
Malam harinya, Daniash dan Maura benar-benar menjadi pusat perhatian, karena kemistri dan keserasian mereka di atas pelaminan. Maura dengan gaun Cinderella nya, Daniash dengan jas ala-ala prince charming, terlihat seperti ratu dan raja saat ini.
Pasangan itu sedang berdansa saat ini, meskipun awalnya Maura menolak karena dia tak bisa berdansa, tapi karena ini adalah hari istimewa bagi keduanya, jadi perempuan itu akhirnya mau saat Daniash membujuk nya, meskipun dengan gerakan yang sangat perlahan dan terkesan hati-hati.
"Sshhh.." Daniash meringis saat kaki nya terinjak oleh sepatu kaca yang di pakai oleh istrinya, entah yang ke berapa kalinya sepatu itu mengenai kaki nya.
"Aduhh, maaf Daddy gak sengaja."
"Iya, tidak apa-apa, sayangku." Jawab Daniash, dia tak keberatan meskipun sepatu sang istri terus menerus menginjak kaki nya.
"Aku capek, Dad. Sudah ya?"
"Baiklah, sayang." Daniash pun menyudahi dansa nya, dengan sigap dia menggendong istrinya untuk duduk di pelaminan, karena dia yakin kaki sang istri pasti terasa sangat pegal saat ini.
"Kok udahan, ayo dong." Ajak Nayna lagi.
"Gak kuat, Nay. Capek banget." Jawab Maura.
"Yaudah, jangan di paksain ya."
"Iya, Nay. Kalian nikmati saja pesta nya, aku akan beristirahat sebentar."
"Oke, beb." Nayna pun kembali berdansa bersama Aryo.
"Ini, minum dulu sayang." Daniash datang dengan segelas air putih untuk istri nya.
"Terimakasih pak suami."
"Kamu kecapean ya, Bby? Jangan sampai kamu sakit gara-gara pesta ini, sayang." Ucap Daniash, dia khawatir saat melihat istri ya yang terlihat sangat pucat.
"Tidak apa-apa, Dad. Aku baik-baik saja kok, hanya saja aku lebih memilih duduk saja. Kaki nya sangat lelah, rasanya seperti akan copot, Dad."
"Haha, kamu ini bisa saja Bby. Masa copot sih? Kaki kamu bukan buatan China."
"Heemm, tapi pegel banget, pijitin nanti ya Dad?"
"Siap sayangku."
"Tapi, jangan berakhir dengan keramas ya Dad?"
"Kenapa?"
"Apa Daddy tak kasian dengan istri mu ini, hmm? Istrimu ini sangat kelelahan setelah seharian menyambut tamu." Ucap Maura lirih.
"Haha, iya iya sayang. Lagipun, kita sudah melewati banyak malam bersama, jadi malam ini bukan malam pertama kita ya."
"Apa Daddy kecewa?"
"Kecewa karena apa, sayang?" Tanya Daniash dengan kening yang mengernyit heran mendengar pertanyaan istrinya.
"Karena aku sudah tidak perawaan lagi saat menikah dengan Daddy."
"Lho kenapa harus kecewa? Kan Daddy yang mengambil keperawanaan mu, dulu atau sekarang, sama saja bukan?"
"Iya sih, tapi tak ada yang istimewa di malam pertama kita, Dad." Maura menunduk, meskipun dia tau kalau pria itulah yang mengambil kesucian nya pertama kali, tapi tetap saja ada rasa bersalah di hatinya karena malam pertama nya sudah terlewatkan.
"Tak ada yang lebih lebih istimewa dari pada dirimu, Bby. Kamu sudah sangat istimewa untuk Daddy, menikahi mu adalah satu kebahagiaan yang paling Daddy syukuri."
"Benarkah?" Tanya Maura berbinar.
"Tentu saja, kamu adalah cinta kedua Daddy setelah Mama."
__ADS_1
"Terimakasih, sudah mengerti Dad."
"Sudah ya, jangan membahas hal yang tak penting. Hari ini kamu harus bahagia, ini hari pernikahan kita."
"Iya Daddy." Daniash membelai wajah cantik sang istri lalu mengecup kening nya dengan mesra.
"Witwiw, awww so sweet nya pasutri baru." Celetuk Nayna membuat Maura merona seketika, berbeda dengan Daniash yang tak menunjukkan ekspresi apapun alias wajah datar nya.
"Jangan menggoda Nona Maura, Bby. Lihatlah, dia malu sekarang. Sudah, jangan merecoki mereka terus, ayo kita kesana." Ajak Aryo pada gadis nya. Nayna menurut dan mengikuti Daddy nya.
Para tamu undangan tampak sangat menikmati pesta ini, termasuk Joseph dan Laurent. Mantan mertua Daniash, tepatnya orang tua Herra.
Mereka di undang secara khusus oleh Danish dan Riana, karena mereka menghormati mantan besan mereka. Perpisahan Daniash dan Herra tak membuat mereka bermusuhan, hubungan mereka masih baik-baik saja sampai saat ini.
"Selamat atas pernikahan mu, Daniash." Ucap Joseph sambil mengulurkan tangan nya pada Daniash.
"Terimakasih, Pa."
"Heemm, maafkan atas semua kesalahan putriku. Aku sangat menyayangkan perpisahan kalian, tapi aku tak bisa memaksakan kehendak karena kesalahan ada pada putri kami."
"Tak apa-apa, Pa. Kami memang sudah tak berjodoh, itu alasan nya." Jawab Daniash ramah, sedangkan Maura hanya menatap heran ke arah suaminya, dia tak mengetahui kalau dua orang paruh baya di depan nya adalah orang tua mantan istri suaminya.
Tapi, dari arah pembicaraan keduanya, harusnya Maura tau kan? Terlebih Daniash memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan papa.
"Kau pandai memilih istri, dia sangat cantik sekali dan masih muda." Puji Joseph pada Maura.
"Tentu, dia adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui." Jawab Daniash membuat wajah Maura merona mendengar pujian Daniash padanya.
"Selamat atas pernikahan mu ya, Nak. Semoga bahagia selalu, di beri keturunan yang sehat dan aktif, sempurna tanpa kekurangan satu apapun." Ucap Laurent pada Maura, sambil memeluk nya pelan.
"Terimakasih, Nyonya." Jawab Maura, sebenarnya dia bingung harus memanggil apa pada sosok wanita di depan nya.
"Baik, Ma."
"Berapa usia kandungan mu, sayang?"
"Hari ini tepat 4 bulan, Ma."
"Empat bulan? Tapi ini terlalu besar untuk usia kehamilan empat bulan, sayang." Ucap Laurent sambil mengusap lembut perut Maura yang terhalangi gaun Cinderella nya.
"Mereka kembar, Ma."
"Kembar? Ohhh astaga, aku sangat senang sekali. Mereka laki-laki?"
"Sepasang Ma, satu laki-laki dan satu perempuan." Jawab Maura, entah kenapa dia merasa nyaman pada wanita baya ini. Sosok keibuan nya membuat dirinya nyaman berinteraksi, meskipun banyak bertanya tapi tak masalah.
"Ya Tuhan, selamat sayang. Semoga sehat selalu dan di lancarkan saat hari H nya ya, jangan lupa kabari Mama ya?"
"Iya Ma, pasti Maura kabarin nanti." Jawab Maura, mengulas senyum manis yang membuat siapa saja terpesona, termasuk Laurent dan Joseph.
'Pantas saja Daniash sangat mencintai Maura, dia gadis yang sangat baik.' Batin Joseph sambil menatap istri mantan menantu nya cukup intens.
"Ya sudah, mama turun dulu ya. Jangan kelelahan, jaga kesehatan kamu."
"Siap Ma, makasih perhatian nya." Laurent mengangguk, lalu turun bersama Joseph.
"Bby, kamu gak tau siapa mereka?"
"Orang tua mantan istri Daddy kan?" Tanya Maura, membuat Daniash mengangguk.
"Kamu tau?"
__ADS_1
"Awalnya sih enggak, tapi saat mendengar pembicaraan Daddy, terus Daddy juga manggil dia papa, aku langsung tau, Dad." Jelas Maura.
"Kamu terlihat sangat nyaman mengobrol dengan Mama Laurent, Bby."
"Iya, beliau sangat baik. Jadi tak ada alasan lagi kenapa aku harus tak nyaman saat berdekatan dengan nya. Memang nya kenapa, Dad?"
"Tidak ada, hanya saja heran kenapa kamu mudah sekali akrab dengan orang lain."
"Sama mantan istri Daddy aku gak akrab tuh."
"Iya, Daddy tau. Tapi sama yang lain kamu mudah akrab, Bby."
"Kalau mereka nya baik sama aku, masa aku harus jahat sih? Tapi beda lagi kalau sama mantan istri Daddy itu, dia tidak ramah bintang satu." Jawab Maura sambil terkekeh geli.
"Kamu nya terlalu menarik seperti magnet, bikin Daddy tertarik."
"Lalu?"
"Ya dia iri sama kamu, Bby."
"Iya sih, penyakit iri dengki emang susah hilang ya."
"Itu udah penyakit bawaan setiap manusia, Bby."
"Dihh penyakit bawaan." Maura tergelak mendengar ucapan suaminya. Ada-ada saja, masa iri dengki itu penyakit bawaan sih?
"Kakak…" teriak seseorang, membuat Daniash langsung menatap ke arah sumber suara. Seorang perempuan yang terlihat tinggi, putih dengan rambut kepirangan. Cantik, tapi hidung dan mata nya mirip seperti Daniash.
"Dara, ya ampun kemarilah adikku." Sambut Daniash, perempuan itu langsung menghambur memeluk sang kakak dengan erat.
"Kapan sampai dek?"
"Baru landing, langsung kesini, kak." Jawab Dara sambil melerai pelukan nya.
"Ini kakak ipar? Wahh cantik sekali, masih muda juga, beda sama yang pertama ya. Yang ini terlihat sangat ramah, aku kasih bintang lima."
"Apaan sih, Dek. Astaga kamu ini kalo ngomong." Daniash menepuk bibir sang adik dengan gemas.
"Ihhh kakak, selalu saja gitu sama aku."
"Hallo, salam kenal. Aku Maura."
"Salam kenal juga kakak ipar, aku Dara Anggita Kim, adiknya kak Dani yang paling cantik dan imut."
"Mana ada, yang paling cantik cuma istri kakak, kamu mah ngantri paling belakang." Ucap Daniash sambil merangkul istrinya.
"Ihhhh sebel deh, gak kangen apa? Malah di godain gini."
"Kangen dong, udah lama gak ketemu kita." Ucap Daniash sambil mencubit pipi adiknya.
"Iya, pas ketemu eehh udah nikah lagi aja. Bahkan aku gak tau kalau Kakak udah cerai sama tuh nenek lampir, taunya udah nikah lagi aja sama kakak cantik. Syukur deh kakak cerai sama tuh cewek, aku gak suka banget liat wajah sinis nya." Celoteh Dara membuat Maura terkekeh.
"Sudah, sana istirahat dulu. Kesini sama suami dan anak mu kan?"
"Ya iya, Mas Ken gak mungkin biarin aku kesini sendirian. Takut aku di gondol om-om nanti."
"Astaga, Dara.." Daniash menggelengkan kepala nya saat mendengar gaya bicara adiknya yang tak berubah sama sekali, masih suka ceplas ceplos sekena nya.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1