
Daniash tersenyum saat melihat wajah teduh sang gadis, dia masih tertidur lelap di ranjang nya, dalam dekapan hangat sang pria.
"Enghhh, Daddy.." gadis itu melenguuh, lalu membuka kedua mata lentik nya dengan perlahan.
"Selamat pagi, sayang."
"Pagi, Daddy." Balas Maura, bukan nya melerai pelukan mereka, tapi gadis itu malah mengeratkan pelukan nya di tubuh Daniash.
Aroma maskulin yang bercampur dengan keringat sisa percintaan mereka semalam, membuat Maura merasa sangat nyaman.
"Ayo bangun, sayang."
"Nggak Dad, Maura masih pengen peluk Daddy." Jawab Maura sambil menduselkan wajah nya di dada bidang sang pria.
Daniash hanya pasrah, pria itu hanya bisa mengusap kepala sang gadis dengan lembut, juga melayangkan kecupan mesra di kening Maura.
"Dad.."
"Hmm, iya istriku?"
Seketika wajah Maura merona, Daniash memanggil nya istriku? Ohh ayolah, jangan buat baper di pagi hari.
"Kok wajah nya merah, Bby?" Goda Daniash sambil menjawil dagu sang gadis dengan gemas.
"Aaaa Daddy, Maura malu."
"Ciee malu-malu, kamu terlihat sangat cantik, Bby."
"Daddy, Maura pengen makan sate." Rengek Maura manja.
"Pagi-pagi begini, Bby? Yang benar saja, warung sate nya pasti belum buka." Daniash melirik jam kecil di atas nakas, masih menunjukkan pukul 5 pagi. Mana ada warung sate yang buka jam segini?
"Tapi baby yang mau, Dad." Maura mengusap perutnya.
Daniash menghela nafas nya, lalu menghembuskan nya secara perlahan. Dia harus sadar, kalau hormon kehamilan Maura lah yang membuat nya jadi banyak mau seperti ini.
"Baiklah, Daddy keluar dulu cari sate nya ya? Kamu tiduran aja dulu."
"Makasih Daddy, sama buah peach ya atau melon, mangga juga."
"Baik istriku, sayang." Daniash mengunyel-unyel pipi sang gadis dengan gemas, lalu mengecup singkat bibir Maura dengan mesra.
"Adek bayi, ayah pergi dulu ya. Kamu disini dulu, sama bunda ya. Jangan nyusahin bunda, kasian bunda nya." Bisik Daniash tepat di perut Maura, seakan mengajak bayi-bayi nya bicara.
"Iya ayah.." Maura menjawab ucapan sang pria dengan suara yang dia buat seperti anak kecil.
"Daddy pakai baju dulu ya," gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
Daniash langsung bergegas memakai pakaian nya dan pergi ke luar apartemen pagi-pagi untuk mencari sate dan buah-buahan yang gadis nya inginkan.
"Sate, terus peach, melon sama mangga." Gumam Daniash sambil berjalan, menyusuri koridor apartemen yang masih terlihat sepi.
"Eehh, mangga muda apa yang tua ya? Duh, lupa nanya lagi. Beli saja dua-duanya."
Daniash mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, beruntung nya supermarket sudah buka. Pria itu langsung masuk setelah memarkir mobil miliknya. Pria bertubuh tinggi tegap itu berjalan dengan wajah datar nya, meskipun begitu tak mengurangi kadar ketampanan seorang Daniash Anggara Kim.
Pria itu berjalan menyusuri rak berisi buah-buahan dan sayuran organik, lalu mengambil buah-buahan pesanan gadis nya.
"Melon sama mangga, perasaan tadi ada tiga buah, apa lagi ya? Lupa." Daniash berusaha mengingat-ingat pesanan gadisnya.
"Peach atau anggur ya? Mana lupa bawa ponsel lagi."
Tanpa berpikir panjang, Daniash mengambil anggur dan peach. Setelah mendapatkan buah-buahan nya, Daniash juga membeli ikan salmon untuk gadis nya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan buah, sekarang Daniash harus berkeliling mencari warung sate. Pria itu celingukan di setiap warung makan, dan kedua mata nya berbinar saat melihat warung satu yang cukup terkenal sudah buka. Pria itu menghentikan laju mobilnya dan membeli cukup banyak sate, agar gadis nya puas makan.
Dia juga membeli sup buntut kesukaan sang gadis, barangkali dia menginginkan nya juga.
"Pak, sate nya 25 tusuk."
"Siap, tapi nunggu bentaran ya? Masih di bakar."
"Hhmmm." Jawab Daniash, dia memilih duduk agak jauh dari tempat pembakaran, agar tak terkena asap sate. Nanti sekujur tubuhnya beraroma sate.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sate nya pun matang. Daniash langsung membayar nya dan pulang dengan senyum merekah nya, karena mendapatkan semua pesanan sang gadis.
Di apartemen, Maura memutuskan untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu, gadis itu menikmati berendam di dalam air hangat yang menenangkan.
Cukup beberapa menit saja, setelah nya dia membilas tubuhnya di shower dan keluar dengan bathrobe dan rambut yang dia gulung dengan handuk kecil.
Gadis itu memakai dress rumahan berwarna biru langit, dia juga membereskan ranjang tempat tidur yang berantakan.
"Baby.."
"Ya Dad, dapat?" Tanya Maura, dia menoleh lalu tersenyum manis saat melihat sang pria datang.
"Dapat dong, tapi Daddy lupa kamu mau peach atau anggur."
"Peach, dad."
"Huffftt, untung saja Daddy beli keduanya." Daniash mengusap dada nya lega, kalau saja dia tak membeli kedua buah itu, mungkin saja saat ini mood gadisnya akan langsung memburuk.
"Sate nya dapat, dad?"
"Dapet dong, Bby. Ayo makan dulu, kata Daddy juga kamu tiduran aja, kenapa malah beres-beres?"
"Cuma beresin kasur doang, dad."
"Kamu gak boleh kecapean, sayang." Daniash mendekat lalu memeluk Maura dari belakang, tangan nya mengusap perut gadis itu dengan lembut.
"Tapi enak kan?"
"Ya enak sih, banget malah." Jawab gadis itu membuat Daniash terkekeh.
"Ya sudah, ayo makan dulu. Kamu gak boleh telat sarapan."
"Iya Dad.." Daniash menggenggam tangan sang gadis, membawa nya ke ruang makan. Pria itu membuka bungkusan sate, juga sup nya, dan memindahkan nya ke dalam piring.
Tapi, baru saja melihat sate nya perut Maura terasa di aduk-aduk, dan di detik berikutnya, dia berlari ke wastafel dan muntah-muntah disana.
"Baby, kamu kenapa cantik?" Daniash mendekat dan memijat pelan tengkuk gadisnya.
"Jangan mendekat Dad."
"Kenapa?"
"Jijik, pergilah."
"Tidak, aku tidak jijik sedikitpun sayang." Jawab Daniash, dia terus memijat tengkuk Maura, mengoleskan minyak kayu putih di leher gadis itu.
"Pahit.."
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Heem, cuma lemes aja Dad." Jawab gadis itu, Daniash langsung memeluk Maura.
"Maafin Daddy sayang."
__ADS_1
"Maaf untuk apa, Dad? Daddy punya salah, apa Daddy punya simpanan lain di luar sana?"
"Hah, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sayang? Mana mungkin Daddy berpaling dari baby ku yang cantik ini hmmm? Tak mungkin." Ucap Daniash sambil menangkup wajah pucat gadisnya.
"Lalu, Daddy minta maaf untuk apa?"
"Maaf sudah membuatmu hamil, kalau kamu tidak hamil, pasti kamu takkan menderita seperti ini, Bby."
"Lho, gapapa dad. Ini kodrat seorang wanita."
"Masih mau makan sate, sayang?" Tanya Daniash. Gadis itu menggeleng lemah.
"Lalu?"
"Sup buntut, seperti nya enak ya?"
"Nah, kebetulan Daddy juga udah beliin kamu sup itu. Yuk makan dulu, Bby."
"Benarkah? Wah Daddy peka sekali." Puji Maura sambil tersenyum, membuat Daniash berbangga diri.
"Siapa dulu dong, Daddy gitu lho."
"Dih narsis." Celetuk Maura yang membuat Daniash tergelak. Keduanya berjalan pelan dengan Daniash yang terus memegangi tangan gadisnya.
"Daddy, bisa singkirin sate nya gak? Bau, dad."
"Iya baby." Daniash menyingkirkan sate nya dan membiarkan gadis nya makan lebih dulu.
"Daddy makan juga ya?"
"Nanti saja Bby, Daddy makan sama sate. Kalau Daddy makan sekarang, nanti kamu mual lagi."
"Dad.."
"Iya istriku?"
"Pengen di suapin, boleh ya?" Pinta Maura dengan manja.
"Tentu, ayo Daddy suapi."
Daniash mengambil piring gadis nya, lalu menyuapi bumil itu dengan telaten.
"Setelah makan, Daddy panggilkan orang spa untuk memanjakan tubuh mu ya Bby? Sementara Daddy ke kantor sebentar untuk mengambil berkas."
"Okey Dad, jangan lama. Sore nanti, Maura harus pulang biar papa, mama gak curiga."
"Siap sayangku, sebelum pulang kita bermain dulu satu ronde, oke Bby?"
"Deal.." Daniash mengacak rambut Maura dan terus menyuapi gadis nya, hingga satu piring itu habis tak bersisa.
"Aahhh kenyang nya, Dad.."
"Baguslah, sekarang mau makan buah?"
"Mau banget, dad."
"Daddy kupas dulu, kamu tunggu di depan aja sambil nonton televisi ya."
"Ihhh Daddy baik banget deh."
"Anything for you girl."
Gadis itu tersenyum manis, Daniash benar-benar memanjakan nya, membuat dia merasa istimewa saat ini.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻
jangan lupa like, komen, vote, gift sama tap favorit ya😘 biar author makin semangat up nya