
Pagi harinya, Maura kembali mengetest untuk memastikan lagi, apakah dia benar hamil atau tidak. Karena menurut petunjuk penggunaan nya, testpack akan lebih akurat saat memakai nya di pagi hari.
Maka dari itu, Maura bangun pagi-pagi buta sekali untuk memastikan nya. Gadis itu kembali mencelupkan batang testpack ke dalam wadah berisi air sisa metabolisme nya. Setelah beberapa detik, Maura mengangkat nya dan hasilnya sama, dua garis merah. Artinya dia benar-benar hamil saat ini.
"Kamu benar-benar hadir, Nak? Aahh bunda sangat bahagia sekarang." Gumam nya sambil terus mengusap perutnya.
Setelah selesai, Maura pun keluar dari kamar untuk sarapan. Tapi saat melihat makanan di meja, perut nya malah terasa di aduk-aduk, hingga membuat gadis itu muntah-muntah.
"Ya ampun sayang, kamu kenapa sebenarnya? Sebaiknya kita periksa ke rumah sakit ya." Ucap Amira sambil memijat tengkuk putri nya.
"Iya, papa khawatir kamu punya penyakit dan kalau di biarkan, nanti malah semakin parah." Elgar terlihat sangat khawatir melihat keadaan putrinya, pagi ini bukan pertama kalinya dia melihat putrinya muntah-muntah seperti ini.
"Maura gapapa kok, Ma, Pa. Gak usah khawatir, Maura harus pergi, ada kelas pagi."
"Gak sarapan dulu, sayang?" Tanya Amira, dia meraih tangan putrinya.
"Gapapa Ma, Maura sarapan di kampus aja. Pengen makan bakso, kayaknya enak banget." Jawab Maura membuat kening Amira mengernyit.
"Pagi-pagi udah makan bakso, jangan pedes-pedes ya, nanti penyakit lambung kamu kambuh, sayang "
"Iya Ma, yaudah Maura pergi dulu ya. Babay." Gadis itu pergi keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Di depan rumah, Nayna sudah menunggu dengan mobilnya. Gadis itu menoleh saat melihat Maura keluar dari rumahnya dengan langkah tergesa-gesa.
"Pagi bestie.."
"Hmmm, pagi kembali bestie." Jawab Maura, dia memasang seatbelt dan mobil pun melaju, menjauhi rumah besar milik keluarga Wijaya.
"Gimana hasilnya, Ra?"
"Nih, liat sendiri." Jawab Maura sambil memperlihatkan testpack yang terdapat dua garis merah.
"Positif, Lo beneran hamil, Ra." Heboh Nayna, membuat Maura menepuk lengan sahabatnya.
"Aaauuhhh, sakit njir."
"Gue bingung nih, kasih tau Daddy apa enggak." Lirih Maura.
"Harus, bagaimana pun Daddy Lo harus tau kehadiran dia."
"Tapi, Daddy lagi di luar kota, Nay."
"Sampe kapan?" Tanya Nayna.
"Dua atau tiga hari lagi dia balik, katanya." Jawab Maura.
"Bagus tuh, kasih dia kejutan dengan kehamilan Lo. Kalaupun Lo sembunyiin hal ini dari si Daddy, lambat laun dia juga bakalan tau, entah dari Lo atau lihat perkembangan tubuh Lo." Jelas Nayna, sejak kemarin dia selalu memberikan solusi untuk sahabatnya.
"Heemm, iya juga Nay."
"Sebaiknya kita periksa ke dokter nanti."
"Hehe, anterin ya?"
"Oke siap." Jawab Nayna sambil tersenyum.
"Gue penasaran, sejak kapan dia hadir disini, Nay." Nayna melirik sahabatnya yang tengah mengusapi perutnya dengan lembut, lalu tersenyum sambil menatap perutnya yang rata.
"Nanti kita tau, setelah kelas selesai kita ke dokter kandungan ya. Ngidam apaan Lo?"
__ADS_1
"Hehe, bakso."
"Yaudah, kita makan bakso sekarang." Jawab Nayna sambil terkekeh, keduanya pun keluar dari mobil dan menuju kantin untuk memenuhi ngidam si ibu hamil yang katanya ingin makan bakso.
Sedangkan di belahan bumi yang lain, Daniash merasakan lemas luar biasa, entah kenapa dia sangat lemas hingga untuk berjalan saja rasanya sangat malas, apalagi bekerja.
"Tuan.."
"Hmmm, kenapa Ar?" Tanya Daniash lirih, membuat Aryo keheranan.
"Tuan baik-baik saja?"
"Aku sendiri tak tau, kenapa aku sangat lemas sekali hari ini, Ar." Jawab nya.
"Tuan belum sarapan?"
"Sudah, aku sudah sarapan steak tadi." Jawab Daniash lirih.
"Saya akan memanggil dokter, agar tuan di periksa."
"Tak perlu, Ar. Aku hanya ingin beristirahat, kau bisa pergi ke proyek sendirian kan?"
"Baiklah tuan, tapi anda yakin tak kenapa-napa?"
"Yeah, aku yakin sekali, Ar."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat beristirahat, tuan." Aryo membungkuk, lalu pergi meninggalkan Daniash yang terkapar tak berdaya di kamar hotel yang dia tempati selama dia berada di kota ini.
Daniash mengambil ponselnya, mengirim pesan pada gadisnya, dia tak berani menelpon karena dia tau kalau di jam-jam segini gadisnya mungkin sedang di dalam kelas.
"Haahh, aku sangat merindukan mu, Maura." Gumam Daniash, dia sangat merindukan gadisnya saat ini. Hanya dia yang bisa membuatnya bersemangat menjalani hari, tanpa bertemu dengan nya membuat Daniash lemas. Mungkin itulah alasan nya, kenapa dia sangat lemas saat ini.
Pesan balasan dari Maura, membuat senyuman Daniash tersungging.
'Pagi juga Dad, Maura lagi makan bakso sama Nayna. Daddy lagi apa? Udah makan? Jangan telat makan ya, nanti sakit.' Pesan balasan yang di kirimkan oleh gadisnya, membuat Daniash berbunga karena gadis nya begitu perhatian.
"Aahh gadis ku memang yang terbaik." Gumam nya, lalu membalas pesan gadisnya tanpa menunggu waktu lagi. Mereka pun berbalas pesan, hingga saat Maura tak membalas pesan lagi, karena kelas nya sudah di mulai.
"Heemm, kenapa tiba-tiba aku ingin makan rujak ya? Seperti nya enak, apalagi yang pedes." Gumam nya, padahal dari dulu Daniash tak suka makan buah-buahan asam, tapi entah kenapa sekarang dia menginginkan nya. Bahkan hanya dengan membayangkan nya saja, air liur nya hampir menetes.
"Aaaahhh aku tak tahan, tapi di luar sangat panas."
Akhirnya, Daniash menghubungi sang sekretaris, siapa lagi kalau bukan Aryo yang saat ini sedang riweh mengurus kegaduhan di proyek.
"Aduh, siapa yang nelpon disaat begini sih. Astaga, gak tau apa orang lagi pusing juga." Gerutu Aryo.
"Eehh, bapak bos. Maaf.." ucap Aryo, bisa gawat kalau dia ketahuan menggerutu di belakang bos galak nya itu.
'Hallo, Ar. Dimana?'
"Masih di proyek tuan, ada sedikit masalah disini. Kenapa, tuan?" Tanya Aryo.
'Belikan aku rujak buah.'
"Rujak buah?" Tanya Aryo sambil menggaruk kepala nya. Sejak kapan bos nya itu jadi penyuka rujak? Setaunya, pria itu tak menyukai buah-buahan yang asam, apalagi rujak.
'Ya, yang pedas.'
"Baik tuan, setelah saya selesai dengan urusan disini, saya akan langsung kesana bersama rujak pesanan anda."
__ADS_1
'Jangan lama, Ar. Nanti ngeces.'
"Siap tuan.."
Panggilan pun selesai, Aryo segera membereskan permasalahan di proyek dan langsung melajukan kendaraan roda empat nya menjauhi kawasan pembangunan proyek itu.
Sepanjang perjalanan, Aryo terus celingukan mencari tukang rujak untuk sang bos. Bahaya kalau sampai dia tak menemukan nya, bisa-bisa dia yang di makan oleh Daniash.
Dan ya, tak ada usaha yang menghianati hasil. Aryo menghela nafas nya lega saat melihat satu stand yang menjual rujak buah. Pria itu menghentikan mobilnya dan turun dengan gaya coolnya, membuat perhatian orang-orang langsung tertuju padanya.
"Pak, rujak nya dua, pedes."
"Siap, silahkan tunggu dulu, tuan." Jawab sang penjual rujak itu. Aryo duduk di antara banyaknya pembeli yang mengantri.
Aryo tak peduli pada tatapan memuja para gadis ke arahnya, dia memilih membuka ponsel dan berbalas pesan dengan sang kekasih.
"Tuan, buahnya pakai semua atau.."
"Sebentar, saya tanya yang lagi ngidam nya." Jawab Aryo, membuat gadis-gadis disana terlihat kecewa. Karena mereka berpikir Aryo membeli rujak untuk istrinya.
'Hallo, kau dimana hah? Lama sekali.' Sewot Daniash membuat Aryo sedikit menjauhkan ponsel nya dari telinga.
"Saya sedang mengantri, tuan. Rujak nya pakai buah apa saja?"
'Pakai saja semua nya, Ar dan cepatlah.'
"Baik, sebentar tuan."
Aryo mematikan sambungan telepon nya dan mengatakan pada tukang rujak itu untuk memakai semua buah yang ada. Pria itu melirik sinis ke arah para gadis yang menatap nya dengan tatapan aneh.
'Ganteng-ganteng, tapi ternyata belok ya.'
'Dia kaum pelangi ya? Astaga, sayang banget.' bisik-bisik mereka, tapi sepertinya Aryo tak peduli dan memilih menyibukan diri dengan ponsel nya.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya rujak pesanan Aryo selesai. Dia langsung membayar nya dengan uang seratus ribuan.
"Kembalian nya, tuan."
"Ambil saja, terimakasih." Jawab Aryo dengan wajah datar khas nya.
Pria itu pergi dengan menenteng kresek di tangan nya, lalu melajukan kendaraan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Sialan banget, gini-gini gue masih tim penyuka lubang depan, bukan lubang belakang. Pake ngata-ngatain gue kaum pelangi, anjir lah." Gerutu Aryo, ingin sekali dia memaki ibu-ibu yang mengatakan nya belok, tapi dia malu. Lagi pun, dia tak menyerang perempuan kecuali Nayna. Mengingat gadis itu, membuat hatinya berdebar, dia merindukan gadis nya.
"Huffftt, lama sekali. Aku merindukan mu, gadisku."
Hanya butuh 15 menit saja untuk Aryo sampai ke hotel yang di tinggali Daniash. Pria itu masuk dengan wajah datar nya,
"Kau sudah datang, bagaimana, dapat rujak nya?" Tanya Daniash dengan wajah berbinar.
"Dapat tuan, silahkan di makan." Aryo meletakan kresek yang tadi dia tenteng di atas meja, lalu memindahkan rujak nya ke piring agar lebih mudah tuan nya makan.
"Kelihatan nya enak sekali." Daniash mengusap bibirnya, lalu tanpa ragu langsung memakan nya dengan lahap.
Aryo nyengir-nyengir sendiri melihat tuan muda nya memakan rujak dengan lahap, bahkan saat memakan mangga muda pun, pria itu terlihat biasa saja, padahal bisa di bayangkan bagaimana asam nya buah mangga muda kan?
'Apa tuan sedang mengidam ya? Sampai-sampai buah asam seperti itu, dia memakan nya dengan wajah datar?'
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻