Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 115 - Baby Attar


__ADS_3

Daniash kembali ke ruangan dengan membawa makanan, tentu nya setelah tadi dia menghubungi Aryo terlebih dulu untuk menanyakan keberadaan ruangan baru nya.


"Yuk makan dulu.." ajak Maura, dia mendekat dan hendak menyuapi sahabat nya dengan sup buntut yang dia beli dari restoran.


"Makasih banget, Ra."


"Sama-sama, sekarang kamu tuh busui juga. Jadi gak boleh telat makan ya, nanti asi kamu keluar nya gak lancar." Nasehat Maura pada Nayna. 


"Iya ibu Maura." 


"Haha, kok geli ya." 


"Sama, lidah aku juga jadi gatel nih." Cetus Nayna sambil terkekeh, begitu pula Maura. Kedua nya pun tertawa bersama, di sela makan mereka terus mengobrol hingga tak terasa dua piring nasi dengan sup buntut itu habis tak bersisa, ya ada sisa sih, piring nya. 


"Dapet bonus gak beb?" Tanya Maura sambil tersenyum kecil.


"Bonus apaan?"


"Jahitan di itu nya." Jawab Maura pelan.


"Dapet, luar dalem lagi." 


"Wihh, sama nih. Aku juga dapet nya luar dalem, soalnya robekan nya gede juga." 


"Hmmm, ngilu gak sih?"


"Bukan ngilu lagi anjir, sakit beneran. Apalagi pas di jahit nya." 


"Tadi aku jerat jerit pas di jahit, Ra." 


"Sama, aku juga teriak-teriak Nay." Jawab Maura sambil tertawa.


"Sembuh nya kapan?"


"Semingguan, kayak nya ada deh." 


"Lama juga ya?"


"Hmmm, biar kering dulu. Aku juga di rawat semingguan waktu itu, nunggu kering dulu jahitan nya." Jelas Maura.


"Tapi aku gak betah disini, Ra."


"Siapa sih yang betah lama-lama di rumah sakit? Aku juga pengen nya tuh setelah beres lahiran langsung pulang, tau nya kata Daddy tunggu sembuh aja dulu." 


"Iya juga sih, kalo di rumah sakit kan seenggaknya kalau ada pendarahan kan bisa cepet di tangani. Di rumah sakit kan banyak dokter." 


"Nah itu tau." Jawab Maura lagi.


"Nih makan." Maura mengulurkan potongan buah apel yang sudah dia kupas pada sahabat nya.

__ADS_1


"Makasih Ra.."


"Sama-sama, sering banget bilang makasih." 


"Ya biar gak di sangka gak tau diri." 


Nayna dan Maura pun terus mengobrol santai, sedangkan Aryo dan Daniash sedang makan.


"Laper Lu? Lahap banget makan nya." 


"Iya laper pak bos, dari pagi belum makan." 


"Makan yang banyak, buat bekel begadang nanti. Atau enggak, mending nyewa nanny aja, biar gue yang bayar perbulan nya." Ucap Daniash membuat Aryo yang sedang minum tersedak.


Uhukk.. uhukk.. 


Jujur saja, dia terkejut mendengar ucapan atasan nya ini. Ya memang sih bos nya itu royal nya gak ketulungan, tapi dia malu kalau sampai membayar nanny saja harus bos nya juga yang bayar. 


"Kenapa Ar? Pelan-pelan minum nya." 


"Maaf, bos." 


"Nyewa nanny aja, kasian Nayna nya. Kasian juga elu nya, pagi nya harus kerja malem nya begadang bantuin jaga bayi." 


"Saya memang sudah memikirkan tentang menyewa nanny, Tuan. Tapi tak apa, biar saya membayar nya sendiri."


"Tak masalah, biar aku saja yang membayar nya. Kau sudah aku anggap sebagai saudara, Ar. Anggap saja aku ini kakak mu." Lirih Daniash membuat pria itu mendongak. 


Tapi Aryo tak mau tinggal sendirian di rumah besar itu, makanya dia sering pulang ke apartemen yang di tinggali oleh Nayna. Kalau dia sedang rindu orang tua nya saja dia akan berkunjung ke rumah itu, tapi sekarang dia tinggal disana bersama sang istri dengan menyewa tiga orang maid untuk membersihkan rumah dan meringankan pekerjaan istri nya.


"By the way, bagaimana progres rumah ku, lancar?" Tanya Daniash. 


"Lancar, Tuan. Semua nya sudah hampir 50 persen, sebentar lagi akan selesai." Jawab Aryo, sebagai kejutan untuk istrinya Daniash membeli tanah yang terbengkalai di komplek yang sama dengan Aryo. 


Bahkan rumah nya nanti akan berhadapan, hanya terhalang jalan raya saja. Karena dia tau, kalau istrinya mungkin akan kesepian jika tinggal tanpa orang tua nya, apalagi jika dirinya sedang bekerja. 


Jika rumah nya dan Nayna berdekatan, jadi kedua nya bisa berkumpul selagi dirinya dan Aryo bekerja di perusahaan. Ide yang sangat bagus dan cemerlang bukan? Tapi, Maura belum mengetahui hal ini. Nama nya juga kejutan, kalau di kasih tau ya gak jadi kejutan dong.


"Syukurlah kalau begitu, mungkin kepindahan ku ke rumah itu bisa di percepat nanti." 


"Tentu, Tuan." Jawab Aryo, pria itu tersenyum manis. 


"Omong-omong, mana putra mu Ar? Aku ingin melihat nya." 


"Dia di ruang bayi, Tuan. Nanti kesini setelah di mandikan lagi." 


"Ohh begitu ya, kalau begitu aku takkan pulang sebelum melihat hasil bibit mu." Jawab Daniash sambil terkekeh. 


"Mungkin tak setampan baby Davi, Tuan." 

__ADS_1


"Jangan merendah, Ar." 


"Hehe.." Aryo hanya cengengesan sebagai jawaban. 


"Tuan.."


"Iya, kenapa?"


"Terimakasih untuk semua nya."


"Sama-sama, gak usah gitu kali Ar. Anggap aja aku ini kakak mu, santai aja. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan berbagi dengan ku, Ar."


"Tentu saja tuan." Jawab Aryo, mata nya menyipit saat dia tersenyum.


Tak lama kemudian, pintu terbuka menampilkan seorang perawat yang mendorong troly bayi. 


"Permisi, Tuan dan nyonya." Sapa nya ramah, perawat itu kembali mendorong troly ke dekat Nayna.


"Ini baby Attar sudah saya mandikan, juga di beri minum susu." 


"Terimakasih, sus."


"Sudah tugas saya, kalau begitu saya permisi Tuan. Selamat sore." 


Daniash langsung bangkit dari duduk nya, dia penasaran dengan wajah baby Attar. Setelah melihat nya, Maura menutup mulut nya saat melihat wajah baby Attar yang sangat mirip dengan Aryo.


"Wah, ini mah fotokopian nya om Aryo." Cetus Maura membuat Nayna terkekeh.


"Sudah aku duga kamu bakal ngomong kek gitu, aku terlalu mencintai suamiku." 


"Hmm, aku juga. Lihat saja baby Davi, dia juga fotokopian Daddy nya." 


"Tunggu, maksud nya apa ya? Wajah yang mirip dengan mencintai suami?" Tanya Aryo, dia tak paham kemana arah pembicaraan para istri ini.


"Gini, kata orang tua dulu kalau bayi nya mirip ayah nya, berarti si istri nya sangat mencintai suami nya. Begitu pun sebaliknya." Jelas Maura membuat pria itu mengangguk-anggukan kepala nya.


"Tapi dia tidak mirip Nayna, bukan berarti aku tidak mencintai nya." 


"Hmm, itu sih aku gak tau." Jawab Maura sambil tertawa. 


"Ganteng banget jagoan mu, Ar." 


"Gak kalah ganteng dari baby Davi kan?" 


"Hmm ya, anak ku lebih ganteng seperti ayah nya." Bangga Daniash membuat Maura mencebik. 


"Baby Anna juga cantik seperti aku."


"Iya dong, seperti istriku ini." Jawab Daniash sambil merangkul mesra istrinya. 

__ADS_1


. ...


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2