
Daniash kembali melancarkan aksi nya, memberi rangsaangan pada sang gadis. Tapi, seperti nya tak perlu banyak cara agar gadis nya itu kembali bernafssu, hanya dengan tangan nya yang beraksi, dia bisa membuat Maura kembali mendesaah.
"Aaahhhh Daddy, sudah ya. Jangan buat Maura lebih lemas lagi, selesaikan cepat." Pinta Maura lirih, Daniash tersenyum senang. Dia pun menyatukan tubuh mereka dengan perlahan, seperti biasanya Daniash selalu membiarkan senjata nya lebih dulu, meskipun sudah basah tapi lubang milik sang gadis tetap sangat sempit.
Dia pun menikmati sensasi saat di dalam sang gadis, saking sempitnya junior nya terasa di remaas di dalam sana, nikmat sekali.
Setelah merasa cukup, barulah Daniash mulai bergerak, awalnya perlahan namun lama kelamaan dia akan bergerak liar di atas tubuh mungil sang gadis, membuat tubuh gadis nya itu terguncang. Tapi, meskipun demikian, gadis itu tak pernah menolak atau mengeluh, walaupun Daniash menghajarnya semalaman suntuk, dia hanya akan merengek karena lemas atau lelah. Selebihnya dia hanya pasrah dalam kungkungan tubuh besar Daniash.
Selang beberapa jam, akhirnya Daniash berhasil mendapatkan klimaaks nya. Dia mengerang nikmat dengan kedua mata terpejam, Maura yang melihatnya pun seketika wajahnya merona.
'Daddy terlihat sangat seksii saat melepaskan hasraat nya.' Batin Maura.
"Terimakasih Baby.."
"Huum, iya Dad. Sebelum aku pulang, kita makan dulu ya? Aku lapar."
"Tentu, Daddy pesankan lewat online. Mau makan apa cantiknya Daddy?" Tanya Daniash, masih memeluk gadisnya cukup erat.
"Soto daging pedes, Dad."
"Jangan pedes-pedes ya? Dikit aja pedes nya."
"Isshh iya iya, cepetan ya. Maura mandi dulu, sana turun Daddy berat." Daniash terkekeh mendengar gerutuan sang gadis, lalu melepas penyatuan mereka dan berguling ke samping.
"Mandi bareng yuk, Bby."
"Enggak dulu, Dad. Lain kali aja, aku capek layanin nafssu Daddy." Maura memungut pakaian nya yang berserakan karena ulah pria yang saat ini tengah menatap tubuh polos nya dengan tatapan mendamba.
"Kita belum pernah nyobain main di kamar mandi lho, Bby."
"Daddy sayang gak sih sama Maura?" Tanya gadis itu.
"Ya sayang dong, Bby. Kenapa harus tanya? Dari sikap dan perhatian Daddy juga, harusnya kamu bisa rasain sendiri."
"Terus kenapa Daddy bikin Maura kecapean terus? Nyiksa orang tuh gak harus di pukul, Dad. Ini juga masuk dalam kategori penyiksaan." Cerocos Maura, sebelum Daniash bangkit dan tanpa sepatah kata pun, pria itu langsung menggendong tubuh mungil gadisnya ala bridal style.
"Daddy, lepasin ihh…" Gadis itu meronta, Daniash langsung membungkam bibir mungil sang gadis dengan ciuman dalam nya. Bahkan sempat-sempatnya pria itu melumaat kilas bibir Maura, hingga dia bungkam seketika dan memilih pasrah, lalu mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh sang pria.
Akhirnya, mau tak mau Maura harus mandi bersama dengan Daniash, keduanya berendam di dalam bath up dengan air hangat dan busa sabun yang memenuhi tubuh keduanya.
Dengan lembut, Daniash menggosok punggung gadis nya, membuat Maura merasa nyaman dengan setiap sentuhan yang di lakukan oleh sang Daddy, dia begitu di manjakan.
__ADS_1
"Sayang, jangan tidur.."
"Heemm, Maura ngantuk deh Dad."
"Setelah mandi, kamu pake baju, terus makan, baru bisa tidur lagi." Ucap Daniash.
"Aku harus pulang Dad, mama dan papa pasti akan curiga kalau aku tak pulang juga."
"Daddy pasti kesepian sayang."
"Jangan begitu dong, besok kan kita pasti ketemu lagi."
"Yaudah deh, malam ini Daddy tidur sendiri." Keluh Daniash membuat Maura tak tega, tapi mau bagaimana lagi.
"Sabar, kan ada guling." Goda Maura, membuat Daniash mencebik, lalu memeluk gadisnya dari belakang.
"Kalau semisal Daddy cerai sama istri Daddy, kamu mau nikah sama Daddy?" Tanya Daniash pelan.
"Maksud Daddy?"
"Ya kan, ini misalnya sayang."
"Harusnya Daddy gak perlu nanya, karena Daddy sudah tau jawaban nya." Maura berbalik dan mencium sekilas bibir Daniash, lalu bangkit dan membilas tubuhnya di bilik shower. Setelah bersih, Maura memakai bathrobe dan keluar lebih dulu.
Hanya berselang beberapa menit saja, Daniash terlihat menyusul dengan bathrobe yang menutupi tubuh telanjaang nya.
Pria itu tersenyum saat melihat Maura mengenakan pakaian di hadapan nya tanpa malu sedikitpun. Tak lama kemudian, bel pintu apartemen berbunyi. Daniash langsung keluar dari kamar, dia yakin itu pengantar makanan.
Benar saja, seorang kurir nampak berdiri dengan menenteng beberapa kresek di tangan nya.
"Atas nama Tuan Daniash?"
"Ya, saya sendiri." Jawab Daniash.
"Silahkan tanda tangani disini." Pria itu mengambil pena dan menandatangani selembar kertas kecil di tangan sang kurir, setelahnya Daniash mengambil makanan itu dan kurir itu pun pergi.
"Baby, makan dulu sayang."
"Iya Dad.." Maura keluar dari kamar nya dan menyusul Daniash yang sudah berada di meja makan. Pria itu menyajikan makanan yang dia pesan ke piring dan meletakan nya di depan Maura. Pria itu benar-benar memperlakukan gadisnya seperti ratu.
"Terimakasih Daddy.."
__ADS_1
"Makanlah sayang." Daniash mengusap kepala gadisnya, keduanya pun makan dengan tenang. Tak ada percakapan selama mereka makan, karena pantang bagi Daniash bicara saat makan.
Maura makan dengan lahap, dia kelelahan setelah beberapa jam di hajar oleh sang pria, tentu saja hal itu begitu menguras tenaga nya. Meskipun dia hanya diam, tapi tetap saja terasa melelahkan, tapi rasanya benar-benar membuat candu.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Daniash harus merelakan gadisnya pulang. Meski dengan berat hati, tapi Daniash tak bisa melarang gadisnya pulang. Ohh, andai saja dia punya hak untuk membuat gadisnya tetap disini, di sampingnya. Mungkin hidupnya akan terasa lebih indah, saat dia bisa bersatu dengan Maura.
Tapi hal itu hanyalah angan-angan semata, dia takkan bisa mewujudkan nya dalam waktu cepat. Dia harus menyelesaikan semua nya terlebih dulu, barulah dia akan mengikat gadisnya dalam ikatan suci pernikahan.
"Maura pulang dulu ya Dad, jangan nakal. Beristirahatlah,"
"Tentu Baby, kamu juga langsung pulang ya Bby." Ucap Daniash, keduanya berada di parkiran saat ini.
"Iya, aku lelah Dad."
"Kalau begitu sampai jumpa esok hari, sayang." Maura mengangguk, lalu melambaikan tangan nya. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukan nya menjauhi kawasan apartemen yang selalu menjadi saksi bisu hubungan mereka.
Daniash tersenyum kecut, entah kenapa hati nya merasa tak rela saat menyaksikan gadisnya pergi.
Tring..
Maura mengambil ponsel nya dan melihat pesan dari nomor asing.
'Kau Maura kan?' Tanya nya, membuat kening gadis itu mengernyit heran.
"Ya, kau siapa?" Balas Maura, gadis itu membalas pesan sambil menyetir. Berbahaya, tapi Maura terbiasa melakukan nya.
'Kau akan mengetahuinya segera. Temui aku di restoran xxx, sekarang!'
"Ckkk, memang nya siapa kau menyuruh ku?" Balas Maura lagi, namun tak ada balasan lagi, sama sekali hingga beberapa menit berlalu.
Maura terlihat berpikir, setelah beberapa saat. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui orang misterius yang mengirimi nya pesan, kebetulan dia akan melewati cafe itu dalam perjalanan pulang nya.
Gadis itu memarkir mobil sedan kesayangan nya di parkiran, lalu turun dan masuk ke dalam cafe. Gadis cantik itu celingukan mencari dimana kita nya, orang yang sudah mengirimi nya pesan.
'Meja no 84.'
Seperti nya orang itu memperhatikan tingkahnya, hingga dia tau kalau Maura kesulitan mencari nya. Gadis itu membaca pesan nya, lalu mencari meja no 84 dan setelah menemukan nya, Maura membulatkan kedua mata nya, saat melihat siapa yang sudah menunggu nya dengan tatapan tajam dan tangan yang bersedekap di dada.
"Sudah kuduga, cepat atau lambat aku harus menghadapi hal semacam ini, ayoo beranilah, Maura!"
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻