
Riana memutuskan keluar dari kamar itu, dia membiarkan putra nya bersama dengan gadisnya. Seperti nya putra nya benar-benar mencintai gadis kecil itu, terlihat dari tatapan mata nya yang teduh penuh kasih sayang.
"Kok sebentar, Ma?" Tanya Danish saat melihat istrinya menuruni tangga, padahal belum ada 10 menit dia berpamitan untuk ke kamar putra mereka.
"Putra kita sedang tidur, Maura juga belum terbangun. Gak enak bangunin nya, besok aja di kompres nya."
"Hmmm, seperti nya putra kita benar-benar sudah menemukan cinta nya, Ma." Lirih Danish. Meskipun dia berwatak keras saat mendidik putra nya, tapi kasih sayang nya sangat besar pada putra nya itu.
Setiap orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anak nya, begitu pula dirinya. Alasan Danish menjodohkan putranya dengan Herra, semata-mata karena dia melihat kalau wanita itu adalah wanita yang baik, tapi nyatanya malah sebaliknya.
Tak semua kebaikan bisa di lihat oleh mata, begitu pula dalam kasus Herra saat ini. Dirinya salah menilai dan inilah akibatnya, putranya tak bahagia dengan pernikahan nya, hingga memilih melakukan perbuatan di luar batas demi bisa mendapatkan kebahagiaan nya sendiri.
"Iya, papa tau? Daniash tidur sambil duduk, di samping gadis itu, tangan mereka terus bergenggaman erat, Pa."
"Syukurlah, kalau begitu dia sudah menemukan kebahagiaan yang selama ini dia cari." Danish tersenyum menatap sang istri.
"Ya, kita harus mendukung mereka."
"Tentu, besok papa akan ke perusahaan Elgar untuk mencoba bicara dengan nya." Putus Danish, meski sebenarnya dia merasa sedikit takut bertemu dengan Elgar.
"Emang gak takut, Pa?" Tanya Riana sambil tersenyum.
"Takut sih, tapi harus papa lakukan. Demi kebahagiaan putra kita, anggap saja sebagai penebus hutang, karena papa sudah bersikap egois dulu."
"Baguslah, bersikaplah gentel. Papa harus bicara secara perlahan, jangan dengan kekerasan."
"Tentu saja, Ma. Mana berani papa baku hantam sama calon besan."
"Ya sudah, sebaiknya papa tidur. Besok kan mau masuk kandang singa." Kelakar Riana, membuat Danish ikut terkekeh.
"Sama mama tidur nya, papa kangen."
"Iya, mama simpan ini ke dapur dulu, nanti nyusul."
"Jangan lama ya, Ma?"
"Iya, udah sana duluan ke kamar." Ketus Riana, kesal juga menghadapi suaminya yang sedang dalam mode minta jatah.
Danish pun menurut, dia ke kamar nya dengan langkah riang karena akan mendapat jatah setelah hampir satu minggu berpuasa karena sarang burung nya kebanjiran.
__ADS_1
Keesokan harinya, Danish bersiap untuk pergi ke perusahaan milik Elgar, lebih tepatnya milik Amira, karena Amira lah pemilik perusahaan itu, namun Elgar lah yang mengelola nya hingga berkembang sebesar saat ini.
Bertepatan dengan itu, Daniash juga terlihat menuruni tangga dengan wajah datar nya. Kalau saja dia tak punya kewajiban untuk hadir di persidangan, mungkin dia lebih memilih untuk menemani gadisnya.
"Kemana, boy?" Tanya Danish pada putranya.
"Pengadilan, Pa. Papa mau kemana?" Balik tanya Daniash.
"Sidang ya? Papa mau ke tempat rahasia." Jawab Danish membuat putra nya mencebik. Sudah tua juga, masih main rahasia-rahasiaan, begitu pikirnya.
"Iya, sidang cerai."
"Kok cepet?" Tanya Riana.
"Biasa, Aryo terlalu peka jadinya dia nyogok biar licin." Jawab Daniash sambil terkekeh.
"Bagaimana gadis mu?"
"Belum bangun, Pa." Nada suara nya berubah saat Danish membahas tentang Maura, sorot rasa bersalah terpancar jelas dari mata nya.
"Ya sudah, kamu gak usah khawatir. Biar Maura sama mama aja."
"Iya, mama bukan mama tiri seperti di novel-novel kok." Jawab Riana, membuat Daniash merasa lega. Dengan begitu, dia bisa menghadiri sidang dengan tenang.
"Dani berangkat dulu ya, Ma."
"Iya, hati-hati di jalan ya. Semoga persidangan nya berjalan lancar, tanpa hambatan apapun, Nak."
"Semoga saja, Ma. Dani pergi dulu, nitip Maura ya?"
"Ya ampun, anak ini cerewet sekali. Iya iya, Maura aman sama mama."
"Hehe, oke Ma." Daniash pun pergi dengan mobilnya, sedangkan pria paruh baya itu masih menikmati kopi hitam nya.
Di kediaman keluarga Wijaya, Elgar berjalan dengan langkah tegap nya seperti biasa, kemeja putih berbalut jas hitam, wajah tampan nya terlihat datar, tak seceria biasanya. Mungkin masih tersisa sedikit amarah akan kelakuan putrinya.
"Pagi, sayang.." sapa nya pada Amira yang sedang menata makanan di meja makan.
"Pagi, Mas. Makan sekarang?" Tanya Amira, tak ada sedikitpun senyuman di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Kenapa banyak sekali makanan nya?"
"Maura belum makan, jadi aku pikir dia akan makan nanti sepulang kuliah." Jawab Amira.
"Ckkk, anak itu sudah pergi. Jangan mengungkit nya, biarkan saja dia jadi gelandangan, anak tak tau di untung."
"Apa kamu tak merasa kalau dia begitu karena kita juga, Mas?" Tanya Amira lirih.
"Karena kita? Kalau dia tidak berniat mempermalukan orang tua nya, pasti semua ini takkan terjadi. Banyak anak-anak di luar sana yang di tinggal orang tua nya bekerja, tapi tak melakukan hal semacam itu."
"Hmmm, jadi ini sepenuhnya salah anak kita, Mas?"
"Tentu saja, anak mu itu terlalu liar."
"Iya, dia memang anak ku. Anak yang terlahir dari rahimku, aku yang mengandung nya selama 9 bulan, melahirkan nya dengan bertaruh nyawa. Dia memang bukan anak mu, Mas." Ucap Amira lirih namun terdengar menusuk, mata nya berkaca-kaca, air mata nya akan luruh jika saja wanita itu berkedip.
"Ayolah Amira, jangan terlalu bawa perasaan. Aku hanya memberinya pelajaran atas perbuatan nya."
"Pelajaran? Pelajaran macam apa ini, Mas? Kamu pikir dengan mengusir anak kita dari rumah ini, akan membuat mu benar di mata putrimu? Tidak, justru kamu kehilangan rasa hormat darinya." Ucap Amira, baru kali ini dia berani meninggikan suara pada suaminya.
"Seperti nya aku tak butuh hormat dari anak pembangkang seperti dia."
"Kamu terlalu egois, Mas. Apa kau berpikir dua kali saat mengusir dan berteriak padanya? Itu akan menyakiti mentalnya. Apa kamu bisa membayangkan betapa sakitnya Maura saat itu? Terlebih dia sedang mengandung, Mas!"
"Cukup, diamlah. Aku muak membahas anak itu sekarang, itu hanya membuat mood ku memburuk." Elgar meletakan sendok dan garpu nya dengan sedikit kasar, lalu pergi dari meja makan dengan membawa tas kerja nya.
Amira menatap kepergian suaminya dengan nanar, akhirnya air mata nya luruh. Dia menangis terisak di meja, tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai.
"Maura, dimana kamu sayang? Mama kangen sama kamu, bagaimana keadaan kamu saat ini?" Gumam Amira.
"Ibu baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Tolong bereskan meja makan nya, tolong juga kalau nanti Maura pulang, hangatkan makanan nya ya Bi."
"Baik, Bu." Amira pun bangkit, lalu pergi dengan langkah pelan.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1