
Daniash menatap wajah sang istri dengan sendu, bibir nya masih pucat, wanita itu juga mengeluh lemas dan pusing. Wajar saja, dia pendarahan cukup banyak apalagi di tengah kondisi nya yang hamil muda. Belum lagi dia sempat shock karena kedatangan tamu tak di undang.
Amira menatap menantu dan putrinya, begitu pun dengan Elgar. Sedari tadi kedua nya tak melepaskan tatapan mereka dari pasangan itu.
"Mas, mereka persis kayak kita dulu ya?"
"Hemm, kelihatan nya pria tua itu juga sangat mencintai putri kita, Ma."
"Iya, yang penting mereka bahagia. Papa juga jangan egois terus."
"Tidak, apapun akan papa lakukan untuk membuat putri satu-satunya ini bahagia, Ma."
"Baguslah, Pa." Amira tersenyum menatap sang suami. Lalu menggelayut manja di tangan nya, Elgar mengusap lembut kepala istrinya.
Daniash terus mengusap-usap perut istrinya, hingga perempuan itu merasa nyaman dan akhirnya tertidur.
"Sayang, makan dulu. Kamu belum makan, ini sudah sore." Ucap Riana sambil membuka wadah bekal yang dia bawa, berisi nasi dan sup buntut kesukaan putra nya.
Riana dan Danish memang pulang terlebih dulu, untuk mengambil pakaian ganti dan makanan.
"Nanti saja, Ma. Barengan sama Maura, dia juga belum makan."
__ADS_1
"Jangan merusak diri sendiri, Nak. Makan dulu, Maura nya baru saja tidur kan?" Ucap Amira sambil mengusap puncak menantu nya.
"Maura suka kalau aku mengusap perut nya, katanya nyaman. Kalau gak di usap, nanti Maura nya bangun, Ma."
"Biar mama yang gantiin kamu usap-usap perut nya, kamu makan dulu ya?" Bujuk Amira.
"Hmmm, baiklah Ma. Tapi pelan-pelan ya?" Amira mengangguk, dengan langkah pelan Daniash pergi ke sofa untuk makan siang yang sudah terlewat jauh.
"Makan yang banyak, kau akan sangat di butuhkan oleh putriku saat ini." Celetuk Elgar sambil tersenyum kecil.
"Hemm, istriku sangat manja padaku."
"Aku sedang tak ingin berdebat saat ini karena aku sedang makan." Sindir Daniash, dia mendelik menatap mertua nya. Mantan bestie, kini jadi mertua ya beginilah jadinya.
"Ckkk, pria tua!"
"Berhenti memanggil aku pria tua, bercerminlah. Kau lebih tua dari pada aku!" Balas Daniash.
"Wajar saja, aku kan sudah punya anak dan anak ku sudah punya suami dan calon anak."
"Aku juga tau kalau hal itu, tak usah di beri tahu." Ketus Daniash sambil terus makan dengan lahap. Perutnya memang lapar, tapi tadinya dia ingin makan bersama istrinya saja.
__ADS_1
"Astaga, kenapa mereka tidak akur begitu sih?" Gumam Amira sambil menggelengkan kepala nya. Sedangkan Riana, dia terkikik geli melihat dan mendengar perdebatan antara mertua dan menantu.
"Mantan bestie jadi menantu, ya begitu jadinya jeng." Ucap Riana membuat Amira terkekeh pelan.
"Iya jeng, sudahlah ya. Kedepan nya, pasti kita akan sering mendengar perdebatan mereka."
"Heem, sudah tidak di ragukan lagi untuk hal itu." Keduanya pun terkikik geli, sedangkan Danish memilih memainkan ponsel nya.
"Eenghhh.." Maura melenguh, membuat Daniash puntang panting. Dia langsung berlari dan segera mengusap perut istrinya, tak peduli dengan piring berisi nasi dan sup yang belum habis.
"Maafin Daddy ya, Daddy makan dulu sebentar. Tidur yang nyenyak ya, jangan gangguin Mama, adek." Bisik Daniash di perut Maura. Benar saja, wanita hamil itu kembali nyenyak tertidur, seampuh itu usapan tangan suami pada istrinya.
"Sebentar ya, Ma. Makanan aku belum habis, dikit lagi kok."
"Iya, makan aja dulu." Daniash mengangguk dan kembali melanjutkan makan nya dengan cepat.
Amira tersenyum melihat menantu nya begitu perhatian pada putrinya, hal itu membuat nya yakin kalau pria itu sangat mencintai Maura. Putrinya itu tak salah memilih pria untuk di jadikan suami.
.....
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1