
"Bby, sebaiknya kita ke rumah orang tua mu sekarang." Ucap Daniash tiba-tiba, membuat Maura sedikit terkejut.
"Kenapa mendadak, Dad?"
"Daddy hanya berpikir, agar semua nya cepat selesai dan kita bisa segera meresmikan hubungan kita." Jawab Daniash, pria itu terlihat sangat fokus mengemudikan kendaraan nya.
"Daddy yakin?"
"Sangat, Daddy sangat yakin, sayang." Pria itu menoleh lalu tersenyum ke arah sang gadis.
"Maura yang gak yakin, Dad. Maura takut Daddy di apa-apain sama papa nanti." Ketakutan Maura cukup beralasan, karena ayahnya sangat arrogant dan egois.
Daniash meraih tangan Maura, lalu mengecup nya dengan lembut.
"Percaya sama Daddy ya? Gak bakal terjadi apa-apa sama Daddy."
"Ya sudah, terserah Daddy saja. Maura ikut aja," jawab Maura pasrah. Bukan nya dia tak ingin masalah ini cepat selesai, tapi dia khawatir papa nya akan bertindak nekat pada pria yang dia cintai.
Daniash kembali tersenyum, lalu mengemudikan kendaraan nya ke arah perumahan elit, tempat istana megah milik Elgar Wijaya berada.
Hati Maura berdebar tak karuan, dia takut, benar-benar takut saat ini. Rumah ini memang rumah nya, tapi dia merasa terpenjara saat berada di dalamnya.
Daniash membunyikan klakson mobilnya, saat melihat Maura, penjaga gerbang itu langsung membukakan gerbang nya dan membiarkan mobil Daniash masuk.
"Daddy…" panggil Maura lirih.
"Iya, sayang. Kenapa lagi?"
"Maura takut, Dad."
"Takkan terjadi apa-apa, sayang. Percaya sama Daddy ya?"
"Heemm, baiklah dad." Jawab Maura.
"Kita keluar sekarang?" Gadis itu mengangguk, Daniash turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk gadisnya. Maura keluar dengan perlahan, dia memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit, mungkin efek karena terlalu gugup.
Daniash menggandeng mesra tangan Maura, hal itu di saksikan oleh seseorang dari jendela kamar miliknya. Dia tersenyum menyeringai menyaksikan Daniash memperlakukan Maura dengan lembut dan penuh perhatian.
"Kau berani datang kemari juga rupanya, ku kira kau hanya pengecut yang tak berani mempertanggung jawabkan perbuatan mu itu." Ucap Elgar, dia kembali tersenyum penuh arti.
Daniash dan Maura melangkahkan kaki mereka di rumah besar nan megah itu, gadis itu membuka pintu utama dengan perlahan.
"Mama, Maura pulang.." Lirih, sangat lirih hingga hanya telinga nya dan Daniash saja yang mampu mendengar nya. Kepala nya tertunduk, hanya bisa menatap kaki nya sendiri.
__ADS_1
"Ma-ura?"
Kedua nya sontak menoleh ke arah sumber suara, Amira berdiri tepat di depan mereka dengan sorot kerinduan yang terpancar jelas dari kedua mata nya.
"Mama.."
"Putri mama sudah pulang.." Amira memeluk putrinya, begitupun Maura yang langsung berjalan cepat menghampiri ibunya. Kedua wanita itu berpelukan sambil menangis pilu, membuat Daniash membeku di tempat.
'Sudah aku duga, tempat ini memang tak asing bagiku.' Batin Daniash.
"Kau sudah datang rupanya.." Suara yang terdengar tak asing pula terdengar di telinga nya, Daniash mendongakan wajahnya, menatap sosok pria bertubuh tinggi tegap tengah menuruni tangga dengan langkah angkuhnya.
Maura langsung mendekat ke arah Daniash, seolah melindungi pria itu dari amukan sang papa. Melihat hal itu, Elgar berdecak. Putrinya terlihat sangat mencintai Daniash.
"Ohh, jadi anda orang tua gadis yang aku cintai? Sungguh tak terduga." Ucap Daniash membuat Maura menatap sang Daddy. Meminta penjelasan atas perkataan pria itu.
"Ckkk, kau menepati janji mu, Dani."
"Aku pria yang selalu menepati janji, apapun itu, tuan Elgar Wijaya."
"Haha, sulit di percaya memang. Tapi inilah kenyataan nya, kau berhasil membuat putri keras kepala ku luluh."
"Berawal dari ketidaksengajaan, papa mertua tak mengajak ku untuk duduk dulu? Kaki ku terasa pegal sekali." Ucap Daniash sambil meraba kakinya.
"Berdiri saja disitu sebagai hukuman karena sudah membuat putri ku hamil duluan."
"Sayang, duduklah bersama ibu mu. Kasihan anak mu," Amira menarik tangan putri nya lalu mengajak nya duduk di sofa.
"Tunggu, apa-apaan semua ini?"
"Kau tak ingat pria itu, sayang?" Tanya Elgar pada putrinya. Gadis itu menggelengkan kepala nya.
"Tidak, memang nya aku pernah bertemu dia sebelumnya, pah?" Tanya Maura, membuat kedua pria itu tergelak.
"Putri mu tumbuh besar dengan baik, dia sangat cantik, tapi sayang dia melupakan aku."
"Kau ingat pria yang pernah papa timpuk dengan gelas saat bertamu kesini? Usiamu saat itu baru 14 tahun."
"Iya, kalau itu Maura ingat Dad."
"Kalau begitu, kamu juga pasti ingat perkataan nya kenapa sampai papa timpuk pakai gelas kan?"
"Dia ingin menjadikan ku istri kedua nya." Jawab Maura membuat Elgar mengangguk.
__ADS_1
"Dialah orang nya, sayang." Ucap Elgar membuat gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Fakta semacam apa ini? Ya Tuhan, kenapa juga dia bisa melupakan wajah Daniash?
"Ini terlalu mengejutkan.."
"Awalnya, papa juga tak menyangka kalau pria itu adalah dia. Tapi setelah tau, dialah orang nya, papa rasa tak masalah."
"Iya tak masalah, tapi kau sudah menyakiti calon istriku, haruskah aku membalas nya sayang?" Tanya Daniash.
"Menyakiti apa?" Tanya Elgar tanpa rasa bersalah.
"Kau membuat nya menangis, bahkan aku belum pernah membuatnya menangis! Sialan, aku ingin sekali memaki mu. Tapi sayang sekali, aku tak bisa melakukan nya pada calon mertua ku sendiri." Ketus Daniash membuat Elgar terkekeh.
"Mana aku tau kalau pria yang menghamili putriku itu, Kau."
"Jadi, kapan aku bisa menikahi Maura?" Tanya Daniash sambil bersedekap dada.
"Terserah kau saja, besok pun bisa."
"Oke, aku akan mengurus semua nya dengan baik." Jawab pria itu sambil tersenyum bangga.
"Jangan terlalu cepat.."
"Kenapa?" Tanya Daniash dan Elgar bersamaan.
"Hehe, aku malu."
"Malu, jadi mau nunggu sampai lahiran dulu baru nikah, begitu? Rugi, sayang." Celetuk Elgar.
"Baiklah, terserah kalian berdua saja. Aku ingin memakai gaun Cinderella, dengan sepatu kaca."
"Tentu, sesuai keinginan mu my princess." Jawab Daniash.
"Jadi, apa papa mertua bersedia memberikan restu mu?"
"Yahh, walaupun kau tua tapi sepertinya putriku bahagia dengan mu, aku bisa apa? Lagipula, kau sudah mencetak gol lebih dulu." Ucap Elgar, terdengar kesal namun membuat Daniash terkekeh geli.
Maura menatap pria tampan nya dengan senyuman manis, dia begitu bahagia saat ini. Ketakutan dan ke khawatiran nya tak terjadi, jadi bisa di bilang semua yang terjadi itu adalah drama? Atau semacam prank?
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1