
Daniash tersenyum saat melihat istrinya makan dengan lahap, bahkan sampai dua kali menambah nasi. Padahal biasa nya, Maura tidak terlalu banyak makan. Apalagi setelah kehamilan nya.
"Papa kemana ya?" Tanya Amira.
"Mungkin di kamar, Ma." Jawab Daniash.
"Kenapa gak ikut makan malam ya?"
"Taruhan, Ma."
"Taruhan apa, Nak?" Tanya Amira lagi. Daniash pun tersenyum lalu menjelaskan semua nya dari awal.
"Astaga papa, ada-ada saja kelakuan nya."
"Senjata makan tuan itu, seperti nya papa gak tau kalau menantu nya ini pandai dalam segala hal, termasuk membuat bayi." Ucap Maura sambil terkekeh.
"Baby…"
"Iya iya, maaf Dad."
"Mama suka heran deh sama Papa, kenapa dia suka sekali mengerjai mu ya?"
"Tidak tau, Ma. Tapi tak apa, lagi pun Daniash tak tersinggung sama sekali."
"Hmmm, ya syukurlah kalau begitu."
"Mama, mau sup nya lagi dong. Boleh?" Ucap Maura malu-malu. Dia sudah makan dua porsi nasi dan sup, tapi rasanya belum puas untuk memakan sup daging buatan ibu nya.
"Boleh sayang, buat papa udah mama pisahin kok." Jawab Amira sambil mendorong satu mangkuk sup ke arah sang putri.
"Makasih Mama."
"Sama-sama, sayang. Mama ada bikin salad buah lho, kamu mau?"
"Mau dong, Ma." Jawab Maura dengan senyum manis nya.
"Nanti setelah selesai makan nya ya, baru makan salad."
"Iya Ma." Ibu hamil itu pun kembali menyantap sup, kali ini tanpa nasi.
"Baby, pelan-pelan makan nya." Peringat Daniash sambil mengusap sudut bibir istrinya dengan tissu.
"Kebiasaan, kalo makan suka belepotan." Amira terkekeh saat melihat ekspresi putrinya.
Daniash menggelengkan kepala nya, istrinya benar-benar makan banyak malam ini. Dia menghabiskan dua piring nasi dan sup, di tambah lagi satu mangkuk sup.
"Daddy.."
"Iya, kenapa Bby?"
"Kenapa natap aku gitu banget?"
"Enggak kok Bby, kamu cantik. Itu saja." Jawab Daniash membuat istrinya tersipu malu, wajah nya merona, terlihat sangat menggemaskan bagi Daniash yang sudah bucin akut.
"Sudah-sudah, jangan bucin di depan Mama."
"Mama iri ya?" Goda Maura sambil terkekeh.
"Siapa yang iri sih? Mama juga bisa kok bucinan sama papa."
"Iya kah? Papa nya kan udah tua, hehe."
"Hanya fisik nya yang terlihat tua, jiwa nya masih muda."
"Haha, iya terserah Mama saja deh."
Setelah selesai makan malam, Daniash memilih duduk di ruang tamu menemani sang istri yang tengah ngemil salad buah. Sedangkan Amira, dia menemani suaminya makan malam.
"Enak Bby?" Tanya Daniash.
__ADS_1
"Enak, Dad. Mau nyoba?"
"Mau dong."
"Nih, tapi jangan banyak-banyak nyobain nya."
"Suapin dong, Bby." Pinta Daniash manja, membuat istri nya itu mencebik manja.
"Manja nya suamiku."
"Gapapa dong, kan sama istri sendiri."
"Iya Daddy. Aaaa.." Maura menyuapi suaminya dengan salad buah. Pria itu menerima nya dan memakan nya.
"Enak kan?"
"Iya, tapi keju nya kurang banyak Bby."
"Besok kita bikin yang ekstra keju di rumah ya, Dad."
"Okey, sekalian besok kita ke supermarket buat beli bahan-bahan nya."
"Siap Daddy."
Akhirnya, Maura membagi salad nya dengan sang suami. Setelah puas memakan nya, barulah mereka berpamitan untuk tidur.
"Daddy.." panggil Maura.
"Iya, sayang."
"Gak mau main gitu? Maura kangen sama Daddy."
"Tentu Daddy ingin, jadi kita main?" Tanya Daniash dengan tatapan nakal nya.
"Ayo dad." Jawab Maura. Daniash mendudukan istrinya di pangkuan, tangan nya melingkar erat di pinggang ramping sang istri, begitu pula dengan Maura, dia melingkarkan kedua tangan nya di leher kokoh sang suami.
"Aaww, Daddy jangan di gigit dong."
"Maaf sayang, Daddy gemas. Sudah lama, Daddy tak memberi mu tanda kepemilikan." Jawab Daniash, dia terus menyesap leher sang istri, hingga tanda merah berjejer rapi di leher Maura.
Tangan besar pria itu mulai membuka piyama yang di pakai Maura, meremaas bukit kenyal di dada istrinya dengan lembut.
"Eenghh Daddy.." Maura melenguuh perlahan, tangan nya meremaas rambut belakang sang suami, kepala nya mendongak dengan kedua mata tertutup.
Pria itu menyusu dengan lahap di dada Maura, menguluum putting nya dengan gerakan memutar, membuat Maura semakin bergerak tak terkendali karena sensasi geli yang di timbulkan lidah suaminya.
"Aaahhhh Daddy.." Desaah Maura, membuat nafssu Daniash semakin terbakar. Tubuhnya terasa panas, junior nya sudah berdiri tegak seperti tongkat.
"Buka, sayang." Maura menurut dan turun dari pangkuan sang suami, dia melucuti pakaian nya hingga polos. Begitu pun dengan Daniash, hingga keduanya benar-benar telanjaang saat ini.
Maura kembali duduk di pangkuan suaminya, dia menggesek-gesekan inti nya ke junior Daniash, membuat nya semakin basah.
"Sekarang Bby." Pinta Daniash, lagi-lagi Maura menurut dan memasukan benda besar nan panjang itu ke dalam liang nya yang sudah kebanjiran.
"Aaahhhh.." Desaah nya setelah semua nya berhasil masuk.
"Bergerak sayang." Dengan nakal, Daniash menepuk pantaat istrinya agar bergerak. Maura mulai bergerak naik turun, otomatis saja batang itu keluar masuk di lubang nya karena gerakan itu.
"Aasshhh Bby, nikmat sekali.." Racau Daniash sambil terus menepuk pantaat sang istri, sesekali meremaas nya dengan gemas.
"Daddy, sakit dong jangan di pukul."
"Semakin lama, kamu semakin seksii sayang. Kenyal dan empuk, Daddy suka." Puji Daniash, membuat Maura tersanjung. Dia semakin bersemangat untuk bergerak naik turun di atas tubuh suaminya.
"Aaahhh Daddy, aku sampai.."
"Keluarkan saja." Daniash pun bergerak dari bawah, menghentakan pinggul nya hingga junior nya tenggelam masuk sepenuhnya hingga mentok.
"Aaahhhh…" Maura mendesaah panjang saat berhasil mendapatkan klimaaks pertama nya. Tapi suaminya masih belum apa-apa, senjata nya masih aktif di dalam sana.
__ADS_1
"Ganti gaya ya Dad? Aku capek."
"Oke, nunggiing sayang." Pinta Daniash, Maura menurut dan membelakangi suami nya. Dengan perlahan, pria itu kembali menekan senjata nya memasuki lubang hangat sang istri dari belakang.
"Dad, pelan-pelan.." pinta Maura, tapi Daniash sudah terlanjur bernafssu. Tau sendiri, jika laki-laki sudah sangat bernafssu akan sangat sulit di atur.
Benar, pria itu menghentak inti sang istri cukup brutal, hingga membuat tubuh Maura terguncang hebat, ranjang nya pun ikut berderit saking cepatnya gerakan Daniash.
"Aaasshhh, Daddy.."
"Sebentar lagi sayang." Jawab Daniash, dia terus bergerak memacu tubuhnya di belakang sang istri, hingga beberapa menit kemudian pria itu mengeraang nikmat saat dia juga berhasil meraih pelepasan nya.
"Aaargghh.. Nikmat sekali, Bby."
"Lemes Dad, lihat nih lutut aku bergetar gini gara-gara ulah Daddy." Ketus Maura.
"Maafin Daddy ya sayang, habisnya enak banget."
"Heemm, sudah biasa. Daddy egois kalau sudah bernafssu." Jawab Maura ketus, membuat Daniash cengengesan. Dia tidak tersinggung sama sekali, toh yang di katakan istrinya memang benar. Dia egois kalau sudah bernafssu!
"Yuk mandi?"
"Males ahh, mandi malam-malam gini takut masuk angin. Aku capek, mau tidur aja."
"Yaudah, sini Daddy lap punya kamu." Maura menurut dan membiarkan suaminya membersihkan miliknya dengan tissu basah yang selalu tersedia di kamar dengan perlahan.
"Sudah, kamu tidur duluan ya. Daddy mau ke kamar mandi dulu."
"Ngapain?" Tanya Maura.
"Pipis."
"Cihh, barusan kan habis pipis."
"Beda dong sayang, yang barusan itu pipis enak, yang sekarang pipis buang hajat." Jawab Daniash sambil tersenyum.
"Yaudah, sana. Jangan lama, aku mau bobo sambil di peluk."
"Siap ibu bos." Jawab Daniash, lalu berjalan ke kamar mandi untuk menuntaskan hajat nya. Setelah selesai, dia langsung keluar dan berbaring sambil memeluk istrinya.
"Dad, perut aku makin lama makin berat deh."
"Karena mereka tumbuh semakin besar, sayang. Kamu capek ya?"
"Capek sih, berat juga." Jawab Maura lirih.
"Maafin Daddy ya, Bby?"
"Maaf untuk apa?"
"Sudah bikin kamu kelelahan gini, kalau aja Daddy ingat untuk pakai kontrasepsi, mungkin kamu gak bakal hamil secepat ini."
"Eehh gapapa Daddy, aku bahagia dengan kehadiran mereka di rahim aku. Jangan ada yang di sesali lagi, mereka itu rezeki untuk kita." Ucap Maura sambil tersenyum, dia meraba rahang tegas pria itu dengan lembut lalu mengecup bibir tebal pria yang menjadi suami nya, pria yang sangat dia cintai setelah ayahnya.
"Terima kasih, sudah mau mengandung anak ku, sayang."
"Anak kita, mereka bukan hanya anak mu tapi anak ku juga. Kita membuat nya bersama-sama kalau Daddy lupa."
"Haha, baiklah sayang. Jadi, sebaiknya kita tidur sebelum junior Daddy kembali bangun."
"Oke Daddy, selamat malam dan selamat tidur."
"Selamat malam juga untukmu sayang, have a nice dream my wife. I love you so much, babe."
"Love you more hubby." Jawab Maura, keduanya pun mulai memejamkan mata dan tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.
......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1