Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 64 - Dia yang Ngidam, Aku yang Susah!


__ADS_3

Di apartemen, sedang terjadi adegan panas, dimana seorang pria tengah memacu tubuhnya di atas tubuh polos sang wanita. 


Keringat nya bercucuran, namun tak membuat gerakan nya terhenti barang sedetik pun. Nafssu yang menggebu membuat keduanya menikmati penyatuan itu.


"Aaahhh.. aahhh.. Dad, lebih cepat aku ingin keluar." Ucap Nayna, membuat Aryo semakin mempercepat gerakan tubuhnya. 


"Aaaahhh Daddyhhh.." Gadis itu menjerit nikmat, tubuhnya bergetar setelah berhasil mendapatkan klimaaks yang entah ke berapa kali nya, sejak permainan nikmat itu di mulai hampir satu jam lalu.


"Nikmat, sayang? Masih ingin? Daddy masih belum apa-apa, tapi kamu sudah berapa kali keluar, hmm?" Tanya Aryo dengan tatapan menggoda, tangan nakal nya meremass buah kenyal di dada gadisnya dengan gemas, memainkan putting nya membuat Nayna kembali bergairaah.


"Nikmat sekali, Dad. Tentu, lanjutkan saja aku masih sanggup untuk beberapa menit ke depan." Jawab nya, membuat Aryo tersenyum puas.


Aryo menarik tangan gadisnya, lalu melepas penyatuan di bawah sana, pria itu membuat gadisnya menunggiing, lalu kembali melesakkan senjata nya ke dalam inti sang gadis, membuat lubang kecil itu sesak saking penuhnya.


"Eeemmmm Daddy…" Nayna memekik tertahan saat senjata milik Aryo terasa menusuk miliknya lebih dalam.


"Kenapa sayang? Enak?"


"Pelan-pelan, junior Daddy terlalu dalam masuk." 


"Hemm, kalau Daddy tak lupa." Jawab Aryo, dia sering hilang kendali saat sudah di ujung nya.


Dengan perlahan, Aryo mulai menggerakan pinggang nya maju mundur, namun semakin lama semakin cepat hingga terdengar bunyi ciplaakan akibat pertemuan kulit mereka yang bersentuhan.


"Aaahhh Dad.." Lirih Nayna, baru saja beberapa menit di posisi ini, dia sudah ingin keluar lagi.


Aryo paham, dia mempercepat gerakan nya hingga membuat Nayna menjerit nikmat, tubuhnya mengejang dengan inti yang berkedut manja, memijat junior Aryo yang masih menancap di dalam sana.


"Keluar lagi hmm?"


"Dad, aku capek. Bisa berhenti sebentar saja?"


"Daddy mau keluar, Bby. Tahan sebentar lagi, oke?" 


"Sebentar Daddy sama sebentar aku tuh beda jauh, Dad." Lirih Nayna.


"Ini beneran, sayang. Udah di ujung nih, ya?"


"Ya udah, cepetan aku pengen tidur." Pinta Nayna. Aryo kembali bergerak dengan ritme sedang, tak terlalu cepat namun mampu membuat Nayna mendesaah nikmat.


"Uhhh Dad.." 


"Sebentar lagi, Bby." Aryo semakin mempercepat gerakan nya, dia sudah hampir meraih klimaaks nya juga.


"Aaarrgghhh.." 


"Aaahhhh Daddy, jangan terlalu dalam!" Nayna menjerit karena Aryo menekan junior nya terlalu dalam, membuat nya terasa sakit namun tetap nikmat.


Aryo berguling ke samping, sambil memeluk Nayna dari belakang, dengan bagian bawah masih menyatu. Tangan nya terus bergerak aktif meremaas dan memilin putting susu gadis nya dengan gemas.

__ADS_1


"Terimakasih Bby.." 


"Hemm, kita sama-sama menikmati nya, Dad. Tak perlu berterimakasih, aku menyukai permainan Daddy." Jawab Nayna lirih, dia sudah tak malu lagi pada Daddy nya.


"Dad.." panggil Nayna.


"Iya baby, kenapa sayang?"


"Apa Daddy meminum obat?" Tanya Nayna.


"Obat apa, siapa yang sakit memang nya?"


"Eemmm, maksud aku tuh obat kuat Dad." 


"Haha, ya enggaklah Bby. Hanya pria lemah yang meminum obat seperti itu untuk memuaskan wanita nya, Daddy bisa memuaskan mu tanpa obat apapun." Jawab Aryo membanggakan dirinya.


"Hmmm baguslah, menurut Daddy apa aku harus minum pil pencegah kehamilan? Atau biarkan saja?" Tanya Nayna meminta pendapat.


"Terserah kamu saja, memang nya kenapa? Kamu tak mau mengandung anak Daddy, Bby?" 


"Eehh bukan begitu, Dad. Aku hanya bertanya pendapat Daddy, kalau Daddy melarang ya aku akan berhenti meminum nya." 


"Hah, jadi selama ini kamu minum pil itu Bby?" Tanya Aryo, dia bangkit dari tidurnya dan menatap wajah Gadisnya dengan sorot kemarahan yang kentara dari tatapan mata nya.


"Maafin aku, Dad. Tapi aku punya alasan tersendiri kenapa meminum pil itu, maaf."


"Aku hanya takut Daddy tak menerima kehadiran nya kalau semisal aku hamil, kan Daddy gak mau pake kond*m atau kontrasepsi lain. Lagi pun, aku masih ingin melanjutkan kuliah ku, Dad." Jelas Nayna pelan, sungguh demi apapun dia takut melihat tatapan tajam dari Daddy nya.


"Hentikan dan buanglah pikiran pendek mu itu, aku takkan pernah menolak anak ku sendiri." 


"Eehhmm, jadi?"


"Buang obat itu dan jangan pernah meminum nya lagi, atau kamu Daddy hukum." 


"Baiklah kalau begitu, Dad."


"Good girl." Seketika kemarahan yang tadi sempat menggebu, menghilang sudah. Apalagi saat melihat gadisnya ketakutan.


"Peluk lagi dong, Dad." Pinta Nayna manja, membuat Aryo terkekeh lalu keduanya kembali berbaring dengan saling berpelukan. 


Aryo menjadikan satu tangan nya sebagai bantalan kepala sang gadis, Nayna bersandar manja di dada bidang Aryo sambil mengendus aroma maskulin yang bercampur dengan aroma keringat, sungguh membuat nya candu.


Keduanya menikmati akhir pekan dengan bermesraan seharian di kamar, seperti pasangan suami istri baru yang sedang berbulan madu. Nyatanya, permainan yang berakhir beberapa menit lalu, itu bukanlah permainan pertama, tapi sudah yang ketiga kalinya untuk hari ini.


Hingga kemesraan itu harus terganggu saat dering telepon nyaring dari nakas, Aryo meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan yang berasal dari atasan nya, siapa lagi kalau bukan Daniash.


'Hallo, Ar. Sibuk?' Tanya Daniash di seberang sana.


"Tidak tuan, ada apa?"

__ADS_1


'Kemarilah, ada hal yang harus kau kerjakan. Ini tentang persiapan pernikahan ku dengan Maura minggu depan.'


"Tapi Nayna akan sendirian di apartemen, Tuan." Ucap Aryo, dia mengkhawatirkan gadisnya kalau dia tinggal sendirian di apartemen.


'Bawa saja, hanya merubah tanggal yang tercetak di undangan, lalu beberapa pekerjaan kecil seperti menyebarkan undangan yang sudah lebih dulu siap.'


"Baik tuan, kalau begitu saya kesana sekarang."


'Ya, aku tunggu Ar. Kalau bisa, cepat ya. Sekalian, kesini bawa rujak dua bungkus.' 


"Baik tuan." Panggilan telepon pun selesai dengan Daniash yang mengakhiri nya lebih dulu.


"Beli rujak? Dimana ada tukang rujak jam segini? Aaiihhh tuan Daniash ada-ada aja dah, masa ngerujak jam segini sih." Gerutu Aryo. Pasalnya, ini sudah petang dan sebentar lagi malam, lalu Daniash meminta nya membawakan rujak? Astaga, seperti nya pria itu tergila-gila dengan kuliner bernama Rujak!


"Kenapa sih Dad? Marah-marah aja." Tanya Nayna yang haru saja keluar dari kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya dari lengketnya keringat.


"Loh, kamu kapan ke kamar mandi Bby? Daddy gak sadar lho kamu pergi." 


"Beberapa menit yang lalu, Dad. Siapa yang nelpon?" Tanya Nayna sambil duduk di meja rias, mengambil hairdryer dan mengeringkan rambutnya.


Aryo meraih bathrobe dan memakainya, lalu mengambil alih hairdryer dan membantu gadisnya mengeringkan rambut panjang nya.


"Tuan Daniash, dia meminta Daddy ke sana sekarang."


"Ngapain, Dad?" Tanya Nayna heran, karena ini sudah malam.


"Nyuruh ganti tanggal di cetakan undangan, terus nyebarin undangan nya dan satu lagi tugas yang paling berat."


"Apaan Dad?" Tanya gadis itu penasaran.


"Nyuruh beli rujak buah, dua bungkus. Jam segini, mana ada tukang rujak yang buka coba?" Keluh Aryo.


"Sabar-sabar ya, dia atasan kamu lho. Gak baik ngomel di belakang orang nya, kalo berani ngomel nya di depan nya aja langsung."


"Idih, gak berani Bby. Bisa-bisa aku langsung di pecat tanpa pesangon." Jawab Aryo.


"Yaudah, sana mandi." 


"Kamu juga ikut, pake pakaian hangat." 


"Okey dad." Jawab Nayna sambil tersenyum manis ke arah Daddy nya.


'Huffttt, dia yang ngidam, aku yang susah!' Aryo membatin, kalau saja Daniash bukan atasan nya, pasti dia takkan mau di suruh-suruh.


Sudah mah capek habis nyangkul sawah sepetak, malah di suruh keliling nyari rujak. Gak estetik bestie! Kalau kata lagu yang viral mah, rungkad.


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2