Hasrat Satu Malam With Hot Daddy

Hasrat Satu Malam With Hot Daddy
Chapter 69 - Maura Demam


__ADS_3

Pagi harinya, Daniash terbangun lebih dulu. Kening nya mengernyit saat melihat istrinya menggigil, bibir nya memucat dengan gigi yang bergemeletuk. Pria itu meraba kening sang istri, dia terkejut saat merasakan kening Maura sangat panas.


"Bby.."


"Heemm, kenapa Dad?"


"Kamu gapapa, sayang?" Tanya Daniash khawatir, perempuan itu mengulas senyum lalu meraba wajah suaminya.


"Ya, aku baik-baik saja. Memang nya kenapa? Pagi-pagi kok sudah heboh, wajah kamu khawatir gitu." 


"Kamu demam, Bby." 


"Aahh demam ya? Tak apa-apa, nanti juga membaik, Dad." 


"Tidak, Daddy tak percaya dengan kata-kata mu itu." 


"Sudahlah, Dad. Aku hanya demam saja, bukan mau melahirkan, kenapa sepanik itu hmm?" Ucap Maura santai, tak tau saja kalau suaminya sudah panik sendiri.


"Kita ke rumah sakit ya?"


"Enggak ahh, ngapain ke rumah sakit? Aku baik-baik aja kok, cuma demam doang. Gak usah lebay, Dad." 


"Hah, kamu bilang Daddy lebay?"


"Ya habisnya, masa cuma demam harus ke rumah sakit sih. Setelah minum paracetamol juga baik kan nanti."


"Disitu masalah nya, kamu gak bisa makan obat-obatan sembarangan, ingat kamu lagi hamil, Bby." Ucap Daniash.


"Ya, lalu aku harus bagaimana Dad?"


"Nurut sama Daddy, oke?"


"Huftt, ya sudah terserah Daddy saja." Pasrah Maura, Daniash langsung meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Tak butuh waktu lama, sesosok pria tinggi besar dengan otot-otot yang menonjol datang dengan wajah sangar nya. Bahkan Maura saja sampai merinding saat melihat perawakan dan wajah pria itu.


"Jangan memasang wajah seperti itu, kau tak lihat istriku ketakutan hah?" Omel Daniash, membuat pria itu langsung memasang wajah yang lebih ramah.


"Maaf tuan, mobil sudah siap."


"Ya baguslah, kau urus semua masalah disini. Aku harus membawa istriku ke rumah sakit, sekarang juga." 


"Baik tuan." Pria itu membungkuk hormat saat Daniash melewati nya dengan Maura yang berada di pangkuan nya.


"Dad, itu siapa? Nyeremin banget deh."


"Anak buah Daddy, Bby. Kenapa?"


"Enggak sih, nakutin aja." Ucap Maura sambil terkekeh. 


"Dia anak buah kepercayaan Daddy, dia sudah lama bekerja sama Daddy, Bby. Kamu, kalau ada apa-apa jangan sungkan sama dia ya." 


"Takut, Dad." Ucap Maura sedikit meringis, melihat wajahnya saja membuat nya ketakutan, apalagi kalau harus bicara padanya.


"Dia gak bakal gigit kamu kok, Bby. Justru dia bakal hormat sama kamu, karena kamu istri Daddy yang berarti atasan dia juga." 


"Heemm, baiklah Dad. Omong-omong, mama sama papa kemana ya? Kok gak ada di hotel." Tanya Maura sambil menggelayut manja di leher kokoh suaminya.


"Tadi malam juga mereka langsung pulang, Bby. Katanya gak mau nginep disini, apalagi mama sama papa kamu." 


"Ohh begitu ya, jadi sekarang kita mau pulang?" 


"Ke rumah sakit, istriku sayang."

__ADS_1


"Huffftt, Daddy. Tapi baiklah." 


"Nah, kalau menurut gini kan cantik nya bertambah berkali lipat." Ucap Daniash sambil mengecup mesra kening dan bibir Maura.


Seorang supir dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk tuan nya, setelah memastikan kedua nya masuk, barulah dia kembali menutup pintu nya dan ikut masuk. 


"Ke rumah sakit." 


"Baik tuan." Jawab nya sopan, lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan nya menjauhi hotel tempat di adakan nya pesta meriah semalam.


Daniash tak membiarkan istrinya turun, bahkan saat sedang dalam mobil pun, pria itu tetap memangku Maura, sesekali mengusap perut buncit istrinya lalu mengajak janin nya mengobrol.


"Adek, lagi apa di dalam sana?"


"Isshhh Daddy, dia mana bisa jawab? Tapi kayaknya mereka lagi tidur deh." 


"Eehh sekarang kamu hamil 4 bulan kan, mereka udah nendang belum sih?" Tanya Daniash antusias, maklum lah ini adalah anak pertama nya. Meskipun dapat nya langsung dua sekaligus.


"Belum dong Dad, nendang nya nanti kalo udah enam atau tujuh bulan, mereka nendang-nendang disini nanti." 


"Gak sabar deh pengen liat mereka, Bby." 


"Ya sama, Dad. Apalagi aku yang bawa mereka kemana-mana, bahkan pipis pun aku bawa ke kamar mandi." Celoteh Maura sambil terkekeh.


"Kamu memang wanita yang luar biasa, Bby. Terimakasih, sudah mau menerima aku apa adanya."


"Sama-sama suamiku, tapi Daddy terlalu sempurna untuk di katakan apa adanya." 


"Eeemmm, kamu ini bisa aja deh." Daniash terkekeh lalu tanpa malu, dia mencium bibir istrinya, bahkan melumaat nya dengan penuh perasaan. 


Tak sadarkah kalau di dalam mobil ini bukan hanya ada mereka berdua? Tapi ada orang lain, yaps yakni supir yang bertugas mengendarai mobil yang pasangan bucin itu tumpangi. 


Wajahnya memucat dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya, tuan muda dan istrinya terlalu bucin hingga tak peduli dimana mereka sekarang.


Hingga beberapa menit kemudian, kendaraan roda empat itu berhenti di parkiran rumah sakit. Pria itu keluar dengan terburu-buru, lalu membukakan pintu belakang. 


Daniash dan Maura keluar, pria itu berjalan seperti biasanya dengan Maura yang masih berada di gendongan depan Daniash.


"Istri saya demam, tolong di infus saja." 


"Baik, Tuan." Jawab perawat itu, karena melihat wajah pasien yang sudah sangat pucat, jadi dia langsung setuju untuk menginfus wanita hamil itu.


"Sedang hamil, Nona?"


"Iya, sus." 


"Jangan kelelahan, perbanyak istirahat dan makan makanan sehat dan bergizi." Ucap perawat itu memberikan saran.


"Baik sus, terimakasih."


"Sama-sama, Nona. Tahan sebentar, akan terasa sedikit sakit." Maura mengangguk, dia memejamkan mata nya saat perawat itu menancapkan jarum infus di tangan nya.


"Nona tunggu sebentar, setelah itu akan saya pindahkan ke ruang perawatan." 


"VVIP." Celetuk Daniash, masih dengan wajah datarnya.


"Baik tuan." Perawat itu mengangguk, lalu pergi menyimpan baki berisi alat-alat kesehatan yang telah selesai dia gunakan.


Tak lama kemudian, perawat itu kembali dengan membawa kursi roda atas permintaan Daniash, karena dia tau kalau kaki istrinya masih sakit karena kemarin.


"Bisa di bantu, tuan."

__ADS_1


"Tentu, biar aku saja yang membawa istriku. Kau hanya perlu menunjukkan ruangan nya, agar istriku bisa beristirahat." 


"Baik tuan, mari." 


Perawat itu pun berjalan lebih dulu, di ikuti Daniash yang mendorong kursi roda. Hingga mereka sampai di ruangan VVIP, Daniash langsung membaringkan istrinya di atas ranjang empuk. 


"Terimakasih sus."


"Sama-sama, Nona dan Tuan. Kalau begitu, saya pergi dulu. Permisi dan selamat beristirahat." Perawat itu keluar dengan menutup pintu secara perlahan.


"Tidur ya? Daddy tau kepala mu pasti pusing sekarang."


"Hmm, iya Dad. Aku sangat pusing sekarang, mual juga." 


"Mau makan, biar mual nya hilang?" Tanya Daniash.


"Es jeruk, kayaknya enak deh dad, seger." 


"Sebentar, Daddy telpon Aryo ya." 


"Iya Dad, tapi kalo om Aryo nya lagi sibuk gapapa gak usah di paksa, kasian." 


"Heem.." Daniash hanya berdehem sebagai jawaban. Dia merogoh ponsel nya dari saku dan menelpon sekretaris nya itu, sekalian memberitahu nya kalau Maura sakit.


'Hallo tuan..'


"Sedang apa, Ar?" Tanya Daniash basa-basi.


'Lagi a-anu tuan, ada apa?' 


"Ckkk, kalau sudah selesai datanglah ke rumah sakit bintang purnama, istriku sakit, bawa gadismu sekalian. Terus belikan es jeruk ya." 


'Nona Maura sakit, tuan?' tanya Aryo, menghentikan sejenak kegiatan nya yang sedang berbagi keringat di pagi hari bersama gadisnya.


"Iya, dia kelelahan setelah pesta kemarin. Demam nya sangat tinggi, jadi sekarang dia di rawat. Cepatlah datang ya, jangan lama-lama." Perintah Daniash.


'Baik tuan, saya menyelesaikan ini dulu lalu kesana segera.'


"Ya, cepatlah." Daniash mematikan sambungan telepon nya, lalu kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku kemeja nya.


Dia berbalik menatap istrinya yang ternyata sudah tertidur nyenyak, seperti nya dia memang sangat kelelahan, hingga di tinggal beberapa menit untuk menelpon saja, dia sudah tertidur lelap seperti bayi. 


"Istriku sangat cantik dan sempurna, beruntung nya aku bisa memiliki mu seutuhnya, Maura." Gumam Daniash sambil mengusap lembut rambut dan kepala sang istri.


Di sisi lain, Aryo kembali melanjutkan kegiatan nya, tanggung tinggal sedikit lagi dia akan meraih puncak nirwana.


"Siapa yang nelpon pagi-pagi gini sih, Dad?"


"Tuan Daniash, katanya nona Maura sakit dia di rawat di rumah sakit." Jawab Aryo tanpa menghentikan gerakan maju mundur nya.


"Hah, Maura sakit Dad?" 


"Iya, sebentar jangan bergerak. Daddy akan selesai beberapa detik lagi." Pinta Aryo, karena Nayna terus bergerak meminta berhenti karena mengkhawatirkan keadaan sahabat nya saat ini.


"Cepatlah dad, aku ingin ke sana melihat Maura!" 


"Iya, makanya diam dulu ihh." Kesal Aryo. Pria itu semakin mempercepat gerakan nya dan ya beberapa menit kemudian, dia berhasil meraih puncak kenikmatan nya, meski harus terburu-buru. Tak apa, yang penting tetap meledak.


Keduanya buru-buru membersihkan diri dan setelah selesai, barulah mereka berangkat ke rumah sakit.


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2