
Sore hari nya, suasana rumah duka terlihat ramai oleh para tetangga. Nayna dan Alika menyambut para tamu yang berdatangan, sedangkan Aryo menyambut di luar selaku calon suami dan calon menantu almarhum.
Hingga tiba-tiba, rombongan warga yang terlihat datang dengan wajah yang nampak tak bersahabat. Menatap Aryo dengan tajam, membuat pria itu keheranan. Ada apa gerangan?
"Selamat sore, pak, Bu." Sapa Aryo dengan ramah.
"Halah, gak usah sok ramah." Sewot pria berpeci hitam, memakai batik berlengan panjang, berkumis tebal dan nampak sangar. Pria itu adalah kepala desa di kampung tempat Nayna tinggal, dulu.
"Tunggu, memang nya ada apa ini?"
"Gak usah sok polos ya kamu, kamu yang sudah kumpul kebo di kampung ini kan?" Tuduh nya membuat Aryo terhenyak.
"Maksudnya?"
Ya, dia akui memang dia sering melakukan nya dengan Nayna, tapi selama di tempat ini dia tak pernah melakukan hal semacam itu, karena Aryo paham betul kekasihnya sedang berduka. Dia sedang berusaha mati-matian untuk menahan gairaah nya juga, dia ingin berbagi keringat dengan gadisnya setelah mereka sah menjadi suami istri nanti.
"Kalian sudah berbuat tak senonoh di kampung ini, itu akan membuat kampung ini terkena sial."
"H-ahh? Atas dasar apa bapak menuduh saya melakukan hal semacam itu?"
"Banyak saksi yang mengatakan bahwa kau dan Nayna melakukan hal mesuum disini."
"Lalu bapak percaya begitu saja? Apa mereka punya bukti yang kuat, foto atau video? Saya disini baru dua hari, saya orang berpendidikan yang tau tata krama. Tak mungkin saya melakukan nya, apalagi keadaan kekasih saya sedang berduka!" Tegas Aryo membuat oknum kepala desa itu terdiam.
"Jangan banyak bicara!"
"Saya bicara karena saya merasa benar! Anda sebagai pemimpin masyarakat, harusnya lebih bijak dalam bertindak. Saya tentunya takkan menerima hal ini begitu saja, ini fitnah!"
"Daddy…" Nayna keluar dari rumah, dengan gamis hitam yang menutupi hingga mata kaki nya, juga kerudung pashmina yang menutupi kepala nya. Memang itu takkan membuat semua dosa-dosa nya hilang, tapi setidaknya yang mereka tuduhkan itu tak benar.
Kenapa tak benar? Karena Aryo dan Nayna tak pernah melakukan apapun disini, kalau hanya berpelukan mungkin iya, tapi tidak yang lain nya.
"Iya Bby, jangan kesini. Masuklah."
"Ada apa ini?" Tanya Nayna sambil berjalan mendekat.
"Kepala nya aja di tutupi kerudung, tapi kelakuan nya? Cihh menjijikan!" Cibir salah satu ibu-ibu dengan julid, membuat Aryo emosi.
"Anda sama-sama perempuan, apakah kehidupan anda sudah benar? Saya tanya." Ibu-ibu itu hanya memutar mata nya jengah, tanpa menjawab pertanyaan Aryo.
"Saya minta kalian menikah dan keluar dari kampung ini, membuat sial saja!"
"Dengan senang hati, tanpa anda punya sekalipun saya pasti akan menikahi gadis saya. Masalah keluar dari kampung ini, saya juga akan melakukan nya. Saya khawatir, Nayna akan tertular toxic dari warga-warga yang punya penyakit iri dengki." Sindir Aryo, membuat Nayna terhenyak.
Jujur saja, dia tak menyangka kalau Aryo bisa mengatakan hal sepedas itu. Karena selama bersama nya, tutur kata pria itu selalu lembut dan hangat, berbeda dengan sekarang. Aryo menunjukan sifat aslinya.
"Tapi ingat, kami tak bersalah dalam hal apapun. Kita lihat saja nanti, kampung kecil nan kumuh ini pasti akan menanggung malu."
__ADS_1
"Ohh berani mengancam?"
"Kenapa tidak? Memang nya saya takut, tidak! Tapi karena saya menghormati anda lebih tua dari saya. Saya tak takut apapun, asalkan itu hal yang benar!" Jawab Aryo.
"Bi, tolong bantu Nayna mengemasi barang-barang nya, kita pergi sekarang."
"T-api Dad, acara nya?"
"Lanjutkan saja, tanpa kita. Kita bisa menggelar pengajian di tempat lain, tidak disini. Tempat ini sudah tercemar dosa orang-orang munafik yang hanya tau dan menilai orang lain berdasarkan katanya, bukan dengan bukti nyata!"
Pria berkumis tebal itu tersenyum menyeringai, pria di depan nya nampak sangat berwibawa memang, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar pedas.
"Mengherankan, kenapa orang seperti anda bisa di tunjuk menjadi kepala desa, nyogok berapa juta, pak?"
"Heh, berani sekali kamu ya!"
"Kenapa memang nya? Kita sama-sama masih makan nasi, kalau anda sudah makan batu barulah saya akan takut." Jawab Aryo datar.
"Kau…"
"Kenapa? Jangan kau pikir jabatan mu tinggi disini, saya bisa menghancurkan anda dalam semalam."
"Cihhh, ancaman mu itu tak berlaku untuk ku!"
"Lihat saja, aku akan membuktikan nya. Kau ingin dengan cara sememalukan apa?" Tantang Aryo membuat wajah pria itu berubah pucat pasi seketika.
Aryo membuka ponsel nya dan menghubungi seseorang, setelah beberapa menit bicara dia menutup panggilan nya dan memperlihatkan sebuah video yang membuat kepala desa itu bungkam dengan mulut menganga lebar.
"Ini yang kau maksud kumpul kebo?" Di dalam video itu terlihat kalau kepala desa itu keluar dari salah satu rumah warga yang nampak sepi, sambil membenarkan celana nya yang melorot, belum lagi kancing baju nya yang hampir seluruhnya terbuka. Keringat membasahi wajah nya, jadi seperti nya bisa di tebak dia habis ngapain kan?
"Lalu ini?" Aryo menggeser video, betapa terkejutnya pria itu saat melihat istrinya tengah bercumbu dengan pria lain. Lalu Aryo menggeser slide lagi, makin terkejut saja pria itu di buatnya. Putrinya tengah melakukan adegan ranjang dengan seorang pria tua.
"Kau yang kumpul kebo tapi melempar kesalahan pada orang lain, istri mu selingkuh tapi kau tak tau? Suami macam apa kau ini, sebelum jadi kepala desa harusnya kau jadi suami yang baik terlebih dulu."
"Lalu putrimu? Dia pemuaas om-om kesepian, kan?"
Sontak warga yang tadi datang itu mulai membicarakan kepala desa mereka, berbisik-bisik tentang fakta yang baru saja mereka ketahui.
'Pria ini bukan pria biasa, sial.' batin nya.
"Itu semua tak benar, memang nya siapa dia? Dia hanya orang asing yang bertamu secara tidak hormat kesini, sedangkan aku sudah disini selama bertahun-tahun."
"Justru karena kau tinggal di kampung terpencil makanya otak mu tak berkembang, apa kau tak tau kalau dunia ini berada di jaman modern hmm?" Telak Aryo membuat siapapun langsung memihak padanya sekarang.
"Jangan berani mengusik ku, aku kesini dengan hormat tapi apa yang aku dapat? Hanya rasa malu karena tuduhan yang sama sekali tak aku lakukan. Aku bisa saja menuntut kalian semua ke pengadilan atas pencemaran nama baik ini."
"T-tuan jangan seperti itu."
__ADS_1
"Kau takut? Haha, baru jadi kepala desa saja sudah belagu. Gimana kalau jadi crazy rich? Pasti kau takkan mengenal satu sama lain dengan sesama manusia saking sombong nya!" Cibir Aryo lagi.
"Dad.."
"Sudah sayang? Mari kita pergi." Nayna mengangguk dan mengikuti langkah sang Daddy ke mobil.
"Tolong ingat peringatan ku, aku akan membuatmu hancur dalam satu malam. Belum satu malam, tapi kau sudah hancur dengan semua aib-aib mu itu."
"Kami pergi, terimakasih sudah menerima kami dengan buruk." Ucap Aryo, lalu masuk ke mobil dan melajukan nya menjauhi rumah milik Nayna.
"Daddy, sebenarnya ada apa tadi?" Tanya Nayna penasaran.
"Tidak ada, sayang. Jangan di pikirkan ya, kita pulang ke rumah Daddy."
"Rumah Daddy?"
"Iya, rumah peninggalan orang tua Daddy." Jawab Aryo.
"Maksudnya?"
"Kita akan tinggal disana sekarang, tidak di apartemen. Jadi, barang-barang kita yang disana akan di pindahkan ke rumah itu. Apa kamu keberatan, Bby?"
"Tidak, aku ikut Daddy saja." Jawab Nayna.
"Good girl, baby."
"Tapi Dad, memang nya kemana orang tua Daddy?"
"Tidak ada, mereka sudah pergi ke surga." Jawab Aryo tanpa menoleh ke arah sang gadis.
"Maafin Nayna, Dad. Aku gak tau."
"Gapapa sayang, sudah jangan di pikirkan."
Nayna mengangguk, gadis itu menikmati pemandangan sore hari dengan sunset yang mewarnai langit sepanjang perjalanan.
Sedangkan Aryo, dia merasa dongkol sendiri. Warga di kampung tempat gadis nya tinggal benar-benar bad attitude. Melabrak orang disaat orang itu sedang berada di dalam keadaan berduka, parahnya lagi tanpa bukti hanya mendengar kata orang saja.
Aryo merasa sangat marah, dia akui memang dia bukanlah pria yang maha benar, tapi apa mereka semua juga sudah benar? Terbukti dengan beberapa video yang dia dapat dari orang suruhan nya, orang yang sok benar pun ternyata punya aib.
Ini sebuah penghinaan bagi nya, tak pernah dia merasa semarah ini karena ulah seorang manusia.
.....
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1