Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 45 - Bunga Tulip Merah


__ADS_3

Hati Daniash gamang, dia ingin memeluk gadisnya, berlari ke rumahnya sekarang juga. Tapi, itu terlalu gegabah. Dia belum tau seperti apa sosok Elgar Wijaya, ayah dari gadis yang dia cintai. Konon katanya, beliau adalah mantan mafia, tapi hal itu hanya desas desus semata, tak ada bukti kongkrit yang membuktikan bahwa Elgar adalah mafia. 


Hal itu cukup membuat Daniash ragu, apakah dia bisa mendapatkan Maura nya? Apalagi dengan status nya saat ini dan nanti? Hanya waktu yang akan menjawabnya secara perlahan. 


"Haahhhh.." Daniash menghembuskan nafas nya dengan kasar. Aryo yang melihat hal itu penasaran, apa yang membuat tuan muda nya begitu kusut hari ini? Bahkan meninggalkan ruang meeting disaat meeting nya tengah berjalan. 


"Maaf tuan, anda kenapa? Apa ada masalah?"


"Maura sakit dan aku tak bisa melakukan apa-apa karena terhalang status, Ar." Keluh Daniash pelan, sejak dia memiliki Maura, pria itu menjadi lebih terbuka pada sekretaris nya. Dia seringkali bercerita tentang gadisnya, tentunya selalu dengan senyuman penuh kebahagiaan yang tak pernah surut dari bibirnya saat menceritakan gadis kecil bernama Maura itu. 


"Kau sudah melakukan apa yang aku minta?"


"Sudah tuan, tadi saya sudah mengirimkan nya ke pengadilan. Butuh waktu 24 jam untuk berkas-berkas itu di acc, tapi saya sudah memberikan uang agar proses nya bisa di percepat." Jelas Aryo membuat Daniash tersenyum, Aryo paham benar apa yang dia inginkan. Itulah kenapa, dia bertahan selama bertahun-tahun bekerja sebagai sekretaris seorang Daniash, CEO yang dingin katanya. 


"Bagus, menurutmu aku harus bagaimana sekarang? Gadisku pasti sangat membutuhkan ku disaat begini, Ar."


"Kirim bunga saja tuan, anda kan tak bisa kesana." Saran Aryo. 


"Aku tak tau bunga kesukaan Maura, aku hanya tau kalau dia hebat di ranjang." 


Aryo menggelengkan kepala nya, seperti nya julukan Daniash berubah. Dari CEO dingin dan datar, menjadi CEO mesuum. Selama 4 bulan mengenal dan bersama-sama dengan gadis itu, apa dia tak menanyakan nya? Apa yang ada di otaknya, hanya hal-hal berbau mesuum? Ohh astaga. 


"Saya akan menanyakan nya pada Nayna, tuan. Sebentar, saya telpon dulu." 


"Ide bagus, Ar. Cepatlah, hubungi gadis mu itu." 


'Dihh, pas giliran gitu aja baru antusias tadi lemes banget kayak gak makan seminggu. Kalau aja dia bukan bos ku, pasti aku sudah menendang nya dari jendela. Tapi sayang sekali, dia bos ku. Orang yang menggaji ku.' Batin Aryo mengomel. 


Aryo menghubungi Nayna, dan hanya butuh beberapa detik saja untuk gadis itu mengangkat telepon darinya.


'Hallo Daddy, kenapa? Nayna lagi di kelas nih, bentar lagi dosen nya masuk.'


"Sebentar saja Bby, apa kamu tau bunga kesukaan nona Maura?" Tanya Aryo pada sang kekasih.


'Tulip Merah, Dad. Maura sangat menyukai tulip merah.' 


"Baiklah, terimakasih Bby. Kalau begitu Daddy matikan dulu telepon nya, semangat kuliah nya." 


'Siap Daddy.' 


Panggilan pun selesai, Aryo sudah membuka mulutnya untuk mengatakan kalau Maura menyukai bunga tulip pada Daniash. Tapi di luar dugaan, Daniash sudah mendengar nya duluan, jadi dia sedang memesan bunga nya lewat telepon. 


"Ya, satu buket sedang bunga tulip merah." Ucap Daniash dengan serius, mata nya menatap lurus ke arah jendela kaca yang menyajikan pemandangan kota yang terlihat sibuk di siang hari ini. 


Setelah mengatakan alamat dan beberapa kata romantis untuk kartu ucapan nya, Daniash pun mematikan sambungan telepon nya. Lalu berbalik menatap Aryo yang juga tengah menatapnya.


"Terimakasih Aryo, terbukti sekali kau memang sekretaris yang bisa di andalkan. Gaji mu, aku naikan dua kali lipat." Ucap Daniash tersenyum kecil lalu menepuk pundak sang sekretaris. 


Aryo menganga, apa katanya? Dua kali lipat? 


"A-paa tuan serius menaikan gaji saya?" 


"Apa wajah ku terlihat sedang bercanda, hmm?" 


"Tidak tuan." 

__ADS_1


"Lalu, kenapa masih bertanya. Jelas aku serius mengatakan nya, Ar. Selamat dan tingkatkan lagi kinerja mu, good luck." 


"Terimakasih tuan." 


"Lanjutkan pekerjaan mu, terimakasih juga untuk saran mu." 


"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Daniash mengangguk, membiarkan sekretaris nya keluar dari ruangan nya.


Di rumah, Amira menerima satu buket bunga. Dia keheranan, perasaan dia tak memesan bunga, apalagi putrinya. Dia sedang terbaring lemas di kamar nya, tapi kurir itu bilang kalau seseorang memesan bunga ini dan meminta nya mengirimkan nya ke alamat ini. 


Amira membawa bunga itu masuk, dengan perlahan dia menaiki tangga dan masuk ke kamar putrinya. Terlihat Maura tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan menutup kedua mata nya, entah tertidur atau hanya sekedar mengusir rasa pusing.


"Sayang.." 


"Eemmm, iya Ma. Kenapa?" Tanya gadis itu pelan, masih dengan mata tertutup.


"Ini ada yang ngirim bunga, katanya buat kamu." 


"Bunga? Bunga apa, Ma?"


"Tulip merah." Jawab Amira. Mendengar itu, Maura langsung membuka kedua mata nya. Dia merebut buket bunga itu dari tangan mama nya dan mengendus aroma khas yang keluar dari bunga kesukaan nya itu. 


"Siapa ya yang ngirimin bunga gitu?"


"Emang orang yang nganter gak bilang, Ma?" Tanya Maura. 


"Enggak, tapi alamat nya benar disini. Nama penerima nya juga atas nama kamu, sayang." 


"Heemm, Maura gak bisa mikir sih. Tapi aroma bunga ini bikin mual Maura sedikit membaik, Ma." Ucap Maura, membuat Amira tersenyum.


"Masak sup buntut dong, Ma. Kayaknya enak deh, makan sup buntut di pakein jeruk limo." Pinta Maura, membuat Amira tersenyum lalu dengan cepat mengiyakan permintaan putrinya. 


Setelah Amira keluar dari kamar, Maura melihat sebuah kertas kecil yang terselip di dalam buket bunga itu. 


'Sayang, maaf tak bisa menjenguk dan memeluk mu seperti keinginan mu. Daddy menyesal karena tak ada saat kamu sakit, sekali lagi maaf. Hanya ini yang bisa Daddy berikan untuk saat ini.'


'Cepat sembuh ya, agar kita bisa bertemu lagi. Daddy mencintaimu sayang.' 


"From my sugar Daddy." Gumam Maura dengan senyum kecil yang menghiasi bibirnya, dia sangat bahagia saat ini. Apalagi saat membaca kata keramat yang sudah lama ingin dia dengar.


"Daddy mencintaimu.. Aaarrgghhh salting brutal gw Dad.." Maura berguling-guling di atas kasur nya sambil tersenyum, kalau saja dia tak lemas, mungkin Maura akan salto sekalian untuk merayakan hatinya yang berbunga karena ungkapan cinta sang Daddy. 


Setelah selesai dengan acara salting nya, Maura membuka ponsel dan memotret bunga yang di kirim oleh Daniash dan memposting nya di akun sosial media milik nya.


Tak lupa, dia juga mengirimkan poto itu pada Daniash. 



'Terimakasih Daddy, aku sangat menyukai nya. Love you more.' 


Pria di ujung sana tersenyum saat melihat pesan balasan gadisnya, hanya dengan ungkapan cinta seperti ini saja membuat hatinya berbunga. Dasar bucin akut. 


Keesokan harinya, merasa keadaan nya mulai membaik, Maura berniat pergi ke kampus. Dia tak mau ketinggalan banyak materi, itu akan merepotkan nya juga nanti.


Nayna menjemput sahabat nya ke rumahnya, atas perintah Daniash lewat Aryo. Tapi, Nayna memang tak keberatan sama sekali karena dia memang bersahabat dengan Maura. 

__ADS_1


"Makasih ya Nay, udah mau jemput." 


"Sans aja kali, kayak sama siapa aja. Btw Lo sakit apa? Pucet banget keliatan nya."


"Gak tau, muntah-muntah gue kemaren sampe lemes, tenggorokan berasa pahit banget. Tapi yang keluar cuma cairan bening doang." Jelas Maura, Nayna pun hanya mendengarkan karena mata nya fokus ke depan. 


"Masuk angin kali, Lo kan habis begadang nontonin Haruto Lo itu." 


"Kayaknya sih iya, Nay. Tapi pagi tadi gue udah minum obat kok, semoga aja gue kuat." 


"Tadi pagi-pagi muntah-muntah lagi gak?" Tanya Nayna, melirik sekilas ke arah sahabatnya.


"Heemm, cuma gak separah kemaren." 


"Periksa deh, takutnya bukam sekedar masuk angin." Saran Nayna.


"Maksud Lo?"


"Lo udah sering gituan kan ama Daddy Lo?" Tanya Nayna.


"Iya, emang nya kenapa?" 


"Pas gituan, pake pengaman gak? Misalnya kond*om, atau Lo minum pil kontrasepsi gitu?" 


"Enggak ada, Daddy kalo lagi main ya langsung masuk aja, Nay." 


"Di keluarin di dalem?" Tanya Nayna lagi.


"Heeh." Jawab Maura.


"Dah datang bulan belom?" 


"Apa sih pake nanya udah dateng bulan segala, emang nya gue bunting." 


"Kan bisa jadi, soalnya rawan banget Ra. Pertama, Daddy Lo gak pernah pake pengaman pas main. Kedua, dia selalu ngeluarin nya di dalem. Ketiga, tanda-tanda yang Lo alamin tadi, kayak ciri-ciri orang hamil tau gak." Jelas Nayna panjang lebar. 


Kalau di ingat-ingat, dia memang tak mendapatkan tamu bulanan nya lagi selama dua bulan ini. Tapi kenapa dia bisa melupakan hal penting seperti ini? Dia terlalu gegabah seperti nya. Tiba-tiba saja, hatinya di landa rasa takut. Bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Bagaimana reaksi kedua orang tua nya, lalu bagaimana dengan Daniash? Dia pria beristri. 


"Gak usah tegang gitu, ini baru teori gue sih. Buat lebih jelas nya, mendingan Lo ke apotek terus beli testpack." 


"Anterin."


"Haihh, iya nanti balik ngampus gue anter." Jawab Nayna.


"Makasih Nay." 


"Sama-sama, udah gak usah di pikirin. Nanti jadi beban, Lo baru aja mendingan, jangan nyari penyakit lagi." 


"Iya Nay." 


Nayna mengangguk dan kembali fokus mengemudikan mobilnya ke kampus. Sedangkan Maura lebih banyak diam, bahkan saat Nayna mengoceh pun dia tak banyak menanggapi. 


.......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2