Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 80 - Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Ini santunan dari saya dan Maura, maaf bukan karena jumlah nya." Ucap Daniash sambil mendorong sebuah amplop coklat ke hadapan Nayna.


"Tuan, tidak perlu seperti ini. Saya malu menerima nya, kalian sudah seperti keluarga untuk saya."


"Kami memang keluarga mu, jumlah nya memang tak seberapa tapi terima lah sebagai bentuk rasa berduka dari kami." 


"Terima saja, Nay." Ucap Maura sambil tersenyum kecil menatap wajah sendu sahabat nya.


"Baiklah, terimakasih." 


"Sama-sama." Jawab Daniash dan Maura bersamaan.


"Eemmm, Tuan.."


"Iya, ada apa Ar?" Tanya Daniash.


"Seminggu lagi, saya berniat untuk menikahi Nayna secara sederhana saja." 


"Benarkah? Ini kabar yang sangat baik, aku akan membantu mu, Ar." 


"Terimakasih Tuan, saya mengkhawatirkan keadaan Nayna kalau dia sendirian." Ucap Aryo pelan.


"Ya, itu bagus. Aku setuju, dengan kau sebagai suaminya, kau bisa menjaga nya dengan baik, Ar." 


"Itulah tujuan saya, Tuan." Aryo tersenyum pada gadis nya, lalu mengusap punggung Nayna dengan lembut.


"Tapi tunggu, jadi selama satu minggu ini kau akan libur, Ar?"


"Tentu saja, Tuan. Saya akan sibuk mempersiapkan hari bahagia saya dengan Nayna." Jawab Aryo, namun dalam hatinya dia ingin menggoda atasan nya itu.


"Aaahhh, kau libur tiga hari lagi sebelum hari H. Bagaimana bisa aku bekerja sendirian tanpa campur tangan darimu? Bisa-bisa, aku tua di kantor." 


"Haha, baiklah Tuan. Lagi pula, saya butuh bonus untuk membelikan mas kawin." 


"Cihh, mas kawin." Cibir Daniash membuat Aryo terkekeh, sedangkan para wanita hanya terdiam menyimak. 


"Ahsss.." Maura meringis, tiba-tiba saja perut nya terasa sakit. 


"Kenapa Bby?"


"Seperti nya kram lagi, Dad." Jawab Maura lirih.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya?"


"Gak usah, Dad. Ini cuma kram biasa kok, jangan terlalu khawatir." Tolak Maura sambil mengusap lengan suami nya. Sebetulnya, dia bosan dengan yang namanya rumah sakit. 


Suami nya ini terlalu protektif dan juga terlalu kaya, hingga pusing sedikit saja langsung di bawa ke rumah sakit. Seperti waktu demam, padahal cukup di kompres air hangat saja akan membaik, tapi Daniash malah membawa nya ke rumah sakit untuk di infus.


"Wajah mu pucat, sayang. Daddy takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita." 


"Enggak kok Dad, aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, ya?"


"Hmmm baiklah, kamu terlalu keras kepala sayang. Untung Daddy mencintaimu, kalau tidak sudah Daddy tendang kamu ke planet Pluto." Rutuk Daniash sambil mendelik sebal ke arah sang istri.


"Masa sih Daddy tega tendang gadis secantik aku ke Pluto? Nanti kalau aku di ambil sama alien gimana? Daddy rela?" Tanya Maura dengan nada manja.


"Mana ada, nanti Daddy tembak alien nya. Kamu cuma milik Daddy, titik tanpa koma." 


"Huffttt, baiklah." 


"Sudahi kebucinan ini, aku merasa mual melihat adegan di depan ku ini, Tuhan." Gumam Nayna, tanpa ada satu pun yang bisa mendengar gumaman nya, kecuali dirinya sendiri.


"Kalau begitu, kami berdua pulang dulu." 

__ADS_1


"Tak ingin menginap saja disini?" Tanya Nayna, dia pasti akan sangat kesepian berada di rumah ini. Rumah besar namun akan terasa sangat hampa tanpa kehadiran sosok ibu.


"Tidak, obat-obatan Maura ada di rumah. Takutnya sewaktu-waktu dia merasakan sakit, mual atau semacamnya, saya tak perlu keliling mencari obat." 


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan." 


"Hemm.." jawab Daniash. 


Maura tersenyum, lalu memeluk erat sahabatnya sebelum pergi.


"Kamu harus sabar, kamu kuat, kamu pasti mampu menjalani semua ini."


"Iya, terimakasih Ra." 


"Udah, gak usah nangis lagi. Udah nangis seharian kan? Istirahat ya, besok aku kesini lagi." Nayna mengangguk dengan memaksakan senyum nya.


"Aku pulang dulu ya, Nay? Maaf gak bisa nemenin kamu disini. Bener, apa yang Daddy bilang." 


"Gapapa, Ra. Ada Daddy yang nemenin disini." Maura hanya mengangguk, lalu tatapan mata nya beralih pada Aryo yang berdiri tegap di samping Nayna.


"Om, aku titip Nayna ya." 


"Siap Nona." 


"Saya pulang dulu, Babay." Daniash pun menggandeng lengan sang istri, lalu membukakan pintu mobil untuk nya. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, barulah dia masuk juga ke dalam mobil.


Nayna dan Aryo kompak melambaikan tangan mereka begitu mobil menjauhi rumah duka.


"Dad.." 


"Iya sayang.." jawab Daniash tanpa menoleh pada sang istri, karena sedang fokus mengemudikan mobilnya.


"Berasa pengen makan sup daging buatan Mama deh." Lirih nya membuat pria itu melirik sejenak, lalu kembali fokus ke depan.


"Mama Amira?"


"Oke, kita pulang ke rumah Mama Mira ya, sayang."


"Hah, benarkah Dad?" Tanya Maura, wajah nya berbinar cerah saat suaminya mengiyakan keinginan nya.


"Iya sayang, memang nya apa yang tidak untuk mu, istri kesayangan ku?" 


"Aaahhh Daddy, aku nya meleyot." Ucap Maura sambil berpura-pura meleleh seperti es. Tentu saja hal itu mengundang gelak tawa dari Daniash, inilah yang paling dia suka dari sosok istrinya. 


Daniash mengacak rambut sang istri dengan gemas, lalu melajukan kendaraan roda empat nya ke arah yang berbeda, karena arah rumah orang tua Daniash dan Maura berbeda arah. 


Sepanjang perjalanan, Maura terus melengkungkan senyuman manis nya, terlihat sangat bahagia akan pulang ke rumah dan meminta di masakan sup daging pada mama nya.


Hingga satu jam kemudian, mobil yang membawa pasangan suami istri itu berhenti di depan rumah besar bernuansa putih itu. 


Terlihat, Elgar sedang duduk di kursi teras sambil membaca majalah, dengan di temani secangkir kopi hitam.


"Papa.." Maura turun lalu berlari ke arah sang papa, lalu memeluknya.


"Sayang, kok pulang gak ngabarin dulu?" Tanya Elgar sambil menangkup wajah cabi putrinya.


"Kangen aja sama rumah, apalagi masakan Mama." 


"Maa, putri manja mu pulang nih.." teriak Elgar, membuat Amira yang sedang berada di dapur memasak untuk makan malam pun keluar.


"Sayangku, ya ampun.." Amira memeluk sang putri, melayangkan kecupan-kecupan singkat di wajah putri cantiknya.


"Hehe, Mama. Wajah Maura basah semua ini gara-gara ciuman Mama." 

__ADS_1


"Mama kangen sama kamu, sayang." 


"Maura juga, apalagi masakan Mama." 


"Tebak, mama masak apa coba?" Ucap Amira menggoda putrinya.


"Sup daging kesukaan Maura kan?"


"Kok tau? Kamu ngintip ya?"


"Memang dia pengen kesini tuh karena kangen sama sup buatan Mama, katanya." Ucap Daniash yang sedari tadi hanya terdiam.


"Wah, benarkah? Kebetulan banget ya, mama lagi masak sup daging sekarang." 


"Yeee, Maura mau makan yang banyak." Ucap Maura sambil tersenyum manis. Memang ya, firasat seorang ibu takkan pernah salah. Hari ini, dia sangat ingin memasak sup daging kesukaan putrinya dan benar saja, putrinya pulang hari ini dan merindukan masakan buatan nya.


"Yaudah, ayo masuk sayang. Kalian nginep kan?" Bukan nya menjawab pertanyaan sang mama, Maura malah menatap ke arah suami nya, lagi-lagi dia khawatir kalau dia tak setuju.


"Tentu saja, Ma. Kami akan menginap disini." 


"Syukurlah, ayo masuk sayang." Ajak Amira sambil merangkul putrinya masuk ke rumah.


Sedangkan Daniash memilih duduk di kursi kosong di samping papa mertua nya.


"Kau bisa main catur?" Tanya Elgar.


"Sedikit, Pa." Jawab Daniash.


"Bagaimana kalau kita main, yang kalah jangan ikut makan malam. Bagaimana?" 


"Oke deal." Jawab Daniash dengan percaya diri. 


Elgar menyeringai, dia pun mengambil papan catur dari bawah meja dan membuka nya.


"Kau ingin yang hitam atau putih?"


"Terserah papa saja." Jawab Daniash, dia tak peduli akan warna apa yang ingin dia pegang.


"Baiklah, aku yang hitam." Putus Elgar, kedua nya pun menyusun bidak-bidak catur itu dengan baik. Lalu mulai bermain dengan menggerakan bidak catur dengan strategi masing-masing.


"Kalau kau kalah, jangan marah apalagi merajuk pada putriku!" 


"Lihat saja nanti, siapa yang akan merajuk." Jawab nya, membuat Elgar tersenyum sinis. 


"Skak.." ucap Daniash, membuat Elgar menganga. Dia kalah? Serius, dia kalah?


"Maaf, papa mertua anda kalah." 


"Kau pasti curang kan? Ayo bermain satu kali lagi." 


"Tentu." 


Keduanya pun bermain kembali, kali ini Elgar memainkan yang putih. Namun setelah beberapa menit, dia kembali di kalahkan oleh menantu nya.


"Jadi, anda takkan ikut makan malam? Kasihan sekali." Ledek Daniash sambil tersenyum simpul. 


"Cihhh, tak usah bangga kau pria tua! Lain kali, aku akan mengalahkan mu dalam waktu 5 menit." 


"Aku tunggu, pa." 


"Ckkk.." Elgar memasukan kembali papan catur nya, lalu masuk dengan hati dongkol karena kalah bermain catur. Otomatis dia takkan bisa ikut makan malam nanti. Benar-benar senjata makan tuan, niat hati ingin mengerjai menantu nya, eehh taruhan nya malah kena diri sendiri. 


Makanya, gak usah iseng lain kali.

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2