Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 75 - Pertemuan Nayna dan Aryo


__ADS_3

"Jadi, bagaimana keadaan calon ibu mertua mu, Ar?" Tanya Daniash, padahal tadi dia sudah mendengar sendiri kalau ini nya Nayna sedang koma saat ini.


"Koma tuan, tapi kesempatan masih ada." 


"Yah, setiap kemungkinan selalu ada meskipun kecil, karena pembuluh darah nya pecah juga terlambat di tangani kan?" Tanya Daniash pada Aryo yang sedang fokus mengemudi kan kendaraan roda empat nya ke arah kantor.


"Iya, Tuan. Kalau saja cepat di tangani, mungkin kondisi nya takkan separah ini sekarang."


"Kalau saja dia bisa berbesar hati dan menerima hubungan kalian, pasti Nayna takkan pernah pergi dari rumah." Ucap Daniash berandai-andai. 


Ya, pergi nya Nayna dari rumah adalah karena pertengkaran nya dengan sang ibu. Wanita yang telah melahirkan nya itu ingin dia fokus mengejar pendidikan agar bisa bekerja di tempat yang bagus dan menyokong keuangan keluarga tanpa memikirkan laki-laki dulu.


Tapi Nayna tak ingin di kekang, dia memang menyayangi ibunya, tapi sepertinya rasa sayang nya pada Aryo lebih besar. Karena itulah, Nayna berani mengambil langkah sebesar itu dalam hidupnya. Yakni, meninggalkan rumah tempat dia di besarkan dan hidup bebas bersama pria pujaan nya.


Bersalah? Tentu saja setiap harinya Nayna rasakan, tapi dia selalu menepis nya. Dia tak ingin menyesali keputusan nya untuk pergi dari rumah bak penjara itu.


"Iya tuan, kita hanya bisa berandai-andai karena hal itu tidak terjadi." 


"Hmmm ya, harusnya sebagai orang tua mendukung keputusan anak mereka. Meskipun, caranya mendapatkan mu cukup salah. Ya seperti aku mendapatkan Maura ku." Ucap Daniash sambil menyandarkan punggung nya di sandaran mobil.


"Andai saja saya seberuntung itu, tuan."


"Jangan menyerah, tunjukkan kalau kau mencintai gadis mu itu dan perjuangkanlah." 


"Baik tuan, akan saya lakukan saran anda." 


"Semoga berhasil, Ar. Kalau masih tidak berhasil juga, buat saja gadis mu itu hamil dulu seperti yang aku lakukan. Dengan begitu, mau tak mau pasti akan di restui." Celetuk Daniash membuat Aryo menoleh, seperti nya saran itu cukup bagus juga. 


"Kalau restu tak di dapatkan, maka calon cucu yang bertindak, iya kan tuan?"


"Haha, kau benar Aryo." Daniash tergelak mendengar ucapan sekretaris nya itu. 


Waktu satu jam tak terasa, kini kendaraan itu sudah terparkir rapi di parkiran khusus petinggi perusahaan. Daniash keluar di ikuti Aryo di belakang nya, wajah mereka sama-sama datar seperti biasa.


"Selamat pagi tuan Daniash dan Tuan Aryo." Sapa para karyawan dengan setengah menunduk hormat. 

__ADS_1


"Hmmm.." Bukan jawaban yang mereka dapatkan, melainkan hanya sebuah deheman singkat. Tapi itu sudah biasa bagi kalangan karyawan di perusahaan, jadi mereka tak terlalu mempermasalahkan nya.


"Kapan meeting itu di lakukan, Ar?" Tanya Daniash.


"Jam sepuluh, tuan." 


"Hmm, baiklah." Daniash dan Aryo pun berpisah menuju ke ruangan mereka masing-masing.


Keduanya langsung berkutat dalam lautan pekerjaan yang tiada habisnya, yang kadang membuat mereka lupa waktu.


Di rumah sakit, Nayna menatap sang ibu dengan nanar. Setelah di nyatakan koma, rasa bersalah dalam hatinya semakin bersarang, dia cukup menyesal karena mengambil keputusan terburu-buru saat itu.


Andai saja dia bisa berpikir lebih jernih dan memahami maksud dan tujuan ibu nya, mungkin hal semacam ini takkan terjadi. Tapi kembali lagi, ini sudah takdir yang tak bisa di ubah.


"Ma, bangun Ma. Ini Nayna, Nayna disini nungguin Mama bangun." Lirih nya dengan air mata yang menganak sungai.


"Sudah, Nay. Makan dulu ya? Dari kemarin bibi gak liat kamu makan." 


"Enggak Bi, Nayna gak laper." Jawaban yang sama, penolakan. Bahkan saat Aryo memaksa nya tadi pagi pun, gadis itu tetap menolak.


"Baiklah Bi." 


"Bagus, ini bibi masakan sayur bening daun melinjo sama ikan ayam goreng, ada sambel juga. Tapi pacar mu bilang, gak boleh banyak-banyak makan sambel nya." Ucap Alika sambil berbisik.


"Kapan bibi ketemu Daddy?" Tanya Nayna dengan kening yang mengernyit.


"Tadi di luar, dia mau ngantor katanya. Bibi juga sekalian bikinin dia bekal juga." 


"Ohh, makasih banyak ya Bi." 


"Keliatan nya pacar mu itu orang penting, Nay?" Tanya Alika merasa penasaran dengan sosok Aryo, yang katanya kekasih keponakan nya.


"Dia sekretaris yang merangkap jadi asisten, Bi." Jawab Nayna di sela makan nya.


"Dia terlihat cukup dewasa untukmu, Nay." 

__ADS_1


"Usia nya 30 tahun, Bi. Berbeda delapan tahun dengan ku, makanya aku memanggil nya Daddy." Jelas Nayna, membuat bibi Alika manggut-manggut, mengerti dengan penjelasan Nayna.


"Dimana kamu ketemu sama dia, Nay?" 


"Di kampus. Waktu itu kampus aku tuh adain semacam bakti sosial gitu buat orang yang gak mampu, dia datang dan nyumbang besar banget. Ehh pas mau pulang malah nabrak aku." 


"Terus?" Tanya Alika lagi, dia sangat tertarik dengan cerita pertemuan keponakan nya dengan kekasihnya itu.


"Ya dia tanggung jawab, Bi. Awalnya cuma nanya-nanya kaki aku gak kenapa-kenapa, ehh malah makin deket dan ngerasa cocok aja satu sama lain, terus jadian deh." 


Padahal nyatanya, sebelum menjadi kekasih, Nayna di jadikan sugar baby oleh Aryo, bukan kekasih. Tapi bukan pemuas, catat bukan pemuas. 


Karena, kegadisan nya hilang setelah hampir 9 bulanan dia menjadi sugar baby nya, itu pun karena dia sudah tak tahan dengan godaan nya.


"Hemm, baguslah. Kelihatan nya dia memang pria yang baik dan tulus, semoga kalian berjodoh ya, Nay." 


"Semoga saja Bi, jodoh kan gak ada yang tau. Sekarang kita pacaran sama siapa, ehh nikah nya sama siapa." 


"Kok ngomong gitu, Nay?" Tanya Alika.


"Mama gak suka sama Aryo, aku gak tau alasan nya. Tapi, hal inilah yang membuat aku gak betah di rumah dan akhirnya milih minggat, Bi." 


"Hemm, sabar ya. Bibi yakin, suatu saat pasti restu itu akan kamu dapatkan."


"Iya Bi." Nayna tersenyum manis, hingga kedua mata nya menyipit seperti bulan sabit.


"Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, jika pun hati ibu mu sekeras batu, pasti lama-lama dia akan luluh saat melihat ketulusan kekasih mu, Nay." 


Nayna menganggukan kepala nya, dia pun berharap demikian. Dia bisa saja menikah dengan Aryo tanpa restu dari ibu nya, tapi hal itu tak dia lakukan, lagi pula Aryo tak menginginkan hal itu. 


Mereka memulai sebuah hubungan yang salah, jadi jangan kembali membangun sebuah hubungan dengan tiang sebuah kesalahan lagi. Itulah yang Aryo lakukan, sebisa mungkin dia akan tetap meminta restu ibu nya Nayna sebelum mempersunting putrinya, untuk menjadi istrinya, ibu dari anak-anak nya kelak.


.....


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2