Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 83 - Tetangga Kepo


__ADS_3

"Gak asem, Dad?" Tanya Maura, perempuan itu nyengir-nyengir ngilu saat melihat suami nya dengan lahap memakan rujak mangga muda. 


"Enggak, enak malahan seger, Bby. Kamu mau?" Maura menggeleng sambil tersenyum kecil menatap suami nya.


"Enak lho, kenapa kamu gak suka?"


"Ya kalo gak suka mah gak suka aja, Dad." Jawab Maura, perempuan itu memilih makan buah melon dari pada memakan rujak. 


"Keliatan nya suami mu itu mengidam, sayang." Ucap Amira sambil mengelus lembut puncak kepala putri nya.


"Mungkin iya, Ma. Tapi kata Om Aryo, Daddy tuh suka rujak setelah tau aku hamil, padahal sebelum nya gak suka rujak. Nah, kebalikan nya kan Ma?" 


Sebelum hamil, Maura menyukai apapun jenis makanan, termasuk rujak buah. Tapi setelah hamil, justru dia tak menyukai rujak apalagi rujak bumbu kacang. Berbanding terbalik dengan Daniash yang malah menyukai rujak, padahal sebelumnya tak menyukai makanan itu.


"Nama nya juga orang ngidam, sayang. Papa mu dulu juga begitu, malahan setiap pagi dia tuh muntah-muntah sampe lemes badan nya." 


"Beneran, Ma?" Tanya Maura, dia baru tahu kalau papa nya pernah mengalami hal semacam itu juga.


"Iya sayang, waktu mama hamil kamu dulu. Dan papa kamu itu sering nyusahin paman kamu, buat beli rujak lah, seblak lah." 


"Wahh paman Andi jadi pesuruh papa dong." Celetuk Maura sambil terkekeh.


"Kamu tau, papa sama paman kamu itu dulu gak akur lho. Kalo ketemu, pasti ada aja yang di ributin meskipun hal sepele bisa jadi pertengkaran hebat." 


"Ya sama lah seperti sekarang, Ma. Papa sering cari gara-gara sama suami aku, tau nya malah sering balik ke dirinya sendiri. Contohnya kemarin." 


"Ya seperti itulah papa mu, jahil dan iseng." Ucap Amira sambil terkekeh pelan. Suami nya memang dari dulu seperti itu, pecicilan. Tapi ya gak tau kenapa, kok dia bisa mencintai pria itu? Bahkan saat itu usia mereka jauh berbeda. Mungkin, itulah yang di namakan jodoh. Sama seperti putrinya. 


"Tapi kok mama bisa mau sama papa?" Tanya Maura, bertepatan dengan itu Elgar keluar dari kamar nya. 


"Mama mu bucin sama papa, Sayang. Dia cemburuan dan posesif sama papa dulu." 


"Isshh papa, apaan sih. Enggak gitu, tapi…" 


"Tapi apa hayoo?" Goda Elgar membuat wajah Amira merona karena malu. Dialah yang memulai sebuah hubungan terlarang dengan Elgar saat dirinya masih berstatus istri orang.


"Ihhh papa, mama kan jadi malu." Amira menutup wajah nya dengan kedua tangan, menutupi wajah nya yang memerah.


"Ciaahhh, aku kok mual ya liat yang tua bucin gini?" Celetuk Daniash yang sedari hanya diam menyimak sambil memakan rujak mangga dengan lahap. 


"Diem, kamu gak di ajak." 


"Dihh, papa mertua jahat banget deh sama menantu nya." Ucap Daniash berdrama, seolah-olah dia korban yang tersakiti.


"Gak usah drama, nanti kena karma baru tahu rasa." 


"Ihh papa, kok ngomong nya gitu sih? Gak boleh gitu, nanti aku sama anak aku gimana?" Ucap Maura dengan sendu.


"Iya iya, papa minta maaf. Gak gitu lagi deh." Daniash tersenyum penuh kepuasan, istrinya selalu membela nya.


"Nah gitu, kalo udah tua emang harus ngalah sih."


"Lu juga tua kali." Gumam Elgar sambil bersedekap dada. 


"Astaga." Amira dan Maura kompak menggelengkan kepala mereka. Heran dengan mertua dan menantu yang tak pernah akur.


"Cihh, nyebelin." Cetus Elgar saat melihat menantu nya kembali anteng dengan rujak nya seolah tanpa berdosa sedikitpun karena sudah membuatnya di marahi dua wanita kesayangan nya.

__ADS_1


"Dad, udah ya makan rujak nya." Maura melihat dua buah mangga yang tadi sudah di kupas dan di potong-potong di atas piring itu ludes tak bersisa. 


"Masih pengen, Bby."


"Nanti sakit perut kalo terlalu banyak makan nya, Dad."


"Pliss, boleh ya Bby?" 


"Enggak, udah cukup makan rujak nya. Nanti kalo sakit perut, siapa yang susah? Aku juga, Dad. Nurut ya sama istri?" 


"Heemm, yaudah deh iya. Tapi besok boleh rujakan lagi kan?"


"Kalo besok boleh, sekarang udahan makan rujak nya." Bujuk Maura. 


"Iya Bby." Daniash pun mendusel di perut istrinya, Maura mengusap kepala sang suami dengan lembut. 


"Bby.." 


"Iya, suami tampanku.." 


"Tidur siang yuk?" Ajak Daniash manja, membuat Maura terkekeh. Berbeda lagi dengan ekspresi yang di tunjukan Elgar, seperti jijik.


"Hueekk.." Elgar bertingkah seolah seperti orang yang ingin muntah, sambil memegangi perutnya.


"Kenapa, Pa?"


"Tiba-tiba aku merasa mual, Ma." Jawab Elgar sambil mengusap perut nya.


"Cihh, iri? Bilang Boss!" Celetuk Daniash sambil mendusel di perut istrinya.


"Ayoo Bby.." rengek Daniash pada istrinya.


"Iya, iya, ayo Daddy kita tidur siang dulu ya." 


"Yeee, ayo sayang." Daniash terlihat sangat antusias, dia langsung menggendong istrinya ke kamar. Meninggalkan mertua nya yang menatap penuh arti ke arah mereka.


"Meskipun menyebalkan, tapi dia sangat mencintai putriku seperti nya." 


"Iya, makanya papa jangan mancing-mancing dong. Kerasa sendiri kan kesel kalo di godain balik sama menantu nya." Nasehat Amira pada suaminya.


"Seneng aja godain dia, tapi pas dia jawab kok aku kesel gitu."


"Ya mungkin dia nya juga sama, kesel pas kamu godain Mas." 


"Rujak nya masih ada gak sih, Ma? Ngiler tadi liat dia makan rujak, kok keliatan enak gitu." Tanya Elgar.


"Ada sih, tapi kalo nanti Dani nanyain lagi gimana?"


"Beli aja lagi." Jawab Elgar enteng.


"Yaudah, sana makan." 


"Oke, Ma." Elgar pun pergi ke dapur, tapi ternyata buah mangga nya masih berbentuk buah, belum di potong atau di kupas.


"Sayang, ini kok belum di kupas sih?"


"Ya kupas sendiri dong, Mas. Manja banget deh." 

__ADS_1


"Lah, tadi buat Dani kamu yang ngupas plus motong, masa buat suami sendiri di suruh ngupas sendiri sih, Yang." 


"Kamu ini, sama menantu sendiri aja iri. Sini aku kupasin." Ketus Amira sambil merebut buah mangga dari tangan suaminya, membuat Elgar terkekeh. Wajah kesal istrinya selalu saja membuat nya jatuh cinta.


Di kamar, Maura dan Daniash sedang kelonan berdua. Pria itu tidur sambil menduselkan wajah nya di dada kenyal sang istri, sedangkan Maura tertidur bertumpu di kepala suaminya. Kedua nya berpelukan erat, menyalurkan kehangatan dari tubuh masing-masing berbalutkan selimut hangat. 


Meskipun hari nampak cerah, tapi udara nya terasa dingin menusuk kulit, mungkin karena efek pendingin udara. 


Sedangkan di rumah Nayna, Aryo sedang sibuk menyiapkan acara tahlilan calon ibu mertua nya, selain itu dia juga punya kesibukan lain, yakni menyiapkan pernikahan nya juga yang tinggal 5 hari lagi. 


"Ini calon nya Nayna ya?" Tanya salah satu tetangga yang sedang bantu-bantu di rumah duka itu.


"Hehe, iya Bu. Perkenalkan, saya Aryo calon suaminya Nayna." Jawab Aryo dengan senyum ramah nya.


"Ganteng ya, usia berapa?" 


"Tiga puluh, Bu." 


"Wahh, matang sekali calon nya Nayna ya." Aryo hanya tersenyum canggung menanggapi ibu-ibu itu.


"Dad, kesini sebentar." Panggil Nayna, Aryo mengangguk dan mengikuti langkah gadisnya.


"Kenapa sayang?"


"Maafin mereka ya, disini emang kayak gitu." 


"Gapapa sayang, kenapa kamu minta maaf?" Tanya Aryo sambil membingkai wajah gadisnya.


"Aku ngerasa gak enak saja sama Daddy, tetangga aku rata-rata emang gitu. Kepo banget sama urusan orang." 


"Iya iya, gapapa kok Bby. Biarin aja sih, toh buat mereka ini." 


"Daddy gak tersinggung sama mereka?" Tanya Nayna, Aryo tersenyum lalu menggeleng pelan. Fakta nya, dia memang tak merasakan apapun.


"Syukurlah kalau begitu, Dad." 


"Kamu gak usah mikirin hal-hal yang gak penting ya, Bby." 


"Iya Daddy.." Aryo tersenyum lalu meraih gadis nya itu ke dalam pelukan nya, kedua nya berpelukan mesra. Tanpa sadar, kalau ibu-ibu tadi ternyata mengintip dari balik tirai saking kepo nya.


"Kayaknya hubungan mereka udah terlampau jauh ya?"


"Iya, gimana kalau Nayna hamil duluan ya? Soalnya laki nya udah dewasa banget." 


"Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa kampung kita kena sial." Celetuk ibu-ibu yang lain.


"Harusnya, mereka berdua di nikahkan aja biar gak bikin sial kampung kita." Kompor yang lain nya lagi.


"Nanti kita usul sama pak kepala desa aja, jangan sampai kampung kita kena sial gara-gara ada warga yang berzina." 


"Iya tuh, ide bagus." Mereka terus berbisik-bisik, kebanyakan yang menyalahkan karena hubungan Nayna dan Aryo terlihat seperti sudah kelewat batas. 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_1


__ADS_2