
Daniash tersenyum saat melihat gadis nya tertawa bahagia, saat ini keduanya sedang di mall, bermain di time zone seperti keinginan Maura.
Tadi, Maura merengek ingin bermain di time zone. Tentunya, Daniash takkan menolak apapun permintaan sang gadis.
"Sayang, jangan lari-larian nanti jatuh." Peringat Daniash, namun Maura tak menghiraukan nya.
Baru saja Daniash selesai bicara, Maura sudah jatuh karena tersandung kaki nya sendiri. Beruntung nya, Daniash dengan cepat menangkap tubuh Maura. Kalau tidak, pasti saat ini dia sudah telungkup di lantai.
"Nah, apa Daddy bilang. Kamu nakal sekali, Baby!" Tegas Daniash sambil menyentil pelan kening Maura.
"Maaf Dad, Maura kan seneng main."
"Kayak anak kecil aja kamu, Bby. Sudah ya, kita pulang. Daddy pengen kangen-kangenan sama kamu."
'Lebih tepat nya, anak kecil yang bisa buat anak, Dad.' Maura membatin.
"Tapi beliin es krim dulu, Dad." Pinta Maura.
"Oke, tapi gak boleh banyak-banyak ya."
"Heemm.." Maura menggelayut manja di lengan Daniash, membuat pria itu gemas sendiri. Dulu, dia tak suka jika melihat ada gadis yang manja pada kekasihnya, tapi kenapa dia malah menyukai nya? Bahkan merasa ada yang kurang jika Maura tak manja padanya. Cinta memang sebuta itu.
Kedua nya pun berjalan menuju foodcourt yang ada di mall untuk menjual es krim aneka rasa.
"Mau es krim rasa apa, sayang?" Tanya Daniash, karena stand nya cukup ramai jadi harus mengantri. Seperti biasa, Daniash yang akan mengantri dan gadisnya akan menunggu.
"Stroberi, vanilla sama matcha Dad."
"Kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana."
"Siap Daddy." Jawab Maura, Daniash mengacak rambut gadisnya karena gemas.
Membuat beberapa gadis disana merasa baper sendiri, apalagi mereka yang jomblo. Tentu saja iri melihat keuwuan yang di tunjukan oleh Daniash dan Maura.
"Rambut dia yang di acak-acak, hati kita yang berantakan ya gays."
"Heem, kapan ya punya pacar kek gitu? Iri banget deh."
"Spek nya ketinggian kalo pengen kayak yang kalian lihat, kalian gak tau mereka siapa?" Tanya salah satu gadis yang tau siapa pasangan di depan mereka itu.
"Kagak, emang siapa?"
"Itu tuan Daniash, CEO perusahaan terbesar di kota ini. Terus cewek nya, Maura. Putri pertama Tuan Elgar dan nyonya Amira, mereka sama-sama pebisnis hebat."
"What? Wahh gila, serasi banget ya mereka."
"Selain serasi, mereka juga selevel." Celetuk nya.
Maura menunggu dengan sabar, dan beberapa menit kemudian pria nya datang dengan cup es krim di tangan nya.
"Ini es krim nya, tuan putriku."
"Wahh, keliatan enak banget, Dad. Makasih udah mau ngantri buat Maura, dad."
"Sama-sama sayang, tapi apa kamu tau ada yang lebih terlihat enak dari pada es krim itu?"
"Memang nya apa Dad?" Tanya Maura, sambil menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.
"Kamu.."
"Ihhh Daddy.." Rengek Maura dengan nada manja.
"Kenapa, fakta nya begitu. Tak ada makanan semenggoda dirimu, sayang."
"Mesuum."
"Bukan mesuum, sayang. Tapi itu normal dan kebutuhan, lagi pula Daddy kan gak dapat jatah itu selama 4 hari."
"Itu sih resiko Daddy, siapa suruh pergi ke luar kota nya lama banget." Jawab Maura tak mau kalah.
"Iya iya, habiskan es krim nya lalu kita pulang ya."
"Pulang kemana? Katanya mau kangen-kangenan dulu."
"Ke apartemen dong, sayang. Atau mau di hotel aja?" Goda Daniash.
"Enggak, di apartemen aja lebih aman."
"Haha, baiklah sayang."
Waktu terasa singkat jika bersama orang yang di cintai, begitulah yang di rasakan Maura dan Daniash. Rasanya, baru beberapa menit saja pria itu menjemput Maura dari kampus, lalu mengajak nya bermain di time zone, lalu membawa nya ke apartemen. Baru saja keduanya sampai, ternyata hari sudah berganti malam.
"Kamu nginep disini ya, Bby?"
"Alesan aku apa, Dad? Aku harus pulang."
"Tapi kita baru saja sampai, masa kamu udah pulang aja sih Bby? Daddy belum kangen-kangenan sama sarang Daddy."
"Besok aja ya? Besok Maura libur kelas."
"Pengen sekarang, Bby." Gantian, kini Daniash yang merengek meminta jatah nya. Cukup dia menahan keinginan nya untuk bercintaa selama 4 hari karena terhalang jarak.
"Daddy.."
__ADS_1
"Baby, huaa.." Maura mengernyit saat melihat tingkah Daniash. Dia menarik-narik ujung pakaian yang dirinya pakai, persis seperti anak kecil yang merengek meminta permen pada ibu nya.
"Lho kok gemesin gini sih?" Maura akhirnya tak tahan, dia mengunyel-unyel pipi sang Daddy membuatnya cemberut.
"Pengen masukin kamu."
"Iya, besok ya? Sekarang aku pulang dulu, biar mama sama papa gak curiga."
"Daddy marah nih." Ancam Daniash membuat Maura kebingungan dengan tingkah Daniash yang menurut nya terlalu manja.
"Ya ampun, iya sebentar Maura nelpon Nayna dulu."
"Yee, makasih baby." Daniash memeluk gadis nya dari belakang, membuat Maura mendelik sebal. Dia meraih ponsel nya dari tas, lalu menelpon nomor sahabatnya.
'Hallo, kenapa Ra? Lo baik-baik aja kan?'
"Iyaa gue baik, Lo dimana?" Tanya Maura sebagai basa-basi.
'Di apartemen lah, sama Daddy. Kenapa?'
"Hehe, gue mau minta bantuan Lo, Nay."
'Hmm, bantuan apa lagi bestie?' tanya Nayna, dengan nafas tersengal.
"Lo lagi ngapain sih? Kok kayak lagi lari maraton sih?"
'Lagi nyusuin bayi gede, udah cepetan bantuan apaan? Gak kuat gue pengen desaah.' jawab Nayna, membuat Maura terkekeh. Harusnya dia mengerti tanpa bertanya, kalau Nayna sedang di apartemen bersama sang Daddy, ya pasti sedang anu.
"Haha, gue gak balik malem ini. Gue nginep di apartemen Daddy, Lo ngertilah ya."
'Kebiasaan deh jadiin gue kambing item.'
"Nanti, gue traktir seblak sebaskom."
'Deal, udah dulu lagi panas.'
"Oke, gue juga otewe. Selamat menikmati, bestie."
Daniash mengecupi pundak gadisnya yang sedikit terbuka, dia juga mengendus aroma yang menguar dari leher sang gadis. Membuat gadis itu bergerak-gerak menahan geli karena lidah sang Daddy yang terus bergerilya di tubuhnya.
Daniash menggendong gadis nya dan melempar nya sedikit kasar ke atas ranjang, membuat tubuh gadis itu terguncang. Pria itu sudah sangat bernafssu untuk menjamah gadisnya.
Dia langsung membuka pakaian gadisnya, hingga membuatnya polos, dia juga melucuti pakaiannya sendiri hingga keduanya sama-sama polos.
"Eehhmm, dad.."
"Ya, baby?"
"Jangan terlalu kasar, a-aku.."
"Tak apa, jangan terlalu keras."
"Heem, tentu saja sayang." Jawab Daniash. Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung menyatukan inti tubuh mereka berdua, memasukan senjata andalan nya ke dalam sarang gadis nya yang sudah basah.
"Aaaahhh Daddy, pelan-pelan.." Pinta Maura saat Daniash mulai bergerak, menghentak dengan sedikit kasar hingga membuat tubuh nya terguncang.
"Kenapa hmm? Bukan kah kamu menyukai nya, sayang."
"Aahhh Daddy, sakit.." gadis itu meringis, namun Daniash yang sudah terlanjur bernafssu, dia tak terlalu menghiraukan ringisan sang gadis.
Hingga beberapa menit setelah nya, Daniash menekan senjata nya lebih dalam, karena dia mendapatkan pelepasan nya.
"Aaarrgghhh, nikmat sekali." Tubuh Daniash ambruk menimpa tubuh Maura, membuat gadis itu langsung mendorong Daniash, karena takut akan melukai bayi nya.
"Minggir Dad.."
"Sebentar sayang."
"Aku bilang minggir, Dad!" Bentak Maura, membuat Daniash langsung berguling ke samping. Ini pertama kali nya dia di bentak oleh seorang gadis.
"Kenapa kamu bentak Daddy, Bby?"
"Habisnya Daddy bandel, sih. Maafin Maura, dad."
"Iya, gapapa sayang." Daniash meraih gadis nya ke dalam pelukan nya, menyandarkan kepala sang gadis di dada bidang nya.
"Dad…"
"Ya, kenapa sayang?"
"Eemmm, kalau misal Maura hamil gimana dad?" Tanya Maura.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Aahhh tidak apa-apa, Dad."
"Akan sangat menyenangkan jika kamu hamil, sayang. Daddy pasti sangat bahagia menyambut kelahiran bayi dari rahim mu." Jawab Daniash membuat gadis itu mendongak.
"Lalu, istri Daddy?"
"Daddy sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan, dan saat ini sedang di proses. Kata Aryo, hari senin sidanb pertama nya." Jelas Daniash membuat Maura terkejut.
"Daddy serius?"
__ADS_1
"Tentu saja, kapan Daddy bercanda tentang hal seserius ini hmm?"
"Kenapa Daddy memutuskan untuk bercerai, apa karena Maura?" Tanya gadis itu pelan.
"Tidak, Daddy memutuskan untuk berpisah karena Daddy rasa sudah tak ada yang bisa di pertahankan lagi dari pernikahan itu, Bby."
"13 minggu, Dad." Lirih Maura, namun Daniash masih bisa mendengar nya.
"Apanya?"
"Maura hamil, Dad."
Daniash langsung terbangun dari berbaring nya, begitu pula dengan Maura. Pria itu menatap wajah sang gadis dengan tatapan yang sulit dia artikan.
"Kamu serius?"
"Heem.." Jawab Maura sambil mengangguk pelan.
Tatapan mata Daniash turun ke perut gadisnya, sedikit membuncit. Terlalu buncit untuk usia kehamilan yang baru 13 minggu atau 3 bulan setengah.
"Kenapa sangat buncit, Bby? Bukankah baru 3 bulanan?" Tanya Daniash pelan.
"Karena dia berdua, Dad."
"M-aksudnya? Dia kembar, Bby?" Tanya Daniash, mendadak dia menjadi bodooh.
"Iya Dad.."
"Aaahhh Bby.." teriak Daniash membuat Maura terhenyak.
"Kenapa Dad? Gak suka ya? Maaf.."
"Apa nya yang gak suka hmm? Daddy bahagia, terimakasih sayang. Setelah perceraian Daddy dan Herra resmi, Daddy akan melamar kamu para orang tua mu, sayang."
"Benarkah?"
"Ya, Daddy akan menjadikan kamu istri Daddy."
"Daddy…" panggil nya lirih, kedua mata nya berkaca-kaca. Benar saja kata Nayna, dia harus jujur dan terbuka pada Daniash. Terbukti, ketakutan nya tak terjadi. Daniash malah terlihat sangat bahagia dengan kabar kehamilan nya.
"Love you, Bby."
"Love you more, Dad." Keduanya berpelukan. Daniash terus mengecupi puncak kepala Maura, dia benar-benar bahagia saat ini.
Sudah lama, dia ingin mempunyai keturunan, dia pernah berharap pada Herra tapi harapan tak pernah terwujud dan siapa yang menyangka, ada wanita lain yang memberikan hal itu padanya.
"Terimakasih baby, kita jaga bersama-sama ya."
"Iya Dad.."
"Pantesan kamu minta pelan-pelan, padahal biasanya kamu suka kalo Daddy masukin nya dalem."
"Takut nyundul dedek bayi, Dad."
"Iya Bby, maaf ya."
"Gapapa Dad, enak kok, hehe." Maura cengengesan.
"Maafin ayah ya, boy.."
"Dari mana Daddy tau kalau mereka laki-laki?"
"Entahlah, tapi firasat Daddy mengatakan kalau mereka laki-laki." Jawab Daniash sambil tersenyum.
"Kalo ternyata perempuan, atau sepasang gimana? Daddy bakal marah, atau gak mau ngakuin mereka ya?"
"Eehhh gak gitu sayang, mau perempuan atau laki-laki, mereka tetap anak Daddy. Daddy akan tetap menyayangi mereka setulus mungkin."
"Jangan di beda-bedain nanti."
"Enggak dong, sayang. Daddy bakalan sayang sama mereka berdua dong, udah gak usah berpikiran aneh-aneh ya Bby."
"Heemm, Maura takut dad." Keluh Maura.
"Takut kenapa?"
"Sama papa, gimana kalau dia marah sama Maura?"
"Kita hadapi bersama ya? Jangan takut, Daddy akan selalu ada bersama kamu, kapanpun." Daniash mengusap rambut sang gadis dengan lembut.
"Iya Dad, Maura bisa lebih tenang sekarang."
"Sudah, kamu lelah kan? Tidur ya?"
"Satu ronde lagi yuk?" Ajak Maura sambil tersenyum nakal.
"Nanti kamu kecapean, Bby."
"Enggak kok, yuk Dad."
"Hmmm baiklah sayang, Daddy sih ayo-ayo aja." Jawab pria itu, lalu kembali menyerang Maura, kali ini lebih pelan namun tetap membangkitkan gairaah mereka.
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻