Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 114 - Terciduk Perawat


__ADS_3

"Tuan bisa keluar, sementara Nona Nayna beristirahat sejenak sebelum di pindah ke ruang perawatan." Ucap dokter itu, Aryo mengangguk, dia memberikan bayi nya pada perawat, tentu nya sebelum itu dia sudah memberikan gelang nama di kaki putra nya. 


"Sayang, kamu istirahat dulu ya. Aku keluar dulu, ngabarin Tuan Daniash sama Nona Maura biar mereka gak khawatir." 


"Iya, Dad." Lirih Nayna, jujur saja dia merasa kelelahan setelah berjuang antara hidup dan mati selama hampir satu jam lama nya.


Aryo mengecup kening istrinya lama, lalu keluar dari ruangan yang terasa sangat mencekam beberapa menit yang lalu. Sungguh demi apapun, mendampingi istri yang melahirkan sangat berkesan dari pada memenangkan tender bisnis ratusan juta. 


Aryo keluar, Maura dan Daniash langsung mendekat, masih dengan raut wajah penuh ke khawatiran yang mereka tunjukkan.


"Bagaimana Nayna?" Tanya Daniash.


"Semua baik-baik saja, Tuan. Putra kami lahir dengan selamat, sempurna tanpa kurang satu apapun." 


Kedua nya kompak mengusap dada lega, tentu nya sangat lega karena sedari tadi mereka mengkhawatirkan keadaan Nayna yang cukup lama berada di ruangan itu.


"Huffttt, syukurlah kalau begitu." 


"Laki-laki, Om?" Tanya Maura.


"Iya, baby boy, Nona." 


"Wahh, gak sabar pengen liat baby boy hasil bibit Om Aryo dan Nayna." Celetuk Maura, membuat Daniash mendelik menatap istrinya.


"Eeehh, maaf Om. Hehe." Maura cengengesan.


"Tak apa-apa, Nona." 


"Kau beri nama siapa, Ar?" Tanya Daniash penasaran.


"Attarazka Haidar Mahessa." Jawab Aryo dengan senyum simpul nya.


"Panggilan nya baby Attar kan, Om?"


"Iya Nona." Jawab pria itu lagi, masih dengan senyuman yang menghiasi wajah tampan nya.


"Syukurlah kalau istri mu melahirkan dengan selamat." 


"Iya Tuan, saya gugup terus sedari tadi." 


"Itu hal yang biasa, Ar. Aku juga begitu dulu, saat Maura melahirkan baby twins." Jawab Daniash, membuat Aryo terkekeh pelan.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja, saya tak menyangka kalau Tuan juga bisa gugup, hehe."

__ADS_1


"Tentu bisa, aku manusia normal pada umumnya." Jawab Daniash datar.


"Bisakah aku menemui Nayna, Om?"


"Bisa Nona, tapi nanti setelah di pindah ke ruang perawatan." 


"Hmm, baiklah Om. Padahal pengen ketemu sama dia." Keluh Maura lirih. 


"Kamu mah bukan mau ketemu doang, tapi mau di ajakin bergibah. Iya kan? Ngaku, Daddy tau kebiasaan kalian kalo udah ngumpul." 


"Itu kan kebiasaan perempuan, kayak Daddy gak pernah ghibah aja." Ketus Maura membuat Daniash tergelak. 


"Kau terlihat pucat, Ar? Sudah makan?" Tanya Daniash saat melihat wajah sekretaris nya pucat.


"Hehe, belum Tuan. Dari pagi kan saya langsung kesini, mana sempet sarapan."


"Yaudah, kita berdua nyari makan dulu. Kabari aja kalau udah di pindah ruangan nya."


"Baik tuan, terimakasih sebelumnya." 


"Santai, kita keluarga bro." Jawab Daniash sambil menepuk pundak sekretaris nya. Pasangan suami istri itu pun pergi untuk mencari makanan, sementara Aryo kembali masuk ke ruangan untuk melihat istrinya.


"Dad, Maura mana?"


"Lagi nyari makan, Sayang. Kenapa?"


"Jangan ghibah dulu ya? Kamu harus istirahat dulu, inget itu jahitan kamu masih basah."  Peringat Aryo pada istrinya.


"Hehe, iya Daddy. Tapi liat aja nanti, kalo udah ketemu kan susah, soalnya udah kebiasaan." Jawab Nayna sambil cengengesan.


"Hmmm, kamu ini sayang." Aryo mencubit pipi gembul istrinya.


"Daddy, aku boleh nyusuin baby Attar secara langsung?" 


"Gak boleh, itu punya Daddy. Jadi kamu pake pompa aja, terus di masukin ke dot." Jawab Aryo dengan tegas.


"Hisshh, Daddy sama aja kayak Tuan Daniash. Posesif bener, sampe gak mau berbagi. Padahal kan sama anak sendiri." 


"Selagi masih bisa pake dot, kenapa harus langsung kesitu? Gak mau, itu cuma punya Daddy. Titik gak pake koma ya istriku sayang." 


"Hmm, terserah Daddy aja!" Ketus Nayna membuat Aryo tersenyum, dia menciumi punggung tangan istrinya dengan mesra.


"Ngapain sih, Dad? Mendadak jadi manis gini, kesambet apa ya?"


"Dihh, bukan kesambet sayang. Kamu ini, emang gak boleh Daddy manis kek gini ya?" Tanya Aryo heran, padahal biasa nya perempuan menyukai pria yang manis. 

__ADS_1


"Bukan gitu, gak biasa nya aja kamu manis kek gini, Dad. Jadi nya kan agak aneh gitu." 


"Hmm, ya sudah lah." Pasrah Aryo, dia pun tersenyum. Kali ini dia menyosor pipi dan bibir istrinya.


"Isshh Daddy, apaan sih? Nyosor-nyosor gitu deh, kayak bebek." 


"Gak boleh lagi?"


"Tapi aku nya belum mandi, sayang." 


"Gapapa, sayangku. Kamu tetap wangi kok." Jawab Aryo, dia kembali mencium bibir istrinya, bahkan melumaat nya dengan mesra. Hingga membuat perawat yang baru saja masuk untuk memindahkan Nayna ke ruang perawatan, merasa malu sendiri dan memilih kembali keluar. 


Suara pintu yang tertutup membuat kedua nya menghentikan ciuman nya, Nayna menepuk lengan suami nya cukup kuat. Dia merasa malu terciduk oleh orang asing, masih mending kalau itu Maura, lah kalau orang lain? Malu kuadrat yang jelas.


"Isshh Daddy sih gak tau tempat." 


"Kamu nya mau, sayang." 


"Kan Daddy yang mulai." 


"Ya kamu nya gak nolak, malahan balas ciuman Daddy." Jawab Nayna sambil menundukkan wajah nya.


Tokk.. tokk..


"Masuk.." jawab Aryo sedikit keras. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk melongokkan kepala nya, dia merasa kapok setelah melihat adegan tadi.


"Maaf, mengganggu waktu nya sebentar, tuan dan Nona."


"Iya, tak apa-apa sus." 


Perawat itu pun mengecek suhu tubuh dan tekanan darah, lalu mengecek infusan apakah bocor atau tidak. Setelah memastikan semua nya aman, perawat itu pun memindahkan Nayna ke ruang perawatan VIP, sesuai permintaan Aryo tadi.


"Sudah, selamat beristirahat Nona dan Tuan."


"Iya sus, maaf dalam jangka berapa hari jahitan nya kering?"


"Paling lambat semingguan, Nona." Jawab nya sambil tersenyum.


"Ohh, begitu ya? Terimakasih ya sus."


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu." 


"Iya sus." Perawat itu pun keluar dari ruangan, Nayna memutuskan untuk tidur dan Aryo memutuskan untuk menunggui istrinya. 


"Aku menjadi papa sekarang, akhirnya cita-cita ku terwujud. Terimakasih istriku, kamu sudah mewujudkan cita-cita suami mu ini. Aku janji, sampai kapanpun takkan pernah melupakan perjuangan mu melahirkan anak kita." Gumam Aryo, pria itu menatap istrinya yang tengah tertidur lelap dengan tatapan dalam penuh cinta.

__ADS_1


.....


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2