
"Kangen banget sama istri gemoy Daddy.." Ucap Daniash sambil mendusel di ceruk leher istrinya.
"Papa tahu, kamu bucin sama istrimu. Tapi ya tau tempat juga kali." Celetuk Danish, dia jengah melihat tingkah manja sang putra pada istrinya. Ya walaupun, dulu juga dia begitu pada istrinya, tapi melihat putranya yang bucin parah dia malah muak.
"Eehh, Papa.." Ucap Daniash sambil cengengesan, sedangkan Maura sudah terkekeh geli melihat perubahan ekspresi suaminya.
"Daddy sih, manja nya gak tau tempat." Maura menepuk pelan lengan suaminya.
"Hehe, gak nahan Bby. Kangen berat, sampe gak fokus kerja gara-gara mikirin kamu."
"Aaahh Daddy gombal."
"Kok gombal sih, Daddy serius sayang."
"Tuh, jadi gak usah takut ya sayang? Suami mu ini sudah cinta mati sama kamu, yakin deh dia gak bakalan bisa berpaling dari kamu." Ucap Riana membuat perempuan hamil itu nyengir.
Memang, melihat tingkah Daniash yang super duper manja dan posesif membuat Maura yakin kalau pria itu takkan berpaling, tapi ketakutan itu tetap saja ada. Apalagi perkataan wanita itu terngiang-ngiang di pikiran nya.
"Takut apa sih, Ma?"
"Tadi, Maura ngeluh sama Mama. Katanya ada wanita yang ngatain dia gendut lah, gak pantas sama kamu lah, jadi istrimu ini insecure karena fisik nya sekarang." Jelas Riana, membuat Maura menunduk.
"Bener, Bby?" Tanya Daniash dengan tatapan menyelidik.
"I-iya Dad.." lirih Maura membuat Daniash berdecak.
"Jadi, secara langsung kamu gak percaya sama cinta Daddy hmm?"
"Bukan begitu, Dad. Aku cuma takut aja Daddy berpaling, karena aku sudah tidak menarik lagi. Coba lihat, aku gendut sekarang. Perut ku penuh dengan strechmark."
"Apa Daddy pernah mempermasalahkan nya hmm? Tidak, kan?" Maura menggeleng, memang sejauh ini Daniash tak pernah mempermasalahkan perubahan fisik nya.
"Jadi, untuk apa kamu takut? Daddy takkan pernah melakukan hal serendah itu, susah payah Daddy meyakinkan papa mu, lalu kenapa Daddy harus menyia-nyiakan nya?"
"Dad.."
"Jangan insecure lagi ya? Demi apapun, Daddy gak pernah keberatan. Seperti apapun fisik mu, Daddy terima. Jangan memikirkan hal yang tak perlu, itu akan mempengaruhi anak kita." Ucap Daniash lembut, membuat kedua mata Maura berkaca-kaca.
"Iya Dad."
"Kamu tetap menjadi wanita tercantik di mata Daddy, fisik mu berubah karena mengandung anak kita, sayang."
"Daddy, peluk.." Rengek Maura manja, membuat Daniash dengan senang hati memeluk istrinya.
"Drama pasangan suami istri yang di landa bucin akut resmi di mulai." Celoteh Danish.
"Pindah ke kamar yuk? Disini ada yang iri." Celetuk Daniash, membuat papa nya mendelik.
"Heh!"
"Yuk, Bby.." Ajak Daniash sambil menarik pelan tangan istrinya, lalu membawa nya ke kamar.
__ADS_1
Kamar mereka di lantai atas sudah di pindah ke lantai bawah dengan alasan agar Maura tak bersusah payah menaiki tangga. Dengan perut besar nya saat ini pasti sangat menyulitkan dan melelahkan baginya, jadilah Daniash mengambil langkah bijak untuk sang istri.
"Anak-anak itu, semakin lama semakin.."
"Ingat, dia anak mu Pah. Anak-anak hanya meniru mu dulu sewaktu muda." Ucap Riana, membuat suaminya bungkam seketika.
"Nah diem, merasa kan kalau dulu diri sendiri juga bucin akut? Pake nyindir-nyindir anak nya segala, gak sadar diri." Sindir Riana membuat Danish terpojok.
Di kamar, Maura duduk di sisi ranjang sambil menunggu suaminya berganti pakaian setelah mandi. Dia menyisir rambutnya, entah kenapa sejak hamil dia sangat suka menyisir rambut. Namun malas berhias diri.
"Bby.."
"Hmm, iya Daddy."
"Tadi Daddy beliin ini buat kamu, kali aja suka." Ucap Daniash sambil membuka tas kerja nya, lalu mengeluarkan buah yang cukup unik.
"Buah apa ini, Dad?"
"Buah ini lagi viral, sepanjang jalan banyak yang jual lho."
"Nama nya buah apa?"
"Gak tau, hehe. Lupa nanya." Jawab Daniash sambil terkekeh. Sedangkan Maura sudah mendelik kesal, bisa-bisa nya membeli tanpa tau nama buahnya.
"Buka nya gimana?"
"Sini Daddy kupasin." Daniash mengambil alih buah itu dan membuka nya.
"Nah, itu keunikan nya Bby. Satu buah, tiga rasa." Jawab Daniash.
"Enak, Dad. Manis banget, tapi gapapa di makan ibu hamil kan?"
"Ya enggak dong, Daddy udah nanya tadi. Tapi ya balik lagi, gak boleh banyak-banyak." Peringat Daniash. Pasalnya, istri cantiknya ini kalau sudah suka sama satu jenis buah, bisa-bisa dia akan terus memakan nya hingga bosan.
"Iya iya, harusnya kalo gak boleh makan banyak-banyak, beli nya dikit aja."
"Hehe, soalnya unik aja."
"Sekeranjang gini harganya berapa, Dad?"
"Seratus ribuan gitu, tapi lupa juga."
"Kok jadi pikun gini sih, kayaknya bener deh kata Papa."
"Apa nya yang bener?" Tanya Daniash.
"Daddy udah tua, makanya pelupa."
"Heh, aku tua-tua gini masih laku sama anak perawaan."
"Ohh jadi gitu ya? Masih laku sama perawaan ya hmm? Mau di sunat habis burung nya?" Tanya Maura dengan suara lembut yang di buat-buat, membuat seluruh bulu halus Daniash berdiri seketika.
__ADS_1
"Hehe, maksud Daddy tuh kamu. Kamu kan anak perawaan sebelum Daddy rusak."
"Ohh, gitu? Beneran nih, jangan bikin aku insecure lagi."
"Sumpah, Bby. Gak ada niatan Daddy buat berpaling dari kamu."
"Yaudah deh, lega banget denger nya kalo gitu, Dad." Jawab Maura sambil tersenyum.
"Jangan insecure lagi ya?"
"Iya Dad, tapi tetap aja kepikiran sama omongan wanita itu."
"Terus, kamu maunya gimana? Waktu itu kamu minta buat nendang dia, Daddy turutin. Itu buktiin kalo Daddy gak tergoda sama sekali." Jelas Daniash, perasaan istrinya begitu lembut dan seringkali terlalu sensitif, membuat Daniash cukup kesulitan untuk membujuk istrinya.
"Hmm, gak tau juga Dad."
"Yaudah, semenggoda apapun wanita di luar sana, tetap kamu pemenang nya di hati Daddy. Cukup percaya aja sama Daddy ya?"
"Iya Dad, makasih banget ya udah milih Maura."
"Sama-sama, sayang. Kamu udah makan?"
"Udah, sekalian ngemil salad buah tadi buatan Mama."
"Daddy laper, temenin makan yuk?" Ajak Daniash, Maura mengangguk dan menerima uluran tangan sang suami. Dengan sebelah tangan lain nya membawa buah yang di bawa Daniash sebagai oleh-oleh pulang kerja tadi.
Sejak istrinya hamil, Daniash selalu membawakan oleh-oleh sepulang bekerja. Entah itu sekedar martabak manis kah, jajanan yang ada di pinggir jalan, buah lah, bunga lah, apapun yang kira nya akan membuat istrinya senang, pasti Daniash beli.
Maura pun melayani suaminya, mengambilkan nasi dan lauk nya, lalu menyimpan nya di depan suaminya.
"Terimakasih istriku."
"Sama-sama suami." Jawab Maura, dia pun ikut duduk di samping suaminya, namun dia tak makan karena masih kenyang.
"Kamu gak makan, sayang?"
"Masih kenyang, Dad."
"Enak lho.." Goda Daniash, samb bersiap menyuapi istrinya. Akhirnya Maura tak tahan dan menerima suapan dari suaminya.
"Nah lho, katanya masih kenyang."
"Hehe, aku nya yang kenyang. Ternyata dedek twins masih laper, Dad."
"Yaudah, kita makan satu piring berdua aja ya?"
"Iya Dad." Akhirnya, Daniash makan sembari menyuapi istrinya makan juga. Padahal belum ada dua jam perempuan itu makan, tapi ya namanya juga bumil kan? Mudah lapar tapi kadang mudah kenyang juga.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1