
Plakk..
"P-apa.."
"Masih berani kau menginjak kan kaki ke rumah ini, setelah membuat papa malu hah?" Bentaknya, membuat perempuan yang baru saja datang, bahkan koper yang di bawa nya masih berada di ambang pintu.
"Apa maksud papa? Aku berbuat kesalahan?"
"Kau masih bertanya hah? Papa memberikan mu laki-laki yang baik, tapi apa yang kau lakukan padanya hah? Papa kecewa sama kamu, Herra!" Teriak Joseph di depan wajah sang putri, membuat nafas Herra terasa tercekat di tenggorokan.
"Pa, Herra bisa jelasin."
"Cukup, bukti-bukti yang Daniash berikan sudah cukup menjelaskan semua nya, Herra!" Ucap Joseph, masih dengan nada tinggi nya. Kemarahan nya sudah di ubun-ubun, sedari tadi dia tak sabar untuk memaki anak perempuan nya itu.
"Tapi Pa, Daniash juga selingkuh. Dia memelihara sugar baby untuk melampiaskan nafssu nya, itu berarti Daniash juga sama saja kan?"
Plak..
Satu tamparan kembali di layangkan Joseph, hingga wajah perempuan itu terhuyung ke samping karena kuatnya tamparan itu. Bahkan kedua pipi Herra memerah karena nya.
"Kau mencari pembenaran atas perbuatan menjijikan mu itu, Herra? Kalau pun Daniash benar-benar melakukan nya, itu wajar karena kau tak becus menjadi istri."
"Pa.."
"Pergi dari sini, rumah ini tidak menerima perempuan murahaan!" Hardik Joseph.
"Ta-pi pa.."
"Pergi, aku malu mengakui mu sebagai putriku!"
"Ma, tolong Herra Ma." Bujuk Herra pada Laurent yang sedari tadi diam membisu di samping Joseph.
Kedua mata nya berkaca-kaca, dia menyayangi putrinya, namun tak bisa menentang perintah suaminya. Dia pun sama seperti Joseph, sangat kecewa pada putrinya. Kenapa Herra bisa bertindak demikian gegabahnya? Padahal, apa kurangnya Daniash? Dia pria yang sempurna.
Maka dari itu Joseph memutuskan untuk menerima perjodohan itu sebagai rasa bersalah Danish karena sudah membuat nya lumpuh waktu itu. Tapi beruntunglah, kelumpuhan itu hanya sementara, jadi dia bisa sembuh dan berharap bisa melihat putri dan menantunya berbahagia, berharap bisa segera menimang cucu dari putri satu-satunya itu.
Tapi apa yang dia dapat selain rasa malu? Sungguh demi apapun, Joseph takkan mampu untuk bertemu dengan besan nya, Danish dan Riana.
"Pergilah, jangan membangkang pada ayahmu." Ucap Laurent lirih, membuat Herra terhenyak. Sefatal itu kah perbuatan nya? Hingga dia tak di terima kembali di rumahnya sendiri.
Bahkan sang papa mengatakan secara terang-terangan, kalau dia malu punya anak seperti nya. Hatinya berdenyut nyeri, namun dia bisa apa? Dua tamparan rasanya tak cukup untuk menebus kesalahan nya pada kedua orang tuanya.
"Tunggu apalagi, pergi." Bentak Joseph, membuat Herra terkejut lalu berbalik pergi dengan menggeret kopernya.
Rasa perih di kedua pipi nya akibat tamparan papa nya dia hiraukan, pasti perasaan mereka jauh lebih perih dari ini.
Kenapa dia merasa menyesal sekarang? Padahal saat dia melakukan kesalahan berulang-ulang, mengacuhkan Daniash dan sibuk bersama Mark, kekasihnya. Dia tak pernah merasakan sesal sedikitpun. Tapi sekarang? Sudahlah, menyesal pun sudah terlambat.
"Kemana aku harus pergi sekarang? Aku sudah tak di terima di rumah papa, lalu harus kemana?"
"Aahhh sebaiknya aku ke apartemen Mark saja." Putus Herra, dia menyetop taksi dan setelah mendapatkan nya dia langsung memasukan koper nya, lalu menyebut alamat dan taksi itu pun langsung melajukan taksi nya ke alamat yang di sebutkan tadi.
Sedangkan di dalam rumah, Joseph mengacak rambutnya frustasi. Terlambat dia menyadari kalau ada sesuatu yang salah dengan putrinya.
"Mas, apa sikap mu tadi tak berlebihan? Mau bagaimana pun, Herra itu putri kita satu-satunya." Lirih Laurent.
"Tidak, biarkan dia merenungi seberapa besar kesalahan nya itu."
"T-api Mas.."
__ADS_1
"Masuk ke kamar, sekarang!"
Laurent memilih menurut, wanita separuh baya itu masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan perlahan.
Joseph menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, kepala nya mendongak dengan kedua mata terpejam.
Jujur saja, hatinya juga terasa sangat sakit saat ini. Mengusir putri kesayangan nya sendiri dari rumah, tapi apa itu sepadan dengan rasa kecewa dan rasa malu yang dia dapatkan dari anak perempuan nya itu? Tidak, tentu saja tidak.
"Tak kusangka akan begini akhirnya, Herra kenapa kau melakukan hal memalukan seperti ini, Nak? Kau tak kasihan pada orang tua mu hingga tanpa berpikir lebih dulu kau nekat berbuat seperti itu?" Gumam Joseph.
Rasa sayangnya pada Herra sangat besar, terlebih karena Herra adalah putri satu-satunya, tapi rasa sayang itu tak membuat Joseph buta. Yang salah tetap salah, dan dia ada di posisi yang benar. Namun, apakah mengusir putri nya dari rumah adalah langkah yang tepat?
Pria tua itu menggelengkan kepala nya, memikirkan semua ini membuat otak tua nya bekerja lebih cepat dari biasanya, itu membuat nya pusing sekali. Penyakit darah tinggi nya pasti akan terasa jika dia terlalu banyak berpikir.
Herra menatap apartemen mewah milik kekasihnya, Mark. Dengan langkah gontai, wanita itu menggeret koper nya untuk menaiki lift. Saat menunggu lift, Herra tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang berpakaian sangat ketat, di leher nya terdapat banyak tanda merah dan lipstik nya berantakan.
"Permisi.."
"Silahkan.." jawab Herra, dia menatap punggung wanita itu dari atas hingga ke bawah. Terlihat kaki wanita itu bergetar, sepertinya Herra tau apa yang sudah terjadi pada wanita itu. Pasti dia habis melakukan sekss brutal, atau di hajar berjam-jam tanpa jeda.
Wanita itu menggeleng, lalu meneruskan niatnya untuk masuk ke unit milik Mark. Setelah beberapa menit, Herra sampai di unit apartemen milik Mark.
Dia menempelkan card acces yang pernah di berikan Mark padanya, itulah alasan nya kenapa Herra bisa masuk kapan saja ke dalam apartemen milik pria tampan itu.
Maura membuka pintu nya, lalu masuk dengan membawa koper nya ke dalam. Dia melihat Mark tengah merokok di ruang tamu, pria itu nampak berkeringat.
"Mark.."
Pria itu berbalik lalu tersenyum kecil, tapi terlihat tak peduli, dia hanya fokus dengan rokok yang dia apit di antara kedua jemari nya.
"Mark.."
"Kenapa, Bby? Aku pikir kau tak datang." Tanya Mark tanpa menoleh.
"Kau membawa koper? Apa isinya?"
"Pakaian dan beberapa barang-barang milik ku, aku pergi dari rumah Daniash. Dia sudah menalak ku, dan proses perpisahan dia yang akan mengurusnya." Jawab Herra, dia membelai dada bidang Mark yang tersaji di depan nya. Saat ini, Mark bertelanjang dada. Hanya memakai celana boxer pendek yang membalut junior nya.
"Kau serius?"
"Tentu saja, kalau aku tak serius kenapa aku kesini membawa pakaianku, hmm?"
"Baguslah, setelah kau resmi bercerai kita akan menikah. Bagaimana?" Tanya Mark dengan antusias.
"Ya, tentu saja. Jadi, bagaimana kalau pagi ini kita bermain? Aku merindukan sentuhan mu, Bby."
"Tentu, mari sayang." Jawab Mark, dia memutar rokok nya di atas asbak, lalu menggendong Herra ke kamar.
Suasana berbeda dengan Maura, pagi tadi dia muntah-muntah hingga tubuh nya terasa lemas. Dia tak sanggup berjalan saking lemas nya, hingga dia memutuskan untuk tak masuk kelas hari ini.
"Sayang, makan dulu ya.."
"Nanti aja, Ma. Maura belum lapar," jawab gadis itu lirih. Yang dia inginkan saat ini bukanlah makanan, tapi Daniash. Ya, dia butuh Daniash saat ini. Dia sangat merindukan pria itu, pelukan hangat nya yang menenangkan, dia membutuhkan nya sekarang juga.
"Kamu harus tetep makan, sayang.."
"Iya, nanti aja Ma." Jawab gadis itu pelan. Dia benar-benar lemas tak bertenaga saat ini, sekedar bicara pun dia sangat malas.
"Sayang.."
__ADS_1
"Buah saja, Ma. Maura pengen melon sama stroberi." Jawab gadis itu.
"Baiklah, sayang. Mama ambilkan dulu ya, kamu istirahat saja dulu."
Maura mengangguk lalu menggulung tubuhnya di dalam selimut tebalnya. Kepala nya terasa pusing tujuh keliling, belum lagi rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya. Aneh, sebenarnya dia kenapa?
"Mungkin hanya masuk angin." Gumam Maura.
Gadis itu mengambil ponsel dan membuka kamera, dia memotret dirinya sendiri lalu mengirimkan nya pada Daniash.
'Dad, Maura sakit. Kangen pelukan Daddy, bisakah Daddy kesini?' Isi pesan yang Maura kirimkan, tapi gadis itu langsung menghapus nya kembali.
Meminta pria itu datang kesini sekarang, sama saja dengan bunuh diri.
Daniash yang sedang meeting di kantor langsung pucat pasi saat melihat pesan dari gadisnya.
"Gadisku sakit?" Gumam pria itu pelan, karena dia berada di ruang meeting bersama petinggi perusahaan lain nya.
"Maaf tuan, anda baik-baik saja? Mereka memperhatikan anda." Bisik Aryo.
"Wakilkan saja, aku harus pergi. Mood ku sangat buruk saat ini, aku ingin sendirian dulu, jangan menggamgguku!"
Tanpa bicara lagi, Daniash langsung pergi dari ruangan itu menuju ke ruangan nya sendiri di lantai atas.
Daniash langsung menelpon sang gadis, begitu Maura mengangkat nya, Daniash terhenyak saat melihat bibir gadisnya yang sangat pucat.
'Daddy..' Lirih Maura, dengan senyum kecil yang justru membuat hati Daniash berantakan.
"Bby, sakit apa sayang?"
'Gak tau Dad, tadi pagi muntah-muntah sampe lemes, kepala juga pusing di tambah demam.' Jelas Maura.
"Sudah minum obat, sayang?" Tanya Daniash lagi, dengan raut penuh ke khawatiran yang kentara di wajah tampan nya.
Gadis itu menggeleng pelan, 'Pahit, Dad.' Jawab nya, membuat Daniash mendengus.
"Minum obat ya, biar cepet sembuh. Sudah makan?"
'Belum juga, gak nafssu Dad. Mual banget, kalo makan pasti muntah lagi.'
"Kamu ada salah makan, sayang?" Tanya Daniash keheranan, padahal kemarin gadisnya baik-baik saja. Lalu kenapa hari ini Maura bisa sakit?
'Gak ada Dad, Maura cuma makan sosis bakar sama ayam goreng kemaren.'
"Mungkin masuk angin, soalnya kamu kan begadang nonton konser Haruto mu itu." Ucap Daniash dengan sinis, dia tak suka saat gadisnya seringkali menyebut nama itu ketika bersama nya.
'Hehe, iyaa sih kayaknya Dad. Kangen Dad, pengen di peluk Daddy.'
"Sabar ya, kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau sudah sembuh, kita ketemuan lagi ya?"
'Heeemm, iya Dad. Sudah dulu ya, mama kesini.'
"Iya sayang, istirahat ya. Nanti kita telponan lagi."
Panggilan pun selesai, Daniash menatap layar ponselnya dengan nanar. Mendengar kabar kalau gadis nya sakit, membuat hatinya sakit. Ingin rasanya dia berlari masuk ke dalam kamar sang gadis lalu mendekap nya dengan erat, tapi sayang dia tak bisa melakukan nya. Lagi-lagi, karena status lah penghalang antara dirinya dan Maura saat ini.
Orang tua Maura pasti akan menolak keras hubungan nya dengan Maura karena saat ini dia belum resmi bercerai dengan Herra, mana ada orang tua yang mau anak perempuan nya menjalin hubungan dengan pria beristri? Rasanya takkan ada.
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
jangan lupa komentar nya readers, biar lebih semangat😚😚