
Setelah beberapa jam, akhirnya pasangan suami istri itu bisa istirahat juga. Maura langsung tertidur lelap setelah membersihkan diri dari keringat dan make up yang menempel di wajah seharian ini.
Sedangkan Daniash, dia belum bisa tertidur meskipun tubuhnya sangat lelah. Pria itu asik memperhatikan wajah cantik istri nya yang terlihat sangat teduh saat tertidur, dia membelai nya lalu mengecup nya dengan penuh kasih sayang.
"Sampai saat ini, aku masih belum menyangka kalau aku akan mencintaimu sedalam ini, Bby." Gumam Daniash. Memang pada awalnya, dirinya hanya mencari seorang sugar baby agar dirinya tak kesepian, tapi hatinya berkata lain.
Dia merasa nyaman dengan sosok Maura yang manja dan periang, membuat hari-hari nya lebih berwarna dengan segala tingkah polah menggemaskan nya, membuat hatinya berdebar setiap kali melihat gadis itu.
Dan kinilah akhirnya, dia menikahi gadis remaja yang lebih pantas menjadi keponakan atau adiknya mungkin, karena perbedaan usia mereka yang cukup terpaut jauh, 12 tahun.
Tapi, itulah cinta tak memandang jarak usia dan status. Saat sudah merasa klop satu sama lain, pernikahan pun terjadi.
"Aku sangat mencintaimu, Bby. Sangat." Gumam Daniash lagi, lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat, menyelimuti nya hingga ke dada. Tangan kekar nya terus mengusap perut Maura, membuat wanita itu semakin tenggelam dalam lautan mimpi yang sedang dia selami.
Setelah puas mengusapi perut istrinya, akhirnya Daniash bisa tertidur juga. Tidurnya terasa lebih nyenyak malam ini, mungkin karena semua beban nya sudah hilang dari pundak nya, membuat tubuh nya terasa ringan saat ini.
Di apartemen, Aryo dan Nayna sedang bermesraan sambil menatap bulan yang mengintip malu-malu dari balik awan hitam.
"Daddy.." lirih Nayna sambil mengukir pola abstrak di dada bidang Aryo, saat ini Nayna tengah bermanja di pangkuan Daddy nya.
"Iya, Baby. Kenapa hmm?"
"Apa kita bisa menyusul jejak tuan Daniash sama Maura juga?" Tanya Nayna lirih.
"Tentu, kamu ingin menikah juga?"
"Pasti aku mau, siapa sih yang gak mau nikah, apalagi sama laki-laki yang di cintai."
"Kamu mencintai Daddy, Bby?" Tanya Aryo membuat Nayna mendongak.
"Heem, iya. Aku mencintai Daddy, aku harap aku tak cinta sendirian selama ini."
"Tentu tidak, karena Daddy juga mencintaimu." Jawab Aryo membuat kedua mata Nayna berbinar cerah.
"Benarkah, Dad?"
"Iya, itu alasan nya kenapa Daddy tak mau menyentuh mu meskipun kamu selalu menggoda Daddy. Tapi ya, akhirnya Daddy kewalahan juga."
"Eemmm, meleleh aku Dad."
"Kamu bukan es krim, tapi lebih manis dan nikmat dari pada es krim yang di makan saat panas terik." Ucap Aryo sambil membelai lembut wajah gadisnya.
__ADS_1
"Daddy gombal deh.." gadis itu tersipu, dia merengek manja sambil menepuk dada Aryo.
"Lho kok gombal sih? Seriusan ini, Bby."
"Buktiin dong."
"Buktiin apa nya sayang?" Tanya Aryo sambil menjawil gemas dagu Nayna.
"Lamar aku, Dad."
"Hemm, tentu. Tapi tidak sekarang ya, Bby. Masih ada beberapa urusan yang harus Daddy selesaikan terlebih dulu, sabar ya?"
"Baiklah Dad, tapi jangan lama-lama karena wanita juga butuh kepastian." Jawab Nayna. Aryo mengangguk cepat, lalu keduanya saling melempar senyuman.
Entah siapa yang memulai, tapi kini bibir mereka bertaut mesra. Aryo memaguut bibir mungil kemerahan Nayna, keduanya saling melumaat satu sama lain. Angin malam tak mereka hiraukan, keduanya sibuk dengan kegiatan mereka saat ini.
"Dingin Dad.."
"Kita pindah ke kamar, sayang." Kata Aryo, seperti tanpa beban dia langsung menggendong gadisnya ala koala, dengan kedua kaki gadis itu yang melilit di pinggang Aryo.
Aryo menurunkan Nayna di atas ranjang dengan perlahan, lalu kembali melanjutkan ciuman yang sempat tertunda. Keduanya kembali berciuman, namun kali ini terasa lebih menuntut dari yang tadi.
Tangan besar Aryo meraup gundukan kenyal di dada gadisnya, meremaas nya perlahan, membuat Nayna sedikit kewalahan dengan permainan Aryo yang semakin lama semakin liar.
Aryo tak mendengarkan, namun dia semakin brutal mencium bibir Nayna hingga gadis itu kewalahan mengimbangi permainan nya.
"Aahhh Daddy.." Nayna mendesaah pelan saat pria itu turun untuk menguluum puncak dada nya dengan gemas, pria itu menyusu seperti bayi kehausan.
Nayna memejamkan mata nya, beberapa kali mulut mungilnya mengeluarkan desaahan manja, membuat Aryo semakin tak terkendali.
"Daddy.."
"Kenapa sayang? Daddy pengen, boleh ya?"
"Boleh, tapi pelan-pelan Dad. Apalagi itunya, jangan di gigit sakit." Ucap Nayna pelan.
"Daddy sangat bernafssu sayang, maaf ya."
"Heemm, iya Dad.."
Aryo pun membuka pakaian gadisnya, begitupun dengan pakaian nya, semua kain itu teronggok mengenaskan di lantai.
__ADS_1
Pria itu terlihat sangat bernafssu memang, dia langsung memainkan inti gadis nya agar mengeluarkan cairan pelumaas untuk memudahkan junior nya masuk nanti.
Aryo memposisikan dirinya di antara kaki Nayna yang mengangkaang, lalu membasahi senjata nya dengan air liur. Dia menggesekan nya di pintu masuk, lalu menekan nya dengan perlahan, membuat Nayna melenguuh, padahal belum sepenuhnya masuk.
"Eeemmmhhhh…"
Tanpa ragu, Aryo langsung menekan senjata nya sedikit kuat, hingga berhasil masuk sepenuhnya.
"Aasshhh Daddy, kaget tau!"
"Maaf sayang.." Nayna mengangguk, pria itu pun mulai menggerakan tubuhnya dengan perlahan, menghentak keluar masuk dengan tempo yang pas, tidak terlalu cepat namun tidak terlalu pelan juga.
"Daddy…"
"Kenapa terus memanggil sayang, padahal Daddy disini."
"Enak, Dad."
"Milikmu juga, enak dan sempit sekali." Jawab Aryo tanpa menghentikan gerakan tubuhnya di atas tubuh gadisnya.
Keduanya memadu kasih dengan nikmatnya malam itu, hingga menghabiskan waktu berjam-jam lama nya, seakan tiada lelahnya bagi Aryo untuk tetap mengarungi nikmat nya surga dunia bersama Nayna.
"Aaargghh, Bby.." Aryo mengerang panjang saat berhasil meraih pelepasaan nya.
"Hangat, Dad.." lirih Nayna sambil meraba intinya yang terasa hangat dan sangat basah, becek sekali.
Aryo mengambilkan tissu dan mengelap inti gadisnya yang baru saja selesai dia garap.
"Mau mandi dulu?"
"Lemes, Dad."
"Yaudah, Daddy gendong ya." Nayna pasrah saja saat Aryo menggendong nya ke kamar mandi. Keduanya pun mandi, tentunya tanpa mengulang permainan apapun lagi, karena mereka sudah terlalu lelah dan ingin beristirahat.
Setelah selesai membersihkan tubuh masing-masing, Aryo kembali menggendong Nayna dan memakaikan nya piyama tidur.
"Selamat tidur gadis kecilku.." ucap Aryo sambil mengecup lembut kening gadisnya.
"Selamat tidur juga bayi besarku." Balas Nayna.
Keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan mesra, Nayna bersandar manja di dekapan hangat sang Daddy, terasa sangat nyaman.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻🌻