Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 38 - Ponsel Baru


__ADS_3

Maura melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya, dia kelelahan. Lelah setelah di hajar beberapa jam oleh Daniash di atas ranjang, lalu lelah batin setelah bertemu dengan istri dari kekasihnya sendiri, susah juga ternyata menjalin hubungan dengan suami orang.


"Baru pulang sayang? Gimana keadaan temen mu itu? Kata Nayna, kamu hampir gak tidur semalaman ya karena jagain dia?" Tanya Amira setelah melihat putrinya pulang.


"I-iya Ma, udah mendingan sekarang. Makanya Maura pulang dulu, Ma. Nanti atau besok, Maura jengukin lagi." 


"Temen kamu yang kecelakaan itu perempuan atau laki-laki, sayang?" Tanya Amira dengan antusias.


"Memang nya kenapa, Ma?"


"Mama penasaran aja, sampe-sampe anak cantik mama ini gak tidur karena jagain dia." 


"Ohh, laki-laki sih Ma." Jawab Maura malu-malu. Dia tak sepenuhnya berbohong, toh semalaman dia hampir tak tidur karena melayani Daniash. Pria tampan yang mabuk entah karena apa, Daniash tak pernah mabuk-mabukan jika dia sedang tak punya masalah. 


"Ciee, mama kira itu pacarmu." 


"Hehe, mama bisa aja. Baru deket Ma, tapi dia menyukai gadis lain, Ma." 


"Siapa yang berani menolak putri kesayangan ku, katakan saja orang nya. Biar papa yang bertindak." Sewot Elgar yang membuat Maura mendelik, papa nya selalu saja begitu.


"Papa ini, kalau begitu terus bisa-bisa Maura gak laku." Ketus Maura sambil menyilangkan tangan nya di dada. 


"Papa bisa menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa." Jawab Elgar santai, seolah tanpa beban.


"Enak aja, di jodoh-jodoh. Emang papa kira Maura gak punya tipe ideal sendiri gitu? Pokoknya Maura bakal benci papa seumur hidup kalau sampai papa jodohin Maura!"


"Haha, iya iya putri kesayangan papa. Inget, nyari pacar nya yang ganteng. Minimal seperti papa lah, atau satu tingkat lebih tampan dari papa." Ucap Elgar, memang di usia nya yang sudah menginjak kepala enam, Elgar masih terlihat sangat tampan dengan tubuh tegap nan atletis nya. 


"Dih, emang nya papa ganteng?"


"Ganteng dong, kalau papa enggak ganteng, mama mu gak bakal nyosor duluan. Iya gak Ma?" Elgar menaik turunkan alisnya ke arah sang istri. 


"Aaihh, Papa ini memang tampan. Pria tertampan yang pernah mama temui." Jawab Amira membuat Maura mencebik.


"Bucin gak tau tempat, malesin."


"Anak kita iri, Ma." Ucap Elgar membuat anak gadisnya cemberut. 


"Ululu, anak cantiknya papah. Jangan cemberut dong, nanti cantiknya luntur lho." 


"Aku gak peduli, Pa." Jawab Maura ketus. 


"Sudah sudah, lebih baik kamu mandi dulu terus makan ya?"


"Siap Mama." Maura mengecup singkat pipi kanan sang Mama dan berjalan pelan ke kamar nya. 


Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, rasanya dia begitu lelah hari ini. Menghadapi nafssu sang Daddy, lalu menghadapi istrinya yang angkuh dan sombong. 


"Dihh, nyesel banget pernah idolain dia." Gerutu Maura. 


Dia ingin mengambil ponsel nya, namun sedetik kemudian dia menghentikan niat nya untuk menghubungi sang Daddy, karena ponsel nya sudah jadi sampah tak berharga yang dia buang ke tong sampah. 


"Huffftt, ponsel ku kan di banting sama nenek sihir itu tadi." 


Akhirnya, Maura bangkit dari rebahan nya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan guyuran air shower yang pasti akan membuat pikiran dan tubuhnya jauh lebih tenang.


Gadis itu memejamkan mata nya saat merasakan tetesan air mengaliri tubuhnya, dari kepala hingga ujung kaki nya. Dia menggosok tubuhnya dengan perlahan, lalu kembali membilas nya. 


Setelah selesai, Maura meraih bathrobe dan memakai nya. Sebelum keluar kamar mandi, Maura bercermin lebih dulu. Dia melihat tanda kepemilikan yang berjejer rapi di dada nya, gadis itu menyentuh tanda itu. 


"Asshhh, perih.." Maura meringis, bekas cumbuan Daniash masih terasa sedikit perih. 

__ADS_1


"Hemm, ini bagian favoritnya." Gumam Maura sambil melihat ke arah dada nya, dimana Daniash sering menghabiskan waktu nya untuk bermain di gumpalan lemak itu. Dia tersenyum kecil saat mengingat betapa bernafssu nya Daniash saat menyentuhnya, selalu memperlakukan nya dengan lembut, hingga dia seringkali di ajak mengudara melewati puncak nirwana bersama-sama.


Maura keluar dari kamar mandi dan segera berganti pakaian, lalu segera turun dari kamar nya karena perutnya yang sudah keroncongan. 


"Mama, masak apa?"


"Rendang, kesukaan kamu." Jawab Amira sambil tersenyum. Elgar juga berada di ruang makan dengan koran harian di tangan nya, karena dia tak punya waktu untuk membaca nya saat pagi hari, jadi dia membaca nya malam hari sebelum makan malam.


Baru saja Maura akan mendudukan tubuhnya di kursi yang kosong, bel rumahnya berbunyi berkali-kali. 


"Siapa ya malam-malam begini?" Tanya Elgar, dia bersiap untuk bangkit dari duduknya tapi keburu Maura mengajukan dirinya sendiri untuk membuka pintu.


"Biar Maura aja yang bukain pintu nya, Pa." 


"Baiklah." Jawab Elgar pasrah, dia membiarkan anak gadisnya membuka pintu utama. 


Gadis itu berjalan sedikit cepat, lalu membuka pintu utama dengan perlahan. Maura mengernyitkan kening nya saat melihat seseorang yang terlihat sangat asing, berdiri tepat di depan pintu. 


Pakaian nya sangat jauh dari seorang pengantar paket, pria di depan nya malah terlihat seperti bodyguard. Tubuh nya tinggi besar, dengan otot-otot menonjol hingga membuat pakaian nya terlihat sangat ketat.


Belum lagi wajahnya yang sangar, terlihat sangat menakutkan bagi Maura. Tatto di tangan sebelah kirinya menambah kesan menakutkan bagi gadis mungil itu.


"Permisi, Nona Maura?"


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya pak?"


"Ini paket untuk anda, mohon di terima."


"Paket apa ya, pak? Soalnya saya gak pesan paket." 


"Maaf Nona, saya kurang tau. Tapi ini paket untuk Nona." 


"Sama-sama, Nona." Setelah itu pria itu pun pergi tanpa kata-kata lagi, Maura juga tak peduli dan masuk ke dalam rumah. Dia heran, paket dari siapa ini? Perasaan dia tak pernah memesan barang lewat online, tapi tiba-tiba ada paket? Pikiran nya melanglang buana kemana-mana.


"Bagaimana kalau isinya boneka santett atau jenglot? Duh, takut beneran deh. Ini paket bikin overthinking aja." 


Maura menggerakan paket itu, lalu mendengarkan nya, tak ada suara apapun. Dia semakin penasaran, paket apa ini?


Karena penasaran, Maura pun membuka paket itu dengan perlahan. Jujur saja dia takut kalau paket ini adalah kiriman orang iseng, tapi dari mana dia alamat rumahnya?


Maura berhasil membuka nya, mata nya terbelalak saat melihat apa yang berada di dalam paket itu. 


"Ponsel?" Yaps, paket itu berisi sebuah ponsel keluaran terbaru dan pasti harga nya tembus hingga puluhan juta. Jauh lebih bagus dari yang dia buang tadi, tapi otaknya masih belum bisa mencerna apapun, termasuk dari siapa ponsel ini?


"Apa dari Daddy ya? Gak mungkin deh, dari mana dia tau kalau ponsel aku rusak?" Gumam Maura, sambil melihat ponsel itu dengan seksama. Ponsel baru berwarna hitam dengan empat kamera di belakang nya. 


Tanpa pikir panjang lagi, Maura langsung mengambil SIM card miliknya dan memasukan nya ke dalam ponsel itu lalu menghidupkan nya. 


Seketika notifikasi panggilan dan puluhan pesan langsung masuk, termasuk dari Daniash. 


"Huffftt.. Selalu aja spam chat, padahal kan satu juga pasti aku bales." 


Maura langsung membalas pesan dari Daniash, agar pria itu tak mengkhawatirkan nya terus menerus. 


Dia juga menanyakan, apa ponsel ini dari nya?


'Maura sudah sampai ke rumah dari tadi, Dad. Ohh iya, ponsel Maura rusak. Apa ini ponsel dari Daddy? Tadi ada orang nyeremin nganter ini ponsel ke rumah, itu pasti orang suruhan Daddy kan?' 


Tring.. 


Bunyi notifikasi, Maura langsung membuka pesan dari sang kekasih lalu tersenyum manis.

__ADS_1


'Baguslah kalau sudah sampai, iya ponsel itu dari Daddy sayang. Lagipun, ponsel lama mu sudah jadul, lebih baik di ganti saja.' Balas Daniash. 


"Baiklah, terimakasih Daddy. Love you, Maura mau makan malam dulu, laper." 


Gadis itu mengakhiri percakapan nya, lalu pergi ke ruang makan dan mengikuti acara makan malam dengan tenang.


"Siapa yang datang tadi?" Tanya Elgar.


"Cuma kurir paket, Pa." 


"Kamu belanja online?" 


"Enggak, papa sendiri aku lebih suka ke toko nya langsung dari pada harus beli online."


"Lalu?"


"Ponsel aku rusak pas di rumah sakit kemarin, terus temen aku ganti baru. Ini ponselnya, Pa." Maura menunjukan ponsel baru miliknya.


"Bagus, pasti mahal juga."


"Iya dong." Jawab Maura sambil mengelus ponsel nya, bukan tentang harga tapi siapa yang memberi nya. Kalau dari harga, Maura bisa membeli beberapa ponsel merk itu atau sekalian dengan toko nya pun dia sanggup dengan berbekal black card yang dia miliki. 


"Yaudah ya, Ma, Pa. Maura mau ke kamar dulu, habis makan bawaan nya ngantuk deh." 


"Iya, selamat malam sayang." 


"Selamat malam juga Papa, Mama." Maura mengecup pipi kanan mama dan papa nya sebelum pergi ke kamarnya. Gadis itu menaiki tangga dengan cepat, dia tak sabar untuk melakukan panggilan video bersama sang kekasih.


Setelah sampai di kamar, Maura langsung berbaring dan memainkan ponsel barunya. Gadis itu tersenyum saat melihat kalau nomor Daniash sedang online, dia langsung menelpon nya. 


Hanya butuh beberapa detik saja untuk Daniash mengangkat telepon dari gadisnya.


"Hai Daddy.." sapa Maura dengan senyum manis nya.


'Kenapa Baby, kangen Daddy hmm?' Tanya Daniash, sama seperti yang tengah Maura lakukan, pria itu juga sedang berbaring di atas kasur besar nya. 


"Iya, kangen banget sama Daddy." 


'Besok ketemuan yuk?' Ajak Daniash dan langsung di setujui oleh Maura.


"Ayuk, jemput Maura di kampus ya Dad."


'Baiklah sayang, kamu suka ponsel baru nya sayang?'


"Tentu saja Maura suka, terimakasih Daddy." 


'Sama-sama sayang, kenapa tidak berbelanja? Sudah satu minggu ini tak ada notif dari black card yang Daddy berikan padamu.' 


"Belum ada barang yang Maura mau, Dad. Nanti kalau ada launching barang baru." 


'Jangan di biarkan menganggur, beli apapun yang kamu mau, sayang.' ucap Daniash.


"Iya iya Daddy ku sayang. Kenapa Daddy kepikiran ngirimin Maura ponsel baru?"


'Gak tau, tiba-tiba pengen aja ngirim ponsel itu. Soalnya ponsel kamu yang lama udah jadul bagi Daddy, sekarang ponsel kita samaan, sayang.' ucap Daniash.


"Iya Daddy.." Maura tersenyum kecil, keduanya terus mengobrol hal-hal random, hingga jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam, barulah Maura mematikan panggilan video nya. Mereka pun tertidur di tempat yang berbeda, Daniash di apartemen nya dan Maura di rumahnya. 


......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2