuluh hari saja mereka tak bertemu, tapi saat bertemu malah di keadaan yang sangat buruk dan menyakitkan.


"Sayang, sudah siap? Kita harus melakukan upacara terakhir untuk ibu." 


"Iya Dad." Jawab Nayna lirih. Maura menggandeng tangan sahabatnya, namun Daniash memberikan kode agar membiarkan Nayna bersama Aryo saja.


"Biarkan dia sama Aryo, Bby. Kamu masih terlalu lemah untuk berjalan sendiri tanpa Daddy." 


"Iya Dad." Jawab Maura, keduanya pun mengikuti langkah Nayna dan Aryo yang berjalan di depan mereka. Daniash terus menggenggam tangan sang istri dengan erat, sesekali menahan pinggang nya saat jalanan yang di penuhi batu kerikil di dekat area pemakaman umum.


Setelah sampai, dengan sigap petugas langsung memasukan jenazah ibu nya Nayna ke liang lahat, lalu menimbun nya. Nayna berusaha tegar melihat itu semua, karena ada Aryo di samping nya jadi dia merasa punya kekuatan.


'Ibu, ibu harus bahagia di sana karena sekarang ibu sudah tak merasakan sakit lagi. Maafin Nayna ya, Bu.' Batin Nayna, sambil menabur bunga di atas tanah merah yang menggunduk di depan nya.


Aryo menatap gadis nya dengan sendu, dia tak tau harus memperlihatkan ekspresi seperti apa saat ini, yang ada hanya kesedihan.


'Ibu, aku pasti akan melakukan tugas ku dengan baik. Ibu menitipkan Nayna pada pria yang tepat, aku mencintai putrimu dan terimakasih sudah percaya padaku.' Batin Aryo.


Tadi malam, dia bermimpi bertemu dengan sosok ibu Nayna. Mimpi nya terasa sangat nyata, namun Aryo yakin ini adalah mimpi. Di dalam mimpi itu, dia melihat ibu Nayna datang dengan pakaian serba putih. 


Disana hanya ada mereka berdua, terlihat banyak asap yang membuat kaki ibu Nayna tak menapak, terlihat seperti melayang bebas di udara. 


'Nak Aryo, ibu percayakan putri ibu satu-satunya pada Nak Aryo. Tolong jaga dengan baik, limpahi dengan kasih sayang. Ibu titipkan Nayna pada Nak Aryo.' 


"Tentu saja Bu, aku akan melakukan nya dengan baik. Tapi, memang nya ibu mau kemana? Kita jaga Nayna sama-sama ya Bu?"

__ADS_1


'Tidak, ibu sudah lelah juga sudah ada yang menunggu kepulangan ibu.' Ucap nya lembut, dia tersenyum manis sebelum akhirnya hilang bak di tiup angin.


Lalu, Aryo pun terbangun dengan keringat yang membasahi kening nya. Mimpi yang terasa begitu nyata, bahkan wajah cantik ibu nya Nayna masih membayang jelas dalam ingatan nya.


"Sayang, sudah ya? Kita pulang." Ajak Aryo, Nayna bangkit dan menerima uluran tangan pria itu. Kedua nya berjalan bersisian, dengan perlahan Aryo mengecup kening sang gadis cukup lama.


"Kenapa Daddy?"


"Aku mencintaimu, sayang. Seminggu lagi, kita akan menikah."


"Seminggu, Dad?"


"Iya, Daddy ingin menikahi mu hari ini juga. Tapi, surat-surat nya belum selesai." Jelas Aryo.


"Daddy.." kedua mata Nayna berkaca-kaca menatap sang pria.


"Jangan menangis lagi, sudah cukup air mata mu turun hari ini dan kemarin. Karena saat ini, Daddy adalah orang yang bertanggung jawab atas jatuhnya air mata mu." 


"Iya Dad, terimakasih sudah memilihku." 


"Tentu, Daddy memilihmu sayang. Jadi, siapkan dirimu ya." 


"Iya Daddy." Jawab Nayna sambil tersenyum. 


Hari ini benar-benar penuh kejutan, dia melihat langsung ibu nya di kubur di dalam tanah, di lain sisi dia mendapatkan kebahagiaan karena hanya satu minggu lagi, dia akan menjadi milik Aryo seutuhnya, menyandang status sebagai istri nya.


Beruntunglah dia mendapatkan pria segentle Aryo, selain paras nya yang tampan, dia juga baik dan perhatian. Jangan lupakan, bahwa dia juga pria yang suka bekerja keras untuk membahagiakan orang spesial nya.


Benar kata pepatah, akan ada pelangi setelah hujan badai.


"Dad.." panggil Maura pada sang suami.


"Kenapa sayang?"


"Baper liat mereka." Ucap nya membuat Daniash terkekeh.


"Dulu, kita juga begitu sayang. Tapi, sekarang kita lebih dari seperti itu, ini buktinya." Jawab Daniash sambil mengusap perut buncit sang istri.


"Hemm, iya juga sih." 


"Iya Bby, kita mampir ke rumah Nayna dulu setelah itu kita pulang." 


"Okey Dad, apa Daddy memberikan santunan sama Nayna?" Tanya Maura.

__ADS_1


"Belum, tapi akan." 


"Baguslah." Maura menggelayut manja di lengan suami nya.


"Daddy.." lirih Maura. 


"Iya, kenapa lagi Bby?" Tanya Daniash dengan heran.


"Capek." Jawab wanita itu, di kehamilan nya yang sudah 5 bulan ini, berjalan sedikit saja membuat nya kelelahan. Belum lagi pinggang nya yang sering terasa sakit, karena membawa dua orang sekaligus di perut nya.


"Daddy gendong aja ya?" 


"Gendong punggung?"


"Gendong depan aja, sayang. Kalo gendong punggung, nanti adek bayi nya kejepit dong." 


"Yaudah." Daniash pun menggendong istrinya di depan.


Pria itu berjalan lebih cepat, karena beban yang berada di pundak nya sekarang. 


"Minggir, jangan ngebucin mulu. Ngalangin jalan!" Ketus Daniash sambil membuka jalan untuk dirinya dan Maura.


"Nay, aku duluan ya. Di tunggu di rumah." 


"Siap, Ra." Jawab Nayna. Padahal jarak pemakaman dan rumah Nayna cukup dekat jika di tempuh oleh orang sehat, berhubung Maura sedang hamil, jadi mudah kelelahan.


"Mereka itu terlihat sangat romantis, kapanpun." Gumam Nayna.


"Daddy pun akan melakukan hal yang sama padamu, Bby."


"Benarkah?"


"Tentu, takkan Daddy biarkan kamu kesepian setelah ini." Jawab Aryo, tanpa aba-aba dia menggendong Nayna ala bridal style, sama seperti yang Daniash lakukan pada Maura. 


"Daddy.." Nayna memekik, namun dia tersenyum saat Aryo memutar-mutar tubuhnya. 


"Aaahh pusing Daddy, sudah.." Aryo terkekeh, lalu mencuri ciuman singkat di bibir gadisnya.


"Pusing ya? Maafin Daddy, calon istri." 


Blushh.. 


Wajah Nayna seketika memerah begitu mendengar ucapan Aryo yang memanggil nya dengan sebutan calon istri. Panggilan yang terdengar lebih mesra dari pada Baby atau sayang. Dia menyukai cara pria itu memanggil nya.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2