
Di kamar, Maura hanya diam termenung sambil melihat pemandangan dari balkon kamar nya. Di temani angin semilir yang berhembus pelan, menerbangkan rambut indah nya ke belakang.
Tangan nya terus mengusap lembut perut nya yang masih rata, kenapa kehamilan nya kali ini membuat perdebatan? Bukan nya senang menyambut kehamilan nya, justru terlihat sebaliknya. Apalagi sang papah.
Tok.. tok.. tok..
"Mom, buka pintu nya. Ini sudah sore, mau pulang atau menginap disini?" Tanya Daniash dari luar pintu. Wanita itu berbalik dan berjalan perlahan ke arah pintu dan membuka nya.
"Dad.."
"Akhirnya, kamu mau membuka pintu nya Mom. Kamu baik-baik saja?" Tanya Daniash, dia meneliti setiap inchi tubuh istrinya. Jujur, dia takut kalau Maura melakukan hal-hal di luar nalar seperti menyakiti dirinya sendiri. Tapi syukurlah, Maura tidak melakukan hal semacam itu.
"Hmm ya, aku baik-baik saja Dad."
"Mau pulang atau menginap saja?" Tanya Daniash lagi.
"Terserah Daddy saja, aku lemas Dad."
"Ya sudah, kita menginap disini saja ya." Putus Daniash, dia tak mau mengambil resiko dengan membawa istrinya pulang petang seperti ini.
"Masuklah, Dad." Ajak Maura. Daniash mengangguk dan mengikuti langkah istrinya nya ke dalam kamar. Pria itu kembali menutup pintu nya dengan perlahan, sedangkan Maura kembali ke balkon, berdiri dengan berpegangan pada tralis besi, menikmati semilir angin yang terasa sejuk.
Daniash datang dan memeluk istri nya dari belakang, dia menyandarkan dagu nya di pundak sang istri dengan manja.
"Dad.."
"Yes, Mommy. Kenapa?" Tanya nya pelan, tangan nya bergerak naik turun mengelus perut istri nya dengan lembut.
"Apa kalian tidak mengharapkan kehamilan ku?"
"Bukan seperti itu, Mom. Papah hanya khawatir karena kehamilan jarak dekat, dan usia kamu yang masih sangat muda, di tambah kamu hamil kembar kedua kali nya." Jelas Daniash.
"Tapi, aku yakin akan baik-baik saja. Memang nya kenapa? Waktu aku melahirkan baby Davi sama Anna juga aku bisa, sekarang juga aku pasti bisa kan Dad?"
"Pasti, sayang. Karena kamu wanita yang kuat, bukan hanya fisik mu tapi juga hati mu."
"Ya, lalu apa yang membuat kalian ragu? Aku akan melewati semua nya dengan baik, Dad. Aku hanya butuh dukungan dari kalian semua." Lirih Maura.
"Tentu, Mom. Daddy selalu berada di samping mu, kapanpun itu. Percayalah, papah hanya mengkhawatirkan keadaan mu, itu saja. Bukan artinya beliau tidak menginginkan kehamilan mu, sayang." Ucap Daniash sambil terus mengusap perut istri nya yang masih rata.
"Semoga saja memang begitu, Dad."
"Tentu seperti itu, sayang. Papah sangat senang saat mendengar kehamilan mu, tapi ya itu satu dia khawatir dengan kondisi kamu, sayang."
"Iya Daddy."
"Jangan merajuk lagi ya? Kasian papah kebingungan bujukin kamu."
"Memang nya siapa yang merajuk, Dad? Maura enggak tuh, cuma kesel aja sih."
"Iya deh, terserah kamu saja." Daniash mengeratkan pelukan nya di tubuh sang istri, dia menduselkan wajah nya di ceruk leher Maura, seperti biasa aroma wanita itu selalu membuat hati nya tenang.
Begitu juga hal nya Maura, dia selalu memuji aroma tubuh suami nya. Apalagi jika malam tiba, entah kenapa aroma nya malah semakin membuat nya nyaman bahkan tidur nya terasa lebih nyenyak jika berada dalam pelukan pria tampan itu.
"Daddy sudah makan?"
"Sudah, tadi Daddy laper banget. Maaf ya, Daddy makan duluan."
"Gapapa, tadi aku juga sudah makan bareng Hanin sama Mira."
__ADS_1
"Iya, gitu dong. Kamu gak boleh telat makan ya, kasian dedek bayi nya." Maura mengangguk, tenang saja meskipun dia tengah merajuk, tapi selera makan nya tidak pernah berkurang sedikit pun. Apapun keadaan nya, jika masalah makan dia pasti cepat dan lahap.
"Daddy makan sama apa?"
"Gulai daging tadi, sekarang Mama lagi bikin tomyum sup. Katanya itu kesukaan kamu, tapi Daddy baru tahu kamu suka tomyum."
"Daddy tau nya tubuh aku secara detail, kalo di tanya aku suka makanan apa, ya pasti gak tau orang gak pernah nanya."
"Hehe, yang Daddy tahu kamu suka dengan semua makanan. Iya kan?" Tanya Daniash sambil mencubit kecil hidung istri nya karena gemas.
"Hmm, apapun aku suka sih kecuali kayu sama batu."
"Gak susah sih ngasih makan kamu, apa aja di makan." Jawab Daniash sambil terkekeh.
"Ya kenapa harus ribet, tinggal makan doang."
"Menggemaskan nya istriku." Ucap Daniash sambil mengunyel-unyel pipi cabi istri nya.
Maura meringis pelan karena cubitan suami nya cukup menyakitkan. Maura nya gemesin, ehh punya suami yang gemesan. Jadi nya ya gini, pipi nya pasti merah-merah karena perbuatan tangan jahil suami nya.
"Kebiasaan Daddy mah, sakit!" Maura menepuk pelan suami nya, membuat pria itu terkekeh karena berhasil menggoda istri nya.
"Udah, jangan cemberut lagi. Daddy tambah gemes nih kalo kamu nya cemberut gini."
Maura hanya memutar mata nya dengan jengah, dia pun melepaskan tautan lengan suami nya yang melingkar di perut nya, lalu berbalik hingga posisi mereka berhadapan saat ini.
Tangan lentik wanita itu meraba rahang tegas sang suami, lalu mengecup bibir nya sekilas.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba cium Daddy, pasti ada mau nya kan?" Tanya Daniash, pria itu tersenyum kecil melihat tingkah istri nya.
"Hehe, pengen.."
"Pengen apa, Mom?" Tanya Daniash dengan senyum menggoda.
"Itu apa sih, Mom?" Goda pria itu lagi, sambil menaik turunkan alis nya dengan nakal.
"Daddy ihhh.."
"Iya Mommy, kenapa?"
"Ayo, satu kali aja." Ajak Maura.
"Iya apa?"
"Main." Jawab Maura sambil tersenyum manja.
"Enggak ahhh, nanti Daddy di omelin sama papah kamu lagi."
"Hmm, Daddy pelit!" Ketus Maura, bibir nya mengerucut lucu, membuat Daniash tertawa dan di detik berikut nya, pria itu menyosor bibir istri nya. Maura menyambut ciuman suami nya dengan senang hati.
"Jadi?" Tanya Maura manja, setelah ciuman mereka terlepas.
"Ayo, sayang." Jawab Daniash. Ini kegiatan kesukaan nya, tak mungkin dia akan menolak suatu kenikmatan yang di tawarkan istri nya.
"Gendong.." Maura merengek manja, sambil merentangkan kedua tangan nya. Dengan senang hati pula, Daniash langsung menggendong istrinya ala bridal style ke kamar dan menutup pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon itu menggunakan lutut nya.
Sedangkan di bawah, Elgar juga melamun sedari tadi. Dia merasa bersalah pada putri nya, harus nya dia tak mengatakan hal semacam itu. Mau bagaimana pun, sebagai orang tua dia harus mendukung apapun keputusan putri nya.
"Pah, kenapa?" Tanya Amira, dia datang dengan secangkir teh hangat di tangan nya. Lalu duduk di samping sang suami yang sedang melamun.
__ADS_1
"Pah.."
"Hmmm, iya Ma?" Tanya Elgar.
"Kenapa? Papa baik-baik saja kan?"
"Ya, tentu saja papa baik. Ada apa memang nya?"
"Tidak, mama perhatikan sedari tadi papa diam aja. Kepikiran Maura ya?"
"Hmmm.."
"Dani sedang membujuk nya, semua pasti akan baik-baik saja. Papah belum makan lho, makan dulu ya? Jangan merusak diri sendiri."
"Nanti saja, Ma. Papa belum lapar."
"Kenapa, Ma? Apa papa gak mau makan?" Tanya Maura yang terlihat sedang menuruni tangga dengan perlahan, tentu nya bersama suami nya.
"Dari siang belum makan." Jawab Amira dengan khawatir.
"Papa kenapa gak mau makan?" Tanya Maura, perempuan itu berjalan mendekat ke arah papa nya.
"Hmm, tidak apa-apa. Tidak lapar saja."
"Jangan bohong, Maura gak suka!"
"Papa minta maaf ya."
"Maaf, untuk apa?" Tanya Maura sambil tersenyum, di menggenggam tangan sang papa. Meskipun tadi sempat kesal, tapi melihat nya seperti ini membuat hati Maura terasa sakit.
"Maaf karena.."
"Sudahlah, Daddy udah jelasin semua nya. Harusnya, Maura yang minta maaf sama papa karena udah salah paham."
"Sayang, percayalah papa sangat menyayangi mu. Perkataan papa tadi, hanya sebagai bentuk rasa khawatir papa sebagai orang tua." Jelas Elgar. Maura tersenyum lalu memeluk sang papa dengan erat.
"Iya, Maura juga minta maaf ya Pa? Karena kehamilan, Maura jadi lebih sensitif dari biasa nya."
"Maafkan papa juga, sayang."
"Maura udah maafin papa, papa mau maafin Maura?" Tanya Maura lirih.
"Tentu saja, nak." Jawab nya, kedua nya pun saling memaafkan. Elgar melerai pelukan nya, lalu mengecup kening putri nya cukup lama.
"Papa sangat menyayangi kamu, Maura."
"Maura juga sayang sama papa."
"Udah ya, damai kan? Yuk makan." Ajak Amira. Karena suami nya punya penyakit asam lambung, telat makan sebentar saja bisa berakibat fatal. Itulah yang membuat nya harus mengingatkan suami nya untuk makan tepat waktu.
"Yuk makan? Maura laper juga."
"Kamu duluan saja, sayang."
"Oke, kalau papa gak makan aku juga gak mau makan. Masa sih papah tega biarin cucu papa kelaparan di dalam sini?" Bujuk Maura.
"Hmm ya, baiklah papa mau makan."
"Nah, gitu dong. Ayoo pah." Maura pun menarik tangan papa nya ke ruang makan. Amira menghembuskan nafas nya lega, akhirnya suami nya mau makan juga.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻🌻