
"Permisi.."
"Ya, duduklah." Jawab Herra, wajahnya menatap Maura nyaris tanpa berkedip sedikitpun. Mata nya memicing, menatap penampilan gadis itu dari atas hingga ke bawah.
'Cukup fashionable, seperti nya dia bukan dari keluarga biasa. Atau mungkin, dia memanfaatkan uang yang di berikan Daniash?' Herra membatin.
"Ada hal apa hingga aktris terkenal sekelas anda ingin bertemu dengan saya?" Tanya Maura, dia cukup risih karena di tatap sedemikian intens oleh Herra, istri dari pria yang dia cintai.
"Ckkk.." Wanita itu berdecak, lalu dia meminum minuman yang tersedia di meja.
"Langsung pada inti nya saja, ada hubungan apa kau dengan Daniash, suamiku?" Tanya Herra, mata nya menyalak tajam. Maura tersenyum kecut, dia sudah menduga hubungan nya dengan Daniash sudah di curigai oleh istri sah pria itu.
Namun demikian, dia bisa apa? Bersembunyi? Tidak, itu bukan gaya nya. Apapun yang terjadi, Maura harus menghadapi nya. Inilah konsekuensi nya menjalin hubungan dengan pria beristri.
"Saya rasa anda tak perlu tau, karena ini hal pribadi." Jawab Maura santai.
Herra merogoh tas nya dan mengambil sesuatu, lalu mendorong nya pelan ke atas meja. Maura tergelak dalam hati, sebuah kartu berwarna gold. Dia yakin, nilai nya tak sebanding dengan kartu pemberian papa nya atau dari Daniash sendiri.
"Ambil ini, dan tinggalkan suamiku." Mendengar itu, Maura tertawa kecil. Sudah bisa di tebak, pasti inilah tujuan Herra mengajak nya bertemu. Meminta nya meninggalkan Daniash? Tidak semudah itu.
"Hanya kartu ini, nyonya?"
"Maksudmu?" Tanya Herra dengan kening mengernyit heran.
Maura semakin tergelak, lalu mengambil dompet dari dalam tas nya. Gadis itu mencabut dua kartu sakti miliknya, satu pemberian sang papa dan satunya lagi pemberian Daniash.
"Nyonya lihat, aku bahkan punya dua blackcard untuk menunjang kehidupan ku. Jadi, ambil saja kartu Nyonya, karena aku tak membutuhkan nya." Jawab Maura, membuat wajah Herra memerah, menahan amarah.
Dia sangka, Maura adalah gadis matre yang memanfaatkan kekayaan suaminya. Namun nyatanya, gadis di depan nya malah punya dua blackcard sekaligus? Dugaan nya benar, gadis ini bukanlah dari kalangan biasa.
"Sombong sekali."
"Jelas aku sombong, disaat aktris terkenal saja hanya punya gold card, lalu aku? Punya dua blackcard sekaligus." Bangga Maura membuat wajah Herra semakin memerah.
"Tak usah bermain-main dengan ku bocah, tinggalkan suamiku atau aku akan memberitahukan orang tua mu kalau anak mereka adalah simpanan pria beristri." Ancam Herra.
"J-jangan lakukan itu nyonya, saya akan meninggalkan suami anda. Asal jangan beritahukan orang tua saya, nyonya." Ucap Maura dengan ekspresi yang tak terbaca. Namun, Herra sudah membanggakan diri, dia kira Maura sudah kalah.
"Ppfftt.. hahaha…" Maura tertawa kencang hingga membuat Herra keheranan, apa yang terjadi dengan gadis di depan nya ini? Tak mungkin salah minum obat kan?
"Nyonya pikir, saya takut dengan ancaman nyonya? Tidak, tidak sama sekali." Maura tersenyum smirk membuat Herra mengepalkan kedua tangan nya di bawah meja.
"Lagipun, untuk apa nyonya meminta saya meninggalkan Daddy? Sedangkan anda saja tak peduli dengan nya, bukankah ada bagusnya saya merebut nya dari nyonya? Dengan begitu, nyonya punya alasan agar bisa bercerai dari Daddy."
__ADS_1
Maura tersenyum licik, gadis itu menyedekapkan kedua tangan nya di dada dengan santainya. Berbeda dengan Herra yang mati-matian menahan emosi nya agar tak meledak, bisa hancur image yang selama ini dia bangun kalau sampai publik tau kelakuan nya yang sebenarnya.
"Jaga ucapanmu, jalaang kecil."
"Jalaang kecil? Ohh iya, Nyonya kan jalaang dewasa nya, iya kan?" Telak, Maura berhasil membuat posisi Herra terpojok karena kata-kata nya.
'Kenapa gadis ini begitu pandai membulak-balikan kata? Sial, kelihatan nya dia bukan gadis sembarangan!'
"Kenapa diam? Nyonya kehabisan bahan bicara, aku ada kalau nyonya ingin mendengar nya."
"Kenapa nyonya terus mengikat Daddy dalam sebuah hubungan yang tak jelas? Apa nyonya menginginkan sesuatu dari Daddy?" Tanya Maura, masih dengan suara pelan, lembut namun terdengar menusuk tepat sasaran bagi Herra.
"Jangan terlalu ikut campur urusan orang lain, bocah."
"Aku bocah yang bisa bikin bocah, nyonya." Timpal Maura, membuat Herra gemas. Ingin sekali dia menyumpal mulut gadis di depan nya ini. Kenapa dia selalu punya kata untuk membuatnya bungkam?
"Kau memakai peleet apa untuk menjerat suamiku hah?"
"Tidak, aku tidak memakai hal seperti itu. Suamimu sendiri yang datang padaku, menawarkan sebuah hubungan yang indah dan melibatkan hati." Jawab Maura, memanas-manasi Herra, tau saja kalau wanita di depan nya sudah kepanasan karena cemburu.
"Ohh iya, apa nyonya tau kalau suami nyonya itu sangat nyaman denganku? Dia memperlakukan aku sangat baik, dia membuat aku seperti ratu."
"Diam!" Teriak Herra, hingga membuat semua mata pengunjung lain yang sedang asik menikmati makanan mereka langsung menatap heran ke arah meja yang di duduki oleh Herra dan Maura.
"Kau, jalaang kecil, ku perintahkan sekali lagi, tinggalkan suamiku!"
"Haha, memang nya anda siapa berani memerintah saya? Saya hanya akan pergi disaat tuan Daniash yang meminta nya!" Jawab Maura tegas, sorot mata nya berubah.
"Jangan memancing emosi ku, jalaang!"
"Jalaang kok teriak jalaang sih? Gak malu apa ya? Andai saja publik tau kelakuan mu di luar sana, pasti nyonya takkan punya muka untuk tampil di tempat umum seperti ini." Ucap Maura pelan. Beberapa kali, dia mendengar dan melihat sendiri saat Herra check in di hotel yang sama dengan yang di sewa oleh Daniash, hanya saja beda lantai.
Tentunya itu bukanlah satu-satunya bukti yang dia ketahui tentang wanita berstatus istri sah dari pria pujaan nya, beberapa kali juga dia melihat saat Herra tengah bercumbu mesra dengan seorang pria di dalam mobil.
Satu lagi, sahabat sang papa pernah mengatakan kalau dia pernah menjadikan Herra sebagai mainan nya di ranjang. Saat itu, ada sahabat papa nya yang bertamu ke rumah. Hal ini dia ketahui jauh sebelum dia mengenal Daniash dan berhubungan dengan pria tampan itu.
Namun, saat itu Maura tak peduli karena hal itu tak menguntungkan, juga tak merugikan baginya. Dia tetap mengidolakan wanita itu karena bakat dan kemampuan nya di dunia entertainment.
Gigi Herra bergemeletuk akibat menahan kekesalan nya pada gadis bernama Maura ini.
"Kau ternyata cukup keras kepala juga ya? Kita sesama wanita, tega sekali kau merebut kebahagiaan wanita lain!"
"Kebahagiaan? Ralat, saya pikir Daddy tidak bahagia bersama anda. Justru, dia bahagia saat bersama saya. Lihat ini.." Maura menyalakan ponsel nya mahal nya, lalu memperlihatkan nya pada Herra. Foto selfie antara Maura dan Daniash yang sedang tertawa, bahkan Daniash terlihat mencium pipi gadis nya dengan mesra.
__ADS_1
Jelas, hal itu membuat hati Herra kebakaran oleh rasa cemburu. Dia sendiri tak pernah berfoto berdua bersama Daniash, kecuali saat mereka menikah dulu.
"Ini.." Maura memperlihatkan foto lain saat Daniash tengah bermanja padanya, terlihat jelas kalau itu adalah kamar di rumah Daniash. Rumah yang selama ini jadi saksi bisu, hampa nya rumah tangga mereka berdua.
Kedua mata Herra memanas, dengan cepat dia merebut ponsel mahal milik Maura dan membanting nya hingga pecah berhamburan di lantai. Bukan nya marah, Maura malah tersenyum meremehkan ke arah wanita itu.
"Kenapa nyonya melempar ponsel saya? Nyonya pikir, setelah ponsel saya hancur, saya akan meninggalkan tuan Daniash? Tentu tidak." Maura tersenyum smirk, senang sekali memancing amarah wanita itu.
Herra melangkah cepat dan bersiap menampar Maura, tangan nya melayang di udara, namun dengan cepat Maura menangkap nya, mencengkeram nya dengan kuat hingga kuku-kuku panjang nya terbenam di pergelangan tangan wanita cantik itu.
"Dengar, meskipun nyonya adalah istri sah dari kekasih saya, bukan berarti anda bisa berbuat seenaknya terhadap saya. Saya diam karena saya menghormati anda sebagai orang yang lebih tua, tapi setelah melihat perangai anda, saya yakin kalau anda takkan pernah bisa memenangkan hati Daniash, seperti saya!" Ucap Maura pelan.
"Jangan pernah berpikir kalau saya akan menyerah, tidak akan pernah."
"Shiiitt! Lepaskan aku jalaaang kecil." Wanita itu meronta saat cengkeraman di tangan nya semakin mengetat karena emosi Maura yang mulai terpancing.
"Ohh maaf.." Maura langsung melepaskan tangan Herra yang sudah terluka, bahkan beberapa luka di antara nya sudah mengeluarkan darah.
"Lihat saja, aku takkan menyerah untuk membuat hubungan kalian hancur!"
"Coba saja kalau nyonya bisa, saya tunggu." Jawab Maura tanpa rasa takut sedikitpun. Meskipun dalam hati, dia bertanya-tanya, kenapa bisa dia bersikap seberani ini?
Herra meraih tas nya dan pergi dengan langkah cepat nya meninggalkan Maura dengan amarah yang menggebu, sedangkan gadis itu hanya menatap punggung nya dengan nanar.
'Maaf, tapi aku juga harus memperjuangkan kebahagiaan ku. Meskipun dengan cara merebut kebahagiaan wanita lain, biarkan aku egois kali ini.' Batin Maura.
Gadis itu berjongkok, lalu memunguti serpihan ponsel nya. Dia mencabut SIM card nya dan membuang ponsel yang hancur tak berbentuk itu ke dalam tong sampah.
"Butuh bantuan, Nona?" Tanya seorang waiters saat melihat Maura masih memunguti serpihan ponsel nya yang masih berserakan.
"Maaf, tolong sapu ini ya kak. Nanti saya kasih tips."
"Baik Nona." Jawab nya, lalu mengambil alih pekerjaan Maura, menyapu nya dengan bersih. Sesuai janji, Maura memberikan tips besar pada waiters itu dan setelahnya dia memutuskan untuk pulang. Besok, setelah selesai kelas dia akan mengajak Nayna untuk membeli ponsel baru lagi.
Sedangkan di seberang sana, seorang pria tersenyum puas setelah melihat adegan live beberapa saat yang lalu. Dialah Daniash, pria itu memerintahkan salah satu bawahan nya untuk mengikuti kemana pun gadisnya pergi dan inilah yang dia dapatkan.
Daniash tak menyangka kalau Herra akan mengajak gadisnya bertemu, tapi dia puas dengan perlawanan yang di lakukan Maura.
"Gadisku memang luar biasa!"
........
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1