Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 71 - Pendarahan


__ADS_3

"Baby.."


"Yes, Daddy." Jawab Maura sambil tersenyum manis. Pria itu membalas senyuman sang istri, lalu mendekat dan mengecup kening nya dengan mesra.


"Nayna bilang, dia harus pergi karena ibu nya juga sakit." Ucap Daniash lembut.


"Sakit apa, Dad?"


"Daddy gak tau, tapi Aryo bilang gak usah khawatir. Bagaimana keadaan mu, sudah membaik?" Tanya Daniash.


"Heemm, iya Dad. Aku lebih baik sekarang. Aku ingin pulang, Dad. Disini gak enak." 


"Yaudah, Daddy panggilin perawat dulu ya." Maura mengangguk. Dia tak sakit apapun, hanya demam karena kelelahan beraktivitas di pesta pernikahan nya.


"Jangan lama ya, Dad?"


"Iya baby." 


Daniash pergi dari ruangan rawat sang istri, dia menutup pintu nya dengan perlahan. Maura memutuskan untuk memainkan ponsel nya sambil menunggu suaminya kembali. Cukup lama, hingga pintu berderit menandakan seseorang datang. 


Maura mendongak, jantung nya seakan berhenti berdetak saat itu juga saat melihat siapa yang datang. Herra, ya wanita itu masuk ke ruangan itu.


"Haii jalaang kecil, apa kabar mu? Aku dengar kau sakit? Sakit apa hmm? Syukur-syukur kalau kau keguguran, aku sangat senang sekali kalau hal itu terjadi." 


Wanita itu berjalan mendekat, dengan langkah pelan. Namun yang lebih membuat Maura ketakutan adalah, dia membawa pisau kecil di tangan nya. 


Maura langsung memeluk perutnya, dia tak mau wanita itu sampai menyakiti anak nya.


"Kenapa hmm? Kau ketakutan, biasa nya kau sangat menyebalkan." Herra tersenyum menyeringai menatap wanita di depan nya. 


Jujur, Maura ketakutan saat ini. Walaupun dia mengatakan sudah membaik, tapi sebenarnya dia masih lemas karena demam yang di alami nya. 


Langkah Herra semakin mendekat, dia mengayunkan pisau itu hingga merobek lengan gaun yang di pakai oleh Maura.


"Jangan sakiti aku, memang nya apa kesalahan ku?" Tanya Maura, masih dengan memeluk perutnya.


"Kesalahan mu hanya satu, masuk ke dalam kehidupan suamiku, kau merebutnya dariku." Bentak wanita itu dengan suara tinggi. 


"Merebut? Aku tak merasa merebutnya dari mu, karena dari awal kau yang sudah menyia-nyiakan nya, aku hanya memungut nya." 


"Cihh, berani sekali kau mendebat ku hah?" Bentak Herra lagi. 


Tanpa wanita itu sadari, Maura lebih cerdik. Dia menelpon suaminya begitu wanita itu masuk ke dalam ruangan nya.


Saat ini, pria itu tengah berlari ke ruangan sang istri begitu mendengar suara Herra di balik sambungan telepon. Belum lagi, suara nya yang meninggi, membuat Daniash khawatir kalau mantan istrinya itu akan menyakiti istrinya.


"Bodooh, sialan. Kenapa aku harus meninggalkan istriku sendirian tanpa pengawasan."


Daniash terus berlari menelusuri lorong rumah sakit, padahal tadi dia berjalan santai dan cepat sampai, tapi sekarang dia berlari tapi terasa sangat lama. 


Dalam hatinya, dia merutuki Herra. Kenapa wanita itu datang kembali dan mengganggu nya? Padahal dulu, bukankah dia yang sudah menyia-nyiakan dirinya hingga dia mencari pelampiasan dengan cara memelihara sugar baby, yang kini dia nikahi.


Daniash dengan cepat membuka pintu ruangan sang istri. Pemandangan yang sangat menyesakan dada, istrinya bersimpuh di lantai dengan darah segar yang mengalir dari kedua kaki nya.


Sedangkan Herra, wanita itu nampak pucat setelah melihat kedatangan Daniash.


"Apa yang sudah kau lakukan pada istriku hah?" Teriak Daniash, dia langsung memeluk istrinya yang terlihat sudah pucat karena darah terus mengalir dari paha wanita itu.


"Daddy, sakiit.." Ringis Maura sambil memegangi perut nya. 

__ADS_1


Tadi, dia di tarik oleh Herra dengan kuat hingga membuat nya terjatuh bersimpuh di lantai, perutnya terasa sangat sakit, mulas dan melilit. Intinya terasa basah, namun saat melihat ke bawah ada darah segar yang mengalir di kaki nya.


Herra juga terkejut melihat hal itu, wajah nya memucat dan berusaha untuk menolong Maura, tapi keburu Daniash datang. 


"Baby, bertahanlah sayang." 


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak dan istriku, aku akan membunuhmu!" Ucap Daniash sebelum pergi dengan membawa Maura di pelukan nya. Pria itu berlari ke ruang IGD. Tadinya mereka ingin pulang, tapi dengan keadaan seperti ini mana bisa pulang? Daniash takkan bisa tenang sebelum pendarahan nya berhenti.


"Sus, tolong istri saya!" 


"Lho, nona kenapa? Bukankah tuan mengajukan surat-surat untuk pulang?" Tanya perawat, kebetulan yang kemarin menangani kedatangan Maura.


"Bukan waktunya untuk bertanya, cepatlah!" Tegas Daniash. Perawat itu panik dan langsung membantu Maura berbaring di brankar dan membawa nya ke dalam.


"Silahkan tunggu disini, tuan."


"Tapi saya suaminya!"


"Saya tau, tapi ini sudah prosedur rumah sakit. Jadi, tolong patuhi ya." 


"Heemmm, baiklah." Daniash pasrah, dia terduduk lemas di kursi tunggu. 


"Kamu pasti akan baik-baik saja, sayang." Gumam Daniash sambil mengacak rambutnya.


"Mas.." 


Daniash mendongak, mata nya menatap tajam seseorang yang berdiri di depan nya. Sangat jelas kalau dia ketakutan melihat tatapan tajam nya.


"Kau masih berani menampakan wajah mu di depan ku, hah?" 


"Mas, maafkan aku. Sungguh demi apapun, aku tak bermaksud mencelakakan istri baru mu!"


"Lalu, maksud kedatangan mu ke sini untuk apa kalau bukan untuk menyakiti istriku?" Tanya Daniash, pria itu berdiri dari duduknya. Mata nya tetap menatap tajam wanita itu.


"Diam, kalau sampai terjadi apa-apa pada istri dan anak ku, aku sendiri dengan tangan ku yang akan menghabisi nyawa mu!" Ucap Daniash tegas, membuat nyali Herra menciut seketika.


Daniash pergi menjauh dari Herra, berdekatan dengan wanita itu selalu membuatnya emosi. Sedangkan Herra, dia menatap punggung tegap Daniash dengan nanar. 


Menyesal, ya dia menyesal. Ibarat kata pepatah, menyesal selalu datang belakangan. Itulah yang di rasakan oleh Herra sekarang, dia menyia-nyiakan pria sebaik Daniash demi Mark. Tapi setelah dia berpisah dengan Daniash, pria itu malah mencampakkannya. 


Mark pergi tanpa kabar sama sekali selama berbulan-bulan, tapi sekalinya muncul membuat hati Herra sakit, bagai di tikam ribuan belati. Pria itu menikah dengan wanita lain, bisa di bayangkan sesakit apa Herra dan semenyesal apa wanita itu sekarang. 


Daniash duduk di tempat yang agak jauh dari ruangan istrinya sedang di tangani. Pria itu menatap kosong lurus ke depan, nyatanya begini saja bisa membuat hatinya hancur.


"Kamu harus baik-baik saja, sayang." Gumam Daniash. 


Di tengah lamunan nya, ponsel di dalam saku celana nya berdering dengan sangat nyaring. Pria itu merogoh saku nya dan melihat nama papa nya yang tengah menelpon.


"Hallo, Pa." Jawab Daniash sesaat setelah mengangkat telepon dari papa nya.


'Masih di hotel? Jangan terlalu kerja keras, istrimu sedang hamil, jangan di tengokin terus.' Celoteh Danish. 


"Papa apa-apaan deh, Maura di rawat di rumah sakit, Pa."


'Hah ngapain? Pasti gara-gara kamu ke kencengan main nya, boy!'


"Demam Pa, Maura demam. Ehh sekarang malah pendarahan, kalau bisa kesini ya Pa." Jelas Daniash, meskipun dia tahu hal ini akan merembet dan pasti Elgar akan sangat murka jika sampai mendengar hal ini.


'Apa? Pendarahan, kau apakan menantu ku boy?' teriak Danish di seberang sana.

__ADS_1


"Nanti Daniash ceritakan semua nya, Pa. Kesini saja dulu, sama Mama."


'Ya, papa kesana sekarang boy.' Jawab Danish, setelah itu panggilan pun selesai. Daniash memasukan kembali ponsel nya dan berjalan meninggalkan taman rumah sakit tempatnya melamun beberapa menit barusan.


Daniash menghela nafas lega saat tak lagi melihat sosok wanita yang paling dia benci, siapa lagi kalau bukan Herra.


"Tuan, silahkan masuk." 


"Baik sus." Daniash menurut dan masuk ke ruangan itu. 


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


"Pendarahan nya sudah berhasil di hentikan, tapi nona Maura tak sadarkan diri karena pendarahan itu, Tuan." Jelas perawat itu. 


"Apa bayi nya baik-baik saja?"


"Beruntunglah, kedua nya baik-baik saja. Tapi kalau sampai hal ini terjadi sekali lagi, tidak menutup kemungkinan untuk terjadi nya keguguran, Tuan." 


"Huffftt syukurlah. Kapan istri saya akan bangun, sus?" 


"Takkan lama tuan, mungkin bisa dalam hitungan jam. Kalau begitu, saya permisi dulu tuan." 


"Ya, terimakasih sus." Jawab Daniash, perawat itu menganggukan kepala nya, lalu keluar dari ruangan, meninggalkan pasangan suami istri itu.


Daniash menarik kursi dan duduk di dekat istrinya, menggenggam tangan nya dengan erat sambil mengecup nya beberapa kali dengan lembut.


"Bangunlah, Bby. Kamu baik-baik saja kan?" Gumam Daniash sambil menatap lekat wajah cantik istrinya.


Di parkiran, Danish dan Riana baru saja sampai di rumah sakit itu, begitu pula dengan Elgar dan Amira. Begitu mendengar Maura pendarahan, Danish langsung menghubungi besan nya dan akhirnya ke empat orang itu datang dalam waktu bersamaan.


Danish menghubungi putra nya untuk menanyakan ruang perawatan menantu nya. Setelah mendapat jawaban, barulah mereka semua berbondong-bondong menuju ruangan IGD.


Daniash keluar dan langsung di sambut oleh tatapan penuh ke khawatiran dari para orang tua. 


"Bagaimana keadaan putriku, Daniash?" 


"Dia masih belum sadarkan diri, Papa mertua." Jawab Daniash pelan.


"Kenapa bisa sampai pendarahan?" Kali ini, Amira yang bertanya.


"Pasti kau sudah merusak putri ku kan? Berapa ronde kau memakai nya hah?" Tanya Elgar, membuat Daniash mendengus. Padahal, malam itu mereka hanya tidur tanpa bermain, apalagi hingga beronde-ronde.


"Jelaskan, boy."


"Oke, disini ada yang harus aku klarifikasi. Pertama, aku tak memakai istriku di malam pertama karena kami kelelahan. Kedua, pendarahan itu terjadi karena Herra." Jawab Daniash.


"Herra?" Tanya Danish, pria itu menganggukan kepala nya.


Daniash menjelaskan semua nya, mulai dari dia menerima telepon dari istrinya saat berada di ruangan dokter, lalu dia datang ke ruangan dan melihat istrinya sudah terduduk di lantai dengan darah segar yang mengalir di kaki nya.


"Wanita itu.." Ucapan Danish terpotong saat mendengar ucapan Amira, ibu dari perempuan yang kini berada di dalam ruangan itu menangis.


"Kejam sekali, mereka sama-sama wanita tapi kenapa tak punya hati sama sekali." Tangis Amira pecah, membuat Elgar langsung memeluk istrinya, mengusap-usap punggung nya untuk menenangkan nya.


"Tenang ya, Ma. Maura baik-baik saja kok, hanya saja sekarang dia sedang beristirahat. Untung saja tadi kami belum pulang." 


Amira tak mendengarkan ucapan menantu nya, dia masih menumpahkan tangis nya di pelukan sang suami. Ibu mana yang tak shock dengan kejadian semacam ini? Padahal kemarin putrinya baik-baik saja.


........

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


Herra si biang kerok😑


__ADS_2