
Aryo terus menemani gadisnya yang masih belum sadarkan diri juga, padahal hari sudah larut. Tentu saja hal itu membuat Aryo khawatir, tadi bibi nya Nayna juga datang untuk menjenguk sodara nya, tapi setelah mendengar kalau beliau sudah meninggal, dia langsung memutuskan untuk pulang.
Mengurus semua keperluan untuk pemakaman dan memberitahu warga lain. Sedangkan untuk urusan Nayna, Alika menyerahkan sepenuhnya pada Aryo.
"Bby, bangun sayang. Jangan bikin Daddy khawatir." Lirih Aryo, sambil memegangi tangan gadis nya.
"Aahhh, aku lupa mengabari Tuan Daniash. Tapi apa ini akan membuat Nona Maura panik ya? Dia kan baru saja sembuh." Ucap Aryo menimbang-nimbang.
"Besok saja kali ya, pas pemakaman nya saja."
Aryo kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku celana bahan nya, lalu kembali fokus dengan gadis nya.
"Enghh…" Lenguhaan kecil terdengar, Aryo langsung mendekat dan mengecup kening Nayna dengan lembut.
"Bby.."
"Daddy.." lirih Nayna, tatapan mata nya sendu.
"Kenapa, sayang?"
"Aku bermimpi buruk, aku bermimpi Ibu meninggal. Padahal kan ibu baik-baik saja kan?"
"Sayang.."
"Katakan Dad, itu tak nyata kan?"
"Kamu harus kuat, Bby. Ini semua nyata dan kamu harus bisa menerima kenyataan pahit ini." Aryo membingkai wajah cantik Nayna, kedua mata gadis itu sudah berkaca-kaca.
"Jadi, itu bukan mimpi Dad?" Aryo mengangguk pelan. Luruh sudah air mata Nayna, dia menangis tergugu.
"Sayang, jangan menangis. Ibu pasti gak suka kamu menangis terus seperti ini." Ucap Aryo sambil memeluk gadis nya, tangan nya mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan.
"Sekarang aku sendirian, Dad. Aku tak punya siapa-siapa lagi disini, aku benar-benar sendirian sekarang."
"Husshh, kok ngomong nya gitu sih. Kamu kan masih punya Daddy, Bby. Ada Nona Maura juga, dia sangat mengkhawatirkan keadaan kamu, Bby." Aryo melerai pelukan nya, lalu mengusap lembut sudut mata gadis nya dengan tangan.
"Daddy, hikss.."
"Sshhttt, sudah ya? Kamu harus belajar ikhlas."
"Pengen lihat ibu, boleh?" Ucap gadis itu, dia mendongak menatap wajah tampan sang Daddy. Pria itu tersenyum lalu mengangguk, dia membelai lembut wajah cantik sang gadis.
"Daddy panggilkan perawat dulu ya."
"Buat apa, Dad?" Tanya Nayna.
"Buka jarum infusan nya, Daddy gak mungkin buka sendiri."
"Hemm, kenapa harus di infus sih Dad. Padahal aku kan cuma pingsan karena shock aja."
"Daddy khawatir sayang, kamu pingsan nya lama. Sampai-sampai soto daging yang kamu pengen itu basi."
"Yahh, padahal aku mau banget makan soto daging." Keluh gadis itu sambil menunduk.
"Gapapa, nanti Daddy beli lagi. Sebentar ya." Nayna mengangguk, Aryo pun keluar dari ruangan gadis nya.
Tak lama kemudian, Aryo datang dengan seorang perawat perempuan dengan baki di tangan nya berisi alat kesehatan.
"Sebentar ya, Nona."
"Pelan-pelan, sus." Pinta Nayna, dia selalu ngilu saat melihat jarum infus. Kalau saja dia tak sadarkan diri, dia takkan pernah mau di infus. Untung nya, dokter menginfus tangan nya saat dia sedang tak sadarkan diri, jadi dia tak perlu melihatnya.
__ADS_1
"Baik Nona."
Dengan perlahan, perawat itu mencabut jarum infusan nya, membuat Nayna meringis menahan ngilu di tangan nya.
Setelah selesai, perawat itu menutupi bekas jarum nya dengan plester juga kapas.
"Sudah, Nona."
"Terimakasih, sus."
"Sama-sama, Nona." Jawab perawat itu ramah, dia mengangguk pelan dan meninggalkan ruangan itu.
"Ayo kita melihat ibu kamu." Ajak Aryo. Nayna mengangguk lalu meraih tangan Daddy nya dan menggenggam nya erat, jujur saja hatinya merasa berdebar tak karuan saat ini.
"Pelan-pelan jalan nya ya, Bby."
"Iya Daddy."
Keduanya pun berjalan perlahan ke ruangan jenazah, tentunya dengan di dampingi seorang perawat.
"Dad.."
"Iya sayang, kenapa?"
"Enggak kok, Dad." Jawab Nayna, dia berusaha setengah mati untuk menguatkan hati nya. Anak mana yang sanggup melihat orang tua nya terbujur kaku tak bernyawa? Takkan ada yang mau, tapi itulah takdir. Dimana ada kehidupan, ada juga kematian.
Perawat itu membuka pintu ruangan, lalu mempersilahkan Aryo dan Nayna untuk masuk. Suasana di ruangan jenazah memang selalu dingin mencekam, maklum saja di huni oleh jasad manusia yang sudah tak bernyawa.
Perawat itu membukakan kain putih yang menutupi ibu Nayna, seketika itu tangis Nayna pecah. Namun dengan cepat Aryo menenangkan nya dengan pelukan.
"Sayang, jangan menangis. Ingat, apa kata Daddy tadi."
Nayna mendongak, lalu mengangguk. Meskipun tubuhnya bergetar hebat menahan rasa takut, akhirnya gadis itu berhasil tenang. Dia mendekat lalu mengusap pelan tangan sang ibu.
"Sudah, kita keluar ya Bby?"
"Iya Dad." Pasrah Nayna. Kedua nya pun keluar.
"Maaf tuan, apa jenazah nya akan di bawa ke rumah duka malam ini juga atau besok pagi saja?" Tanya perawat itu.
"Besok pagi saja, sekarang sudah terlalu larut untuk pulang."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu dan segera menyelesaikan administrasi nya."
"Baik, saya selesaikan sekarang." Jawab Aryo tegas, membuat Nayna mendongak. Seluruh biaya pengobatan ibu nya selama satu minggu di tanggung semua nya oleh Aryo.
"Daddy.."
"Iya sayang, kenapa?"
"Maaf sudah merepotkan dan bergantung pada Daddy."
"Kenapa minta maaf? Ini sudah tugas Daddy, sayang. Jangan merasa bersalah, Daddy calon suami kamu dan menantu ibu mu." Nayna tercengang mendengarkan ucapan sang Daddy, apa kata nya? Calon menantu ibu mu? Haisshh, kalau saja suasana nya sedang tidak begini, mungkin Nayna sudah jungkir balik saking senang nya.
"Sekarang kita istirahat dulu ya, Bby? Besok pagi kita kesini untuk mengurus pemulangan ibu."
"Di rumah sakit?"
"Di hotel, memang nya kamu mau tidur di rumah sakit? Daddy sih gak mau, hehe."
"Ihhh Daddy, aku juga gak mau. Aku mau nya sama Daddy." Rengek Nayna dengan manja, membuat Aryo gemas sendiri. Kalau saja bukan di rumah sakit dan keadaan nya sedang tak seperti ini, mungkin saja Aryo sudah menyeret Nayna ke kamar dan menelanjangii nya.
__ADS_1
"Jangan gemes-gemes dong, Bby. Daddy jadi nafsuu nih."
"Isshhh Daddy mah nafsuaan."
"Kan cuma sama kamu doang, kalau pun Daddy nafsuaan nya sama yang lain, nanti kamu marah. Bisa-bisa junior Daddy di potong habis nanti."
"Iya lah, aku gak suka berbagi sosis." Jawab Nayna ketus, membuat Aryo tersenyum. Setidaknya usaha nya untuk membuat Nayna melupakan sedikit kesedihan nya berhasil.
"Ya udah, kita check in di hotel terdekat aja ya Bby."
"Iya Dad." Kedua nya pun pergi dengan tangan yang saling bergandengan.
Keesokan harinya, Nayna dan Aryo sudah berada di rumah sakit pagi-pagi sekali untuk mengurus kepulangan ibu Nayna.
Di tengah kesibukan nya, ponsel milik Aryo berdering nyaring.
"Sebentar ya Bby, Daddy ngangkat telpon dulu."
"Iya Dad." Jawab Nayna sambil mengangguk, Aryo pun sedikit menjauh dari keramaian.
"Hallo, Tuan.." ucap Aryo, rupanya Daniash yang menghubungi nya pagi-pagi begini.
'Dimana, kenapa kau tak menjemput ku, Ar?' Tanya Daniash dengan nada ketus. Dia memang tak suka kalau Aryo menjemput nya terlambat.
"Saya di rumah sakit, Tuan. Saya sudah mengajukan cuti lewat pesan."
'Kenapa cuti? Apa ada hal yang darurat?' tanya Daniash, perasaan nya tiba-tiba tak enak.
"Ibu nya Nayna meninggal, Tuan." Jawab Aryo apa adanya.
'A-apa? Kapan? Kenapa kau tak memberitahu ku sialan!'
"Maaf tuan, tadi malam beliau meninggalkan kami semua. Tadinya, saya memang ingin memberitahukan Anda. Tapi, saya khawatir tentang keadaan Nona Maura, mengingat dia baru saja pulang dari rumah sakit." Jelas Aryo panjang lebar.
'Shiit, dimana kau hah?'
"Di rumah sakit, kalau tuan ingin menghadiri upacara pemakaman nya, datang saja ke rumah Nayna."
'Ya, aku kesana sekarang bersama Maura!'
"Baik tuan, hati-hati di jalan. Selamat pagi."
Panggilan pun selesai, Daniash terdengar sangat marah. Mungkin karena kesal, kenapa baru memberitahu nya hari ini?
"Lho Dad, kenapa?" Tanya Maura.
"Bersiaplah, Bby. Kita pergi sekarang juga, pakai baju yang sopan."
"Buat apa sih, Dad?"
"Kita ke pemakaman ibu nya Nayna."
"Hah? Maksud Daddy apa? Bukan nya ibu Nayna masih koma di rumah sakit?" Tanya Maura keheranan.
"Beliau meninggal tadi malam, Bby. Jadi sekarang kita harus menghadiri pemakaman nya, kamu mau ikut tidak?"
"I-ikut Dad." Jawab Maura terbata, berita ini terlalu tiba-tiba, membuat nya terkejut. Tapi, dengan cepat dia mengganti pakaian nya dan mengikuti langkah suaminya dengan perlahan.
'Nay, kenapa Lo gak ngasih tau gue? Gue tau, Lo pasti lagi sedih sekarang. Sahabat macam apa gue? Gak ada disaat Lo terpuruk. Sorry banget, Nay!' Batin Maura.
.....
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻