
Daniash beberapa kali menatap jam yang melingkar di tangan nya, hari terasa sangat lambat saat dia sedang bekerja. Tapi sebaliknya, akan terasa cepat berlalu jika dia menikmati nya bersama istri tercinta nya.
"Haisshh, kenapa lama sekali? Aku ingin pulang dan bercumbu dengan istriku." Gumam Daniash sambil menelungkupkan kepala nya di atas meja kebesaran nya.
Posisi CEO yang dia sandang saat ini bukanlah jabatan yang mudah, dia harus menjadi contoh bagi para karyawan nya. Itulah alasan nya, meskipun bisa saja dia pulang lebih awal untuk bisa bersama istri nya, tapi Daniash tak melakukan hal itu.
"Sebel, si Aryo pasti lagi santai sekarang. Sial, kenapa aku harus memberi nya cuti?" Gumam Daniash lagi. Padahal sekretaris nya itu tak bersalah apapun, tapi kenapa nama nya harus di seret? Tapi, bos selalu benar. Kalau pun pria itu ada disini, pasti dia juga hanya akan diam atau mengalah. Demi kesejahteraan bonus nya, wkwk.
Daniash mengambil ponsel nya, niat hati ingin menghubungi istrinya, tapi dia malah salfok dengan story asisten nya, siapa lagi kalau bukan Aryo.
Disana, Aryo memasang beberapa foto kebersamaan nya dengan sang istri. Mulai dari belanja bersama di supermarket, di spa, di pantai dan beberapa tempat lagi yang membuat Daniash seperti kebakaran jenggot.
Bukan masalah cemburu karena melihat kemesraan yang di pamerkan sekretaris nya, tapi dia cemburu karena pria itu bisa bersantai sedangkan dirinya harus bekerja. Terasa tak adil bagi Daniash.
"Awas ya kau, Ar!"
Hingga beberapa menit kemudian, Daniash masih merasakan kedongkolan di hatinya akibat melihat story asisten nya.
"Apa kabar wanita itu ya? Apa dia masih hidup?" Tanya Daniash entah pada siapa, karena di ruangan ini hanya ada dirinya sendiri.
Panjang umur, salah satu dari ke empat orang suruhan nya kemarin menghubungi nya. Seolah tau kalau dia sedang mempertanyakan nasib wanita itu. Daniash menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga nya.
"Ya, hallo.." jawab Daniash dengan suara datar nan dingin nya.
'Tuan, Nona Mika sakit.'
"Sakit apa?" Tanya pria itu lagi, masih dengan nada suara yang sama.
'Sepertinya dia kelelahan, karena kemarin malam kami menggilir nya hingga larut malam.' Jawab nya, membuat Daniash terkekeh.
"Baru seperti itu saja sudah sakit? Biarkan saja, jangan panggil dokter sebelum dia benar-benar meminta maaf pada istriku!" Tegas Daniash.
'Baik, Tuan.'
"Kalau sudah tak ada yang ingin kau bicarakan lagi, sudahi saja aku sedang bekerja!"
'Baik tuan, selamat bekerja.'
"Heh, jangan meledek ku!" Sewot Daniash, lalu mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Dia kesal, benar-benar kesal. Dia tak menikmati pekerjaan nya, dia ingin pulang dan bermanja pada istrinya.
"Apa-apaan pria itu, selamat bekerja tuan! Sialan, ingin rasanya aku timpuk pakai laptop!" Gerutu Daniash, padahal hanya ucapan semacam itu tapi mampu membuat seorang Daniash marah-marah.
Sedangkan di apartemen, pria itu mengernyitkan kening nya begitu melihat ponsel nya mati, begitu pun panggilan nya yang sudah selesai secara sepihak.
"Bos kok sewot bener, apa dia lagi menstruasi ya?"
__ADS_1
"Heh, inget bos itu laki. Mana ada lagi menstruasi!"
"Tapi iya juga, tapi bos sewot banget deh."
"Emang nya Lo bilangin apa sama si bos?"
"Baik tuan, selamat bekerja. Gitu doang, tapi si bos malah marah, salah gue apa ya?"
"Iya sih, kagak salah menurut gue. Fositif thingking aja, mungkin si bos lagi bad mood di kantor." Pria itu mengangguk mengerti.
"Jadi, gimana kata si bos?"
"Biarin aja katanya, jangan panggilin dokter. Sampai dia mau minta maaf sama Nyonya secara langsung." Jawab nya sesuai apa yang di katakan Daniash di telepon tadi.
"Ohh, oke."
"Ngopi bro, ngantuk gue gara-gara semalem begadang."
"Yoii, gue juga ngantuk. Kuylah ngopi." Kedua nya pun pergi untuk ngopi, sedangkan dua orang lagi berjaga di kamar untuk mengantisipasi kalau tahanan kabur.
Di rumah, Maura sedang melakukan yoga khusus ibu hamil. Selain rutin melakukan senam ibu hamil bersama instruktur yang di sewa oleh Daniash, Maura juga aktif berolahraga lain nya. Untuk menjaga tubuhnya juga kesehatan nya, jangan karena hamil dia abai dengan penampilan seperti yang di katakan perempuan menyebalkan di pesta kemarin.
"Sayang, sudah dulu olahraga nya. Ini makan dulu." Ucap Riana. Ya, Maura sudah pulang ke rumah mertua nya setelah satu minggu lebih berada di rumah orang tua nya.
"Salad buah, kesukaan kamu."
"Extra keju gak, Ma?"
"Tentu, sesuai kesukaan kamu sayang." Jawab Amira.
"Yeee, makasih Mama."
"Yaudah, ayo makan dulu." Ajak Riana sambil menggenggam tangan sang menantu ke gazebo yang berada di dekat ruang olahraga.
Kedua wanita berbeda generasi itu duduk dengan kaki menjuntai ke bawah. Maura memakan salad buah buatan ibu mertua nya dengan lahap.
"Enak, sayang?"
"Banget, sejak hamil Maura jadi suka banget sama salad buah, Ma."
"Baguslah, buah itu bagus untuk kesehatan dan pertumbuhan janin mu, sayang."
"Hmm, ya." Lirih Maura, membuat Riana menoleh dan menatap wajah sendu menantu nya.
"Kenapa? Apa ada masalah, sayang?" Tanya Riana lembut, sambil mengusap bahu perempuan hamil itu.
__ADS_1
"Aku gendut sekarang, Ma. Apa Daddy akan tetap mencintaiku?" Tanya Maura lirih membuat Riana tersenyum kecil.
"Tentu, putra mama bukanlah pria brengsek yang suka menyakiti perempuan. Dia lebih memilih di sakiti, dari pada menyakiti."
"Apa aku bisa percaya padanya, Ma? Jujur, Maura takut kalau Daddy berpaling. Lihatlah aku, tubuh ku gendut dengan strechmark dimana-mana, aku tak percaya diri saat bersama Daddy, Ma. Aku sudah tak menarik lagi, Ma." Ucap Maura sambil menunduk, tangan nya mengaduk salad di dalam mangkuk tanpa berniat memakan nya.
"Kamu hanya perlu percaya sama suami mu, sayang."
"Tapi.."
"Tapi apa, sayang?"
"Ada yang bilang aku tak pantas bersanding dengan Daddy, karena aku tak bisa menjaga penampilan ku, Ma."
"Hah, jadi ini alasan kamu ngotot pengen olahraga?" Tanya Riana, ternyata inilah alasan Maura ngotot ingin berolahraga.
"Hmm, aku tak percaya diri karena ucapan wanita itu, Ma."
"Lalu seperti apa reaksi suami mu, sayang? Apa dia marah, atau hanya diam."
"Daddy marah, Ma. Aku meminta nya untuk menendang wanita itu dari pesta dan Daddy benar-benar melakukan nya, bahkan menyeret nya seperti kambing." Jelas Maura.
"Bukanlah hal itu sudah membuktikan rasa cinta suami mu untukmu, sayang? Dia tak rela saat orang lain menyakiti mu dengan kata-kata nya."
"Tetap saja, Ma. Rasa takut itu tetap ada."
"Percayalah oada suami mu, sayang. Jangan dengarkan apapun kata orang lain, fokuslah pada kehamilan mu sekarang." Nasehat Riana dengan lembut, selalu dengan senyum yang terkembang ramah di bibirnya.
"Baiklah, Ma."
"Ayo masuk, sudah sore. Sebentar lagi suami mu pulang, nanti dia marah kalau melihat mu masih di luar jam segini."
"Iya Ma, ayo." Riana pun menggandeng lengan sang menantu, karena dia tau kalau menantu nya ini cukup ceroboh.
"Baby.." Teriak Daniash, pria itu nampak kuyu setelah seharian bekerja, tapi begitu melihat istrinya wajahnya langsung berbinar cerah.
"Ya Daddy.."
"Kangen…" Daniash langsung menghambur memeluk tubuh berisi istrinya dengan erat, beberapa kali menciumi wajah Maura tak peduli ada mata lain yang melihat tingkah nya.
.......
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1