Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 61 - Awal Pertemuan Daniash Dan Elgar


__ADS_3

"Daddy.." Rengek Maura manja, membuat Daniash terkekeh. Gadis itu tak membiarkan calon suaminya itu pulang, sedari tadi dia terus merengek manja tak ingin di tinggal oleh Daniash.


Saat ini pun, Maura terus saja menggelayut manja di lengan Daniash.


"Jangan nakal ya, kita akan menikah beberapa hari lagi. Besok, Daddy kesini lagi kok."


"Gak mau, Maura gak mau di tinggal disini, Dad. Maura pengen ikut pulang ke rumah Daddy, boleh ya?" Bujuk gadis itu.


"Sayang, mana bisa begitu. Harusnya kita di pingit lho, gak boleh ketemu dulu sebelum hari H nanti." 


"Huaaaa, gak mau. Maura mau terus sama Daddy, kalo Maura pengen peluk, nanti Maura minta sama siapa? Ayolah Dad, nginep disini aja sama Maura ya?" Kekeh Maura. 


Elgar dan Amira kompak menggelengkan kepala mereka melihat aksi putri nya, manja sih manja, tapi mereka tak menyangka akan separah ini manja nya. Apa ini efek kehamilan atau memang pada dasarnya Maura memang manja pada Daniash? 


"Cup cup, sayang nya Daddy. Tanya sama mama, papa kamu dulu ya? Kalau mereka ngebolehin ya Daddy nginep disini sama kamu." 


"Ma, pa, boleh ya Daddy nginep disini?" Tanya Maura pada kedua orang tua nya.


"Boleh, tapi tidur di kamar terpisah." 


"Kok gitu sih, Pa? Maura kan pengen tidurnya sambil di peluk Daddy." 


"Belum sah, belum cukup kah kalian sering tidur bersama selama ini hmmm?" Tanya Elgar, mata nya memicing tajam menatap pasangan di depan nya.


Mendengar itu, kedua mata Maura berkaca-kaca dan sedetik kemudian dia menangis hanya karena tak di bolehkan tidur bersama calon suaminya sendiri.


"Sudahlah, Pa. Lagian mereka kan mau nikah, biarkan saja. Kasian Maura nya, dia lagi hamil pasti butuh suaminya."


"Ralat, Ma. Masih calon suami." Ketus Elgar, namun akhirnya dia luluh juga. Cukup, saat dia membuat anak nya itu menangis hari itu, tidak untuk sekarang, esok dan nanti. Dia takkan membiarkan Maura menangis karena apapun dan siapapun. 


"Udah, gak usah nangis. Kamu boleh tidur sama Daddy mu itu, cengeng banget." 


"Bener, Pa?"


"Iya, bener sayang." 


"Yeeee, gitu dong kan papa kelihatan ganteng kalo baik gini. Makasih papa, sayang deh sama papa." Ucap Maura, Elgar merentangkan tangan nya bersiap menyambut putrinya. 


Namun sayang, seperti nya Elgar terlalu geer. Nyatanya, Maura malah menghambur memeluk Daniash, bukan dirinya.


"Utututu, kasian sekali papa ya? Sini, mama aja yang peluk." Ucap Amira, akhirnya Elgar memeluk istrinya saja, karena putrinya lebih memilih memeluk calon suaminya dari pada ayahnya sendiri.


"Kita keliling yuk, dad?" Ajak Maura pada Daniash, dan pria itu hanya menurut saja saat tangan nya di tarik oleh Maura.


"Eehh mau kemana?" Tanya Elgar.


"Sudahlah Pa, biarkan mereka." 


"Heemm baiklah." Pasrah Elgar, untuk masalah istrinya, Elgar memang sering memilih mengalah saja. Bahaya untuk kesejahteraan junior nya nanti.


Di halaman belakang, Maura dan Daniash menikmati angin sore hari dengan duduk di ayunan yang Elgar buat secara khusus untuk anak perempuan nya di tengah taman bunga.


"Daddy.."


"Iya sayang, kenapa?" 


"Apa Daddy risih?"


"Risih kenapa Bby?" Balik tanya Daniash pada gadisnya, yang beberapa hari lagi akan dia pinang menjadi istrinya.


"Sama tingkah aku yang manja."

__ADS_1


"Enggak kok, Bby. Tapi, kadang Daddy juga kewalahan kalo kamu manja nya berlebihan, Bby. Tapi gapapa kok, mungkin itu efek kehamilan kamu." 


"Maaf ya, Dad.." lirih Maura membuat Daniash merasa tak enak, karena kejujuran nya membuat gadisnya merasa bersalah.


"Tak apa, justru Daddy senang karena keberadaan Daddy di butuhkan sama kamu. Daddy senang kalau kamu bergantung sama Daddy." 


"Hemm baiklah, omong-omong untuk pesta pernikahan, aku ingin gaun seperti Cinderella, Dad. Boleh kah?" Tanya Maura.


"Tentu saja, apapun yang kamu inginkan pasti akan Daddy kabulkan, sayang." 


"Aku ingin pesta resepsi nya bernuansa istana, Dad." 


"Baik tuan putriku, lalu kamu ingin Daddy mu ini berpakaian seperti prince charming?" Tanya Daniash, Maura mengangguk cepat. 


"Iya, Daddy ku ini pasti akan sangat tampan memakai pakaian seperti itu." 


"Tentu, kamu juga pasti akan sangat cantik. Daddy tak sabar ingin melihat mu memakai gaun itu, besok kita ke butik langganan Daddy ya?"


"Okey Daddy, memang nya kapan kita menikah?" Tanya Maura. 


"Tepat saat hari ulang tahun Daddy yang ke 33, Bby." 


"Kapan itu Dad?" Tanya Maura.


"10 harian lagi, itu cukup untuk menyiapkan semua nya, dari gedung, gaun, dan beberapa hal penting lain nya." 


"Pertemuan keluarga?"


"Besok malam, papa sama Mama kesini untuk membahas pernikahan kita, sayang. Kamu senang?" Tanya Daniash. Maura memeluk Daniash dari samping, senyuman nya terus tersungging manis.


"Iya, aku bahagia Dad, sangat." 


"Syukurlah, Daddy juga seperti itu. Tak sangka, Daddy benar-benar mewujudkan ucapan Daddy beberapa tahun silam." 


Seorang pria tampan berusia 25 tahun nampak sedang berbincang dengan pria yang usianya terpaut jauh di atas nya. 


"Om, besok aku harus kembali ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan." Ucap Daniash muda pada Elgar.


"Pergilah dan hati-hati, kapan kau akan pergi?" 


"Tak tau, mungkin beberapa tahun kedepan aku akan meneruskan perusahaan papa." 


"Baguslah, mari kita berbisnis nanti." Kelakar Elgar. 


Kenapa Elgar bisa mengenal Daniash? Karena Daniash menolong Elgar yang terserempet mobil di jalan. Daniash yang sedang berada di tempat makan, langsung menolong Elgar dan membawa nya ke rumah sakit. Sejak saat itu, Daniash sering bermain ke rumah Elgar untuk sekedar mengobrol.


Karena di rumah, dia hanya sendirian. Orang tua nya sibuk bekerja dan bekerja, membuat dirinya kesepian dan butuh orang untuk mendengar keluh kesahnya. Dan dia mendapatkan nya dari sosok Elgar.


"Ngopi?" 


"Boleh, Om." 


"Masuklah, kita ngopi di dalam saja." Ajak Elgar. Sejauh ini kalau bermain, Daniash tak pernah masuk, dia hanya ngobrol di luar.


Daniash masuk dan duduk di sofa, dia mengedarkan pandangan nya ke segala penjuru rumah besar nan megah ini. Namun, tiba-tiba tatapan mata nya terkunci pada seseorang yang terlihat menuruni tangga dengan perlahan.


Gadis kecil yang terlihat sangat cantik, tampil sederhana dengan senyum manis nya.


"Om siapa?" Tanya nya, membuat nya terhenyak.


"H-ahh? Aku tak setua itu hingga kau memanggil aku Om, gadis kecil." 

__ADS_1


"Ya terus? Aku harus manggil apa dong?" Tanya nya. 


"Abang, Mas, sayang juga boleh." 


"Heh, jangan genit-genit." Ketus Elgar saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Daniash.


"Maaf om." 


"Nah, Om sendiri manggil Om sama papa aku. Jadi, aku manggil Om juga kali ya?"


"Sudah-sudah, kamu mau kemana hmm?" Tanya Elgar pada putrinya yang nampak rapih dengan rok pendek selutut dan blouse rajut yang sedikit ketat.


"Mau main sama temen, sekalian kerja kelompok, Pa. Boleh ya?"


"Boleh, jangan pulang terlalu malam. Kamu di antar supir ya?"


"Oke, Pa." 


"Hati-hati sayang, ini uang jajan nya." 


"Makasih papa, aku pergi dulu. Papay." 


"Pulang sebelum makan malam, Nak." Ucap Amira dari arah belakang.


"Siap Mama." 


Gadis itu pergi dengan langkah riang nya, membuat sudut bibir Daniash terangkat melihat tingkah menggemaskan gadis kecil itu.


"Kenapa senyam-senyum hmm?"


"Itu siapa, Om?"


"Dia ada disini, ya berarti anak ku. Lagian apa telinga mu tuli, Dan? Dia memanggil ku papa tadi." 


"Ehhh, hehe.." Daniash cengengesan. 


"Ada-ada saja kelakuan mu, Dan." 


"Om, nanti kalau aku sudah lulus pendidikan. Aku akan menjadikan anak gadis om sebagai istriku." 


"Jangan macam-macam." Peringat Elgar.


"Serius, aku akan menjadikan nya istri kedua ku."


Plukk.. 


Sebuah gelas kecil melayang dan mendaratkan tepat di kepala nya.


"Awwhhss.." Daniash meringis, sambil mengusap-usap kepala nya yang kena timpuk gelas. 


"Jaga perkataan mu anak muda. Anak ku masih sangat kecil, sedangkan kau? Aku yakin anak gadisku itu takkan mu dengan pria tua." Celetuk Elgar.


"Cinta itu buta, Om. Tak memandang usia dan kasta, apalagi harta." 


"Kau berusia 25 saat ini, sedangkan putriku baru berusia 14 tahun sekarang. Perbedaan usia kalian terlalu jauh, lagipula aku tak mau punya menantu seperti mu." Ketus Elgar, bukan nya tersinggung, Daniash malah tergelak kencang.


Hari itu adalah hari pertemuan terakhir antara Daniash dan Elgar, karena esoknya dia benar-benar pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan nya. 


Namun siapa sangka, setelah beberapa tahun berlalu, Daniash kembali dan sekarang dia menepati janji nya untuk menjadikan Maura sebagai istrinya, istri kedua juga. Karena pernikahan pertama nya, bisa di bilang gagal.


Flashback off..

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2