Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 43 - Keputusan Daniash


__ADS_3

Daniash terbangun dari tidur nyenyak nya, dia merenggangkan otot-otot nya yang terasa pegal, lalu membuka jendela dan menikmati udara sejuk pagi hari dari balkon kamarnya. 


Entah kenapa, hari ini dia lebih bersemangat dari pada biasanya. Apa karena pengaruh antara perpisahan nya dengan Herra? Atau karena Maura?


Daniash melirik ponsel nya yang berkedip beberapa kali, ternyata ada panggilan telepon masuk dari gadis cantiknya. Pria itu tersenyum sebelum mengangkat panggilan video itu. 


'Daddy..' Sapa Maura dengan suara manja nya. 


"Hai Baby, sudah bangun sayang?"


'Hehe, Maura belum tidur Dad. Maraton nonton konser, tuh lihat mata aku. Kayak panda gini,' Gadis itu memperlihatkan lingkaran hitam di sekitar mata nya, akibat begadang.


"Heemm, nakal ya. Daddy bilang apa tentang begadang?" 


'Maaf Dad, habisnya mereka bikin aku lupa waktu. Konser nya seru banget deh, apalagi kalo nonton nya sama Daddy, pasti lebih seru.' celoteh gadis itu dengan antusias. 


"Yang ada kamu di grepee-grepee kalo nonton nya sama Daddy, Bby." 


'Ehh iya, Daddy kan super duper mesuum ya. Pasti cari kesempatan dalam kesempitan deh, nyebelin.' Ketus Maura yang membuat Daniash terkekeh.


"Bukan salah Daddy lho, salahin aja tubuh kamu kenapa bikin Daddy ketagihan coba?" 


'Aahh bete, Daddy mesuum mulu.'


"Ya maaf sayang, terus ngapain nelpon Daddy pagi-pagi begini? Dia lagi bangun lho."


'Kangen aja sih, walaupun mesuum tapi Daddy ngangenin.' Jawab gadis itu dengan manja. 


"Mau ketemu, sayang?"


'Mau dong, dimana?' tanya Maura antusias.


"Kamu ke kantor Daddy aja pas makan siang, oke?" 


'Eemm, oke Dad. Sekalian Maura bawa makanan buat Daddy.'


"Katanya gak bisa masak." Goda Daniash.


'Belajar sama Mama, demi Daddy.' 


"Calon istri idaman, ya sudah telponan nya nanti lagi ya? Daddy mau mandi dulu, keburu Aryo jemput." 


'Iya Dad, papay. Semangat kerja nya, ayangku.'


"Kiss jauh nya mana?" 


'Muaacchhh, muacchhh..' Bibir Maura monyong-monyong di depan kamera, membuat Daniash terkekeh dengan tingkah gadis nya.


"Muachh juga, jangan monyong gitu di depan cowok lain ya sayang."


'Okey Daddy, mandi yang bersih biar makin ganteng.' 


Daniash hanya tertawa, lalu panggilan video itu pun selesai. Daniash menatap layar ponsel nya yang masih menyala, dengan wallpaper dirinya dan Maura kemarin di pantai. Dia tersenyum kecil, ternyata obrolan sederhana seperti ini saja mampu membuatnya bahagia. 


Pria itu masuk ke kamar dan menutup jendela kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Lalu membuka bathrobe nya, menyisakan celana boxer berwarna hitam dengan merk dunia yang terpasang rapi di pinggang nya. Daniash melangkah santai ke kamar mandi, tubuh tinggi atletis sempurna bak olahragawan itu menghilang di balik pintu kamar mandi. 


Dia tak khawatir akan ada yang melihatnya seperti itu, karena pintu kamar nya sudah dia kunci dan sengaja tak mencabut kunci nya. 


Daniash menikmati air hangat yang merendam tubuhnya, terasa menenangkan dan membuatnya betah berlama-lama berendam di dalam sana. Berendam air hangat memang selalu jadi pilihan saat pikiran nya sedang kalut, terbukti dengan berendam selalu membuat pikiran nya lebih ringan. 


Setelah 15 menit dia habiskan di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, pria itu bangkit dan keluar dari kamar mandi, lalu segera berpakaian rapi. Biasanya akan ada Maura yang dengan sigap menyiapkan pakaian kerja nya, lalu memasangkan dasi nya, tapi sekarang dia melakukan nya sendirian. 


'Hanya sementara Daniash, hanya sementara!' Batin pria itu, meski rasa sepi menyerang hatinya. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran gadis cantik itu dalam kegiatan sehari-hari nya, jadi wajar saja dia merasa kehilangan saat ini. 


Setelah rapih, Daniash keluar dari kamar dengan wajah datar nya dia menatap Herra yang menggeret koper nya juga baru keluar dari kamarnya.


"Aku pergi, pulang ke rumah orang tua ku."


"Ya, kau sudah mengatakan nya tadi malam." Jawab Daniash datar, tanpa ekspresi apapun. Lalu berjalan melewati wanita itu dengan langkah tegapnya, tanpa peduli dengan reaksi Herra. 


Di halaman, sudah ada Aryo yang menunggu Daniash dengan mobil sedan hitam nya. 

__ADS_1


"Selamat pagi tuan muda.."


"Hmmm, bagaimana kantor? Aman?"


"Aman tuan, tak ada perpecahan apapun disana. Kecuali saya yang hampir terkena serangan jantung karena di bentak tuan besar, hehe." Ucap Aryo sambil cengengesan.


"Ckkk, ada tips untukmu bulan ini. Kau bisa mengajak baby mu jalan-jalan." 


'Inilah yang aku tunggu-tunggu.' Batin Aryo cekikikan.


"Wahh, terimakasih tuan muda. Anda sangat baik hati sekali." 


"Jangan memujiku, tips mu takkan aku kasih double." Tegas Daniash membuat senyum Aryo pudar seketika.


"Ayo pergi, aku tak tahan berada di sini terlalu lama." 


"Baik tuan." Aryo membuka pintu mobil nya dan menutup nya kembali setelah memastikan tuan muda nya duduk dengan nyaman.


Aryo mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara nya. Hingga beberapa menit kemudian, Daniash mulai angkat bicara. 


"Ar, mau tips double?" 


"Tentu saja tuan, tanggungan saya banyak." Jawab Aryo sambil tersenyum.


"Tanggungan?"


"Iya, ada Nayna, biaya sekolah adik saya, sama orang tua yang sakit-sakitan di kampung." Jawab Aryo. Pria itu memang merantau disini, orang tua beserta adiknya berada di kampung halaman nya. 


"Heemm, tapi mungkin ini akan sedikit menyita waktu."


"Tak masalah tuan, pekerjaan apa?" Tanya Aryo tanpa menoleh ke arah Daniash, karena dia fokus mengemudikan mobilnya di jalanan padat pagi hari. 


"Uruskan berkas-berkas pengajuan perceraian ku ke pengadilan."


Ckiitt..


Aryo refleks menginjak rem mendadak hingga membuat tubuh Daniash terdorong ke depan, untung nya dia memakai seatbelt, jadi tak sampai membentur dashboard mobil. 


"M-maaf tuan, tapi jujur saya terkejut dengan apa yang tuan katakan."


"Aku menyerah Ar, aku menyerah dengan hubungan ini. Aku ingin kita berdua sama-sama bebas, bebas mengejar cinta dan kebahagiaan masing-masing." Ucap Daniash, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. 


"Bisakah?"


"Tentu tuan, saya akan mengajukan nya nanti saat makan siang." 


"Itulah yang aku suka darimu, Ar. Kau selalu gerak cepat, pertahankan." Puji Daniash.


"Baik tuan." 


Setelah itu tak ada lagi percakapan, Daniash tersenyum karena dia punya sekretaris yang sangat bisa di andalkan, dalam keadaan apapun dan kapanpun.


Cukup lama berkendara, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Aryo sampai, dia memarkir mobilnya dengan rapi. Lalu keluar dan berjalan mengikuti Daniash dari belakang. 


"Selamat pagi tuan muda.."


"Pagi, Anne." Balas Daniash.


"Maaf tuan, tadi tuan besar kesini dan menanyakan anda. Saya sudah mengatakan kalau anda belum datang, tapi tuan besar memilih untuk menunggu di ruangan anda." Ucap Anne, resepsionis utama di perusahaan Daniash.


"Ya, tak apa Anne. Terimakasih sudah mengabari ku, selamat bekerja." Anne mengangguk sopan, lalu membiarkan Daniash dan Aryo pergi dari depan meja nya. 


Kedua pria itu masuk ke dalam bilik lift, dan setelah sampai keduanya langsung keluar. 


"Maaf tuan, apa perlu saya temani?" Tawar Aryo, membuat Daniash tersenyum.


"Tak perlu, Ar. Masuklah ke ruangan mu, bekerja lah sebaik mungkin." 


"Baik tuan, saya permisi." Balas Aryo, Daniash hanya menganggukan kepala nya sebagai jawaban. Dia menatap pintu kaca satu arah di depan nya, di dalam sana ada malaikat maut yang kapanpun siap mencabut nyawa nya. 


Daniash menghembuskan nafas nya, lalu dengan perlahan membuka pintu dan masuk ke ruangan nya.

__ADS_1


"Ohh, tuan muda sudah kembali?" Tanya Danish dengan nada sindiran.


"Pagi, Pa." 


"Dari mana?"


"Dari rumah, memang nya kenapa?" Tanya Daniash sambil mendaratkan bokoong nya di kursi kebesaran nya. Menatap sang papa yang duduk di sofa, posisi mereka berhadapan saat ini, hanya terbatasi meja kerja. 


"Akhir-akhir ini kau sulit di temui, bahkan nomor ponsel mu selalu tak aktif." 


"Aku hanya ingin menjernihkan pikiran ku dengan menyendiri." Jawab Daniash, tak sepenuhnya berbohong. Tapi intinya, dia malas berurusan dengan papa nya untuk sementara waktu, apalagi membahas tentang Herra. 


"Ckkk, menjernihkan pikiran dengan cara bermain dengan jalaang? Begitu maksudmu?"


"Ya, aku bermain-main dengan mereka. Memang nya kenapa? Toh aku tak mendapatkan hal itu dari istriku sendiri." Jawab Daniash, sudah pasti kedatangan papa nya kesini adalah untuk membahas hal ini, dan itu memancing emosi nya. 


"Ohh ayolah, Boy. Kau bukan pria brengseek yang seenaknya merusak wanita."


"Berkaca lah, Pa." Daniash tersenyum kecil sambil menatap sang papa. Nyatanya, kelakuan nya saat ini tak jauh beda dengan kelakuan papa nya puluhan tahun silam.


"Lalu, apa keputusan mu?"


"Masih sama, aku ingin bercerai dari Herra dan mengejar kebahagiaan ku sendiri." Jawab Daniash tegas. 


"Papa tak setuju." 


"Tapi aku tak peduli, dengan atau tanpa persetujuan papa, aku akan tetap menceraikan Herra. Karena aku sudah menemukan kebahagiaan ku." Kedua mata tajam bak elang itu saling bertatapan dengan tatapan yang sama-sama tajamnya.


"Gadis mana yang sudah membuatmu tergila-gila itu, Boy?"


"Gadis sederhana dengan sejuta kelebihan yang tak di miliki oleh Herra." 


"Apa dia salah satunya?"


"Satu-satunya, bukan salah satunya." Jawab Daniash tegas, karena memang hanya Maura satu-satunya gadis yang mampu membuatnya tergila-gila hingga nekat melawan orang tua nya sendiri. 


"Kau akan memperjuangkan nya?"


"Tentu, karena aku mencintainya." Tapi, apakah perasaan nya pada Maura itu benar cinta? Anggap saja begitu. 


"Jadi, kau akan tetap melepas Herra?"


"Lebih tepatnya membebaskan, aku membebaskan Herra untuk mengejar cinta nya, karena itu bukan aku. Cukup selama tiga tahun ini aku selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tapi kali ini biarkan aku memutuskan sendiri bagaimana kelanjutan hidupku, pa." Nada suara Daniash lirih, membuat pria paruh baya itu merasa bersalah karena sudah membuat putra nya menderita. 


"Kau yakin dengan keputusan mu, Boy?"


"Ya, aku yakin akan hal itu." 


"Katakan, siapa gadis itu?" Tanya Danish.


"Akan ada saatnya papa tau, karena aku yang akan mengenalkan nya pada papa dan mama. Tapi bukan sekarang, disaat status ku masih suami wanita lain." 


"Kalau sudah begini, papa bisa apa? Kebahagiaan mu lebih penting dari apapun saat ini, meskipun Herra mengatakan kalau kau yang bersalah, tapi kau anak papa. Papa lebih percaya pada anak papa sendiri, dari pada orang lain." Ucap Danish. 


Ya, kemarin dia mendapat kiriman pesan berupa gambar yang memperlihatkan kemesraan putra nya dengan seorang gadis kecil, mereka terlihat sangat serasi. Apalagi saat melihat tawa bahagia sang putra yang sudah lama tak dia lihat membuat hatinya terasa sakit. Entah sudah berapa lama senyum dan tawa itu menghilang dari wajah putranya, tapi sekarang tawa itu kembali. Berkat kehadiran seorang gadis yang entah siapa. 


"Terimakasih Pa, sudah sepatutnya Papa mementingkan kebahagiaan ku dari pada ego papa. Papa sudah tau, hentikan sikap mendominasi itu." Ucap Daniash pelan dengan nada sindiran.


"Haha, kau menyindirku Boy?"


"Tidak, tapi kalau papa merasa ya sudah." 


"Semoga urusan mu cepat selesai, papa penasaran dengan sosok gadis yang sudah membuat putra papa ini jatuh cinta." 


"Dia cantik dan menggemaskan, hanya itu yang bisa aku katakan. Selebihnya, hanya bisa di rasakan." 


"Ckkk, bucin." 


"Ngaca, sendirinya bucin juga." Danish terkekeh, setelah beberapa menit berlalu, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari perusahaan itu dan pulang. 


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2