
Setelah menyelesaikan kelas nya, Maura dan Nayna pergi ke rumah sakit sesuai perjanjian mereka tadi pagi. Maura memilih ujung blouse yang dia pakai, saat ini keduanya tengah menunggu antrian di kursi tunggu.
"Santai, cuma di periksa biasa aja kok. Jangan gugup, kasian adek bayi nya." Ucap Nayna, membuat Maura menoleh. Beruntung nya dia punya sahabat seperti Nayna, dia selalu ada kapanpun saat dia butuhkan. Meskipun dia sering menggerutu, karena namanya sering menjadi alasan Maura untuk bisa keluar bersama Daddy nya.
"Takut, Nay."
"Dokter nya gak gigit kok, cuma pemeriksaan biasa aja."
"Hufftt, oke. Lihat gak? Tangan gue keringetan gini, tiba-tiba aja ini ruang tunggu berasa panas banget deh." Ucap Maura membuat Nayna terkekeh, ada-ada saja sahabatnya ini. Tapi jangan salah ya, mood ibu hamil selalu benar, ingat itu.
"Nona Maura Putri, silahkan masuk."
"Temenin ya, Nay?"
"Iya, gue temenin Lo kemana pun bestie." Jawab Nayna, keduanya pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dimana ada seorang dokter perempuan dan beberapa perawat yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nona Maura?"
"Ya, saya dok." Jawab Maura, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan meja sang dokter.
"Terlihat masih sangat muda, berapa tahun?"
"D-dua satu, dok." Jawab Maura terbata. Lagi, rasa gugup nya kembali melanda.
"Hamil berapa bulan?"
"Saya tak tau, dok." Jawab Maura membuat dokter itu mendongak dan menatap Maura dengan tatapan heran.
"Baiklah, kita periksa dulu ya."
"Iya dok."
"Sus, tolong di bantu." Satu perawat dengan sigap membantu Maura berbaring di brankar.
"Maaf Nona."
"Iya, tak apa sus." Jawab Maura, dia membiarkan perawat menyibak sedikit pakaian nya, lalu mengoleskan gel yang terasa sangat dingin.
"Aasshhh.."
"Dingin nona? Maaf, kalau membuat anda terkejut."
"Tak apa, sus."
Dokter itu berdiri dan mengambil benda kecil dan meletakan nya di perut Maura dengan gerakan memutar lembut.
"Nona bisa melihatnya, ini adalah kantung rahim anda." Tunjuk dokter itu pada bulatan yang cukup besar.
"Dan ini, dia janin Nona." Tunjuk nya lagi pada layar yang memperlihatkan satu bulatan besar dengan bulatan kecil.
"Nona tau, dia kembar Nona."
Maura menganga, dia begitu terkejut hingga tak sadar mulutnya terbuka. Nayna membantu sahabatnya menutup mulut nya, kalau tidak bisa-bisa Maura ngeces nanti.
"Twins dok?"
"Iya, ada dua janin disini."
"Kalau usia kandungan nya, sudah berapa minggu dok?" Tanya Nayna, karena Maura terlihat masih shock dengan ucapan dokter nya.
__ADS_1
"12 Minggu lebih, 3 bulan lebih lah. Tapi ini baru perkiraan, bisa tepat, atau meleset."
"Iya dok."
Setelah selesai, Maura turun dari brankar dengan di bantu oleh perawat tadi.
"Kehamilan nona cukup rentan, karena ini kehamilan kembar, apalagi usia Nona Maura yang masih terbilang sangat muda untuk mengandung. Tapi, hal-hal semacam itu sudah biasa terjadi ya jadi tidak masalah."
"Nona bisa melakukan upaya pencegahan, jangan beraktivitas terlalu lelah, berpikiran berat, itu akan sangat berpengaruh pada perkembangan janin, nona."
"Makan makanan yang bergizi, sayur, daging, ikan, buah, susu." Saran dokter itu, kedua nya mendengarkan dengan seksama.
"Baik dok."
"Saya hanya akan meresepkan vitamin saja, silahkan di tebus di bagian farmasi."
"Baik dokter, terimakasih." Nayna dan Maura pun keluar dari ruangan dokter, Nayna lah yang bertugas mengambil vitamin di farmasi, karena tak tega melihat Maura yang sudah terlihat pucat.
"Nay, gak nyangka ternyata kembar."
"Di luar ekspektasi gue sih, gue kira Lo hamil biasa aja, eehh ternyata twins. Di jaga baik-baik ya, ponakan gue."
"Pasti, makasih banget Lo udah mau nemenin gue kemanapun ya, Nay."
"Santai aja kali, kayak sama siapa aja. Sekarang gue anterin Lo balik ya, jangan lupa vitamin nya di minum teratur." Peringat Nayna, membuat Maura terkekeh lalu mengacungkan jempol nya.
Situasi yang hampir sama pun terjadi di kota sebelah, setelah beberapa hari terhalang jarak, akhirnya hari ini Daniash bisa tersenyum karena pekerjaan nya telah selesai, dia mengambil penerbangan malam tanpa mengabari sang gadis.
Rencana nya, besok pagi dia akan memberikan kejutan untuk sang gadis dengan datang ke kampus nya tanpa memberitahu nya terlebih dulu.
Daniash senyam-senyum sendiri, dia membayangkan wajah menggemaskan Maura. Sudah bisa di pastikan kalau gadis itu akan merengek manja, dan saat itulah dirinya akan menjelma seperti pria sejati yang menenangkan gadisnya.
'Tunggu Daddy sebentar lagi ya, Bby.' Batin Daniash, dia tak sabar untuk bertemu dengan sang gadis.
"Selamat malam tuan."
"Malam, aku lelah. Ingin pulang, antar aku ke apartemen. Antarkan Aryo juga ke apartemen nya."
"Baik tuan." Seorang pria berbadan tinggi besar langsung membukakan pintu untuk sang tuan.
"Ingat, jangan sampai kepulangan ku ini bocor dan rencana ku gagal, Ar." Peringat Daniash pada Aryo sebelum kedua nya pergi dengan mobil berbeda.
"Baik tuan, saya mengerti."
"Bagus, pulanglah dan beristirahat. Besok kau bisa libur dulu,"
"Terimakasih tuan, saya permisi." Daniash mengangguk, mereka pun pergi dengan mobil masing-masing, di antarkan oleh orang kepercayaan Daniash.
"Tuan.."
"Hmmm, kenapa?"
"Hari ini, Nona pergi ke rumah sakit." Ucapnya, membuat kening Daniash berkerut. Apa gadisnya sakit? Tapi kenapa dia tak bilang, biasanya gadis itu akan mengadu padanya seperti waktu itu.
"Rumah sakit? Untuk apa? Apa gadisku sakit, Rey?"
"Kami mengikuti Nona Maura dan teman nya, tapi kami kehilangan jejak mereka." Jelas pria bernama Rey, yang Daniash tugaskan untuk memantau keadaan Maura selama dia tinggalkan. Tak menutup kemungkinan, masih ada orang yang ingin mencelakakan gadisnya saat tau dia tak berada di dekatnya.
"Bagaimana bisa kehilangan jejak hah?"
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi suatu yang belum pasti adalah Nona Maura masuk ke dalam ruang perawatan dokter kandungan, itu yang kami curigai."
"Dokter kandungan, memang nya siapa yang hamil? Nayna atau Maura?"
"Saya tidak tau, tuan." Jawab Rey pelan, membuat Daniash beberapa kali mengumpat, karena informasi yang di berikan Rey kurang akurat, membuat nya berpikir.
"Ckkk, sialan. Harusnya kau tau, Rey. Aku membayar mu mahal, tapi kerja mu gak bener!" Daniash marah, dia menendang kursi yang di duduki Rey, namun pria itu tak menanggapi kemarahan sang atasan.
Daniash melempar tubuh lelahnya ke atas ranjang, tubuhnya terasa sangat berat saat ini. Belum lagi banyak asumsi di otaknya tentang perkataan Rey tadi, siapa yang berkemungkinan hamil?
"Apa Aryo dan gadisnya pernah melakukan itu? Kalau dari tampang nya sih seperti nya belum, lalu untuk apa mereka ke dokter kandungan? Apa Maura hamil?"
Pikiran-pikiran semacam itu terus saja datang, hingga membuat nya mengantuk dan akhirnya tertidur. Pria itu kelelahan, hingga lupa membuka sepatu nya.
Keesokan harinya, Daniash bersiap dengan pakaian casual nya, karena dia akan mengajak gadisnya ke suatu tempat. Kemeja lengan panjang dengan motif salur, celana jeans hitam, sepatu sneakers dan rambut yang dia sisir rapi ke belakang.
"Ganteng juga, pantesan Maura klepek-klepek." Gumam Daniash sambil terkekeh.
Setelah di rasa cukup, pria tampan nan dewasa itu pergi meninggalkan apartemen, dan memastikan tak ada orang yang mengikuti nya, dia juga memasang keamanan ganda di pintu apartemen nya, khawatir kalau ada orang yang akan menyelinap masuk.
Daniash mengendarai kendaraan nya dengan kecepatan sedang, tak lupa dia membeli buket bunga untuk gadisnya, bunga tulip berwarna pink menjadi pilihan nya kali ini. Kenapa tidak yang merah? Di toko nya tidak tersedia karena harga nya yang mahal.
Pria itu terus melengkungkan senyuman nya, tak sabar untuk bertemu dengan sang gadis.
Setelah beberapa menit mengemudi, akhirnya dia sampai di gerbang universitas yang di pilih gadisnya untuk tempatnya menuntut ilmu. Banyak mahasiswi yang berlalu lalang, karena ini jam makan siang.
Daniash menghubungi gadis nya, agar datang ke gerbang. Tak butuh waktu lama, Daniash melihat sang gadis berjalan sambil celingukan, dia juga tak mengenali mobilnya, karena hari ini Daniash memakai mobil yang berbeda.
Pria itu keluar dari mobil, membuat nya jadi pusat perhatian. Dia tersenyum lalu melambaikan tangan nya ke arah sang gadis.
Maura berlari dengan senyuman yang tak pudar dari wajah cantiknya, Daniash menyiapkan diri dengan merentangkan kedua tangannya, menyambut Maura yang langsung memeluknya ketika jarak mereka sudah sangat dekat.
"Daddy, kok pulang gak ngabarin Maura dulu sih?" Rengek nya dengan manja, membuat Daniash terkekeh.
"Surprise, Baby."
"Daddy nyebelin, kok lama disana sih?"
"Mau gimana lagi, sayang. Pekerjaan Daddy menumpuk, kamu sudah selesai kelas?"
"Sudah, hanya ada satu kelas hari ini, Dad." Jawab Maura, masih memeluk sang Daddy.
"Ini untukmu, gadis cantik ku."
"Wahh, makasih Daddy. Cantik sekali bunga nya,"
"Kamu suka, sayang?" Tanya Daniash, gadis itu mengangguk cepat.
"Suka, sangat suka. Terimakasih Daddy, muachh." Gadis itu mengecup singkat pipi sang Daddy.
"Kita pergi yuk? Daddy kangen sama kamu, Bby."
"Okey Dad, Maura juga kangen sama Daddy." Maura langsung setuju, dia juga merindukan sang Daddy, terutama pelukan nya. Daniash membukakan pintu mobil untuk sang gadis terlebih dulu, setelah memastikan dia duduk dengan nyaman, barulah Daniash juga ikut masuk.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻
sambil nunggu novel ini up, yuk mampir ke karya temen author😚
__ADS_1
Pernikahan Karena Perjodohan karya author SyaSyi 😚