
Benar saja, tak lama berselang pria yang menjadi topik pembicaraan Maura dan Riana pulang. Dia membuka pintu dengan wajah sumringah.
"Selamat siang my princess." Ucap Daniash sambil menyimpan kantong kresek di meja nakas, entah apa isinya tapi yang pasti itu makanan.
"Daddy, peluk." Rengek Maura manja, membuat Daniash terkekeh, lalu langsung memeluk gadisnya. Tak peduli keberadaan Riana disana, mereka hanya menganggap Riana sebagai patung seperti nya.
"Huffftt, seperti nya lebih baik aku keluar."
"Eehhh ada Mama, udah selesai Ma?" Tanya Daniash, dia baru menyadari kalau di kamar itu bukan hanya ada mereka berdua.
"Mama dari tadi disini, kamu nya aja yang gak sadar. Udah nih, mama habis nyuapin calon istri kamu. Bener, dia makan nya lahap banget."
"Wahh syukurlah kalo dia lahap, Ma." Daniash menatap gadisnya dengan tatapan penuh cinta, dia mengusap poni gadisnya dengan lembut.
"Obatin ujung bibir nya, luka tuh. Jadinya gak bisa buka mulut lebar, sakit pasti."
"Iya Ma, aku udah beli salep tadi di apotik."
"Ya sudah, Mama keluar dulu. Jangan nengokin cucu mama dulu sebelum kalian menikah ya, atau mama jewer kamu." Ancam Riana pada putranya.
"Hehe, iya Ma iya."
"Nanti kita ngobrol lagi."
"Oke Ma." Riana pun membawa nampan berisi piring dan gelas yang sudah kosong.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Bby? Sudah lebih baik?" Maura mengangguk cepat, memang hatinya jauh lebih membaik sekarang. Apalagi setelah melihat respon calon mama mertua nya.
"Masakan mama enak kan? Makanya kamu makan nya lahap banget."
"Heem, enak banget Dad. Sama kayak masakan mama di rumah." Jawab Maura.
"Kangen sama mama?"
"Banget, Dad. Tapi gapapa kok, selama keadaan belum membaik, Maura sama Daddy aja ya?"
"Tentu saja sayang, kamu bisa bersama Daddy kapanpun." Daniash memeluk perut Maura dan mengecupi perut membuncit gadisnya dengan gemas.
"Apa mereka nakal, Bund?"
"Tidak, ayah." Jawab Maura sambil menirukan suara anak kecil.
"Besok, kita periksa ke dokter kandungan ya? Daddy kangen sama mereka."
"Boleh boleh aja, Dad. Tapi apa Daddy gak ke kantor?"
"Enggak, pekerjaan di tangani sama Aryo."
"Kasian om Aryo nya, Dad."
"Gapapa, Daddy menggaji nya dengan nominal yang cukup besar." Jawab Daniash acuh.
__ADS_1
"Hmmm, terserah Daddy aja. Itu apa dad?" Tanya Maura sambil menunjuk kantong kresek yang tadi Daniash bawa.
"Ohh, itu rujak buah Bby. Soalnya belakangan ini, kepala Daddy sering pusing, makan rujak biar seger." Maura tersenyum kecil, dia senang karena ternyata Daniash ikut ngidam, itu artinya pria itu benar-benar mencintai nya kan?
"Rujak?"
"Heemm, rujak sayang. Kamu mau?"
"Ihhh enggak deh, asem pasti."
"Enak sayangku, kamu lagi hamil gak ngidam makan rujak?" Tanya Daniash, sambil mengambil bungkusan itu dan membuka nya, meletakan nya ke dalam piring lalu menuang bumbu kacang nya.
"Enggak tuh, Dad. Sejak kapan Daddy doyan makan rujak?"
"Lupa, tapi kayaknya pas Daddy ke luar kota sama Aryo deh. Pas pulang kesini dapet kejutan dari kamu." Jawab Daniash sambil menyuap sepotong buah mangga muda ke dalam mulutnya, mengunyah nya tanpa ekspresi.
"Gak asem, Dad?" Daniash menggelengkan kepala nya, fakta nya memang tak asam sama sekali di mulut nya.
"Aku yang hamil, Daddy yang ngidam ini mah."
"Gapapa, biar di bagi-bagi ya sayang. Kamu yang ngandung dedek bayi nya, Daddy yang ngidam nya."
"Haha, iya iya terserah Daddy aja." Ucap Maura sambil terkekeh.
Jika ibu hamil lain nya akan menyukai rujak atau buah-buahan asam, berbeda dengan Maura, dia justru sebaliknya. Saat ini pun, dia nyengir-nyengir ngilu melihat Daniash menyantap rujak buah itu dengan lahap.
"Kenapa? Enak lho, Bby. Cobain deh, ini gak asem kok." Ucap Daniash sambil mendekatkan sepotong buah jambu air ke mulut Maura. Gadis itu dengan ragu memakan nya dan mengunyah nya dengan perlahan.
"Bby, maafin Daddy.."
"Gapapa kok Dad, Maura gak suka sama makanan itu."
"Iya gapapa, gak usah di makan. Biar Daddy aja yang makan, kamu mau makan sesuatu? Bakso atau semacam nya?"
"Coklat sama es krim dong, dad."
"Siap, Daddy pesen online aja ya?"
"Okey, dad."
"Kamu udah mandi?" Tanya Daniash sambil memakan rujak buahnya.
"Hehe, belum dad."
"Nanti mandi bareng yuk? Cuma mandi aja, gak lebih."
"Oke, kalo macem-macem, nanti Maura aduin Daddy ke mama."
"Cieee, udah akur sama mama mertua nih yee?" Goda Daniash sambil mencolek dagu sang gadis.
"Hehe, mama baik banget ya."
__ADS_1
"Belum aja ketemu papa yang datar kayak tembok."
"Kok takut ya, Dad?"
"Kenapa takut? Walaupun datar, papa gak bakalan gigit kok." Celetuk Daniash membuat Maura mencebik.
"Iyalah, yang gigit kan Daddy."
"Itu tau, pinter banget princess nya Daddy ini." Daniash menepuk-nepuk puncak kepala gadisnya dengan lembut.
"Gimana sidang nya, Dad?"
"Daddy sampe lupa belum cerita ya, udah selesai kok Bby. Daddy resmi jadi duda nih,"
"Gak lama kan? Katanya mau nikahin Maura." Lirih Maura sambil menunduk.
"Iya dong, Bby. Mana mungkin Daddy lupa sama janji Daddy sama kamu."
"Seriusan?"
"Iya dong, gak bakal lupa sama yang itu sayang."
"Jadi, kapan kita ke rumah papa?" Tanya Maura pelan.
"Besok atau lusa?"
"Gak terlalu cepat, Dad?"
"Enggak sayangku, lebih cepat lebih baik. Lagi pula, Daddy takut kamu di rebut sama pria lain."
"Ya gak mungkin lah Dad, orang di perut Maura udah ada bibit-bibit dari Daddy." Cetus Maura sambil mengusap perutnya.
"Iya, Daddy iket pake anak-anak Daddy, biar kamu gak kemana-mana."
"Daddy bisa aja deh."
"Pokoknya, setelah menikah nanti kamu gak boleh kuliah lagi, kalo mau lanjutin kuliah kita private aja ya? Daddy takut kamu di lirik-lirik sama cowok genit."
"Dihh, posesif banget deh."
"Harus dong, dapetin kamu tuh gak mudah Baby."
"Iya iya, lagian aku juga gak bakal berpaling kok."
"Bener nih?"
"Bener dong, dad." Jawab Maura, Daniash tersenyum lalu mencium singkat bibir gadisnya. Hanya ciuman singkat, karena dia khawatir kalau Maura tak nyaman, karena dia baru makan rujak. Setelah selesai mengobrol santai, keduanya pun mandi bersama.
Daniash menepati ucapan nya, tak ada acara mesuum di acara mandi bersama itu, hanya mandi saja.
.........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻