
8 Bulan Kemudian..
Yeah, waktu terasa semakin cepat berlalu. Bahkan secara tak di sadari, hari berganti, bulan berganti, dan saat ini adalah hari yang paling di nanti oleh pasangan Maura dan Daniash. Dimana, hari ini dia mulai merasakan sakit nya kontraksi lagi.
Pagi tadi, Maura sedang berjalan-jalan di taman belakang saat tiba-tiba ada cairan yang merembes di antara kedua paha nya, disertai bercak-bercak kemerahan juga rasa mulas yang mulai terasa.
Wanita itu meringis menahan rasa sakit di perut nya, dia mengusap nya sambil berjalan pelan ke dalam rumah. Selama ini, Maura tak mengalami ngidam apapun. Justru Daniash yang ngidam berlebihan, bahkan menyusahkan Aryo.
Pernah sekali, Daniash ngidam ingin makan lontong sayur. Lalu, apa yang aneh? Ya jelas aneh, karena Daniash menginginkan makanan itu tepat tengah malam, membuat Aryo kelimpungan mencari nya kemana-kemana.
Namun di kehamilan yang sekarang, Daniash tidak mengalami morning sickness seperti yang pertama kali, hanya saja tingkat kemanjaan nya naik berkali-kali lipat.
"Dad.." Lirih Maura sambil memegangi perut nya. Daniash yang melihat istrinya datang dengan langkah perlahan, seperti menahan rasa sakit pun langsung bangkit dari duduknya, dia sedang menemani kedua buah hati nya bermain Lego di ruang tamu.
"Mommy, kenapa?" Tanya Daniash dengan khawatir.
"Perut aku sakit, Dad." Jawab Maura, mendengar hal itu Daniash langsung panik. Dia melihat kaki sang istri, benar saja ada cairan yang rembes disana.
"Kamu sudah pecah ketuban, Mom. Kita harus ke rumah sakit sekarang." Maura mengangguk sambil menahan sakit di perutnya yang semakin lama semakin terasa.
"Maa…" Teriak Daniash, pria itu berlari kesana kemari untuk mengambil perlengkapan istri nya selama di rumah sakit nanti.
Hanin dan Mira yang baru saja datang ke ruang tamu setelah makan siang pun terheran-heran di buat nya.
"Nona kenapa?"
"Mau melahirkan, Han." Jawab Maura lirih, karena menahan rasa sakit di perut nya.
"Astaga, ayo kita bantu Nona Maura ke mobil."
Mira dan Hanin pun membantu membopong Maura ke mobil, tak lama kemudian Daniash datang dengan tas besar berisi peralatan juga pakaian ganti untuk istrinya. Sedangkan Riana langsung bersiap untuk ikut ke rumah sakit, begitu pun dengan Danish.
Pria paruh baya itu juga ikut serta ke rumah sakit, meninggalkan Hanin dan Mira di rumah bersama baby Davi dan Anna.
"Nitip rumah ya." Ucap Riana pada kedua nya.
"Baik, nyonya besar."
Riana pun kembali masuk ke dalam mobil dan setelahnya, mobil pun langsung melaju dengan kecepatan tinggi karena sedang dalam keadaan yang darurat.
"Semoga saja persalinan nona Maura lancar ya." Ucap Hanin, jujur saja dia memang sangat dekat dengan Maura. Mungkin, rasanya lebih seperti teman bukan seperti majikan.
"Iya, nona Maura wanita yang baik. Pasti akan baik-baik saja, Han." Balas Mira, dia tersenyum kecil.
Maura memang tipe orang yang royal terhadap orang lain, apalagi orang terdekat. Tak jarang, Hanin dan Mira di belanjai pakaian, makanan, belum lagi kalau gajian, pasti selalu di lebihi.
Di perjalanan, Danish terus mengemudikan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi. Dia khawatir saat melihat menantu nya kesakitan, namun wanita itu tak lagi jerat jerit atau mengeluh sakit seperti saat pertama kali.
Maura menghela nafas nya, lalu menghembuskan nya dengan perlahan. Keringat membanjiri kening nya, dia bersandar di dada bidang sang suami yang terus mengecupi kepala sang istri dengan lembut.
Dalam hati, dia berdoa untuk keselamatan dan kelancaran persalinan istri tercinta nya. Sehat tanpa kekurangan satu apapun.
Setengah jam kemudian, akhirnya Danish sampai di rumah sakit. Daniash langsung menggendong istrinya keluar dari dalam mobil dengan langkah tergesa-gesa.
"Sus, tolong istri saya." Ucap Daniash lirih.
"Mari tuan." Jawab perawat itu, lalu membawa Maura masuk ke dalam sebuah ruangan. Daniash pun ikut ke dalam, karena perawat mengizinkan.
__ADS_1
"Kita cek dulu pembukaan nya ya."
Maura mengangguk, sedangkan Daniash menatap tak percaya saat tangan dokter itu masuk ke dalam lubang sang istri. Kepalan tangan itu masuk? Hah, tak salah melihat kan? Tapi kepala bayi pun bisa keluar dari sana kan? Lalu, kenapa saat dia memakai lubang itu selalu terasa sempit, cukup mengherankan bukan?
"Pembukaan nya sudah sempurna, bisa melahirkan sekarang juga." Ucap sang perawat membuat tubuh Daniash panas dingin seketika.
"Iya, sus."
"Saya akan memanggil dokter, juga mengambil alat kesehatan."
"Baik, sus. Cepatlah." Jawab Maura lirih, sedangkan Daniash hanya mematung disana.
Perawat itu pun keluar dengan langkah terburu-buru. Hanya berselang lima belas menit saja, perawat itu sudah kembali dengan seorang dokter wanita. Ya, dokter yang biasa nya menangani pemeriksaan rutin tiap bulan Maura.
"Ohh, Nona Maura.."
"Iya dok." Jawab Maura lirih.
"Sudah mau melahirkan saja ya, padahal kita bertemu setiap bulan nya, tapi waktu terasa sangat cepat berlalu."
"Hmmm, iya dok."
"Baiklah, tolong pakai ini, Tuan." Ucap dokter itu pada Daniash, pria itu pun memakai pakaian steril nya dengan cepat. Melihat istrinya kesakitan adalah hal yang paling membuat nya tersiksa.
"Semangat istriku, sayang."
"Iya, Daddy." Jawab Maura, dia tersenyum kecil pada suami nya.
Namun, rasa sakit di perut nya semakin terasa sakit, seperti rasa sakit yang tak wajar. Dulu, dia tak mengalami rasa sakit semacam ini saat melahirkan Davi dan Anna, lalu rasa sakit apa ini?
"Sebentar, Nona." Dokter itu pun mulai memberikan arahan untuk Maura mengeden dengan sekuat tenaga nya. Maura menghembuskan nafas nya dengan kasar, sakit? Tentu saja, ini sangat menyakitkan.
Setelah berjuang selama hampir setengah jam, akhirnya tangisan anak pertama mereka terdengar. Dokter langsung memberikan nya pada perawat, bayi itu menangis dengan nyaring.
"Bayi laki-laki, sehat, sempurna. Berat nya 2 kilogram, dengan panjang 50 centimeter." Ucap sang perawat sambil membersihkan bayi itu.
Tak lama kemudian, tangisan bayi kedua terdengar cukup nyaring juga. Asisten dokter yang kedua langsung menyambut bayi yang di lahirkan oleh Maura dan segera membersihkan nya.
"Bayi laki-laki, sehat juga sempurna. Berat nya 1,9 kilogram, panjang nya 49 centimeter."
Daniash menatap penuh haru kedua bayi yang tengah di bersihkan itu, dia punya dua penerus keluarga nya. Kali ini kedua nya laki-laki, artinya dia punya tiga anak laki-laki.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu."
"Sama-sam…" belum selesai ucapan Maura, wanita itu lemas dan akhirnya tak sadarkan diri. Tentu saja, hal itu membuat Daniash panik.
"Dok, kenapa istri saya dok? Dia pingsan."
"Sebentar, Tuan. Saya periksa dulu." Dokter itu langsung memeriksa keadaan Maura dengan detail.
"Sebaiknya anda keluar dulu, Tuan. Biarkan saya yang menangani nya."
"Tapi dok.."
"Anda ingin sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya dokter itu dengan kesal.
"Tidak, tentu saja tidak. Baiklah, tangani istri saya sebaik mungkin. Kalau terjadi sesuatu pada nya, lihat saja nanti."
__ADS_1
"Ya, keluarlah cepat." Usir dokter itu, dia pun langsung memeriksa kembali keadaan Maura.
Di luar, Daniash langsung di sambut dengan beberapa pertanyaan dari kedua orang tua nya.
"Dani, bagaimana Maura?"
"Maura pingsan, Ma. Dia sedang di tangani di dalam." Lirih Daniash, nyaris tak terdengar.
"A-apa? Lalu bagaimana bayi nya?"
"Bayi nya lahir dengan selamat, kedua nya laki-laki." Jawab nya.
"Lalu, Maura kenapa?"
"Seperti nya dia kelelahan, Ma." Jawab Daniash. Itulah yang paling mungkin dalam pemikiran nya, setelah bertarung nyawa di ruangan yang dingin dan di meja operasi yang mencekam, mungkin saja Maura kelelahan setelah hampir setengah jam berada di ruangan itu.
"Permisi, keluarga Nona Maura?" Tanya perawat yang keluar dari ruangan tempat Maura tadi.
"Iya, saya suami nya."
"Ini ada surat izin untuk melakukan operasi."
"O-operasi, sus?"
"Mohon di tanda tangani saja, agar kami bisa segera menyiapkan semua nya."
Daniash menandatangani surat itu dengan tangan yang gemetar, jujur saja dia takut. Ada apa dengan istrinya? Apa yang terjadi, jangan-jangan…
"Terimakasih atas kerja sama nya." Ucap perawat itu lalu keluar dengan setengah berlari.
Tak lama berselang, dokter keluar dengan wajah pucat nya.
"Dok, ada apa dengan menantu saya?" Tanya Riana.
"Begini Bu, seperti nya ada komplikasi yang membuat rahim Nona Maura tak sanggup menahan bobot tubuh kedua bayi nya."
"Lalu?" Tanya Daniash dengan khawatir.
"Rahim Nona Maura pecah, kami sudah berusaha menjahit nya, tapi ternyata robekan nya terlalu besar, kami terpaksa harus mengangkat rahim nya. Kalau tidak, ini bisa membahayakan nyawa Nona Maura." Jelas dokter itu panjang lebar.
Jederrrr..
Terasa seperti di sambar petir di siang hari, Daniash menganga mendengar penjelasan dokter itu. Dia tak menyangka kalau sang istri harus kehilangan rahim nya karena mengandung bayi mereka.
"Dokter.."
"Iya tuan."
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, dok. Apapun caranya."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Daniash dan kedua orang tua nya mengangguk, dokter itu pun pergi dari hadapan Daniash dan dua orang tua nya.
Daniash luruh ke lantai, dia menyesal, sangat menyesal. Andai saja waktu itu dia mengikuti saran dokter untuk menyelamatkan salah satu janin yang di kandung oleh istrinya, mungkin saja semua ini takkan terjadi.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1