Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 109 - Penyakit Turunan


__ADS_3

Maura mendengus saat melihat suami nya, rasa kesal di hatinya masih mendominasi, membuat nya tak mau di dekati oleh Daniash.


Saat pria itu berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya, Maura malah pergi seolah tak ingin berdekatan dengan suami nya. Tentu saja, hal itu membuat semua orang keheranan. 


Pasalnya, siapa pun tahu kalau kedua sejoli itu biasa nya selalu duduk berdempet-dempetan, tak pernah jauh sedikit pun. Makanya saat melihat Maura malah pergi saat Daniash datang, itu membuat semua orang heran.


"Kakak ipar kenapa?" Tanya Dara.


"Marahan kali." Celetuk Riana sambil menyemil buah, selain Maura yang menyukai buah, Riana juga sangat suka dengan buah.


"Iya kak, kenapa?"


"Diamlah, pusing aku tuh." Jawab Daniash sambil mengacak-acak rambut nya dengan frustasi.


"Baru juga marahan gitu udah frustasi, keliatan banget bucin nya." Sindir Danish, membuat putra nya itu mendelik sebal.


"Makanya, gak usah kebanyakan gaya. Pake segala gak pake baju, buat apa? Giliran istri nya marah pusing sendiri." Celetuk Maura, perempuan cantik itu berjalan sambil membawa semangkuk cemilan favorit nya dengan acuh, tanpa melirik sedikitpun ke arah suami nya.


"Mom.." 


"Pantes aja kakak ipar marah, guna nya apa sih?"


"Mom.." Daniash bergegas menyusul istrinya yang terlihat sangat bete itu. Sedangkan orang-orang yang sedang berkumpul itu, kompak menggelengkan kepala mereka melihat tingkah pasangan suami istri penuh drama itu.


"Kelebihan bucin itu, makanya baru marahan gitu udah keliatan frustasi nya." 


"Tapi iya sih, sejak menikah mereka emang gak pernah marahan kan?" Ucap Riana.


"Ya begitulah, mereka biasa nya mesra-mesraan terus." 


"Tapi rasa nya beda ya pas liat mereka marahan gitu." 


"Biarin aja dulu, pasti Daniash bisa selesaikan masalah nya sendiri tanpa harus dengan kekerasan." Jawab Danish.


"Hmmm, kakak bukan tipe laki-laki yang suka main tangan sama perempuan sih. Jadi paling mereka bicara aja dari hati ke hati." Ucap Dara mengeluarkan pendapat nya. 


Kakak nya memang datar dan kaku, tapi nyata nya dia sangat menyayangi dirinya sebagai adik. Meski pun di luar sering kali terlihat tak akur, tapi itulah caranya untuk bisa tetap dekat dengan adik perempuan nya. 


"Semoga saja mereka cepat baikan." 


"Kalau mereka baikan, mata papah tuh sering kepanasan liat kemesraan mereka berdua." 

__ADS_1


"Itu tanda nya papah iri, jangan salahin putra mu sama istrinya, tapi hati kamu. Jadi orang kok iri dengki." Jawab Riana membuat suaminya cengengesan. Pria paruh baya itu menduselkan wajah nya di punggung sang istri.


"Huh, pantes aja anak nya bucin sampe kayak gitu, ternyata ada turunan dari bapak nya. Aneh, segala penyakit bucin pake di turunin ke anak cucu." Celetuk Dara, perempuan itu memutar mata nya jengah. 


"Jadi, bucin itu penyakit turunan ya?" Tanya Nicholas.


"Iya, penyakit bucin itu wajib di lestarikan. Turun temurun hingga nenek kakek, cucu dan cicit nanti." Jawab Danish.


Kalau Daniash dan Maura, ada wajar nya kan mereka selalu mesra kapan pun karena masih dalam suasana pengantin baru dan masih muda juga. Lah kalau Danish? Dia sudah tua, bahkan sudah punya cucu, tapi masih bucin akut. 


"Tau nih, bisa aja ngatain anak nya bucin. Sendirinya juga bucin parah, kadang bikin kesel dan darah tinggi." Ucap Riana, sambil terus bergeser dari suaminya.


"Hahaha.." Dara dan Nicholas tertawa mendengar Riana menggerutu kesal karena tingkah suami nya yang sama-sama menggemaskan, saking menggemaskan nya sampai-sampai dia ingin mencubit jantung nya sekalian.


Sedangkan di taman belakang, Daniash tengah membujuk sang istri agar tak merajuk lagi.


"Mommy, Daddy minta maaf. Janji gak bakal kek gitu lagi." Bujuk Daniash, tapi Maura seolah tak peduli dan anteng memakan cemilan nya.


"Mom.."


"Mommy, isshh ayolah. Daddy gak bisa di diemin gini, Mom. Plis ya? Maafin Daddy." 


"Janji ya gak pamer roti sobek lagi?" 


"Janji, Mom. Daddy janji, cuma mommy yang bisa liat roti punya Daddy." 


"Yaudah, sini peluk." Maura merentangkan tangan nya, Daniash antusias dan langsung menghambur memeluk istrinya. Nyatanya, marahan beberapa jam saja membuat hidup nya terasa hampa. Seperti sayur tanpa garam, hambar. Apalagi tanpa melihat senyum manis istrinya.


"Maafin Daddy ya, Mom." Bisik Daniash. Maura mengeratkan pelukan nya pada sang suami.


"Iya, Mommy maafin kok. Jangan di ulangi lagi ya?"


"Gak bakalan lagi, Mom."


Daniash melerai pelukan nya, dengan mesra dia mengecupi kening, kedua pipi, hidung, lalu ke bibir istrinya yang mungil kemerahan.


"Ciuman yuk?" Ajak Daniash.


"Apaan sih? Biasa nya juga langsung nyosor aja Dad."


"Kali-kali sebelum adu lidah, Daddy izin dulu kayak waktu pertama kali kita melakukan nya." Daniash memainkan alis nya menggoda, membuat wajah istrinya merona.

__ADS_1


"Isshh, Daddy kan langsung nyosor waktu itu. Gak izin dulu kalau mau main bibir." Jawab Maura malu-malu, membuat Daniash tergelak. Pria itu kembali memeluk istrinya, lalu meraih dagu nya dan mencium bibir Maura dengan lembut. 


Keduanya memejamkan mata, menikmati sensasi bertukar saliva. Sesekali tangan Daniash merayap kemana-mana, tapi dia cukup tau tempat dan tak melakukan apapun kecuali ciuman saja.


"Hmpphh.."


Daniash melepaskan ciuman nya, lalu mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya. 


"Istri Daddy cantik sekali, sudah selesai nifas nya sayang?"


"Ya ampun, belum Daddy. Gak sabaran banget sih, perasaan tadi pagi kita bahas ini deh." 


"Hehe, habis nya kamu tuh terlalu menggairahkan, bikin junior Daddy tegang terus." Jawab Daniash sambil cengengesan, Maura melirik ke bawah dan benar saja bagian bawah pria itu tampak menggembung. 


"Sabar ya junior, nanti kita main sampe kamu muntah berkali-kali. Oke ya?" Ucap Maura sambil mengusap milik suaminya dari balik celana. 


"Sepuluh ronde."


"Dih gila, gak ada segitu." 


"Kan sampe muntah berkali-kali, Mom."


"Kalau sepuluh kali, itu mah bukan jatah malam tapi pembunuhan!" Ucap Maura ketus, kedua mata nya membelalak pada suami mesuum nya. Sepuluh ronde? Yang benar saja, membayangkan nya saja membuat nya ketakutan. 


"Yaudah, turunin dua. Jadi delapan ronde." 


"Tiga ronde, deal no debat." Putus Maura.


"Yahh, kok cuma tiga kali sih? Biasa nya main biasa tanpa puasa juga segitu, masa setelah puasa 40 hari tetep segitu sih Mom? Lebihin dikit deh." 


"Yaudah, lihat nanti aja ya. Sekarang aku mau masuk ke rumah, laper mau makan." Jawab Maura lalu berjalan lebih dulu, tak lama Daniash langsung mengejar istrinya lalu menggenggam tangan nya dengan mesra.


"Cieee, udah baikan ya?" Goda Dara yang membuat Maura terkekeh.


"Gak kuat lihat wajah melas nya, Dar." 


"Gemesin ya kan?" Tanya Daniash.


"Iya gemesin, saking gemes nya mau aku tendang ke planet Pluto." Jawab Maura ketus, membuat Dara tertawa terbahak-bahak. Senang sekali melihat kakak nya itu tertindas.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2