
"Lalu, bagaimana dengan keadaan cucu kami?"
"Mereka baik-baik saja, tapi kalau sampai hal ini terjadi lagi, Maura bisa keguguran." Jelas Daniash membuat ke empatnya terkejut.
"Mama juga bilang apa sama papa? Herra itu bukan wanita baik-baik, lihatkan apa yang sudah dia lakukan sama menantu kita!" Ucap Riana.
"Iya iya, Ma. Papa minta maaf sama Mama."
"Pas udah gini aja baru minta maaf, dulu kemana aja?" Sinis Riana, membuat suaminya meringis.
"Udah-udah, gak usah berantem. Bukan tempatnya, lagian udah mantan ini gak usahlah di bahas lagi. Udah bekas." Ucap Elgar melerai perdebatan antara Danish dan Riana.
"Iya bekas, tapi bekas nya ganggu kayak lalat." Cetus Daniash angkat bicara, dia juga kesal pada wanita itu. Bukan hanya kesal, lebih tepatnya marah besar.
"Permisi, maaf mengganggu."
"Iya, sus." Daniash langsung mendekati perawat itu.
"Nona Maura sudah sadar, dan memanggil Daddy."
"Ohh itu saya, sus."
"Kalau begitu, silahkan masuk Tuan." Daniash pun mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan itu.
"Baby.." panggil Daniash langsung mengecupi wajah istrinya.
"Heemm, Daddy.." Lirih perempuan itu.
"Kenapa Bby, ada yang sakit sayang?"
"Lemes, perut aku juga sakit, Dad." Keluh nya, membuat Daniash langsung mengusap perut istrinya.
"Maafin Daddy gagal jagain kamu ya, Bby."
"Gapapa, bukan salah Daddy kok. Jangan nyalahin diri sendiri ya?"
"Heemm, di luar ada mama sama papa Bby."
"Mama, papa yang mana?" Tanya Maura. Maksudnya, apakah orang tua nya atau mertua nya.
"Dua-duanya, papa sama Mama kamu, sama mertua kamu, Bby. Mereka kelihatan khawatir banget."
"Isshh, harusnya Daddy gak usah ngasih tau mereka, Dad. Biar mereka gak khawatir, aku baik-baik aja kok."
"Baik-baik aja, tapi bikin Daddy panik Bby."
"Maafin Maura ya, Dad."
"Daddy.."
"Iya baby, kenapa?" Tanya Daniash, sambil mengusap rambut sang istri.
"Mereka baik-baik saja kan, Dad?"
"Tentu, mereka anak-anak yang kuat Bby." Jawab Daniash tersenyum manis, membuat Maura menghembuskan nafas nya lega.
"Syukurlah, aku takut sekali Dad."
"Jangan takut, Daddy akan selalu ada buat kamu."
"Janji, dad?" Tanya Maura. Daniash menautkan jari kelingking nya.
"Aku haus, Dad." Daniash langsung mengambilkan segelas air putih yang memang tersedia di atas nakas. Maura meminum air itu dengan sedotan, tentunya dengan Daniash yang membantu istrinya minum.
"Sudah?" Maura menganggukan kepala nya, setidaknya tenggorokan nya sudah kembali basah.
"Gak jadi pulang deh, padahal aku gak betah disini, Dad."
"Sabar ya? Tunggu sampai kamu sembuh dulu, baru kita pulang. Omong-omong, kamu mau nya kita tinggal di rumah mana?" Tanya Daniash.
"Maksud Daddy?"
"Mau tinggal di rumah kamu, atau di rumah Daddy, atau di apartemen."
__ADS_1
"Aku terserah Daddy aja, maunya dimana. Aku istri, jadi aku ngikut keputusan suami aja." Jawab Maura sambil mengulas senyum kecilnya.
"Hemm, Daddy ingin nya kita tinggal di rumah kita sendiri, tapi masih belum selesai di bangun, jadinya untuk sementara kita tinggal di rumah mama sama papa aja?"
"Mama, papa yang mana? Mertua aku?"
"Iya Bby, malu soalnya kalo numpang sama orang tua kamu, hehe."
"Dihh, ya iya malu dong. Daddy kan kaya, tapi tinggal nya kok numpang." Sindir Maura membuat Daniash terkekeh.
"Jadi, mau ya?"
"Pasti mau dong, Dad."
"Bby.."
"Iya, kenapa dad?" Tanya Maura, matanya menatap suaminya dengan tatapan hangat penuh cinta.
"Enggak, tapi Daddy mencintai kamu."
"Dihh, malah ngegombal. Kalau aku, gak usah di tanya lagi ya Dad, aku cinta mati sama Daddy kayaknya."
"Jangan tinggalin Daddy ya?"
"Lho, emang nya aku mau kemana? Aku disini kok, sama Daddy."
"Daddy udah tua, tapi kamu masih muda Bby. Daddy kok jadi insecure ya."
"Idih, Daddy apa-apaan sih. Udah, gak usah insecure, orang sempurna gini." Ucap Maura sambil mengusap rahang tegas suaminya yang di tumbuhi sedikit jambang.
"Daddy keliatan makin ganteng deh kalo bulu ini tumbuh."
"Nanti Daddy cukur ya, Bby?"
"Kenapa di cukur, Dad? Kan bagus, aku suka. Jadi kalo Daddy lagi manja-manjaan sama aku, itu nya ke gesek geli-geli gimana gitu." Ucap Maura.
"Nanti Daddy malah keliatan semakin tua, Bby."
"Enggak Daddy ku sayang, mau tua atau pun muda, aku tetap cinta sama Daddy."
"Fakta kok di bilang gombal sih, Dad."
"Sekarang kamu mau istirahat lagi?" Tanya Daniash.
"Enggak, temenin Maura ngobrol ya Dad?"
"Ya udah, mau Daddy panggilin Dara gak? Dia ada di luar sama mama, kayaknya kalian sefrekuensi."
"Nggak deh, aku malu Dad. Belum terlalu akrab sama kembaran kamu."
"Nanti juga akrab, Bby."
"Iya nanti aja, Dad." Daniash pun pasrah, mau di paksa pun kalau istrinya belum ingin, pasti takkan berjalan dengan lancar.
Sedangkan di lain situasi, Nayna tengah di landa kepanikan luar biasa. Setelah mendapat kabar ibu nya sakit, dia dan Aryo langsung meluncur ke rumah sakit tempat ibu nya di rawat.
Hubungan Nayna dan Ibunya memang sudah cukup lama renggang, karena Nayna ingin bebas, tapi ibunya sangat menentang. Mungkin tujuan ibunya karena dia tak ingin anak nya terbawa arus dan terjerumus pergaulan. Tapi, sekarang sudah terlanjur.
"Tenang, sayang. Ibu kamu pasti baik-baik saja." Ucap Aryo berusaha menenangkan gadis nya yang sedari tadi tak berhenti menangis. Karena ibunya punya riwayat penyakit parah.
"Semoga saja begitu, Dad."
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai kok." Ucap Aryo, sambil fokus mengemudikan mobilnya.
Butuh waktu satu jam, hingga mobil yang di kendarai oleh Aryo sampai di rumah sakit.
Nayna langsung turun tanpa menunggu pria nya, dia langsung menuju ke ruangan IGD. Karena menurut informasi yang dia dapatkan, ibu nya di larikan ke rumah sakit karena pingsan di kamar mandi.
"Nayna.."
"Bagaimana keadaan ibu, Bi?" Tanya Nayna dengan panik pada bibi nya.
"Dokter masih di dalam, Nay."
__ADS_1
"Kenapa bisa ibu pingsan, Bi?"
"Bibi juga kurang tau, Nay. Tapi pas bibi ke rumah, ibu mu sudah pingsan di kamar mandi." Jelas bibi nya Nayna.
"Terus gimana, Bi?"
"Bibi juga gak tau, Nay. Kita tunggu apa kata dokter saja." Nayna mengangguk, lalu duduk di kursi tunggu.
Tak lama kemudian, Aryo datang menyusul dengan keringat yang membasahi kening nya.
"Sayang, kenapa ninggalin Daddy?"
"Maaf Dad, aku kan panik tadi."
"Daddy kelimpungan nyari kamu, sayang." Ucap Aryo, dia mendekat lalu duduk di samping sang gadis. Memancing bibi nya menatap heran ke arah Nayna dan sosok seorang pria berperawakan tinggi tegap di depan nya.
"Eehh Bi, kenalin ini Daddy Aryo. Pacar Nayna." Jawab Nayna memperkenalkan Aryo sebagai kekasihnya.
"Wahh, Nayna pinter pilih laki-laki ya. Ganteng gini." Celetuk bibi nya membuat Nayna tersipu.
"Harus dong, Bi. Buat memperbaiki keturunan."
"Baby.."
"Eehh hehe, maaf Dad."
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dengan pakaian steril, dan masker yang menutupi wajah nya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, dok?" Tanya Nayna.
"Ibu Nona drop, tekanan darah nya sangat tinggi, di tambah dengan jatuh di kamar mandi membuat pembuluh darahnya pecah. Dengan berat hati, saya menyatakan ibu Nona koma."
"Ko-ma dok?" Tanya Nayna terbata.
"Iya Nona, saya tau hal ini tak mudah. Tapi bersabarlah, harapan untuk bisa sembuh masih ada. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa demi kesembuhan ibu Nona."
"Terimakasih dokter."
"Iya tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya tangani." Aryo menganggukan kepala nya, dokter itu pun pergi menjauh dari ruangan tempatnya keluar tadi.
"Dad.." lirih Nayna dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Iya baby."
"Apa ibu akan baik-baik saja?"
"Tentu saja Bby, kamu percaya sama ibu kamu kan?"
"Iya Dad."
"Kemarilah, duduk disini." Aryo menepuk kursi kosong di samping nya. Nayna menurut dan duduk di samping sang Daddy, menyandarkan kepala nya yang terasa berat di pundak Aryo.
"Daddy tau, kamu pasti shock dengan semua ini."
"Heemm, aku sayang sama ibu."
"Pasti, semua anak menyayangi orang tua nya, Bby." Aryo mengusap lembut kepala gadisnya.
"Aku ingin melihat ibu, bolehkan?"
"Daddy antar ya?" Nayna mengangguk dan kedua nya masuk ke dalam ruangan itu.
Hampir saja Nayna tak bisa menahan tubuhnya, hampir saja dia terjatuh kalau Aryo kalah cepat menahan tubuh istrinya. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata nya luruh membasahi wajah cantiknya.
"Daddy, bagaimana ini.."
"Kuatkan hatimu, sayang."
"Heemm.." Nayna berjalan perlahan, dia mendekat dan meraih tangan sang ibu, menggenggam nya dengan erat, lalu mengecupnya penuh kasih sayang.
"Ibu, maafin Nayna ya, Bu. Nayna gak bisa jadi anak yang berbakti sama ibu, maafin Nayna."
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻