
"Aku pulang dulu ya, Ra?" Ucap Nayna saat dia akan pulang.
"Hmm, iya hati-hati di jalan ya." Jawab Maura lesu.
"Kok lesu gitu sih?"
"Masih pengen cerita-cerita sama kamu, Nay." Jawab Maura. Kedua nya sepakat tak memakai panggilan Lo gue lagi sekarang.
"Yaudah, besok kesini lagi aja." Usul Daniash.
"Iya, sering-sering main kesini. Biar Maura gak kesepian." Ucap Riana.
"Boleh ya, Dad?" Tanya Nayna pada sang suami. Mau bagaimana pun, dia harus izin terlebih dulu pada suami nya.
"Iya, besok kesini lagi sayang."
"Yee, makasih Daddy."
"Jadi, besok kesini lagi ya Nay?" Tanya Maura berbinar, Nayna mengangguk cepat. Dia juga senang kalau bisa mengobrol bersama sahabatnya, dari pada termenung sendirian di apartemen selagi menunggu suaminya pulang.
"Seneng nya.." Maura memeluk Nayna, begitu pun dengan perempuan itu, keduanya berpelukan. Sedangkan Aryo, dia menggelengkan kepala nya. Di ajak pulang, malah berdrama seakan kedua nya takkan pernah bertemu lagi.
"Sudah pelukan nya, besok kan ketemu lagi." Ucap Daniash sambil memutar mata nya jengah.
"Eehh iya.." Kedua nya kompak menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal. Tak heran lah, kenapa mereka berdua bisa kompakan seperti ini, ya karena mereka sudah lama bersahabat.
"Yaudah, aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi."
"Oke, nih jambu air nya jangan lupa di bawa."
"Ehh, makasih Ra. Hampir aja lupa." Ucap Nayna sambil cengengesan.
"Yuk pulang.." ajak Aryo sambil menggandeng lengan istrinya.
"Kau yakin akan membawa istrimu pulang dengan menggunakan motor hmm? Ini sudah sore, aku rasa angin nya terlalu kencang. Tak cocok untuk bumil, apalagi dia masih hamil muda." Ucap Daniash panjang lebar.
"Tak apa-apa tuan."
"Lihat itu, sebentar lagi hujan. Pakai saja mobilku." Daniash melempar kunci mobil nya, dan dengan cepat Aryo menangkap nya.
"Besok, jangan terlambat jemput." Jelas Daniash lagi.
"Benarkah, tuan?"
"Ya, hati-hati di jalan. Baret sedikit saja, kau harus ganti rugi." Ucap Daniash membuat Aryo menelan ludahnya dengan kasar.
"Isshh Daddy.."
"Sudahlah, sana pulang. Keburu hujan, atau mau menginap saja?"
"Emm, tidak Tuan. Kami pulang saja, selamat beristirahat." Jawab Aryo, dia menggandeng tangan istri nya. Nayna melambaikan tangan nya pada Maura, begitupun bumil itu.
"Kita masuk yuk Bby? Dingin disini."
"Iya Dad, bawa oleh-oleh apa hari ini?" Tanya Maura antusias.
"Daddy gak beli apa-apa, sayang. Daddy gak mampir-mampir dulu, soalnya udah gak kuat pengen ketemu kamu sama baby." Jawab Daniash sambil mengusap perut buncit istrinya dengan lembut.
"Hmm, yaudah deh."
"Tapi, tadi Daddy beliin bakso lho."
"Seriusan?" Tanya Maura dengan kedua mata berbinar, suaminya ini tau saja kalau dia sedang BM makan bakso.
__ADS_1
"Serius dong."
"Katanya tadi gak mampir-mampir dulu."
"Kan inget sama istri di rumah."
"Uhhh suami idaman memang, Love you Daddy tampanku." Ucap Maura sambil mengecup singkat kedua pipi suaminya.
"Nanti main yuk? Daddy kangen."
"Boleh, Maura juga kangen sama goyangan Daddy." Jawab Maura dengan senyum nakal nya.
"Pakai lingerie yang merah ya, Bby?"
"Siap pak suami." Jawab Maura, Daniash pun tersenyum manis lalu merangkul pundak istrinya, kedua nya pun masuk ke dalam rumah.
Daniash langsung ke dapur dan membawakan bakso yang sudah dia tuang ke dalam mangkuk, lengkap dengan saus dan sedikit sambel.
"Buat mama sama papa beli juga?" Tanya Maura.
"Ada di dapur, sayang."
"Ohh, yaudah deh."
"Kamu makan aja dulu, Daddy mau mandi dulu ya?"
"Iya Dad, yang wangi ya."
"Siap ibu bos." Jawab Daniash, pria itu mengecup singkat kening sang istri lalu pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Lima belas menit kemudian, Daniash keluar dari kamar dengan rambut kelimis nya, kaos berlengan pendek berwarna hitam dengan kerah di leher nya, celana chinos berwarna coklat selutut yang membuat pria itu terlihat lebih muda dari usia nya.
"Belum selesai makan nya, sayang?"
"Biasanya juga makan dua porsi kamu, Bby." Celetuk Daniash membuat Maura terkekeh. Dia memang kalau makan bakso, takkan cukup satu porsi.
"Hehe, tapi ini gede banget Dad. Bantuin napa?"
"Enggak deh, Daddy pengen makan rendang buatan Mama." Jawab Daniash. Memang hari ini, Riana memasak rendang kesukaan Daniash.
"Aku juga pengen makan rendang, Dad."
"Yuk, kita makan sayang." Jawab Daniash, dia membawakan mangkok yang masih berisi separuh bakso yang belum habis.
"Mama.."
"Ehhh sayang, mau makan?"
"Sebenarnya, Daddy sih yang mau makan. Soalnya, aku kekenyangan makan bakso." Jawab Maura.
"Nanti saja makan nya, mama udah simpan buat kamu kok. Khawatir kalau kamu gak kebagian, soalnya dia monster nya rendang." Cetus Riana yang membuat Maura terkekeh geli.
"Makasih Mama, paling pengertian deh."
"Tentu saja, sayang. Mama juga udah buatin stok salad buah buat kamu, kalau mau makan ada di kulkas ya."
"Wahh, makasih banget mama." Ucap Maura sambil mengecup pipi sang ibu mertua. Ya, ibu mertua rasa ibu kandung. Karena Riana menyayangi dan memperhatikan menantu nya seperti layaknya pada anak sendiri.
Daniash tersenyum kecil, dia bahagia melihat ke akuran menantu dan mertua di depan nya ini. Dia sangat bersyukur karena Riana terlihat sangat menyayangi Maura, meski awalnya dia marah besar karena dirinya menghamili anak orang di luar nikah. Tapi sekarang? Bisa di lihat sendiri, bagaimana kasih sayang ibu nya pada Maura.
"Kapan Dara pulang, Ma?" Tanya Maura.
"Kenapa tiba-tiba nanyain Dara, sayang?" Balik tanya Riana sambil menatap wajah menantu nya.
__ADS_1
"Kangen aja sama ke randoman anak itu."
"Gak tau, sayang. Soalnya Darrel sudah mulai sekolah, akan sulit juga untuk bisa pulang kesini."
"Hmmm, semoga saja pas aku lahiran nanti dia bisa pulang ya, Ma."
"Dia pasti pulang sayang, Daddy yang akan menjemput nya nanti." Ucap Daniash sambil menyuapkan makanan nya dengan lahap.
"Hmmm baiklah." Jawab Maura dengan senyum kecilnya.
"Papa kemana? Kok gak turun." Tanya Daniash.
"Tadi lagi mandi, mungkin akan turun sebentar lagi." Daniash hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
Panjang umur, tak lama kemudian Danish turun dengan wajah datar nya.
"Kopi dong, Ma." Pinta Danish pada sang istri. Riana menurut dan langsung menyeduhkan secangkir kopi hitam tanpa gula untuk sang suami.
"Kok gak makan?" Tanya Danish saat melihat menantu nya tak ikut makan bersama putra nya.
"Kenyang, Pah. Habis makan bakso." Jawab Maura sambil tersenyum.
"Ohh, gak ngemil juga sayang?" Tanya nya lagi, biasanya dia melihat menantu nya ini aktif mengunyah. Entah makan atau sekedar mengemil buah.
"Belum, Pah."
"Yaudah, nanti harus ngemil ya."
"Kok harus?" Tanya Daniash, bukan Maura yang bertanya tapi malah suaminya yang menyahut.
"Ya karena istrimu ini sering kali insecure dengan tubuhnya, dia mengatakan ingin diet pada sahabatnya tadi." Ucap Danish panjang lebar, membuat Daniash tercengang saat mendengar ucapan sang papa.
Maura menunduk, memang dia ingin melakukan hal itu karena dia merasa tak percaya diri dengan perubahan bentuk tubuhnya saat ini.
"Jadi kamu ingin diet hah? Ngapain?"
"Gak usah di bentak, ku pukul kau!" Ucap Danish sewot saat mendengar putranya meninggikan suara nya pada istrinya.
"Maaf, tapi aku.."
"Kita sudah membahas hal ini, sayang. Apa kamu masih kepikiran dengan omongan wanita itu?" Tanya Daniash, kali ini nada suara nya lembut seperti biasanya.
Maura mengangguk, bohong rasanya jika dia tidak kepikiran tentang ucapan Mika hari itu, di pesta pernikahan Aryo. Meskipun Maura seringkali cuek dalam menanggapi omongan orang lain, tapi jika itu menyangkut tubuhnya dia akan serius menanggapi nya, bahkan memikirkan nya hingga berminggu-minggu.
"Berhentilah insecure, gak usah diet-diet makan aja yang banyak, mikirin omongan orang gak bakal bikin kamu kenyang, Bby. Yang harus kamu pikirkan sekarang, hanyalah kesehatan kamu dan bayi kita. Aku tak masalah dengan tubuhmu karena aku mencintaimu apa adanya, sayang. Jadi, urungkan niat mu itu." Tegas nya, membuat Maura mengangguk.
"Jika ada hal yang membuat mu terganggu, bicara padaku sayang!"
"Iya Dad, maaf. Aku hanya takut Daddy marah."
"Daddy akan lebih marah jika kamu melakukan hal seperti ini, sayang."
"Maafin ya Dad?"
"Iya sayang, Daddy tau kamu belum kenyang. Habiskan bakso nya, lalu makan salad buahnya."
"Baik Daddy, terimakasih." Jawab Maura, dia pun kembali memakan bakso nya dengan lahap. Tadi, dia mengatakan kenyang padahal sebenarnya dia masih lapar.
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1