
Setelah selesai berpakaian, Daniash mengajak gadisnya untuk keluar kamar, karena sudah waktunya makan malam.
"Daddy.."
"Kenapa Bby? Ayo, kita makan malam. Jangan telat makan, kasian dedek bayi nya." Ucap Daniash sambil mengusap perut buncit Maura.
Maura menggeleng, dia takut untuk bertemu dengan calon papa mertua nya. Dia mengkhawatirkan respon calon mertua nya itu.
"Bby, kenapa?"
"T-akut Dad, kalo ternyata papa mertua galak gimana?" Tanya Maura, membuat Daniash terkekeh geli.
"Kenapa harus takut sih, Bby? Kan ada Daddy."
"Eemmm oke deh." Akhirnya Maura meraih tangan pria nya, lalu dengan perlahan menuruni tangga dengan tangan yang saling bertautan.
"Wahh, calon suami istri itu terlihat sangat serasi ya." Ucap Riana.
"Putra kita terlalu tua, Ma." Celetuk Danish dengan wajah datar nya.
"Papa ini, cinta kan tak memandang usia."
"Heemm, ya seperti itu."
"Selamat malam, Ma, Pa." Sapa Daniash ramah, berbeda dengan Maura yang terlihat sangat canggung saat bertemu dengan Danish.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Riana lembut.
"Dia takut ketemu sama papa, Ma." Jawab Daniash, membuat Maura refleks menepuk lengan pria tampan itu.
"Hanya dia yang berani memukul putra kita dan putra kita membiarkan nya, iya kan Ma?" Ucap Danish membuat Maura menunduk.
"Papa, Maura nya takut itu."
"Gak usah takut, papa gak gigit kok." Ucap Danish membuat Maura mengangguk kaku, namun kecanggungan nya masih terasa.
"Ayo kita makan, mama ada masakin sesuatu lho buat kamu."
"Ohh ya, apa itu, Ma?" Tanya Maura sambil menggelayut manja di lengan mama mertua nya.
"Kata Daniash, kamu suka makanan yang berkuah kan? Tadi mama masak sup buntut, sekarang mama masakin sup daging. Kamu suka juga kan, sayang?" Tanya Riana, gadis itu mengangguk antusias.
"Suka sekali Ma, apalagi sama sambel."
"Tapi, kata calon suami mu, kamu gak boleh makan pedes."
"Dikit aja boleh kan, Ma?" Bujuk Maura, dia ingin makan sup daging pedas, pasti akan sangat nikmat sekali.
"Izin dulu sama calon suami mu ya? Mama gak tanggung jawab kalau dia marah nanti."
"Aaahhh Mama.." rengek Maura hingga membuat wanita baya itu terkekeh.
"Mama gak mau kena amuk, sayang. Nurut ya?"
"Heemm iya deh, Ma." Pasrah Maura akhirnya.
Sedangkan di ruang tamu, putra dan ayah itu saling bertatapan.
"Kenapa menatap ku seperti itu sih, Pa?" Tanya Daniash pada sang papa.
"Kau siap?"
__ADS_1
"Siap untuk apa?" Tanya Daniash, tatapan mata nya memicing menatap sang ayah.
"Menikah kedua kali nya." Jawab Danish.
"Menikah? Dengan siapa? Jangan-jangan papa menjodohkan aku lagi? Tidak, kali ini aku tidak akan pernah mau menuruti keinginan papa. Aku hanya akan menikah dengan Maura."
"Cihh, tentu saja kau menikah dengan gadis mu itu, kau kira papa mu ini gila? Anak nya hamilin anak gadis orang tapi malah mau di jodohin sama wanita lain? Papa tak segila itu, boy." Jawab Danish membuat putra nya lega seketika.
"Aahh akhirnya aku lega, Pa."
"Jadi, kau siap menemui orang tua gadismu?"
"Siap Pa, kapanpun aku siap." Jawab Daniash yakin, tanpa keraguan sedikit pun dari sorot matanya.
"Baguslah, besok atau lusa datanglah ke rumah gadismu."
"Siap Pa." Jawab Daniash sambil meletakan tangan nya di kening, seperti orang menghormat bendera.
"Kau terlihat sangat bersemangat, boy."
"Tentu saja, setelah ini aku dan Maura akan bersatu, selamanya." Jawab Daniash membuat Danish terkekeh. Putra nya sudah benar-benar bucin pada gadis kecilnya.
"Tapi Boy, apa kau merasa tak terlalu tua untuk Maura? Dia terlihat masih muda, dan kau?"
"Tidak, aku tidak terlalu tua untuk Maura. Aku hanya sedikit dewasa saja." Jawab Daniash acuh.
"Haha, ya sudah terserah kau saja. Ayo makan, temani gadis mu makan."
Daniash mengangguk dan keduanya pergi ke dapur setelah selesai mengobrol santai ala ayah dan anak.
"Daddy.."
"Boleh pake sambel gak? Dikit aja."
"Boleh, sayang." Daniash mengambil sendok dan menuang sedikit sambel di piring gadisnya.
"Daddy.."
"Kenapa? Katanya dikit, itu sudah."
"Huumm, mana pedes."
"Lagian kamu gak usah makan pedes banyak-banyak, gak kasian sama dedek bayi? Nanti mereka kepanasan, Bby."
"Ohh begitu ya, Dad?"
"Iya, Bby."
"Yaudah deh, ini udah cukup kok. Makasih Daddy."
"Sama-sama sayang." Daniash mengacak rambut gadisnya karena gemas.
Danish yang melihat adegan itu memutar mata nya jengah, dia terlihat sedikit muak melihat keuwuan di depan nya.
"Kalau mau ngebucin, jangan di meja makan." Cetus Danish.
"Dihh, iri aja udah tua juga."
"Kamu juga tua, gak inget umur." Ketus Danish tak mau kalah, sedangkan Riana hanya mendelik sebal, pertengkaran di antara ayah dan anak ini sudah biasa terjadi.
"Daddy, gak sopan begitu."
__ADS_1
"Biarin, toh dia emang tua. Tuh udah ubanan gitu."
"Sudah-sudah, kalian memang sama-sama tua. Di meja makan lho ini, bukan nya makan malah berantem, heran deh." Seperti biasa juga, Riana lah yang menjadi penengah di antara perdebatan itu.
"Siap buketu." Jawab keduanya kompak, lalu kembali fokus ke piring masing-masing. Namun, mereka masih saling melirik sinis.
'Astaga, dua pria ini membuat aku darah tinggi.' Batin Riana, sedangkan Maura hanya mesem-mesem melihat perdebatan ayah dan anak itu. Lucu, tapi ngeselin juga.
Setelah selesai dengan makan malam, Maura lebih dulu pergi ke kamar untuk beristirahat, Daniash mengizinkan karena dia masih harus bicara empat mata dengan sang ayah.
"Hati-hati naik tangga nya, Bby." Teriak Daniash saat gadisnya mulai menaiki anak tangga.
"Iya Daddy."
"Alay.." celetuk Danish, kembali memancing pertengkaran.
"Kayak gak pernah muda aja, kasian deh Mama. Pasti pas baru-baru nikah, papa nya cuek banget, datar kayak tembok."
"Heh, kata siapa? Papa gak sedatar itu, boy."
"Papa mu datar dari dulu, boy. Bahkan di awal-awal, dia seperti kulkas 12 pintu." Ucap Riana yang ikut menimbrung percakapan.
"Tuh kan, haha sudah kuduga papa memang sedatar tembok." Daniash tergelak hingga perut nya terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Mama, seneng banget deh bongkar aib. Udah tau anaknya kayak ember."
"Ya itu kan bibit kamu, jadi jangan salahin anak nya."
"Mama dukung anak nya, iya kan Ma?"
"Iya dong, boy." Jawab Riana membuat Danish mendelik sebal.
Sedangkan di kamar, Maura membuka jendela yang menghubungkan kamar dengan balkon. Dia ingin menikmati udara malam hari dengan semilir angin yang terasa sangat menyejukkan tubuhnya, membuat Maura mengusap-usap lengan nya sendiri.
Namun, pemandangan langit dan bulan sangat indah. Cuaca nya sangat cerah, tak ada awan mendung sedikitpun. Meski udara terasa dingin menusuk kulit, tak membuat Maura segera masuk ke dalam kamar.
Gadis itu menatap langit dengan tatapan sendu, meskipun dia selalu bisa menyembunyikan rasa sakit nya dalam senyuman, namun disaat sendiri, dia merasakan sakit yang teramat di hatinya.
Dia sadar benar kesalahan nya, tapi apakah harus dengan cara mengusir nya dari rumah dengan cara yang paling menyakiti hatinya.
"Kenapa disini sayang? Udara malam tak baik untukmu." Daniash melingkarkan kedua tangan nya di pinggang gadisnya.
"Eehhh, Daddy.."
"Ayoo masuk, sayang."
"Aku ingin melihat bulan, bersama Daddy." Jawab Maura.
"Hmmm, baiklah sayang. Sambil berdiri seperti ini, sayang?"
"Sambil duduk yuk, Dad. Pegel, hehe."
"Mau gimana Bby?" Tanya Daniash menggoda.
"Duduk di pangkuan Daddy, hehe."
"Ayo sayangku." Daniash pun memeluk gadis itu dengan erat di atas pangkuan nya, keduanya menikmati cahaya bulan dan semilir angin yang menambah suasana menjadi lebih romantis.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1