
Hari-hari berlalu tanpa bisa di cegah, hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh pasangan bucin, Daniash dan Maura. Keduanya sudah sama-sama berada di kamar masing-masing, Daniash sedang mempersiapkan diri untuk mengucap janji suci di hadapan banyak orang untuk kedua kalinya.
Sedangkan Maura, gadis itu tengah memakai make up, Nayna juga berada di kamar itu, melihat sahabat nya dengan tatapan haru, bahkan beberapa kali dia mengusap air mata nya yang jatuh tanpa bisa di cegah.
Dia ikut bahagia, akhirnya sahabat nya akan menikah dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya.
"Udah ihh, dari tadi Lo nangis terus, Nay." Ucap Maura saat melihat Nayna terus menangis saat bertatapan dengan nya.
"Habisnya, gue terharu banget. Temen gue udah mau nikah aja, mana cantik banget lagi, bikin gue iri tau gak."
"Haha, minta di kawinin sama Daddy Lo sana."
"Kawin sih udah, nikah nya yang belum." Celetuk nya membuat Maura terkekeh.
"Pantesan dada Lo melar, pasti udah di iisep sama Daddy Lo kan?"
"Gak usah di tanya lagi, dia mah doyan nya nyusu kayak bayi."
"Bayi gede ya Nay?"
"Hooh bayi gede, bahkan bayi nya berkumis sama berjakun." Jawab Nayna membuat Maura terkekeh pelan.
"Gileee, cantik bener temen gue. Kalo jadi Om Daniash, udah pingsan duluan sih pas liat Lo gini." Puji Nayna saat melihat final look yang di kenakan Maura hari ini. Gaun sederhana berwarna putih bersih untuk acara pemberkatan, sedangkan gaun ala cinderella nya, akan Maura kenakan nanti malam di acara resepsi.
"Lebay banget deh Lo, mana ada Daddy pingsan. Seumur hidup dia, bukan cuma gue cewek cantik yang pernah dia lihat kali."
"Ya, tapi Daddy Lo cinta mati sama Lo, jadi gue pikir Lo wanita tercantik versi Om Daniash sih." Jawab Nayna membuat Maura merasa tersanjung, nyatanya memang ucapan Nayna benar sepenuhnya.
Daniash sangat mencintai nya, begitu pun sebaliknya, Maura sangat mencintai pria itu. Syukurlah, dia tak cinta sendirian.
"Gue jadi kepedean nih, apa iya ya?" Maura tersipu, wajah nya memerah hanya karena pujian dari Nayna, belum lagi kalau dia di puji Daniash. Bagaimana jadinya? Dia takut baper dan pingsan di altar nanti.
"Dihh ngeblushing, cieee malu-malu ya weehh?" Goda Nayna.
"Diem Lo, gue salting parah ini."
"Eehh lupa, gue belum pake lipstick." Maura tergelak mendengar ucapan Nayna, apalagi saat melihat tingkah konyol sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, Elgar datang bersama Amira, keduanya nampak serasi. Elgar memakai jas hitam yang membalut tubuhnya, sedangkan Amira nampak sangat anggun dengan gaun putih gading miliknya.
__ADS_1
"Sudah siap sayang?" Tanya Amira, wanita paruh baya itu langsung masuk dan memeluk putrinya.
"Putriku sangat cantik." Amira menatap putrinya berkaca-kaca, kini putri kecilnya akan menikah, status nya akan berubah dengan tanggung jawab yang besar, menjadi seorang istri dan beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ibu dari dua orang anak sekaligus.
Elgar menatap kedua wanita kesayangan nya itu, satunya istri yang sangat dia cintai, lalu satu nya lagi putri kesayangan nya.
"Putri kecilku akan menikah hari ini, kamu terlihat sangat cantik, Nak."
"Terimakasih papa." Maura menghambur memeluk Elgar.
"Inilah saat nya, papa harus melepaskan mu, sayang. Melepaskan mu untuk ikut bersama suami mu nanti, dengan ini tanggung jawab papa akan di gantikan oleh suami mu." Lirih Elgar membuat Maura menangis dalam diam.
"Jangan menangis sayang, nanti cantiknya luntur." Elgar melerai pelukan nya, lalu menangkup wajah putri nya, dia mengecup kening Maura dengan penuh kasih sayang.
"Papa, maafin Maura ya? Kalau selama ini Maura suka bikin papa kesel."
"Tak apa sayang, kenakalan kamu itu yang membawa mu bertemu dengan jodohmu, iya kan?" Goda Elgar sambil menjawil hidung putrinya dengan gemas.
"Hehe, iya pah. Maura pinter kan pilih calon suami?"
"Ya pinter sih, milih nya yang ganteng juga kaya. Tapi ya masa duda sih, mana tua lagi." Jawab Elgar sambil mencebikan bibirnya.
"Iya juga ya, Ma. Awas aja kalo pria itu menyakiti putriku, aku pelintir kepala nya."
"Ya ampun, masa di pelintir sih, Pa."
"Iya-iya, enggak. Yuk kita turun, pendeta sudah menunggu di bawah." Ajak Elgar.
Maura menggandeng tangan sang papa, di belakang nya, Amira dan Nayna mengikuti langkah sang mempelai dengan perlahan.
Daniash menatap kedatangan calon istrinya dengan di dampingi oleh papa nya, tiba-tiba saja sekujur tubuhnya terasa merinding.
'Astaga, ada apa dengan aku ini? Kenapa bulu kuduk ku berdiri semua, ini bukan pernikahan pertama ku.'
Ya, memang bukan pernikahan Daniash yang pertama, tapi kali ini dia menikahi sosok gadis yang dia cintai. Bukan terpaksa karena keadaan, ya perjodohan yang berakhir tak baik.
Pria itu bersiap menyambut kedatangan sang calon istri di ujung karpet merah, dia tersenyum menatap Maura yang juga tersenyum ke arahnya. Meskipun terhalangi kain tipis menerawang, tapi senyuman nya terlihat sangat jelas.
Langkah Maura dan Elgar semakin dekat, membuat hati Daniash berdebar tak karuan, keringat membasahi kening nya. Daniash langsung mengelap nya dengan tissu yang sudah dia siapkan di saku celana nya.
__ADS_1
Akhirnya, Maura sampai di depan calon suaminya dengan senyum yang tak pernah surut dari kedua sudut bibirnya.
"Daniash, aku serahkan putri kesayangan ku, putri ku satu-satunya, untuk kau jaga dan kau sayangi sepenuh hati. Apabila anak perempuan ku sudah tak menarik lagi, kau pulangkan dia padaku."
"Aku terima tanggung jawab besar ini dengan senang hati, Pa." Jawab Daniash dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun dari sorot mata nya.
Elgar pun menyatukan tangan putrinya dengan Daniash, tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca. Dia duduk di barisan paling depan, sambil mengusap ujung mata nya.
"Tissu tuan.." tawar Aryo sambil menyodorkan kotak tissu.
"Terimakasih."
Daniash dan Maura melangkah bersama-sama ke depan pemuka agama, lalu berdiri berhadapan dengan tangan yang masih saling bertautan.
"Daniash Anggara Kim, maukah kau menerima Maura Putri Wijaya sebagai istrimu, satu-satunya wanita yang akan engkau cintai seumur hidup, ibu dari anak-anak mu, separuh jiwa mu, menemani nya dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, bersedia kah engkau?"
"Saya Daniash Anggara Kim, menerima Maura Putri sebagai istri saya, satu-satunya wanita yang akan saya cintai seumur hidup, separuh dari jiwa. Saya bersedia menemani nya dalam keadaan apapun." Jawab Daniash.
Lalu beralih pada Maura, gadis itu tak terlihat gugup sama sekali, dia sudah yakin dengan pernikahan ini. Pernikahan yang di lakukan bersama pria yang dia cintai.
"Maura Putri Wijaya, bersedia kah engkau menerima Daniash Anggara Kim sebagai suami mu? Satu-satunya pria yang akan kau cintai seumur hidup, menjadikan ayah dari anak-anak mu kelak, separuh dari jiwa. Bersedia menemani nya dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit."
"Saya, Maura putri Wijaya bersedia menerima Daniash Anggara Kim sebagai suami saya, satu-satunya pria yang akan saya cintai seumur hidup, menemani nya dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit." Ucap Maura.
Kedua pengantin itu saling melempar senyuman manis, tangan mereka saling bergenggaman erat.
"Dengan ini, saya mengesahkan kalian sebagai pasangan suami istri. Silahkan cium istri anda, Tuan Daniash."
Daniash melangkah mendekat, lalu membuka kain tipis penutup wajah sang istri, lalu mencium bibirnya dengan lembut nan singkat. Meskipun sebenarnya, dia ingin mengajak istrinya bergelut lidah, tapi nanti saja kalau sudah di kamar.
Setelah ikrar ucap janji suci, keduanya lalu bertukar cincin. Daniash memasangkan cincin di jari manis sang istri, begitupun sebaliknya.
"Selamat karena sudah berhasil menggantikan aku, pelakor kecil."
Semua orang yang hadir disana menatap ke arah asal suara, Daniash menatap geram mantan istrinya yang datang merusak acara sakral nya dengan mengatakan hal yang tak penting.
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1