Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 39 - Kunjungan Daniash


__ADS_3

Keesokan pagi nya, Maura tersenyum saat melihat kedua orang tua nya sudah menyambutnya dengan senyum ramah di meja makan. 


"Sarapan dulu, sayang."


"Iya Ma." Jawab Maura, gadis itu sering kesiangan, jadi jarang sarapan bersama. Tapi, pagi ini Maura bangun lebih awal jadi bisa sarapan bersama kedua orang tua nya. Mungkin karena semalam dia tidur dengan nyenyak setelah bertukar kabar bersama sang kekasih.


Wajah gadis itu lebih cerah dari pada biasanya, orang tua Maura berpikir ini karena pengaruh dari ponsel baru. Padahal sebenarnya, pengaruh dari orang yang memberi ponsel itu. 


"Wajah nya berseri-seri ya, mentang-mentang punya hape baru." Celetuk Elgar membuat Maura terkekeh.


"Iya dong, ponsel baru itu bikin tidur Maura jadi lebih nyenyak." Jawab gadis itu. 


"Cuma ponsel doang, tapi bisa bikin tidur kamu nyenyak? Ponsel doang lho. Kamu bisa beli beberapa biji dengan kartu yang papa kasih." 


"Pasti bukan karena ponsel nya, tapi karena yang ngasih nya, iya kan sayang?" Tanya Amira membuat Maura tersenyum malu. Lalu mengangguk pelan dengan wajah yang merona.


"Anak mama lagi terkena virus bucin ya?" Goda Amira.


"Hehe, mama tau aja." 


"Cihh, jangan jatuh cinta terlalu dalam. Papa gak mau ya, liat kamu nangis-nangis gara-gara patah hati." 


"Patah hati? Gak bakalan, Maura pasti bakal lakuin apa aja biar bisa sama pria pujaan Maura." Jawab Maura tegas, membuat Elgar menggelengkan kepala nya. Anak gadisnya persis seperti istrinya dulu, dia yang duluan mendekati nya, lalu menawari nya sebuah hubungan yang cukup konyol.


Apalagi perbedaan usia mereka saat itu cukup jauh, membuat Elgar di bully karena menjadi simpanan tante-tante bersuami. Tapi ya itulah cinta, kata orang cinta itu buta dan Elgar mengalami nya sendiri, dia tak peduli meskipun teman-teman nya menjauhi nya karena tak suka dengan hubungan nya dengan Amira, tapi dia tak peduli dan tetap menjalani hubungan asmara nya dengan seorang wanita bersuami. 


Namun akhirnya, siapa yang menyangka hubungan itu berakhir dengan pernikahan, dan setelah belasan tahun berlalu, tak ada yang berubah sama sekali dalam hubungan mereka. Apalagi setelah Maura hadir, kebahagiaan mereka semakin terasa lengkap.


"Tentu saja, perjuangkan pria pujaan mu, sayang. Mama yakin, dengan atau tanpa perjuangan mu, pasti pria itu yang akan memperjuangkan mu." 


"Iya Ma, yaudah Maura ke kampus dulu ya." 


"Sarapan nya kok gak di habiskan, sayang." 


"Nanti makan bakso di kantin sama Nayna." Jawab Maura sedikit keras, karena dia sudah melangkah menjauh. 


Gadis itu memasuki mobilnya, tapi sialnya setelah beberapa kali di starter, mobil nya tak kunjung hidup juga. 


"Aasshh sial, jadi aku harus ke kampus naik apa? Males naik ojek." Gerutu Maura sambil menendang-nendang ban mobilnya. 


"Lho, kok belum berangkat sayang?" Tanya Elgar yang keluar bersama sang istri, tampil rapi dengan jas dan dasi yang mengikat lehernya cukup ketat. 


"Mobil Maura rusak, Pa." 


"Yaudah, berangkat nya bareng papa aja." Tawar Elgar, akhirnya mau tak mau pun Maura harus mau. Dia naik ke mobil sang ayah dan melambaikan tangan nya ke arah sang mama yang masih memperhatikan mereka dari pintu utama.


Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan apapun di antara ayah dan anak itu. Maura sedikit canggung untuk bicara lebih dulu, dia memang tak terlalu dekat dengan sang papa, Maura lebih dekat dengan Mama nya.


Singkatnya, mobil yang di kendarai oleh Elgar sudah sampai di gerbang kampus, dimana banyak mahasiswi yang berlalu lalang masuk ke dalam kampus untuk menuntut ilmu. 


"Makasih ya, Pa. Maura turun dulu, papa hati-hati di jalan nya." 


"Iya sayang, nanti papa jemput lagi pulang nya."


"Eehhh gapapa Pa, nanti Maura pulang sama Nayna, gak usah di jemput." Tolak Maura secara halus. Selalu saja Nayna yang menjadi alasan Maura. 


"Yaudah, jangan ngapelin cowok terus ya."


"Iya pa, papay." Maura turun dari mobil dan melambaikan tangan nya saat mobil milik papa nya sudah mulai melaju menjauhi kawasan kampus. 

__ADS_1


Gadis cantik itu berjalan santai sendirian, seperti biasa orang-orang yang tak suka padanya langsung grasak-grusuk berghibah karena Maura di antar oleh seseorang. 


"Ehh ehh, Maura di anterin sama om-om lagi anjir." Bisik mereka, namun masih bisa terdengar oleh telinga Maura. Entah mereka sengaja atau tidak, Maura terus berjalan tak peduli dengan ocehan para gadis-gadis itu. 


"Padahal yang kemaren om-om nya ganteng plus tajir, eehh di ganti sama yang sekarang. Tapi yang tadi, ganteng juga ya. Keliatan nya juga tajir, harus minta nomornya sama si Maura!" 


"Iya bener, kayaknya dia pake peleet deh buat dapetin om-om kaya raya." Ucap mereka lagi, nyinyir nya ampun. 


"Heh, Ra. Minta nomor om-om yang tadi dong, kayaknya boleh tuh." 


Maura menghentikan jalan nya, kedua tangan nya terkepal dengan erat, menahan emosi. 


"Atau enggak, om-om yang waktu itu aja buat kita. Lo kan udah punya om-om yang baru, ya gak? Hahahaha.." Cibir mereka lalu tertawa penuh kepuasan. 


Gadis itu berbalik, lalu menatap para gadis itu dengan tajam. Dia berjalan lalu meraih kerah kemeja yang gadis itu pakai, gadis yang dengan berani meminta nomor ponsel papa nya.


"Kau ingin nomor ponsel om-om itu?"


"Ya, kenapa? Apa tak boleh hemm, ayolah jangan besar kepala. Berbagi lah sedikit dengan kami, Maura." 


Gadis itu hampir saja mencekik leher gadis bernama Amara itu. 


"Amara, kau meminta nomor ponsel papa ku kan? Baiklah, akan aku berikan."


"M-aksud lo apa?"


"Pria setengah abad yang tadi nganterin gue ke sini, itu papa gue. Jadi, Lo pengen jadi ibu tiri gue apa gimana?" Tanya Maura membuat Amara menganga. 


"What? Jadi yang tadi itu papa Lo?"


"Yeah, kenapa haa?"


Plak.. 


Tangan mungil gadis itu melayang dan mendarat mulus di pipi Amara cukup keras.


"Berani sekali kau, apa aku harus menjahit mulut mu sebagai peringatan haa?" Bentak Maura. 


"Ckkk, berani sekali kau menampar ku!" 


"Kau yang terlalu berani padaku, kalau saja kau tak mengusik ku, aku takkan melakukan apapun!" 


"Keterlaluan." Tangan Amara hampir saja melayang untuk menampar pipi Maura, tapi sebuah tangan kekar dengan cepat menahan tangan gadis itu. 


"Berani menyentuh gadisku, ku pastikan leher mu putus!" Suara dingin mendominasi, namun terdengar tak asing bagi Maura. Dia membuka kedua mata nya, dia melihat punggung tegap di balut jas hitam di depan nya, tengah melindungi nya. Aroma parfum nya membuat Maura tau, kalau pria di depan nya adalah pria pujaan nya.


"Lepaskan!" Amara meronta, namun semakin gadis itu meronta, Daniash juga memperkuat cengkraman nya di pergelangan tangan Amara. 


"Aasshhh sakiitt.. Tolong, lepaskan aku!" 


"Tidak, sebelum tangan mu ini ku patahkan!" Jawab Daniash pelan, namun terdengar sangat menakutkan. 


Semua orang berkumpul untuk menyaksikan kegaduhan apa yang terjadi, Amara, Daniash dan Maura kini jadi pusat perhatian seluruh siswa dan siswi, namun tak ada yang berniat menengahi. 


"Lepaskan saja Dad, tak ada guna nya juga." 


"Apa kau bilang? Semudah itu melepaskan gadis yang sudah menyakiti mu, Bby?" Tanya Daniash, dia melirik ke samping tempat dimana gadisnya berada.


"Tidak, aku baik-baik saja." 

__ADS_1


"Ckkk, kalau saja bukan karena gadisku, aku pasti sudah mematahkan tangan mu, gadis sialan!" Daniash menghempaskan tangan Amara dengan kasar, lalu dengan santai meraih tissu basah dari dalam saku jas nya. Lalu mengelap tangan nya yang bekas memegang tangan Amara.


"Tangan ku kotor setelah menyentuh seonggok kotoran!" Daniash mengelap tangan nya hingga bersih lalu melempar tissu bekasnya ke tong sampah. 


Amara menatap Maura dengan tatapan tajam penuh kebencian, membuat Daniash geram.


"Berani menatap gadisku seperti itu, ku congkel kedua bola mata mu itu!" 


Amara terhenyak, lalu memilih pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa. 


"Berani-beraninya mengusik gadisku." Gumam Daniash.


"Ngapain kesini hmmm?"


"Hehe, kangen Bby." 


"Kan kita udah janjian buat ketemu setelah aku selesai kelas, Dad." 


"Gak kuat, jadi Daddy kesini. Ehh lihat kamu hampir di tampar, ya Daddy marah lah. Siapa coba yang gak marah liat gadis nya hampir di sakitin gitu." Ucap Daniash panjang lebar. 


"Dihh, yaudahlah. Maura mau ke kantin, ngikut?" 


"Boleh, sekalian liat kalo di kantin kamu makan apa." 


"Cuma bakso atau siomay doang, Dad." Jawab Maura sambil berjalan dengan tangan yang saling bertaut mesra. 


"Gak ngantor ya Dad?" 


"Males, kata Aryo ada papa disana. Jadi Daddy disini aja selama dia di kantor." 


"Kok males Dad?" Tanya Maura heran.


"Biasalah, Daddy males di atur-atur Bby." 


"Ohh yaudah, terserah Daddy aja." Jawab Maura. Toh dia tak berhak tau lebih banyak, karena dia sadar benar posisi nya hanya seperti simpanan. 


"Bestiee, lama banget deh.." Nayna menyambut Maura dengan pelukan membuat pria yang berada di samping gadis itu mendengus. Rasanya dia tak rela saat melihat gadisnya di peluk, padahal oleh sesama wanita. Saking posesif nya Daniash pada Maura. 


"Iya hehe, ada biang masalah tadi." Jawab Maura sambil cengengesan, sebelum Nayna menyadari kalau dirinya tengah di tatap tajam oleh Daniash.


"Siapa? Amara ya beb?"


"Itu tau, yuk ahh duduk. Udah laper banget ini, tadi cuma makan roti sama susu." 


"Yuk, eehh…"  Nayna mendelik saat melihat Daniash berada di samping sahabatnya, berarti tadi…


"Kok ada dia, Beb?" Bisik Nayna. 


"Nanti aku jelasin, yuk makan." Ajak Maura lagi.  


Daniash mengekor di belakang sang gadis, dengan wajah datar nya, namun sedikitpun tak mengubah kadar ketampanan seorang Daniash Anggara Kim.


Semua siswi yang berada di kantin menatap takjub pada sesosok pria tampan, gagah, sempurna dengan setelan jas dan sepatu mengkilat juga dasi yang menggantung rapi. 


"Kenapa menatap ku seperti itu? Kampungan, gak pernah liat orang ganteng apa gimana?" Ketus Daniash membuat mereka menunduk seketika, sedangkan Maura tertawa kecil dalam hati karena ucapan sang Daddy. 


Wajah tampan nya sangat berbeda dengan cara bicara nya yang pedas dan menusuk, hingga banyak orang yang kena mental seketika. Namun jauh berbeda ketika Daniash bicara dengan gadisnya, pria itu berubah 180 derajat. Datar dan dingin itu tak ada, yang ada hanya kehangatan yang selalu pria itu tunjukkan pada Maura, hanya pada gadis itu.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2