
Daniash membawa wanita bernama Mika itu ke sebuah tempat, keringat mengucur deras dari kening nya. Mika terlihat sangat ketakutan, berkali-kali dia meronta meminta di lepaskan. Tapi Daniash berpura-pura tuli dan tak mendengar permintaan perempuan itu.
"Lepaskan aku, Dani."
"Lepaskan? Tidak akan pernah, siapa yang sudah berani mengusik aku dan istriku pasti akan mendapatkan balasan setimpal." Jawab Daniash, dia menyeringai jahat. Membuat bulu kuduk perempuan itu terasa berdiri seketika.
"Jangan sakiti aku, Dani."
"Kau bercanda? Kau tiba-tiba datang lalu seenaknya menyakiti istriku? Satu hal yang harus kau tau, dia istri yang sangat aku cintai. Kesalahan sekecil apapun takkan pernah aku maafkan!" Tegas Daniash, dia mengambil sebuah batu runcing dari tempat yang dia pijak.
Lalu mengambil tangan Mika dan menekan batu itu hingga membuat perempuan itu menjerit kesakitan, karena Daniash menekan nya sangat kuat, mengerahkan seluruh tenaga nya.
"Aaaaa Dani, sakit…"
"Sakit? Ini belum seberapa, aku akan memberikan hukuman yang lebih menyakitkan dari ini."
Daniash menendang wajah perempuan itu, lalu menjepit dagu nya yang sudah mengeluarkan darah segar.
"Kau pasti takkan menyangka, kedatangan mu ke pesta pernikahan Aryo adalah hari terakhir kau bisa melihat dunia kan?"
"Ampun, Dani. Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakiti istrimu dengan perkataan ku." Lirih Mika, dia meringis menahan rasa perih di sudut bibir nya.
"Lalu, maksud mu mengatakan hal seperti itu pada istriku apa hmmm? Padahal istriku berbaik hati dengan membiarkan mu berceloteh denganku."
"Maafkan aku, Dani."
"Tidak, aku tidak akan pernah memaafkan mu, kesalahan mu benar-benar tak termaafkan!" Bentak Daniash dengan nada tinggi yang menggelegar memenuhi ruang kecil.
"Aku bersedia melakukan apapun untuk mendapat maaf dari mu, Dani."
"Apapun?" Tanya Daniash dengan senyum smirk nya.
"Ya, apapun. Aku juga takkan menolak jika kau ingin aku menjadi pemuas mu." Jawab Mika, membuat api kemarahan dalam diri Daniash kembali berkobar.
Plakk..
"Lancang sekali, kau pikir aku tergoda dengan wanita murahan seperti mu? Tidak, istriku jauh lebih menggoda."
"T-api Dani, aku lebih.."
"Lebih apa? Tak ada yang bisa menandingi kecantikan Maura di mata ku, camkan itu jalaang!"
"Ssshhhh…" Mika meringis saat tangan besar Daniash kembali mengcengkeram dagu nya dengan kuat.
"Jalaang murahan seperti mu tak layak bersanding dengan istri cantik ku." Lirih Daniash, nada suara nya melunak. Namun sialnya, malah terdengar seperti suara kematian bagi Mika.
"Aku mohon, lepaskan aku Dani."
"Never! Meskipun kau menangis darah sekali pun." Jawab Daniash.
Pria itu menginjak kedua tangan Mika dengan sepatu nya, lalu merogoh saku dan menghubungi seseorang.
"Datang kemari sekarang juga, ada barang bagus untuk mu." Ucap Daniash datar lalu mematikan sambungan telepon nya. Mika meronta dengan sekuat tenaga, dia begitu ketakutan sekali saat ini.
Keputusan nya untuk mendatangi Daniash dan berniat untuk menggoda nya adalah keputusan yang akan dia sesali seumur hidup. Tapi, entah sampai kapan dia akan hidup entah hari ini atau besok, dia masih bisa menikmati dunia luar atau tidak.
Seharusnya dia mendengarkan himbauan teman nya agar jangan berurusan dengan pria bernama Daniash, dia lebih menakutkan dari seekor harimau kelaparan yang siap menerkam mangsa nya.
__ADS_1
Tapi, mana dia tau kalau pria ini ternyata menyimpan sifat yang sangat menakutkan di balik wajah tampan nya.
Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah mobil datang. Lalu empat orang turun dengan wajah sangar dan tubuh tinggi besar mereka, otot-otot nya terlihat menonjol hingga membuat pakaian mereka seperti kekecilan.
"Selamat siang, bos."
"Hmmm.."
"Mana barang nya, bos?" Tanya seseorang yang berkepala plontos dengan tatto di leher nya.
"Kau tidak lihat dia?" Balik tanya Daniash.
Krekk..
"Aaaarrghhhh.." Mika memekik kesakitan saat kedua tangan nya di injak dengan kuat oleh Daniash.
"Dia sudah bersuara, jadi tak mungkin kalian tak melihat nya."
"Bukankah ini putri tuan Alexander?"
"Ya, aku tau itu. Tapi dia telah menghina istri ku dengan mulut nya, jadi kalian mengerti kan tugas kalian apa?" Tanya Daniash, membuat ke empat orang itu tersenyum jahat.
"Hukuman semacam apa, bos? Haruskah mulut nya kami robek?" Tanya seorang pria berambut gondrong, tatto nya memenuhi sebelah lengan nya.
"Lakukan apapun yang ingin kalian inginkan."
"Bolehkah kami menggilir nya, bos?"
"Terserah kalian saja, aku harus pergi menjemput istri cantik ku." Jawab Daniash sambil berjalan pelan meninggalkan empat pria suruhan nya dan Mika.
"Jangan dibuat mati, aku masih membutuhkan nya untuk alat melumpuhkan Alexander." Peringat Daniash, membuat ke empat pria itu mengangguk.
"Dani, jangan tinggalkan aku sendirian!" Teriak Mika, suara nya hampir menghilang karena terlalu banyak berteriak sedari tadi.
"Diamlah Nona, lebih baik kita bersenang-senang sekarang."
"Tidak, aku tidak sudi. Jangan berani menyentuh ku sialan!"
"Ohh sayang sekali, tapi kami hanya menuruti perintah bos kami." Jawab nya sambil berjalan semakin mendekat, membuat Mika beringsut mundur. Namun sayang sekali, punggung nya sudah membentur tembok.
"Tolong…" Suara teriakan terakhir yang keluar dari mulut Mika, karena di detik berikutnya dia pingsan tak sadarkan diri setelah pria yang berkepala plontos itu memukul tengkuk leher perempuan itu.
"Bawa kemana?"
"Ke markas." Jawab pria yang gondrong, di yakini dia adalah ketua nya.
"Siap." Dua orang di antara mereka langsung menggendong tubuh lemah Mika dan memasukan nya ke dalam mobil.
Sedangkan di tempat pesta, Maura menunggu dengan perasaan campur aduk. Sudah lebih satu jam sejak suaminya pergi dan belum juga kembali hingga saat ini, padahal pesta nya sudah berakhir.
"Ra, kenapa?" Tanya Nayna, gadis itu bahkan sudah berganti pakaian. Dari gaun pengantin menjadi piyama tidur berlengan pendek.
"Daddy kok belum jemput ya? Dia baik-baik aja kan?"
"Tentu, Nona. Tuan Daniash baik-baik saja, mungkin urusan nya belum selesai." Ucap Aryo yang sedari tadi berada tak jauh dari Maura. Sesuai permintaan bos nya yang menitipkan istrinya padanya, padahal dia sedang menikah tadi. Tapi apalah daya, mau menolak tak bisa karena Aryo terlalu takut.
"Tapi, kenapa sampai sekarang dia gak datang juga? Aku khawatir."
__ADS_1
"Tenang ya, Nona. Beliau pasti baik-baik saja, mungkin saat ini sedang dalam perjalanan."
"Hmmm, semoga saja." Jawab Maura lirih. Sebenarnya, dia merasa tak enak dengan Aryo dan Nayna. Harusnya, mereka sudah beristirahat sekarang. Tapi karena kehadiran nya, mereka harus menunda waktu istirahat hanya untuk menemani nya.
'Dad, Daddy dimana? Cepatlah datang, Dad. Aku khawatir.' Batin Maura.
Benar saja, tak lama kemudian pria itu datang dengan wajah datar nya seperti biasa.
"Baby.."
"Daddy.." Maura berbalik dan langsung menghambur memeluk suaminya.
"Dari mana aja, Dad? Maura khawatir tau gak."
"Ada sedikit urusan tadi, Bby. Maaf membuat mu menunggu, kamu ingin pulang sekarang?" Tanya Daniash sambil membelai lembut rambut sang istri.
"Iya Dad, aku capek pengen bobo."
"Ya sudah, kita pulang ya." Ajak Daniash sambil menggandeng lengan istrinya.
"Terimakasih sudah menjaga istri ku dengan baik, Ar. Ada bonus untukmu bulan ini."
"Wahh, terimakasih tuan. Anda baik sekali."
"Hmm, setelah menikah mungkin kau akan banyak tanggungan." Celetuk Daniash membuat Aryo cengengesan.
"Yaudah, aku pulang dulu ya Nay? Selamat melaksanakan kewajiban mu."
"Hah, kewajiban apa?" Tanya Nayna polos.
"Melayani suami di malam pertama, hehe."
"Ihhh Maura, awas aja ya kamu."
"Aku pulang dulu ya, bye. Jangan sampai ranjang nya rubuh ya." Goda nya lagi, lalu pergi bersama Daniash dengan tangan yang saling bertaut mesra.
"Nasib punya temen gesrek, ya gitu." Gumam Nayna sambil menyuap sepotong kue bolu ke dalam mulutnya.
"Tapi, apa yang di katakan Nona Maura itu bener lho."
"Maksud Daddy?" Tanya Nayna heran.
"Ya kamu harus melayani Daddy semalaman, ini kan malam pertama kita." Jawab Aryo dengan memainkan alis nya naik turun dengan genit.
"Isshhh, Daddy.."
"Yuk.." Ajak Aryo lagi.
"Nanti malem aja, masih sore sekarang Dad."
"Justru karena masih sore, jadi sebaiknya kita mulai main sekarang. Jadi, nanti pas selesai ronde pertama itu pas waktu makan malam, Bby." Jawab Aryo tak mau kalah membuat Nayna memutar mata nya jengah.
Namun nyata nya, dia tak bisa menolak saat Aryo menggendong nya ala bridal style ke kamar dan langsung mengunci pintu nya.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1