
Sore harinya, setelah kelas kedua mereka berakhir, Maura dan Nayna pulang bersama. Sesuai janji mereka tadi pagi, Nayna mengantar sahabatnya ke apotek untuk membeli testpack.
"Sono turun.." ucap Nayna saat mereka sudah sampai di depan apotik, tapi Maura malah terdiam di tempatnya.
"Bilang nya gimana, Nay?" Tanya Maura, terlihat jelas kalau dia sedang gugup saat ini.
"Kak, beli testpack. Udah, tinggal bilang gitu doang."
"Malu, nanti apoteker nya natap gue sinis, Nay."
"Yaudahlah, gue yang beli." Nayna bersiap akan turun, namun Maura dengan cepat mencegah nya.
"Eehhh gak usah, Nay. Gue aja, bentar ya."
"Oke, jangan gugup. Santai aja, Ra." Maura mengangguk, lalu turun dari mobil Nayna. Dia berjalan pelan, tak lupa dia memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya agar tak ada yang mengenalinya.
"Permisi kak.."
"Iya Kak, ada yang bisa di bantu?" Tanya penjaga apotik itu dengan ramah.
"Saya mau beli testpack."
"Yang sekali pakai atau…"
"Yang seperti apa saja kak, dua ya." Ucap Maura, apoteker itu mengangguk lalu pergi sejenak untuk mengambilkan barang yang Maura butuhkan.
"Ini kak, totalnya 120 ribu." Maura merogoh saku celana nya, dia menyimpan uang nya lalu pergi tanpa peduli pada kembalian nya.
"Kak, ini kembalian nya.." Teriak apoteker itu, namun Maura tak peduli dan lebih memilih melanjutkan langkahnya. Dia langsung masuk ke mobil setelah mendapatkan barang nya.
"Huffftt.."
"Gimana?" Tanya Nayna.
"Gimana apanya?"
"Di sinisin gak?" Tanya Nayna lagi, Maura refleks menggeleng.
"Enggak kok, malahan apoteker nya baik banget. Sengaja, gak gue ambil kembalian nya biar buat tips dia."
"Beli dua kan?"
"Heem, cara pake nya gimana?"
"Astaga, di belakang nya kan ada petunjuk penggunaan. Masih belaga polos aja Lo, padahal udah sering di polosin sama si Daddy."
"Hehe, enak Lo Nay. Cobain deh, Lo belum pernah kan?" Tanya Maura dengan senyum menggoda nya.
"Diem dulu, gak usah bahas itu dulu. Jadi, nanti malem Lo coba test, kalo garis nya dua berarti emang Lo positif hamil, buat mastiin lagi, Lo test lagi pagi hari pas bangun tidur ya."
__ADS_1
"Oke siap, nanti gue kasih tau Daddy gak ya?"
"Ya iyalah, dia bapaknya onyon."
"Tapi, gue takut Daddy bakal nolak kehadiran dia, Nay. Soalnya dia kan masih suami orang." Keluh Maura pelan, membuat Nayna menggelengkan kepala nya.
"Belum aja bilang udah ngeluh, siapa tau Daddy Lo malah seneng kan? Soalnya Daddy Lo kan udah dewasa gitu."
"Gak taulah, gimana nanti aja, Nay. Bingung gue tuh, di sisi lain gue takut sama papa juga."
"Heemm, posisi Lo sekarang maju kena mundur kena sih, rawan ya? Tapi gapapa, gue bakal selalu ada buat Lo, apapun keputusan Lo gue bakal dukung." Ucap Nayna membuat Maura tersenyum manis.
"Makasih bestie, seneng banget deh punya sahabat kayak Lo."
"Gue juga seneng bisa jadi sahabat Lo, Ra." Kedua nya saling melempar senyum sekilas.
"Btw, Lo beneran gak ada niatan nyoba making love sama Daddy Lo, Nay?"
"Daddy gue yang kayak gak ada niatan nyoba sama gue, Ra. Udah gue godain pake lingerie juga, dia tetep gak nyerang gue." Jawab Nayna sambil terkekeh.
"Jadi, sejauh ini Lo baru di apain sama dia?"
"Ciuman bibir, leher, paling di grepee-grepee doang."
"Dihh, gak nanggung tuh? Terlanjur ngac*ng gak sih?"
"Mana gue tau, gue gak pernah raba apalagi ngeliat punya si Daddy." Jawab Nayna sejujurnya.
"Tapi, kalo misalnya Lo beneran hamil, bibit si Daddy unggulan juga ya? 4 bulan doang bisa bikin Lo tekdung." Celetuk Nayna membuat Maura terkekeh pelan.
"Iya juga, haha.." kedua gadis itu tertawa bersama, membuat suasana mobil menghangat karena tawa mereka.
Hari ini, Daniash tak bisa bertemu dengan gadisnya, karena dia harus terbang ke kota X untuk meninjau proyek pembangunan cabang perusahaan. Harusnya bisa asisten nya yang pergi untuk mewakili, tapi ternyata investor ingin dirinya sendiri yang melihat proyek itu.
Tentunya Daniash tak bisa menolak karena hal ini bersangkutan dengan perusahaan, tempat dimana banyak karyawan menggantungkan hidup mereka dari perusahaan nya.
Walaupun berat, tapi Daniash tetap harus mengutamakan nasib perusahaan dan banyak orang, meskipun hatinya merutuk tapi akhirnya dia pergi juga.
"Kamu sedang apa disana, Bby? Daddy sangat merindukan mu, padahal baru satu hari tak bertemu. H-ahh, ternyata bucin segila ini." Gumam Daniash sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing, belum lagi kepala nya.
Isi kepala nya di penuhi Maura dan Maura, gadis cantik yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Namun, hal itu langsung terjawab ketika ponsel nya berbunyi. Daniash tersenyum senang, ternyata gadis nya yang menghubungi nya.
'Hallo Dad, lagi apa? Sudah pulang?' Tanya gadis nya, bahkan hanya dengan suara lembut gadis itu bisa membuat jantung nya berdetak lebih kencang.
"Sudah sayang, kamu sudah juga sudah pulang ngampus?" Balik tanya Daniash.
'Udah nih Dad, baru aja Maura habis mandi.'
__ADS_1
"Kangen Daddy ya? Udah pakai baju belum?" Tanya Daniash, otak mesuum nya mulai on.
'Kangen banget, tapi Maura gak kangen sifat mesuum Daddy.'
"Hahaha, kemesuuman itu sepaket dengan Daddy, sayang." Daniash tergelak mendengar ucapan gadisnya.
'Maura belum pake baju, masih pake bathrobe. Mau liat?' Tawar Maura membuat Daniash antusias.
"Tentu, Daddy alihkan jadi panggilan video ya?"
'Oke Daddy..'
Daniash pun mengubah panggilan suara menjadi panggilan video, pria tampan itu tersenyum saat melihat gadisnya yang nampak seksii dengan rambut tergerai basah nya. Wajah cantik alami, bahkan tanpa polesan make up gadisnya sudah sangat cantik.
"Waw, kamu sangat seksii sayang. Seketika Daddy pengen cepat pulang."
'Yaudah, cepet pulang biar kita bisa ketemu lagi, Dad.'
"Daddy juga pengen nya begitu, tapi ya masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan dulu, Bby. Sabar ya?"
'Huum, oke. Maura bakal sabar nungguin Daddy, lihat ini kesukaan Daddy menganggur lho kalo kelamaan di tinggal.' Dengan nakal, Maura membuka tali bathrobe nya, hingga gundukan kenyal miliknya menyembul dan terpampang nyata di depan mata.
Kedua mata Daniash membeliak kaget, ternyata di lihat dari ponsel, buah itu nampak lebih menggoda. Hampir saja liur nya menetes kalau dia tak cepat-cepat menutup mulutnya.
'Haha, Daddy ngeces ihh jorok.'
"Gara-gara kamu nih, Bby. Junior langsung bangun lho ini.' Daniash mengarahkan kamera ponsel nya ke area bawah nya, benar saja sesuatu di antara paha nya menegak. Terlihat dari celana boxer pria itu yang menggembung.
'Makanya cepet pulang, sarang nya udah nungguin burung nya masuk.'
"Iya sayang, siap-siap aja ya. Kumpulin tenaga dulu selama Daddy disini, pas Daddy pulang kita bersenang-senang semalaman, oke?"
'Terserah Daddy saja, eemmm Maura ngantuk dad.'
"Ya sudah, tidur ya sayang."
'Yaudah, Maura duluan ya Dad. Love you, Daddy.'
"Love you too, Baby."
Panggilan telepon itu pun selesai, andai saja Daniash tau kalau gadis itu menelpon nya saat sedang gugup menunggu hasil test nya.
Dia mengangkat benda kecil itu dengan hati yang berdebar tak karuan, ternyata..
Dua garis merah, ya hasilnya Maura positif hamil. Nampak sangat jelas, ada dua garis disana. Maura menutup mulutnya, kedua mata nya berkaca-kaca. Ada rasa senang dalam hatinya, namun disisi lain dia takut akan amarah sang papa dan khawatir kalau Daniash tak menyukai kehamilan nya.
"Tak apa, kamu akan selalu bersama Bunda. Sehat-sehat ya sayang, besok kita periksa sama aunty Nayna." Gumam Maura sambil mengusap perut nya yang masih rata. Dengan hati yang di penuhi keraguan dan rasa takut, gadis itu mencoba tersenyum manis. Dia tak ingin mood nya mempengaruhi tumbuh kembang buah hatinya.
'Tumbuh dan berkembang lah dalam rahim Bunda, sayang. Bunda berjanji akan memberikan semua nya untukmu, Bunda sayang sama kamu, Nak.'
__ADS_1
.........
🌻🌻🌻🌻🌻