
"I-itu.."
"Ya, ini testpack yang papa temukan di kamarmu!" Bentak Elgar. Amira terdiam menyaksikan, dia menatap putrinya dengan tatapan penuh ke kecewaan.
"Iya, itu milikku. Harusnya, papa tak perlu bertanya lagi, karena benda itu ada di kamar ku, sudah pasti itu milikku." Jawab Maura.
Plakk…
Elgar menampar pipi kanan putri nya dengan kuat, hingga membuat pipi gadis itu memerah dengan cap lima jari yang tercetak jelas disana.
"Kenapa kau tak bisa menjaga harga dirimu, Maura? Papa tak pernah mengajari mu menjadi gadis murahan!"
"Murahan? Papa bilang Maura murahan? Katakan saja begitu, lalu apa yang papa harapkan dariku? Aku hanya putri yang di abaikan orang tua nya." Maura tersenyum getir, dia menatap papa nya dengan penuh ke kecewaan, sama seperti mama nya yang menatap nya demikian.
"Maura! Jaga kata-kata mu."
"Kenapa harus? Papa sendiri tak bisa menjaga kata-kata papa. Apa pantas seorang ayah mengatai anak nya sendiri murahan?" Tanya Maura.
"Kurang apa kami selama ini padamu, Maura. Hingga kau melakukan hal semenjijikan ini?"
"Kurang? Aku kekurangan banyak kasih sayang, dan aku mendapatkan nya dari orang lain." Jawab gadis itu penuh keberanian, tak ada sorot ketakutan dari mata nya. Karena sudah lama dia menyiapkan mental nya untuk menghadapi amarah sang papa.
"Kau gadis yang egois, Maura. Papa dan mama sibuk bekerja untuk membahagiakan dirimu!" Tegas Elgar.
"Nyatanya aku tak bahagia dengan semua yang kalian berikan, aku hanya perlu sedikit waktu kalian. Tapi apa yang aku dapat? Tidak, bahkan tidak satu hari pun."
"Dimana papa saat aku kesepian? Tidak ada kan? Begitu juga dengan Mama, kalian lah yang egois, bukan aku!"
"Lalu, salahkah aku mencari kebahagiaan ku sendiri?"
Plakk..
Elgar kembali melayangkan tamparan keras di pipi kiri putrinya, dia tak bisa menahan emosi nya setelah mendengar ucapan putrinya.
"Berani sekali kau membalas perkataan orang tua mu, hah? Pasti ini semua pengaruh dari pria sialan itu."
"Jangan menyalahkan orang lain karena kesalahan papa sendiri."
"Kau membela bajingaan itu, Maura? Pria yang tak bertanggung jawab, lalu siapa yang akan bertanggung jawab pada anak mu itu hah?"
__ADS_1
"Tentu aku dan ayah nya." Jawab Maura sambil tersenyum kecil.
"Pahh.." ucap Amira memegang lengan suaminya, sebelum kata-kata nya lebih menyakiti hati putrinya.
"Dasar, anak tidak tau di untung! Pergi kau dari rumahku, jangan pernah berani menginjakkan kaki ke rumah ini lagi."
"Papah.."
"Tak apa Ma, Maura pantas mendapatkan nya. Maafin Maura ya, Ma." Amira menangis, lalu menghambur memeluk putrinya.
"Sayang, maafin mama juga ya."
"Maura udah maafin Mama, Maura sayang sama mama. Maafin Maura ya, Maura gak bisa jadi anak yang mama harapkan."
"Tak apa sayang, kamu tetap putri kebangaan Mama." Amira mengecupi kening putrinya. Air mata nya terus merembes hingga mengenai wajah putrinya.
"Sudah lah sayang, biarkan dia pergi. Aku ingin lihat, akan seperti apa dia tanpa kita."
"Mas, jangan usir Maura. Dia anak kita satu-satunya, mas."
"Gapapa Ma, Maura pergi dulu ya. Jaga diri mama baik-baik, ya."
"Sayang.."
"Jaga kandungan mu baik-baik, Nak."
"Tentu, Maura dan ayahnya akan merawat nya dengan sangat baik. Maura pergi dulu ya, Ma, Pa. Jaga diri baik-baik." Maura tersenyum kecil, lalu pergi dari rumah itu.
Seketika tangis Amira pecah melihat putri nya pergi, dia ingin berlari mengejar nya, namun tangan nya di cekal dengan kuat oleh suaminya.
"Mauraa.."
"Kenapa kamu mengusir anak kita, Mas? Dia anak kita satu-satunya, Mas." Lirih Amira, air mata nya terus membasahi wajahnya. Dia memukuli dada suaminya, melampiaskan kekesalan nya, namun Elgar terlihat tak peduli.
"Biarkan dia, sayang. Anggap saja ini hukuman untuknya."
"Tapi Mas, tidak kah kamu merasa ini terlalu kejam bagi nya? Ini juga kesalahan kita."
"Biarkan saja." Elgar pergi dari ruangan yang menjadi saksi pertengkaran nya dengan sang putri beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Maafin mama sayang, mama terlalu takut untuk menentang papa mu." Gumam Amira lirih, dia merasakan sesak luar biasa di hatinya. Apalagi saat melihat senyuman kecut dari bibir putrinya, itu sangat membuat nya sangat sakit.
Di luar, Maura terkejut saat melihat mobil Daniash terparkir rapi di depan rumah nya. Pria itu langsung keluar begitu melihat gadisnya keluar dengan mata sembab nya.
"Baby.." panggil Daniash lembut, dia mendekat dan meraih gadisnya ke dalam pelukan nya.
"Daddy, hikss.."
"Kenapa hmm? Kenapa kamu nangis, Bby?"
"Papa.."
"Sudah ya, ayo ikut Daddy." Daniash melerai pelukan nya, lalu membawa gadisnya ke dalam mobil.
Gadis itu masih menangis sesenggukan, membuat hati Daniash ikut merasakan sakit.
"Jangan menangis, kamu mau apa? Kita jajan es krim, mau?" Maura diam, dia tak menjawab pertanyaan Daniash.
"Bby.."
"Nanti saja Dad."
"Baiklah, kita pulang ya?"
"Kemana? Maura gak punya rumah, dad."
"Ke rumah Daddy, sayang."
"Dad.."
"Jangan banyak bicara, kamu istirahat saja ya? Tidur, nanti Daddy bangunkan."
Maura mengangguk, dia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap nanar kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
'Andai aja kamu masih ada, mungkin kakak gak bakal kesepian begini, Vin.' Batin Maura. Andai saja adiknya, Arvinno masih ada, mungkin dirinya takkan salah jalan dan memilih menjadi gadis peliharaan pria beristri.
Dia terlalu lelah, hingga tertidur sambil bersandar ke pintu mobil. Daniash melirik gadisnya, dia menatap nya dengan nanar. Secepat itu senyuman gadis nya hilang, padahal tadi mereka masih sempat bercanda ria.
"Takkan aku biarkan senyum mu menghilang, sayang. Daddy yang akan membujuk papa mu."
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata terus menatap mereka dari awal pertemuan hingga sekarang. Bibir nya tersenyum, menatap Daniash dan Maura.
🌻🌻🌻🌻🌻