Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 82 - Mertua Pengertian


__ADS_3

Keesokan pagi nya, Maura dan Daniash berjoging santai di sekitar komplek perumahan elit itu, keduanya nampak sama-sama memakai setelah olahraga. 


"Aduhh, Dad. Aku capek." Keluh Maura sambil berjongkok di samping suaminya. Baru saja lima menit mereka berjalan santai dari rumah, istri cantiknya itu sudah mengeluh kecapean.


"Baru juga lima menit, Bby. Masa udah capek sih?" Tanya Daniash sambil mengusap keringat di kening sang istri.


"Capek Dad, harusnya Daddy maklum. Daddy ringan karena sendirian, lah aku? Bertiga, pantes aja gampang kecapean." Ketus Maura membuat Daniash terdiam, ucapan sang istri benar adanya.


"Iya sayang, jadi nya mau pulang lagi aja atau lanjut?" 


"Lanjut aja, tapi pelan-pelan. Ingat, langkah Daddy sama langkah aku beda." 


"Baiklah istri cantik ku." Pasrah Daniash. Maura melangkah dengan perlahan, sesekali mengusap pinggang nya yang terasa pegal. 


'Gemes banget, langkah nya kecil banget astaga.' Daniash membatin. Langkah istrinya dan langkah nya berbeda jauh, ibaratkan tiga langkah Maura itu satu langkah bagi Daniash. Ya, menyesuaikan postur tubuh. Daniash yang tinggi besar, sedangkan Maura yang pendek dan kecil.


"Daddy, ayoo.." ajak Maura, barulah Daniash tersadar. Dia pun segera menyusul istrinya keburu berjalan lebih jauh, dia menggenggam tangan perempuan itu dengan erat. 


"Dad.."


"Diamlah, Daddy gak mau ya kamu di gondol cowok-cowok genit di warung itu." Ketus Daniash sambil menunjuk ke arah warung yang terdapat banyak pria yang sedang nongkrong.


"Pagi-pagi udah nongkrong, kayak gak punya kerjaan aja!" Cibir pria itu membuat Maura terkekeh.


"Julid nya kamu, Dad." 


"Bodo amat, toh emang fakta nya gitu. Pagi-pagi udah ngopi aja." 


"Udah-udah, ayo jalan lagi. Malah nyinyir kamu, Dad." Maura menarik tangan suami nya untuk meneruskan langkah. Memang benar, pria-pria di warung itu sedari tadi menatap Maura dengan mata jelalatan mereka. 


Untung nya, Daniash peka jadi menyadari nya sebelum istrinya itu sadar. Dia langsung menggenggam tangan istrinya, menegaskan bahwa perempuan cantik ini adalah miliknya seorang!


'Daddy mode posesif gini kok malah keliatan gemes ya? Beruntung nya aku jadi istri kamu, Dad.' Batin Maura sambil menatap sang suami dari samping.


"Ngapain natap Daddy sebegitu nya? Daddy tau Bby, Daddy itu tampan." 


"Isshhh kepedean." Maura menepuk lengan suaminya dengan gemas. 


"Kepercayaan diri itu harus di pupuk sedari dini, sayang."


"Terserah Daddy aja." Pasrah Maura, susah memang kalau sudah berurusan dengan kepercayaan diri suami nya yang sudah setinggi langit. 


"Bby, itu mangga kayaknya enak di rujak ya?" Ucap Daniash sambil menunjuk puluhan buah mangga muda di atas pohon yang bergelantungan, terlihat sangat segar di mata Daniash. 


"Daddy, jangan ngadi-ngadi deh itu punya orang." 


"Kenapa, kan kita bisa membeli nya Bby? Atau meminta nya secara baik-baik, yang penting jangan di lempar pakai batu aja." 


"Terserah Daddy, kalau berani minta nya yaudah silahkan minta sana." 


"Sebentar." Maura mendelik sebal saat melihat suaminya begitu antusias hanya demi buah mangga muda. 

__ADS_1


Pria itu celingukan di depan rumah yang di depan nya terdapat satu pohon mangga yang berbuah cukup lebat.


"Permisi.." 


"Iya, ada apa tuan?" 


"Eemmm, maaf. Apa buah mangga itu milik anda?" Tanya Daniash pada seorang wanita paruh baya.


"Iya, kenapa?"


"Bisakah saya membeli nya beberapa? Untuk istri saya yang sedang hamil." Ucap Daniash, padahal dirinya sendiri yang menginginkan buah itu, bukan Maura.


"Ohh tentu, silahkan ambil saja tak perlu membeli." 


"Benarkah? Terimakasih, Bu." 


"Sama-sama, semoga ngidam nya keturutan ya." 


"Iya Bu, semoga anak saya gak ngeces nanti." Ibu itu hanya tersenyum sambil melihat Daniash mengambil beberapa buah mangga dan memasukan nya ke dalam jaket yang dia pakai. 


"Terimakasih ya Bu, semoga buah mangga nya berbuah semakin lebat nanti." 


"Sama-sama, tuan." 


Daniash tersenyum ke arah sang istri, tersenyum penuh kebahagiaan tentu nya, seperti orang yang habis menang lotre. 


"Taraa.." Daniash menunjukan tiga buah mangga muda yang berhasil dia dapatkan dengan menjual nama Maura, ya mengatas namakan istrinya yang hamil, padahal dia sendiri yang doyan ngerujak.


"Banget, nanti bisa ngerujak di rumah." 


"Ya ampun, Dad.."


"Kenapa?" Tanya pria itu.


"Enggak kenapa-kenapa, ayo kita pulang aja ya? Aku udah capek, laper pengen makan." 


"Ayook." Jawab Daniash, meskipun sibuk dengan buah mangga nya, tapi sebelah tangan nya tetap menggenggam erat tangan sang istri. 


"Daddy keliatan bahagia banget deh, padahal cuma dapet mangga muda doang." 


"Seneng banget Daddy tuh, jarang-jarang kan dapet mangga langsung metik dari pohon nya." Jawab Daniash sambil tersenyum. Membayangkan rujak mangga muda dengan sambel kacang membuat air liur nya terasa seperti akan menetes saat ini juga.


"Ayo Bby, gak sabar pengen ngerujak." 


"Masih pagi, harus sarapan dulu." Peringat Maura.


"Tapi udah pengen makan ini di cocok sambel kacang, Bby." 


"Aku tau Daddy ngidam, tapi tetep harus mengutamakan kesehatan ya? Makan dulu, setelah makan baru boleh makan rujak. Oke?" 


"Hmmm yaudah deh, tapi jangan marah-marah gitu dong. Kamu kok keliatan serem kalo lagi marah gitu sih, Bby." Rengek pria itu dengan nada manja, membuat Maura ingin tergelak.

__ADS_1


"Iya iya, aku gak marah kok. Cuma peringatin kamu aja." 


"Yaudah, ayo pulang." 


"Iya, jalan nya pelan-pelan. Aku capek, bawa dua anak disini." Rajuk Maura, bergantian kali ini dia yang mengadu dengan nada manja.


"Iya baby." 


Hingga akhirnya, kedua nya pun sampai di rumah. Maura merentangkan kaki nya sambil duduk lesehan di lantai, Daniash pun melakukan hal yang sama. 


Amira keluar dengan dua gelas air mineral untuk putri dan menantu nya minum.


"Minum dulu.." 


"Makasih Ma." Jawab Maura dan Daniash bersamaan. 


"Iya, gimana capek gak?"


"Capek banget, Ma." Jawab Maura setelah menghabiskan air di dalam gelas itu hingga tandas.


"Kamu istirahat dulu ya, mama masak makanan kesukaan kamu lho." Ucap Amira membuat wajah sang putri berbinar cerah.


"Apa Ma?"


"Apa coba?" Goda sang mama membuat Maura berpikir.


"Selain sup daging, aku suka cumi asam manis." 


"Nah itu dia." 


"Seriusan? Wahh Maura mandi dulu, setelah itu langsung makan." Maura langsung pergi ke kamar nya, setelah merasa keringat nya sudah kering semua.


"Baby hati-hati, jangan lari-larian." Teriak Daniash, dia khawatir kalau sifat ceroboh istrinya berlaku hari ini. Mana lagi hamil gede, tapi kelakuan masih aja ceroboh.


"Lho, ini buah mangga dari mana? Masih muda gini, cocok di rujak." 


"Punya aku, Ma. Tadi minta sama tetangga di sana pas lagi jalan santai, habisnya ngiler banget." Jawab Daniash pelan.


"Yaudah, kamu mandi dulu sana. Susulin istrimu, biar mama yang kupas buah nya terus bikin sambel nya. Sambel kacang gula merah kan?"


"Hehe, iya Ma. Maaf ngerepotin, mama." 


"Gapapa Nak, sana susulin dulu Maura nya." Daniash pun mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah menyusul istri cantiknya.


"Untung aja punya mertua pengertian banget." Gumam Daniash sambil tersenyum. 


"Masih ngidam ternyata, heemm ada-ada saja. Tapi, kok jadi inget si papa dulu ngidam rujak juga, mana suka nyusahin Raka." Amira terkikik geli jika mengingat masa-masa suaminya ngidam dulu. 


Hampir mirip seperti Daniash, hanya saja dulu Elgar mengalami morning sickness yang parah hingga kehamilan nya berusia 9 bulan. Elgar juga lebih sering sakit saat dia hamil, bahkan koma selama Amira hamil trimester pertama. Untung saja saat itu Elgar tak mengalami amnesia.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2